Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juni 2022

METODE MENGAJARKAN AKHLAK

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.                                            Latar Belakang

Alhamdulillah kesempatan  puji syukur penulis panjadkan kehadiran Allah SWT.karena telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Metodologi Pembelajaran Dengan Tujuan Akidah Akhlak”.

Didalam makalah ini penulis akan membahas mengenai pengertian kewarisan, beberapa harta yang bersangkutan dengan harta pusaka, pusaka dimasa jahiliyah, sebab-sebab pusaka, ahli waris.

Makalah ini disusun guna untuk memenuhi tugas mata fiqi II. Penulis menyadari bahwa dalam proses penyelesaian makalah ini tidak terlepas kesalahan dan kekurangan, untuk itu demi kebaikan makalah ini penulis menerima keritikan juga saran dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini pada masa yang akan datang.

B.                                             Rumusan Masalah

Pengertian metodologi

1.                            Pengertian akidah akhlak

2.                            Sumber-sumber akidah akhlak

3.                            Metode pembelajaran akidah akhlak

4.                            Langkah-langkah mengajarkan  akidah

5.                            Tujuan mengajarkan akidah

C.                                            Tujuan Makalah

1.                Untuk mengetahui pengertian akidah

2.                Sumber-sumber akidah akhlak

3.                Mengetahui metode pembelajaran akidah akhlak

4.                Langka-langkah  mengajarkan akidah

5.                Tujuan mengajarkan akidah


BAB II

PEMBAHASAN

 

A.                                               Pengertian Metodologi

Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan proses belajar mengajar (PBM) bergantung pad acara mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin,antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga akan diharapkan akan terjadi perubahan dan tingka laku pada siswa baik tutur katanya , sopan santunnya, motoric dan gaya hidupnya.[1]

Dalam pengertian lain, metode pembelajaran merupakan cara-cara yang digunakan guru untuk menyampaikan bahan pelajaran kepada ssiswa untuk mencapai tujuan. Dalam kegiatam mengajar makin tepat metode yang digunakan maka makin efektif dan efesien kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru dan siswa pada akhirnya akan menunjang dan mengantarkan keberhasilan mengajar yang dilakukan oleh guru.

B.                                                Pengertian aqidah akhlak

Secara Bahasa aqidah berasal dari kata berarti ikatan dua utas tali dalam satu buku sehingga menjadi tersambung. Sehingga aqidah menurut “ikatan” atau aqad juga berarti janji. Sedangkan menurut istilah aqidah adalah urusan-urusan yang harus dibenarkan oleh hati dan diterimah dengan rasa puas tertanam kuat dalam benak jiwa yang tidak dapat diguncangkan oleh keraguan.

Kata “Akhlak” berasal dari Bahasa arab, jamak dari khuluqun yang menurut Bahasa budi pekerti, peragai, tingkah laku atau tabiat. Pendidikan akhlak berkisar tetntang persoalan kebaikan dan kesopanan, tingkah laku yang terpuji serta berbagai persoalan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana seharusnya seorang siswa bertingka laku.

 Pendidikan akhlak berkisar tetntang persoalan kebaikan dan kesopanan, tingkah laku yang terpuji serta berbagai persoalan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana seharusnya seorang siswa bertingka laku.

Pendidikan akhlak didasarkan pada ayat-ayat Al-Quran dan hadist Rasul, serta memberikan contoh-contoh yang baik yang harus diikuti. Kalua kita teliti isi Al-Quran, akan kita jumpai ajaran yang menyuruh berbuat baik dan mencengah perbuatan jelak.

Sudah lama para filsuf juga mencoba memberikan pengertian tentang kebaikan dan kejahatan. Al-Quran memberikan pengertian  tentang kebaikan dan kejahatan  sebagai berikut. Kebaikan adalah setiap perintah allah untuk mengerjakannya, sedangkan kejahatan ialah setiap larangan Allah untuk mengerjakannya. Allah tidak memerintah manusia kecuali hal-hal yang baik bagi mereka dan tidak akan melarang sesuatu kecuali ada hal-hal yang jelek bagi mereka.

