Tampilkan postingan dengan label ILMU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ILMU. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juni 2022

FREE MAKALAH CARA BEKERJA ILMU

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Ilmu memiliki kedudukan mendasar karena hampir disetiap aktivitas manusia dikendalikan oleh ilmu. Ilmu semakin berkembang mengikuti pertambahan kebutuhan manusia disegala aspek, oleh karena itu berkembanglah disiplin-disiplin ilmu, yakni ilmu alam, ilmu-ilmu sosial-humaniora dan ilmu-ilmu agama. Ilmu alam lahir untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik, material dan mekanis-teknis dari manusia terhadap alam. Ilmu sosial berkembang memenuhi kebutuhan dasar manusia yang bersifat non material, sedangkan ilmu agama dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan moral dan spiritual-religius manusia

Ketiga disiplin ilmu tersebut memiliki kekhasan epistemologis masing-masing. Kekhasan ini tergambar dalam cara kerja ilmu-ilmu tersebut yang berbeda satu sama lain. Semestinya ketiga disiplin ilmu ini dapat berkembang secara seimbang, namun pada kenyataannya terkadang masyarakat memandang sebelah mata salah satunya. Hal ini kurang tepat, sebab pada kenyataannya ketiga disiplin ilmu ini sama-sama penting dan saling melengkapi satu sama lain.

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

CARA BEKERJA ILMU

A.      Susunan Ilmu Pengetahuan

Sebelum membahas menganai cara kerja ilmu sosial-humaniora, ilmu alam dan ilmu agama, penulis akan sedikit memaparkan mengenai metode keilmuan secara umum. Gaston Bachelard menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah suatu produk pemikiran manusia yang sekaligus menyesuaikan antara hukum-hukum pemikiran dengan dunia luar. Dengan kata lain, ilmu penegtahuan mengandung dua aspek, yaitu subjektif dan objektif.[1]

Dapat dikatan sebagai ilmu pengetahuan apabila mencakup enam unsur, yaitu[2]:

1.        Adanya masalah (problem); Disebut masalah yang ilmiah jika masalah tersebut dihadapi dengan sikap dan metode ilmiah dan berhubungan dengan masalah dan solusi ilmiah lain secara sistematis.

2.        Adanya sikap, dalam arti sikap ilmiah.

3.        Menggunakan metode ilmiah.

4.        Adanya aktivitas atau riset ilmiah.

5.        Adanya kesimpulan, yaitu pemahaman yang dicapai sebagai hasil pemecahan masalah.

6.        Adanya pengaruh. Pengaruh yang dimaksud mencakup dua hal yakni pengaruhnya terhadap ilmu terapan dan terhadap masayarakat dan peradaban.

Pengaruh yang dimaksud mencakup dua hal yakni pengaruhnya terhadap ilmu terapan dan terhadap masayarakat dan peradaban. Ilmu pengatahuan dikembangkan melalui metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, langkah dan cara teknis untuk memperoleh pengetahuan atau mengembangkan pengetahuan yang ada. Metode ilmiah tersebut terangkum dalam enam tahap berikut[3]:

1.        Perumusan masalah: dirumuskan secara tepat dan jelas dalam bentuk pertanyaan agar ilmuwan memiliki jalan untuk mngetahui fakta-fakta apa saja yang harus dikumpulkan.

2.        Pengamatan dan pengumpulan data atau observasi: penyelidikan dalam tahap ini memiliki corak empiris dan induktif yang diarahakan pada pengumpulan data.

3.        Pengamatan dan klasifikasi data: ditekankan pada penyusunan fakta-fakta dalam kelompok, jenis dan kelas tertentu berdasarkan sifat yang sama.

4.        Perumusan pengetahuan (definisi): ilmuwan mengadakan analisis dan sintesis sacara induktif. Melalui analisis dan sintesis ilmuwan mengadakan generalisasi (kesimpulan umum). Dalam tahap ini teori telah terbentuk.

5.        Tahap ramalan (prediksi): teori yang sudah terbentuk diturunkan dalam bentuk hipotesis

6.        Pengujian hipotesis atau verivikasi: jika fakta tidak mendukung hipotesis, maka hipotesis harus diubah, dibongkar dan diganti dengan hipotesis lain dan semua kegiatan ilmiah harus dimulai lagi dari permulaan. Data empiris penentu benar tidaknya hipotesis.

B.       Cara Kerja Ilmu-ilmu Alam

Dalam sejarah perkembangan ilmu, ilmu-ilmu alam berkembang lebih awal dan pesat. Sebelum filsafat muncul,  ilmu fisika, metematika, kimia dan astronomi telah lam menjadi perbincangan. Hal ini wajar jika dilihat dari segi kedektan hubungan manusia dengan dunia yang sifatnya fisikal dan material yang mudah diamati dan memberikan manfaat yang bersifat praktis dan langsung bisa dirasakan. Ilmu alam sangat penting bagi kehidupan manusia terutama untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan material dan praktis manusia. Dilihat dari sifat objeknya,  cara kerja ilmu alam bisa dirangkum dalam prinsip-prinsip seperti berikut ini[4]:

1.        Gejala Alam Bersifat Fisik-Statis

Ilmu-ilmu alam berhubungan dengan gejal alam. Ilmu alam berhubungan dengan satu jenis gejala yaitu gejala yang bersifat fisik yang bersifat umum. Penelaahannya meliputi beberapa variabel dalam jumlah yang relatif kecil yang dapat diukur secara tepat.[5]  Dari gejala yang sifatnya fisikal, terukur dan teramati, gejala-gejala alam memiliki sifat statis dari waktu ke waktu. Karena statis jumlah variabel dari gejala alam  sebagai objek yang diamati juga relatif lebih sederhana dan sedikit.

2.        Objek Penelitian Bisa Berulang

Ilmu alam membatasi diri dengan hanya membahas gejala-gejala alam yang dapat diamati. Karena sifat gejala alam fisikal-statis, objek penelitian dalam ilmu alam tidak mengalami perubahan atau tetap. Dengan begitu, ahli ilmu alam dapat mengulang kejadian yang sama setiap waktu dan mengamati kejadian tertentu secara langsung. Dan dari pengamatannya pun akan menghasilkan kesimpulan yang bersifat umum dan tidak akan mengubah karakteristik obyek yang ditelaah. 

3.        Pengamatan Relatif Mudah dan Simpel

Pengamatan dalam ilmu alam relatif lebih mudah karena dapat dilakukan secara langsung dan dapat diulang. Pengamatn yang dimaksud disini lebih luas dari pengamatan langsung menggunakan panca indera yang lingkup kemampuannya terbatas. Banyak gejala alam yang dapat teramati hanya dengan menggunakan alat bantu, misalnya mikroskop dll. .Jika seseorang menemukan gejala alam yang baru, maka ia perlu memberitahukan tentang lingkungan, peralatan, serta cara pengamatan yang digunakan sehingga memungkinkan orang lain mengamati kembali.[6]

4.        Peneliti Lebih Sebagai Penonton

Prinsip pengamatan dalam ilmu alam adalaha prinsip objektif, artinya kebenaran disimpulkan berdasarkan objek yang diamati. Pengamat tidak terlibat atau tidak berpengaruh terhadap objek yang diamati. Ilmuawan alam adalah penonton alam, dia hanya mengamati alam dan kemudian memperlihatkan kepada orang lain hasil pengamatannya tanpa sedikit pun melibatkan subjektivitasnya dan tidak terlibat pula secara emosional.

Ahli ilmu alam menyelidiki proses alam dan menyusun hukum yang bersifat umum mengenai suatu proses. Dia juga tidak bermaksud untuk mengubah alam atau harus setuju dan tidak setuju. Ahli ilmu alamhanya berharap bahwa pengetahuan mengenai gejala fisik dari alam akan memungkinkan manusia untuk memanfaatkan proses tersebut.

5.        Daya Prediktif yang Relatif Lebih Mudah Dipahami

Ilmu-ilmu alam tidak hanya sebata mengumpulkan gejala dan merumuskan teori, melainkan gejala  yang diketahui dan rumusan teori tersebut digunakan untuk memprediksikan kejadian yang mungkin akan timbul dari gejala tersebut. ilmu yang hanya saggup mengumpulkan informasi dan merangkaikannya akan berupa ilmu yang pasif. Untuk menuntut suatu teori ilmu-ilmu alam agar tidak hanya sanggup menguraikan gejala yang telah diketahui tetapi sanggup meramalkan gejala alam lain yang belum dikenal, sebagai konsekuesi logis dari pola penalaran yang digunakan. Gejala ramalan ini juga harus dalam bentuk operasional sehingga memungkinkan untuk diuji dengan eksperimen.