Islam sangat mementingkan pendidikan rohani dan membersihkan jiwa dari kedengkian-penipuan-kemunapikan serta buruk sangka terhadap seseorang tanpa sebab. Jiwa yang koko tidak mungkin dicapai kecuali dengan takut kepada allah subhana wa Ta’ala, yaitu dengan menanamkan akidah. Oleh karena itu cerita-cerita yang diajarkan harus berkisar tentang pendidikan yang diambil dari buku sejarah. Juga dapat diambil dari kejadian-kejadian yang timbul dari kalangan murid sekolah dasar dan dihubungkan dengan teman-temannya atau binatang-binatang yang dipeliharanya.

C.                                               Sumber-sumber aqidah

Apabila diperhatikan dengan seksama bahwa sumber atau dasar aqidah berupa Al-quran dan assunna dan selain itu adalah fitra tauhid yang dimiliki setiap manusia karena hidayah taufiqiyah dari allah swt. Melalui akal pikirannya akan menyadari bahwa dirinya itu makhluk dan hambah allah swt dan manusia dan qalb lebih dalam lagi seperti kaum sufi dalam meletakkan landasan aqidahnya.[2]

D.                                               Metode Pembelajaran Akhlak

Metode pembelajaran akhlak serangkain cara yang terencana untuk mencapai tujuan yang ditentukan dalam sebuah intraksi yang saling berhubungan untuk tingkah laku, budi pekerti mulia dan bernilai uluhiyah yang tinggi. Adapun  pengajaran akhlak menurut Dr. Armai Arief, M.A

1.        Metode pembiasaan

Metode pembiasaan adalah metode pengajaran dalam pendidikan islam, dapat dikatakan bahwa pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik berpikir, bersikaf dan bertindak sesuai dengan tuntunan agama islam.

2.        Metode teladan

Metode teladan yaitu mengambil contoh atau meniru orang yang dekat dengannya. Oleh karena itu dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang yang berbudi baik.[3]

Disamping itu, boleh juga guru membuat cerita-cerita hayalan dan tujuannya mengarahkan anak-anak untuk berbuat baik. Guru harus mengetahui bahwa mendidik anak disekolah Dasar harus dimulai dengan menegakkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan memperbaiki pengaruh dari luar yang tidak baik, yang mungkin telah mempengarui jiwanya.

Guru harus membimbing murid cara duduk, menulis mendengarkan, membaca, bertanya, belajar, bejalan, makan, pergaulan dengan teman-temannya, dan bermain. Guru harus membingbing angar si anak berahlak dengan akhlak yang baik sejak kecil.

Contoh teladan yang baik memberi pengaruh yang besar terhadap pendidika akhlak, karena meniru adalah suatu sifat anak-anak. Tingkah laku guru sangat besar pengaruhnya dalam jiwa anak-anak.

Cerita sebagaimana kami kemukakan, merupakan jalan yang baik untuk pendidikan akhlak. Anak-anak suka mendengar cerita dan menceritakannya kembali. Keadaan ini perlu kita mamfaatkan untuk meningkatkan kegairaan belajar mereka. Hendaklah kesempatan ini kita mamfaatkan untuk mendidik mereka sesuai dengan kemauan kita.

Cerita yang paling disenagi oleh anak-anak ialah cerita-cerita dongeg, terutama dongeg tentang binatang. Kemudian cerita-cerita yang dapat membangkitkan khayalan dan cerita-cerita yang berhubungan dengan kehidupan dan lingkungannya. Cerita-cerita jenaka yang menggembirakan, mereka sangat suka.