C.      Cara Kerja Ilmu-ilmu Sosial-Humaniora

Ilmu Sosisal-Humaniora perkembangannya tidak sepesat ilmu-ilmu alam. Hal ini karena, objek penelitiannya tidak sekedar sebatas fisik dan material tetapi lebih dibalik fisik dan bersifat lebih kompleks.dibandingkan dengan ilmu alam, ilmu sosial-humaniora nilai manfaatnya tidka bis dirasakan secara langsung. Ilmu sosial-humaniora ini dikembangkan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup manusia yang sifatnya abstrak dan psikologis. Dilihat dari objeknya, ilmu sosia-humaniora dapat dirangkum dalam prinsip-prinsip seperti berikut:

1.        Gejala Sosial-Humaniora Bersifat Nonfisik, Hidup dan Dinamis

Berbeda dengan ilmu-ilmu alam, gejala-gejala yang diamati dalam ilmu sosial humaniora bersifat hidup dan bergerak secara dinamis. Gejala sosial juga mempunyai karakteristik fisik namun diperlukan gejala-gejala penjelasan yang lebih dalam untuk mampu menerangkan gejala tersebut, misalnya aspek sosiologis, psikologis atau biologis dan lain sebagainya. Ilmu sosial mempelajari manusia baik selaku individu maupun sebagai anggota dari suatu kelompok. Objek studi ilmu sosial-humaniora adalah manusia adalah manusia yang lebih spesifik lagi pada aspek sebelah dalam (inner world). Ilmu sosial lebih menekankan pada apa yang berada dibalik manusia secara fisik.[7] Etos ilmu pengetahuan sosial adalah mencari kebenaran objektif. Objektif dalam ilmu sosial diartikan dengan memandang kenyataan sebagaimana adanya (das sein) dengan menggunakan metodologi serta teori sosial berdasarkan realitas objektif yang dijadikan lapangan penyelidikan[8].

2.        Objek Penelitian Tidak bisa Berulang

Ahli ilmu sosial tidak mungkin melihat, mendengar, meraba, atau mengecap gejala yang sudah terjadi di masa lalu. Hakiki dari gejala ilmu sosial tidak memungkinkan pengamatan secara langsung dan berulang. Kalau pun mungkin dapat dilakukan secara langsung, namun terdapat beberapa kesulitan untuk melakukan hal tersebut secara keseluruhan. Kejadian sosial sering kali bersifat spesifik dalam konteks histori tertentu. Ilmu sosial-humaniora hanya memaknai, memahami dan menafsirkan gejala-gejalanya, bukan menemukan dan menrangkan secara pasti. Kesimpulan yang didapat dalam suatu penelitian ilmu sosial juga akan berbeda-beda. Karena obyek yang diteliti antara satu dengan yang lain adalah berbeda dan hanya berlaku secara perorangan.

3.        Pengamatan Relatif  Lebih Sulit dan Kompleks

Gejala-gejala sosial-humaniora bergerak bahkan cenderung berubah, bisa dibayangkan ilmuwan dalam mengamati lebih sulit dan kompleks. Sebab yang diamati adalah apa yang ada dibalik penampakan fisik yang berupa bentuk-bentuk hubungan sosial. Manusia memiliki free will dan kesadaran, karena itulah ia bukan benda yang ditentukan menurut hukum-hukum yang berlaku sebagaimana benda mati yang tak memiliki kesadaran apalagi kebebasan berkehendak. Oleh karena iu, jelas bahwa pengamatan dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora jauh lebih kompleks.

Ahli ilmu sosial juga mempelajari fakta misal kondisi yang terdapat dalam masyarakat. Untuk itu mereka mempalajari faktor-faktor dan ciri-cirinya, namun ahli ilmu sosial tidak hanya berhenti sampai disisni. Dia akan cenderung untuk mengembangakn pemikiran mnegenai pola masyarakat yang lebih didambakan. Obyek penelaahan ilmu sosial sangat intim berhubungan dengan manusia yang penuh tujuan tertentu, makhluk yang selalu mencari nilai dalam aspek-aspek kehidupannya, ilmu sosial menghadapi masalah unik yang tidak terdapat  dalam ilmu alam.