Guru yang cerdas dapat memasukkan dalam cerita tentang binatang atau materi-materi akhlak lainnya yang ingin diajarkan kepada anak, tetapi secara terselubung (kalua anak mengetahui tidak akan mau mendengarkannya lagi).

3.        Langkah-langkah Mengajarkan Akidah

Metode mengajarkan akidah yang paling baik ialah metode yang dapat menyentuh perasaan dan pikiran murid. Metode ini dapat dilaksanakan dengan tahap-tahap berikut:

a.     Pengantar

Pengantar ini dapat ditempu dalam beberapa bentuk antara lain:

1)   Mengajak murid memperhatikan berbagai benda di ala mini yang merupakan kebesaran Allah subahana wa Ta’ala

2)   Mengulang-ulang pelajaran yang lalu.

3)   Metode cerita. Untuk ini dapat diambil cerita-cerita yang ada hubungannya dengan aqidah, seperti cerita asbahul kahfi,yaitu cerita tentang kebangkitan tiga pemudah setelah mati berates –ratus tahun. Cerita-cerita itu ada pengarunya dalam jiwa murid, yang mungkin akan dicontoh dan ditiruhnya. Dalam Al-quran banyak sekali cerita, terutama tentang umad yang terdahulu. Mereka yang beriman mendapat kebahagian, dan yang tidak beriman gagal dalam kehidupan serta akan mendapat siksa yang pedih.

b.    Menghubung-hubungkan

Menghubungkan antara aqidah yang telah mereka pelajari dan sedang dipelajari dengan kejadian-kejadian yang ada dalam masyarakat, angar dapat mereka bandingkan atau cocokkan dengan akidah yang baru mereka pelajari. Sehingga amalan dan ibadah yang mereka lakukan tetap ada hubungannya dengan ayat-ayat yang telah mereka pelajari dalam kelas itu, maupun dalam kelas-kelas sebelumnya.[4]

Dalam mengajarkan pendidikan akhlak, seorang guru dapat megikuti metode sebagai berikut:

1)      Persiapan

Guru mempersiapkan cerita yang akan diceritakan atau mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari, sesuatu hal yang membawa pengaru besar dalam jiwa anak-anak. Guru menceritakan kepada anak bahwa dia sendiri mendengar atau melihat kejadian tersebut.

Kadang- kadang guru harus dapat mendengar dan melihat dari kehidupan dari sisi kehidupan masarakat untuk dijadikan dasar-dasar berbagai cerita.Telah kami sebutkan bahwa cerita mempunyai pengaruh besar dalam pengarahan terhadap anak-anak

 

 

2)      Bahan pelajaran

Guru boleh mengambil satu atau mengambil cerita dari buku teks, kemudian menceritakan dengan cara yang menarik sehingga murid tertarik untuk mendengarkannya dengan penuh kegairajhan kadang-kadang meminta seorang murid untuk membaca cerita yang ada dalam buku teks kemudian kata-kata yang sulit didiskusikan bersama.

3)      Hubungan/evaluasi

Materi yang dibahas dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilakukan guru dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan setelah selesai bercerita. Kemudian minta kepada murid untuk memberi contoh-contoh, atau mereka menceritakan kejadian-kejadian lain yang ada hubungannya dengan materi pokok. Guru mengajukan beberapa pertanyaan tentang cerita yang diceritakan murid kepada teman-temannya.

4)      Kesimpulan

Guru menyimpulkan tujuan pelajaran itu dan menulisnya dengan tulisan yang baik dipapan tulis angar murid mengetahui dengan jelas tujuan pelajaran itu. Guru membaca apa yang telah dituliskan itu sebagai contoh, kemudian minta murid membacanya.

4.        Tujuan Mengajarkan Akidah

Sasaran pengajaran akidah ialah untuk mewujudkan maksud-maksud  sebagai berikut:

a.    Memperkenalkan kepada murid akan kepercayaan yang benar, yang menyalamatkan mereka dari siksaan Allah Ta’alah. Juga diperkenalkan tentang rukun iman, ketaatan kepada allah, dan beramal dengan amal yang baik untuk kesempurnaan iman mereka.

b.    Menanamkan iman kepada Allah, para Malaikat Allah kitab-kitab Allah, Rasul-rasul-Nya, adanya kadar baik dan buruk dan tentang hari kiamat kedalam jiwa anak.

c.    Menumbuhkan generasi yang kepecayaan dan keimanan-nya sah dan benar, dan selalu ingat kepada Allah, bersyukur, dan beribadah kepadanya.[5]

d.   Membantu murid angar mereka berusaha memahami berbagai hakikat, umpamanya

1)      Allah berkuasa dan mengetahui segala sesuatunya walau sekecil apapun.

2)      Percaya bahwa allah adil, baik di dunia maupun di akhirat.

3)      Membersikan jiwa dan pikiran murid dari perbuatan syirik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Dari hasil pembahasan yang telah dikemukakan diatas maka dapat disimpulkan bahwa metodologi pembelajaran Akidah Akhlak merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus diketahui dan dikuasai oleh seorang guru. Letak keberhasilan dari proses belajar mengajar berada pada seorang guru yang kreatif dan berkualitas menggunakan metode pembelajaran akidah akhlak haruslah sesuai kebutuhan peserta didik sehingga dapat memahami bidang studi Akidah Akhlak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Muhammad Abdul Qadir Ahmad. metodologi pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008). Hlm.115.

[2] Ibid,. hlm.117.

[3] Armai Arief. Pengantar ilmu dan metodologi pendidikan islam. ( Jakarta ciputat pers.2002). hlm.108.

[4] A. Mustofa. Akhlak Tasawuf  (bandung: CV. Pustaka Setia. 1995), hlm. 120.

[5] Ibid,.hlm. 121.                                  

Selasa, 31 Mei 2022

Metodologi Mengajarkan Akhlak

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.                                            Latar Belakang

Alhamdulillah kesempatan  puji syukur penulis panjadkan kehadiran Allah SWT.karena telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Metodologi Pembelajaran Dengan Tujuan Akidah Akhlak”.

Didalam makalah ini penulis akan membahas mengenai pengertian kewarisan, beberapa harta yang bersangkutan dengan harta pusaka, pusaka dimasa jahiliyah, sebab-sebab pusaka, ahli waris.

Makalah ini disusun guna untuk memenuhi tugas mata fiqi II. Penulis menyadari bahwa dalam proses penyelesaian makalah ini tidak terlepas kesalahan dan kekurangan, untuk itu demi kebaikan makalah ini penulis menerima keritikan juga saran dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini pada masa yang akan datang.

B.                                             Rumusan Masalah

Pengertian metodologi

1.                            Pengertian akidah akhlak

2.                            Sumber-sumber akidah akhlak

3.                            Metode pembelajaran akidah akhlak

4.                            Langkah-langkah mengajarkan  akidah

5.                            Tujuan mengajarkan akidah

C.                                            Tujuan Makalah

1.                Untuk mengetahui pengertian akidah

2.                Sumber-sumber akidah akhlak

3.                Mengetahui metode pembelajaran akidah akhlak

4.                Langka-langkah  mengajarkan akidah

5.                Tujuan mengajarkan akidah


BAB II

PEMBAHASAN

 

A.                                               Pengertian Metodologi

Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan proses belajar mengajar (PBM) bergantung pad acara mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin,antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga akan diharapkan akan terjadi perubahan dan tingka laku pada siswa baik tutur katanya , sopan santunnya, motoric dan gaya hidupnya.[1]

Dalam pengertian lain, metode pembelajaran merupakan cara-cara yang digunakan guru untuk menyampaikan bahan pelajaran kepada ssiswa untuk mencapai tujuan. Dalam kegiatam mengajar makin tepat metode yang digunakan maka makin efektif dan efesien kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru dan siswa pada akhirnya akan menunjang dan mengantarkan keberhasilan mengajar yang dilakukan oleh guru.