4.        Subjek Peneliti juga Sebagai Bagian Integral dari Objek yang Diamati

Ahli ilmu sosial bukanlah sebagi penonton yang menyaksikan suatu proses kejadian sosial. Dia merupakan bagian integral dari kehidupan yang ditelaahnya. Kterlibatannya secara emosional terhadap nilai-nilai tertentu menyebabkan seorang ahli ilmu sosial cenderung untuk ikut bersetuju atau menolak suatu proses sosial tertentu. Menghilangkan kecenderungan-kecendrungan yang bersifat pribadi untuk tetap obyektif adalah sukar dalam penelaahan sosial. Oleh karena itu, ilmu-ilmu sosial pengamatannya menggunakan Verstehen atau memaknai , mengungkapkan makna, dan tidak sekedar menjelaskan. Metode verstehen (memahami), yaitu pemahaman secara subjektif atas makna tindakan-tindakan sosial, dengan cara menafsirkan objeknya yang berupa dunia kehidupan sosial[9].

5.        Memiliki Daya Prediktif yang Relatif Lebih Sulit dan Tidak Terkontrol

Suatu teori sebagai hasil penagmatan sosial-humaniora tidak serta merta bisa dengan mudah mempreiksikan kejadian sosial berikutnya pasti terjadi. Hal ini karena dalam ilmu sosial, pola perilaku sosial-humaniora yang sama belum tentu akan akan mengakibatkan kejadian yang sama. Namun bukan berarti hasil temuan dalam ilmu sosial tidak bisa dipakai sama sekali untuk meramalka kejadian sosial lain sebagai akibatnya dalam waktu dan tempat yang berlainan, tetap bisa namun tidak semudah dalam ilmu-ilmu alam.

Ahli ilmu sosial juga mempelajari fakta misal kondisi yang terdapat dalam masyarakat. Untuk itu mereka memepalajari faktor-faktor dan ciri-cirinya, namun ahli ilmu sosial tidak hanya berhenti sampai disini. Dia akan cenderung untuk mengembangakn pemikiran mengenai pola masyarakat yang lebih didambakan. Obyek penelaahan ilmu sosial sangat intim berhubungan dengan manusia yang penuh tujuan tertentu, makhluk yang selalu mencari nilai dalam aspek-aspek kehidupannya, ilmu sosial menghadapi masalah unik yang tidak terdapat  dalam ilmu alam.

Ahli ilmu sosial harus mengatsi berbagai rintangan jika mereka berharap untuk mebuat kemajuan yang berarti dalam menerangkan, meramalkan, dan mengontrol kehidupan manusia.

 

D.      Cara Kerja Ilmu-ilmu Agama

Ilmu agama juga merupakan suatu disiplin ilmu yang penting bagi kehidupan manusia. Ilmu agama pun juga memiliki ciri ilmiah yang memiliki kekhasan dibanding ilmu alam dan ilmu sosial. Ciri tersebut tergambar dalam cara kerja ilmu-ilmu keagamaan:

1.        Gejala Keagamaan sebagai Ekspresi Keimanan dan Pemahaman atas Teks Suci

Gejala keagamaan tampak pada perilaku-perilaku keagamaan orang beragama dan masyarakat beragama, dan pada karya seni dan budaya meski intinya juga ekspresi dari penghayatan keagamaan orang beragama. Gejala keagamaan juga merupakan sesuatu yang bergerak, tidak statis yang sekaligus mengindikasi suatu dinamika keimanan sebagai hasil dari pengalaman dan pemahaman atau teks-teks suci keagamaan yang diyakini.  Hal yang tidak ada dalam gejala sosial-humaniora adalah aspek ekspresi keimanan religius ini. Objek kajian dalam ilmu sosial-humaniora adalah manusia yang lebih pada aspek inner worldnya. Sama dengan objek kajian ilmu keagamaan adalah manusia pada inner worldnya juga, namun lebih menekankan pada aspek religiusitasnya.[10]

2.        Objek Penelitian Unik dan Tidak Bisa Diulang

Objek penelitian unik kerena menyangkut keyakinan beragama dan juga teks suci keagamaan yang diyakini orang beragama. Dalam ilmu agama, keyakinan agama dijadikan sumber pengamatan mengapa muncul perilaku sosial orang tertentu beragama. Sama dengan ilmu sosial-humaniora, objek penelitian ilmu agama tak dapat diulang, karena kejadian keagamaan tercermin dalam perilaku keagamaan orang beragama pada kurun waktu dan tempat tertentu tidak mungkin bisa direkonstruksi orang sesudahnya persis kejadian pada awalnya.