B.                                                Pengertian aqidah akhlak

Secara Bahasa aqidah berasal dari kata berarti ikatan dua utas tali dalam satu buku sehingga menjadi tersambung. Sehingga aqidah menurut “ikatan” atau aqad juga berarti janji. Sedangkan menurut istilah aqidah adalah urusan-urusan yang harus dibenarkan oleh hati dan diterimah dengan rasa puas tertanam kuat dalam benak jiwa yang tidak dapat diguncangkan oleh keraguan.

Kata “Akhlak” berasal dari Bahasa arab, jamak dari khuluqun yang menurut Bahasa budi pekerti, peragai, tingkah laku atau tabiat. Pendidikan akhlak berkisar tetntang persoalan kebaikan dan kesopanan, tingkah laku yang terpuji serta berbagai persoalan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana seharusnya seorang siswa bertingka laku.

 Pendidikan akhlak berkisar tetntang persoalan kebaikan dan kesopanan, tingkah laku yang terpuji serta berbagai persoalan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana seharusnya seorang siswa bertingka laku.

Pendidikan akhlak didasarkan pada ayat-ayat Al-Quran dan hadist Rasul, serta memberikan contoh-contoh yang baik yang harus diikuti. Kalua kita teliti isi Al-Quran, akan kita jumpai ajaran yang menyuruh berbuat baik dan mencengah perbuatan jelak.

Sudah lama para filsuf juga mencoba memberikan pengertian tentang kebaikan dan kejahatan. Al-Quran memberikan pengertian  tentang kebaikan dan kejahatan  sebagai berikut. Kebaikan adalah setiap perintah allah untuk mengerjakannya, sedangkan kejahatan ialah setiap larangan Allah untuk mengerjakannya. Allah tidak memerintah manusia kecuali hal-hal yang baik bagi mereka dan tidak akan melarang sesuatu kecuali ada hal-hal yang jelek bagi mereka.

Islam sangat mementingkan pendidikan rohani dan membersihkan jiwa dari kedengkian-penipuan-kemunapikan serta buruk sangka terhadap seseorang tanpa sebab. Jiwa yang koko tidak mungkin dicapai kecuali dengan takut kepada allah subhana wa Ta’ala, yaitu dengan menanamkan akidah. Oleh karena itu cerita-cerita yang diajarkan harus berkisar tentang pendidikan yang diambil dari buku sejarah. Juga dapat diambil dari kejadian-kejadian yang timbul dari kalangan murid sekolah dasar dan dihubungkan dengan teman-temannya atau binatang-binatang yang dipeliharanya.

C.                                               Sumber-sumber aqidah

Apabila diperhatikan dengan seksama bahwa sumber atau dasar aqidah berupa Al-quran dan assunna dan selain itu adalah fitra tauhid yang dimiliki setiap manusia karena hidayah taufiqiyah dari allah swt. Melalui akal pikirannya akan menyadari bahwa dirinya itu makhluk dan hambah allah swt dan manusia dan qalb lebih dalam lagi seperti kaum sufi dalam meletakkan landasan aqidahnya.[2]

D.                                               Metode Pembelajaran Akhlak

Metode pembelajaran akhlak serangkain cara yang terencana untuk mencapai tujuan yang ditentukan dalam sebuah intraksi yang saling berhubungan untuk tingkah laku, budi pekerti mulia dan bernilai uluhiyah yang tinggi. Adapun  pengajaran akhlak menurut Dr. Armai Arief, M.A

1.        Metode pembiasaan

Metode pembiasaan adalah metode pengajaran dalam pendidikan islam, dapat dikatakan bahwa pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik berpikir, bersikaf dan bertindak sesuai dengan tuntunan agama islam.

2.        Metode teladan

Metode teladan yaitu mengambil contoh atau meniru orang yang dekat dengannya. Oleh karena itu dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang yang berbudi baik.[3]

Disamping itu, boleh juga guru membuat cerita-cerita hayalan dan tujuannya mengarahkan anak-anak untuk berbuat baik. Guru harus mengetahui bahwa mendidik anak disekolah Dasar harus dimulai dengan menegakkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan memperbaiki pengaruh dari luar yang tidak baik, yang mungkin telah mempengarui jiwanya.

Guru harus membimbing murid cara duduk, menulis mendengarkan, membaca, bertanya, belajar, bejalan, makan, pergaulan dengan teman-temannya, dan bermain. Guru harus membingbing angar si anak berahlak dengan akhlak yang baik sejak kecil.

Contoh teladan yang baik memberi pengaruh yang besar terhadap pendidika akhlak, karena meniru adalah suatu sifat anak-anak. Tingkah laku guru sangat besar pengaruhnya dalam jiwa anak-anak.

Cerita sebagaimana kami kemukakan, merupakan jalan yang baik untuk pendidikan akhlak. Anak-anak suka mendengar cerita dan menceritakannya kembali. Keadaan ini perlu kita mamfaatkan untuk meningkatkan kegairaan belajar mereka. Hendaklah kesempatan ini kita mamfaatkan untuk mendidik mereka sesuai dengan kemauan kita.

Cerita yang paling disenagi oleh anak-anak ialah cerita-cerita dongeg, terutama dongeg tentang binatang. Kemudian cerita-cerita yang dapat membangkitkan khayalan dan cerita-cerita yang berhubungan dengan kehidupan dan lingkungannya. Cerita-cerita jenaka yang menggembirakan, mereka sangat suka.

Guru yang cerdas dapat memasukkan dalam cerita tentang binatang atau materi-materi akhlak lainnya yang ingin diajarkan kepada anak, tetapi secara terselubung (kalua anak mengetahui tidak akan mau mendengarkannya lagi).

3.        Langkah-langkah Mengajarkan Akidah

Metode mengajarkan akidah yang paling baik ialah metode yang dapat menyentuh perasaan dan pikiran murid. Metode ini dapat dilaksanakan dengan tahap-tahap berikut:

a.     Pengantar

Pengantar ini dapat ditempu dalam beberapa bentuk antara lain:

1)   Mengajak murid memperhatikan berbagai benda di ala mini yang merupakan kebesaran Allah subahana wa Ta’ala

2)   Mengulang-ulang pelajaran yang lalu.

3)   Metode cerita. Untuk ini dapat diambil cerita-cerita yang ada hubungannya dengan aqidah, seperti cerita asbahul kahfi,yaitu cerita tentang kebangkitan tiga pemudah setelah mati berates –ratus tahun. Cerita-cerita itu ada pengarunya dalam jiwa murid, yang mungkin akan dicontoh dan ditiruhnya. Dalam Al-quran banyak sekali cerita, terutama tentang umad yang terdahulu. Mereka yang beriman mendapat kebahagian, dan yang tidak beriman gagal dalam kehidupan serta akan mendapat siksa yang pedih.

b.    Menghubung-hubungkan

Menghubungkan antara aqidah yang telah mereka pelajari dan sedang dipelajari dengan kejadian-kejadian yang ada dalam masyarakat, angar dapat mereka bandingkan atau cocokkan dengan akidah yang baru mereka pelajari. Sehingga amalan dan ibadah yang mereka lakukan tetap ada hubungannya dengan ayat-ayat yang telah mereka pelajari dalam kelas itu, maupun dalam kelas-kelas sebelumnya.[4]

Dalam mengajarkan pendidikan akhlak, seorang guru dapat megikuti metode sebagai berikut:

1)      Persiapan

Guru mempersiapkan cerita yang akan diceritakan atau mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari, sesuatu hal yang membawa pengaru besar dalam jiwa anak-anak. Guru menceritakan kepada anak bahwa dia sendiri mendengar atau melihat kejadian tersebut.