3.        Pengamatan Sulit dan Kompleks dengan Interpretasi Teks-teks Suci Keagamaan

Pengamatan dalam ilmu agama mirip dengan ilmu sosial-humaniora yakni sulit dan kompleks karena melihat dan memaknai apa yang dibalik keiatan dan perilaku fisik dan empiris manusia beragama. Hal tersebut merupakan ekspresif dari keimanan mereka terhadap Tuhan sebagai hasil pemahaman terhadap teks kitab suci. Pengamatan dalam ilmu-ilmu keagamaan juga harus “menyelami” dan menginterpretasikan item-item dalam teks-teks suci. Perilaku keagamaan ketika diamati jelas bermuatan multiinterpretasi baik terhadap gejala-gejala yang ditangkap maupun dari segi penafsiran teks-teks sucinya.

4.        Subjek Peneliti juga sebagai Bagian Integral dari Objek yang Diamati

            Prinsipnya adalah sama seperti dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora,  pengaamat atau peneliti dalam ilmu keagamaan juga tidak bisa dilepaskan dan merupakan bagian integral dari objek yang diamati apalagi yang diamati adalah perilaku sosial-humaniora manusia beragama atau aktivitas keagamaan. Bahkan ketika mengkaji teks-teks suci keagamaan, seorang pengamat pasti juga terlibat secara emosional dan rasional dalam memahami dan menyimpulkan maknanya.

5.        Memiliki Daya Prediktif yang relatif Lebih Sulit dan Tak Terkontrol

            Suatu teori sebagai hasil pengamatan terhadap aktivitas-aktivitas keagamaan tidak serta merta bsa dengan mudah untuk meramalkan aktivitas keagamaan lainnya yang akan terjadi. Hal ini karena dalam ilmu keagamaan, pola perilaku keagamaan yang sama belum tentu akan menghasilkan kejadian-kejadian berikutnya yang sama. Namun bukan berarti hasil temuan dalam ilmu keagamaan tidak bisa dipakai sama sekali untuk meramalkan kejadian yang bersifat religius lain sebagai akibatnya dalam waktu dan tempat berlainan, tetap bisa tetapi tidak mungkin sepasti dan semudah dalm ilmu alam. Dalam ilmu keagamaan juga harus mempertimbangkan keragaman pemahaman orang-orang beragama terhadap ajaran mereka dan hal ini menambah daya prediktif ilmu-ilmu agama semakin sulit untuk dipastikan.

E.       Interkonektif Ilmu Umum dan Ilmu Agama

Ilmu-ilmu keislaman memiliki prinsip yang sama dengan ilmu keagamaan pada umumnya. Yang membedakan adalah teks-teks suci yang diyakini, yakni al-Qur’an dan al-Hadits. Sumber-sumber studi islam tersebut telah melahirkan banyak disiplin ilmu seperti Studi Al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’an dan Teori Pemahaman Hadis, Fiqih Ushul Fiqh, dll. Prinsip kerja ilmu keislaman mengikuti sebagaiman cara kerja ilmu-ilmu keagamaan, yakni mempertimbangkan gejala-gejala keislaman yang tercermin dalam karya keislaman dan aktivitas keagamaan islam dari penganutnya yang merupakaan ekspresi keberagaman islam.

Keilmuan islam yang interkonektif dan interkomunikatif selalu melibatkan berbagai dimensi kehidupan dari manusia dan melibatkan berbagai perspektif. Dalam keilmuan islam yang interkonektif dan interkomunikatif menolak suatu pandangan dunia hiatm-putih dan tidak ada wilayah “abu-abu”, menolak dikotomi ilmu agama dan ilmu umum dan menolak perlombaan antar disiplin ilmu memperlihatkan disiplin ilmu apa yang lebih superior dari yang lain..

Pengembangan studi islam berpijak pada tiga hal; yakni hadharah al-nash (Normativitas Teks-teks Suci), hadharah falsafah (Filsafat) dan hadharah al-‘ilm (ilmu alam dan sosial-humaniora). Pemaknaan interpretatif atas nash, al-Qur’an dan al-Hadis tidak mengabaikan perspektif-perspektif keilmuandari berbagai disiplin ilmu yang dimungkinkn ada dan berkembang.[11] Dengan demikian, ilmu-ilmu dikembangkan tidak dalam model singel entity atau murni teks tanpa konteks, tidak dalam model isolated entities atau unit-unit tertutup, yakni normativitas teks suci jalan sendiri, falsafah jalan sendiri dan ilmu jalan sendiri tanpa jendela interkoneksi dan interkomunikasi, melainkan dalam model interconnected entities ada saling hubung antar ketiganya.

F.       Cara Kerja Ilmu Agama

Ilmu-ilmu agama adalah juga suatu disiplin ilmu yang penting dalam kehidupan manusi. Barangkali ia berkembang sejak jaman dulu ketika manusia dihadapkan pada kekuatan-kekuatan adikodrati yang dia alami dalam hidupnya. Oleh karena itu, ilmu-ilmu agama juga memiliki cirri ilmiah, dan sudah pasti ciri ilmiahnya memiliki kekhasan dibandingkan ilmu alam dan ilmu sosial humaniora, meski dalam tingkatan tertentu menunjukkan suatu kesamaan. Ciri tersebut tergambar pada cara keraja ilmu agama di bawah ini:

1.        Gejala Keagamaan sebagai Ekspresi Keimanan dan Pemahaman atas Teks Suci

Gejala keagamaan jelas tampak pada perilaku-perilaku keagamaan orang beragama, dan pada karya-karya seni dan budaya meski intinya juga ekspresi dari penghayatan keagamaan orang beragama. Gejala keagamaan merupakan sesuatu yang bergerak, tidak statis. Dalam ilmu keagamaan, gejala keagamaan selalu merupakan ekspresi dari keimanan dan pemahaman dari keagamaan.

Objek kajian dalam ilmu agama tidak jauh beda dengan objek ilmu sosial humaniora, yaitu manusia. Tetapi dalam ilmu agama lebih spesifik lagi yang dikaji, yakni manusia beragama dan lebih fokus pada inner worldnya yang sudah pasti yang dimaksud di sini adalah aspek keimanan teologisnya, seperti paham ketuhanannya dan implikasinya pada perilaku sosial kemanusiaannya, dan pemahaman keagamaan yang dibangun oleh manusia beragama.

2.        Objek Penelitian Unik dan Tak Bisa Diulang

Objek penelitian unik karena menyangkut keyakinan keagamaan. Keyakinan keagamaan dalam ilmu agama dijadikan sumber pengamatan mengapa muncul perilaku sosial orang tertentu beragama. Ini berarti yang menjadi objek penelitian ilmu-ilmu agama adalah menyangkut perilaku orang yang beragama dan juga teks-teks suci keagamaan yang diyakini orang beragama. Sebagaimana tercermin dalam perilaku keagamaan orang beragama pada kurun waktu dan tempat tertentu tidak mungkin bisa direkonstruksikan orang sesudahnya persis kejadian pada awalnya. Jelas berbeda dengan mengamati benda-benda mati.

3.        Pengamatan Sulit dan Kompleks dengan Interpretasi Teks-teks Suci Keagamaan

Pengamatan dalam ilmu agama sulit dan kompleks, karena melihat dan memaknai apa yang ada dibalik kegiatan dan perilaku fisik dan empiris manusia beragama. Karena kegiatan tersebut adalah bentuk ekspresif dari keimanan mereka pada Tuhan sebagai hasil pemahaman mereka terhadap teks-teks suci yang diyakini , pengamatan dalam ilmu agama juga harus “menyelami” dan menginterpretasikan item-item dalam teks-teks suci terkait dengan fenomena kegiatan dan perilaku manusia beragam yang bisa ditangkap.

4.        Subjek Pengamat juga sebagai Bagian Integral dari Objek yang Diamati

Pengamat dalam ilmu agama tidak bisa dilepaskan dan merupakan bagian integral dari objek yang diamati adalah aktivitas-aktivitas keagamaan. Bahkan ketika mengkaji teks-teks keagamaan hasil interpretasi atas teks-teks suci, seorang pengamat pasti juga terlibat secara emosonal dan rasinal dala memahami dan menyimpulkan makna mereka.

5.        Memiliki Daya Prediktif yang Relatif Lebih Sulit dan Tak Terkontrol

Sebuah teori sebagai hasil pengamatan terhadap aktivitas-aktivitas keagamaan tidak serta merta bisa dengan mudah meramalkan aktivitas-aktifitas keagamaan lainnya yang akan terjadi. Hal ini dikarenakan dalam ilmu agama, pola-pola perilaku keagamaan yang sama belum tentu akan mengakibatkan kejadian-kejadian berikutnya yang sama. Meski demikian, bukan berarti hasil temuan dalam ilmu agama tidak bisa dipakai sama sekali untuk meramalkan kejadian-kejadian yang bersifat religius lain sebagai akibatnya dalam waktu dan tempat yang berlainan, tetap bisa tetapi tidak mungkin sepasti dan semudah dalam ilmu-ilmu alam. Dalam ilmu agama harus dipertimbangkan keragaman dan pemahaman orang-orang beragama terhadap ajaran agama mereka, dan hal ini menambah daya prediktif ilmu-ilmu agama semakin sulit untuk dipastikan.