Kadang- kadang guru harus dapat mendengar dan melihat dari kehidupan dari sisi kehidupan masarakat untuk dijadikan dasar-dasar berbagai cerita.Telah kami sebutkan bahwa cerita mempunyai pengaruh besar dalam pengarahan terhadap anak-anak

 

 

2)      Bahan pelajaran

Guru boleh mengambil satu atau mengambil cerita dari buku teks, kemudian menceritakan dengan cara yang menarik sehingga murid tertarik untuk mendengarkannya dengan penuh kegairajhan kadang-kadang meminta seorang murid untuk membaca cerita yang ada dalam buku teks kemudian kata-kata yang sulit didiskusikan bersama.

3)      Hubungan/evaluasi

Materi yang dibahas dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilakukan guru dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan setelah selesai bercerita. Kemudian minta kepada murid untuk memberi contoh-contoh, atau mereka menceritakan kejadian-kejadian lain yang ada hubungannya dengan materi pokok. Guru mengajukan beberapa pertanyaan tentang cerita yang diceritakan murid kepada teman-temannya.

4)      Kesimpulan

Guru menyimpulkan tujuan pelajaran itu dan menulisnya dengan tulisan yang baik dipapan tulis angar murid mengetahui dengan jelas tujuan pelajaran itu. Guru membaca apa yang telah dituliskan itu sebagai contoh, kemudian minta murid membacanya.

4.        Tujuan Mengajarkan Akidah

Sasaran pengajaran akidah ialah untuk mewujudkan maksud-maksud  sebagai berikut:

a.    Memperkenalkan kepada murid akan kepercayaan yang benar, yang menyalamatkan mereka dari siksaan Allah Ta’alah. Juga diperkenalkan tentang rukun iman, ketaatan kepada allah, dan beramal dengan amal yang baik untuk kesempurnaan iman mereka.

b.    Menanamkan iman kepada Allah, para Malaikat Allah kitab-kitab Allah, Rasul-rasul-Nya, adanya kadar baik dan buruk dan tentang hari kiamat kedalam jiwa anak.

c.    Menumbuhkan generasi yang kepecayaan dan keimanan-nya sah dan benar, dan selalu ingat kepada Allah, bersyukur, dan beribadah kepadanya.[5]

d.   Membantu murid angar mereka berusaha memahami berbagai hakikat, umpamanya

1)      Allah berkuasa dan mengetahui segala sesuatunya walau sekecil apapun.

2)      Percaya bahwa allah adil, baik di dunia maupun di akhirat.

3)      Membersikan jiwa dan pikiran murid dari perbuatan syirik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Dari hasil pembahasan yang telah dikemukakan diatas maka dapat disimpulkan bahwa metodologi pembelajaran Akidah Akhlak merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus diketahui dan dikuasai oleh seorang guru. Letak keberhasilan dari proses belajar mengajar berada pada seorang guru yang kreatif dan berkualitas menggunakan metode pembelajaran akidah akhlak haruslah sesuai kebutuhan peserta didik sehingga dapat memahami bidang studi Akidah Akhlak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Muhammad Abdul Qadir Ahmad. metodologi pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008). Hlm.115.

[2] Ibid,. hlm.117.

[3] Armai Arief. Pengantar ilmu dan metodologi pendidikan islam. ( Jakarta ciputat pers.2002). hlm.108.

[4] A. Mustofa. Akhlak Tasawuf  (bandung: CV. Pustaka Setia. 1995), hlm. 120.

[5] Ibid,.hlm. 121.                                  

makalah aspek manajemen organisasi

makalah aspek manajemen organisasi  BAB I PENDAHULUAN   Manajemen secara umum diartikan sebagai ‘pengaturan’, artinya manajemen adalah...