G.      Cara Kerja Ilmu non-Empiris

Karena non empiris berarti selain ilmu-ilmu yang bersifat inderawi, maka dengan sendirinya itu bersumber dari rasio dan pengetahuan intuitif. Kaum rasionalisme mulai dengan suatu pernyataan yang sudah pasti. Aksioma dasar yang dipakai membangun system pemikirannya diturunkan dari idea yang menurut anggapannya adalah jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran manusia.[12]  Misalnya dari titik A ke titik B yang lebih dekat adalah garis lurus, bukan dengan garis menyudut. Ini adalah aksioma dasar yang jelas, tegas dan pasti di dalam pikiran manusia, bahkan tanpa pengalaman (empirie) sekalipun manusia mengetahui hal itu. Ilmu ini pada akhirnya banyak disebut sebagai ilmu pasti, yang di dalamnya termasuk juga logika.

Melakukan penyimpulan, seperti contoh di atas, bisa ditempuh melalui induksi, deduksi, analogi dan komparasi.[13]

Induksi adalah cara penarikan kesimpulan yang bergerak dari hal-hal yang khusus menuju kesimpulan yang umum. Induksi disebut pula sebagai system terbuka, artinya ia bersifat probability, terbukanya kemungkinan lain yang tidak sama dengan kesimpulan umum yang sudah dihasilkan. Misalnya, penarikan kesimpulan bahwa gadis muslim berjilbab berdasarkan fakta di beberapa negara muslim yang diteliti, terbuka kemungkinan terdapat juga gadis muslim lain di luar sample penelitian tidak berjilbab.

Sebaliknya, deduksi merupakan cara menarik kesimpulan yang bergerak dari hal-hal umum menuju hal yang khusus. Kesimpulan yang dihasilkan merupakan keharusan sebagai akibat dari pernyataan umum yang diajukan; jadi merupakan sesuatu yang tak terelakkan. Misalnya setiap muslim wajib mencari ilmu, sementara Fulan adalah seorang muslim. Maka keharusan mencari ilmu tidak terelakkan bagi Fulan.

Kemudian Analogi adalah mengambil kesimpulan dengan cara menggantikan apa yang diusahakan untuk dibuktikan dengan hal yang serupa, namun lebih dikenal. Di sini penyimpulan dilakukan dengan cara tidak langsung. Penyimpulan demikian biasa pula dikenal dengan qiyas. Misalnya putusan tentang wajib zakat fitrah dengan beras bagi kebanyakan  muslim Indonesia didasarkan pada adanya keserupaan antara beras dan gandum.

Komparasi adalah mengambil kesimpulan dengan cara menghadapkan apa yang akan dibuktikan dengan sesuatu yang mempunyai kesamaan dengannya. Penyimpulan ini sama dengan analogi, yakni secara tidak langsung. Hal yang hendak dibuktikan sebanding dengan hal yang sudah dikenal. Cara ini kerap dilakukan dalam hidup, misalnya ketika memilih sesuatu barang di antara beberapa pilihan dan lain sebagainya.

Membedakan secara tegas antara keempat metode tersebut, cukup rumit. Dalam prakteknya, induksi berdampingan dengan deduksi, analogi berdampingan dengan komparasi. Setiap metode ini hampir tidak dapat diterapkan secara murni, sebab ada unsur saling mengisi dan melengkapi di antara kesemuanya.[14]

 

 


 

BAB III

KESIMPULAN

 

Ilmu Pengetahuan adalah suatu hasil cipta sadar manusia yang didokumentasikan secara konseptual yang saling berkaitan serta dapat bermanfaat untuk percobaan dan pengamatan lebih lanjut.

Adapun cara kerja ilmu-alam meliputi gejala alam bersifat fisik-statis, objek penelitian dapat berulang, pengamatan relative lebih mudah dan simple, subjek pengamat (peneliti) lebih sebagai penonton dan memiliki daya prediktif yang relative lebih mudah dan dikontrol. Sedangkan cara kerja ilmu-ilmu social-humaiora antara lain, gejala social-humaniora bersifat non fisik, hidup, dan dinamis, objek penelitian tidak bisa berulang, pengamatan relative lebih sulit dan kompleks, subjek pengamat (peneliti) juga sebagai bagian integral dari subjek yang diamati, dan memiliki daya prediktif yang relative lebih sulit dan tak terkontrol. Tidak jauh berbeda dengan cara kerja ilmu-ilmu social-humaniora, ilmu-ilmu keagamaan dan keislaman juga memiliki cara kerja sebagai berikut gejala keagamaan sebagai ekspresi keimanan dan pemahaman atas teks suci, objek penelitian unik dan tidak bisa diulang, pengamatan sulit dan kompleks dengan interpretasi teks-teks keagamaan, subjek pengamat (peneliti) juga sebagai bagian integral dari objek yang diamati, dan memiliki daya prediktif yag relative lebih sulit dan tak terkontrol.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Amin Abdullah, M,  Kerangka Dasar Keilmuan dan Pengembangan Kurikulum, (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004).

 

B.Van Dalen, Deobold, ”Ilmu-ilmu alam dan Ilmu-ilmu Sosial: Beberapa Perbedaan, dalam Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif (Yogyakarta: Gramedia Pustaka. 1997)

 

Gazali, Bachri,  Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga. 2005)

 

J. Bahm, Archie “What is science“, dalam Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan,( Yogyakarta: Belukar. 2004)

 

Mudlor Ahmad, Drs., Ilmu dan Keinginan Tahu, Bandung, Trigenda Karya, Cet. I, 1994

 

Mustansyir, Rizal, Filsafat Ilmu (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset. 2001)

 

S. Rudner, Richard, “Perbedaan antara Ilmu Alam dan Ilmu Sosial: Suatu Pembahasan”, dalam  Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif (Yogyakarta: Gramedia Pustaka. 1997)

 

S. Suriasumantri, Jujun, Filsafat Ilmu, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, Cet. XVI, 2003

 

Suprapto, B, “Aturan Permainan dalam Ilmu-ilmu Alam”, dalam dalam Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif (Yogyakarta: Gramedia Pustaka. 1997)

 

Surajiyo, Filsafat ilmu dan Perkembangannya di Indonesia ( Jakarta: Bumi Aksara. 2007)

 

Susanto, Heri, Filsafat Ilmu Sosial. (Yogyakarta: Gama Media.2001)

 

 

 



[1]Rizal Mustansyir, Filsafat Ilmu (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset. 2001), hlm.139

[2] Archie J. Bahm, “What is science“, dalam Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan,( Yogyakarta: Belukar. 2004) hal 46.

[3] Surajiyo, Filsafat ilmu dan Perkembangannya di Indonesia ( Jakarta: Bumi Aksara. 2007) hlm.71-72.

[4] Bachri Gazali, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga. 2005) hlm.142.

[5] Deobold B. Van Dalen,”Ilmu-ilmu alam dan Ilmu-ilmu Sosial: Beberapa Perbedaan, dalam Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif (Yogyakarta: Gramedia Pustaka. 1997) hlm.134.

[6] B. Suprapto, “Aturan Permainan dalam Ilmu-ilmu Alam”, dalam dalam Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif (Yogyakarta: Gramedia Pustaka. 1997) hlm.129.

[7]Bachri Gazali, Opcit. Hlm.147

[8]Heri Susanto, Filsafat Ilmu Sosial. (Yogyakarta: Gama Media.2001). hlm.23

[9]Richard S. Rudner, “Perbedaan antara Ilmu Alam dan Ilmu Sosial: Suatu Pembahasan”, dalam  Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif (Yogyakarta: Gramedia Pustaka. 1997) hlm.144.

[10]Bachri Gazali,Opcit,. hlm.153

[11]M.Amin Abdullah, Kerangka Dasar Keilmuan dan Pengembangan Kurikulum, (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004), 20.

[12] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, Cet. XI, 1994, hal 99

[13]Drs. Mudlor Ahmad, Ilmu dan Keinginan Tahu, Bandung, Trigenda Karya, Cet. I, 1994, hal 40-42

[14] Ibid., hal 44

makalah aspek manajemen organisasi

makalah aspek manajemen organisasi  BAB I PENDAHULUAN   Manajemen secara umum diartikan sebagai ‘pengaturan’, artinya manajemen adalah...