BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Yang melandasi Pembelajaran Aktif,
Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM) antara lain filsafat Konstruktivisme
yang menekankan agar peserta didik mampu mengintegrasikan gagasan baru dengan
gagasan atau pengalaman awal yang telah dimiliki peserta didik. Harapannya
mereka mampu membangun makna bagi fenomena yang berbeda. (Lihat Paul Suparno).
Di samping itu, juga filsafat Pragmatisme yang menekankan agar dalam
pembelajaran peserta didik sebagai subyek yang aktif, sementara guru sebagai
fasilitator (Lihar Ornstein & Levine, 1985).
Sekurang-kurangnya dua filsafat
pendidikan tersebut yang melandasi pembelajaran model PAKEM. Tujuannya dengan
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan daya serap peserta
didik terhadap bahan ajar meningkat sehingga berdampak pada peningkatan hasil
belajar.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas,
maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1. Apa
hakekat PAKEM ?
2. Apa
saja yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan PAKEM ?
3. Bagaimana
pelaksanaan atau penerapan pembelajaran menggunakan PAKEM ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian PAKEM
Pembelajaran
adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar
informasi. Menurut Wikipedia, pengertian pembelajaranmerupakan
bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan
pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan
kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pengertian pembelajaran adalah
proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.[1]
Di sisi lain pembelajaran
mempunyai pengertian yang mirip dengan
pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar
peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu
objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan
sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta
didik, namun proses pengajaran ini
memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar
saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar
dengan peserta didik.
PAKEM merupakan model pembelajaran
dan menjadi pedoman dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan, (Rusman, 2010:322). Dengan pelaksanaan pembelajaran PAKEM,
diharapkan berkembangnya berbagai macam inovasi kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang partisipatif, aktif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan.
Pembelajaran merupakan implementasi
kurikulum di sekolah dari dari kurikulum yang sudah dirancang dan menuntut
aktivitas dan kreativitas guru dan siswa sesuai dengan rencana yang telah
diprogramkan secara efektif dan menyenangkan. Ini sesuai dengan yang dinyatakan
oleh Brooks (Rusman, 2010;323), yaitu “ pembaruan dalam harus dimulai dari
bagaimana anak belajar, dan bagaimana guru mengajar, bukan dari ketentuan
hasil.”[2]
Guru harus mengambil keputusan atas
dasar penilaian yang tepat ketika siswa belum dapat membentuk kompetensi dasar
dan standar kompetensi berdasarkan interaksi yang terjadi dalam kegiatan
pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus mampu menciptakan suasana
pembelajaran partisipatif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan supaya
kompetensi dasar dan standar kompetensi yang telah di rancang dapat tercapai.
Guru juga harus ditutut agar melakukan inovasi dalam segala hal yang berkaitan
dengan kompetensi yang disandangnya seperti inovasi dalam pembelajaran.
Untuk itu guru juga dituntut harus
memiliki pengetahuan yang luas mengenai jenis-jenis belajar ( multimetode dan
multimedia) dan suasana belajar yang kondusif, baik eksternal maupun
internal. Dalam model PAKEM menurut (Rusman, 2010;323); guru dituntut
untuk dapat melakukan kegiatan pembelajaran yang dapat ,elibatkan siswa melalui
partisipatif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan yang pada akhirnya
membuat siswa dapat menciptakan membuat karya, gagasan, pendapat, ide
atas hasil penemuannya dan usahanya sendiri, bukan dari gurunya.
a)
Pembelajaran
Partisipatif
Pembelajaran partisipatif yaitu
pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran secara optimal.
Pembe pembelajaranlajaran ini menitikberatkan pada keterlibatan siswa
pada kegiatan ( childcentre/student centre) bukan pada dominasi
guru dalamn materi pelajaran (teacher centre). Jadi pembelajaran akan
lebih bermakna bila siswa diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam
berbagai aktivitas kegiatan pembelajaran, sementara guru berperan sebagai
fasilitator dan mediator sehingga siswa mampu berperan dan berpartisipasi aktif
dalam mengaktualisasikan kemampuannya di dalam dan di luar kelas.
b)
Pembelajaran
Aktif
Pembelajaran aktif merupakan
pendekatan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktivitas siswa dalam
mengases berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam
proses pembelajaran di kelas, sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman
yang dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensinya.
Dalam pembelajaran aktif, guru
lebih banyak memosisikan dirinya sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan
kemudahan belajar (to facilitate of kearning) kepada siswa. Dalam
kegiatan ini siswa terlibat secara aktif dan berperan dalam proses
pembelajaran, sedamngkan guru lebih banyak memberikan arahan dan bimbingan,
serta mengatur sirkulasi dan jalannya proses pembelajaran.
c)
Pembelajaran
Kreatif
Pembelajaran kreatif merupakan
proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan
memunculkan kreativitas siswa selama pembelajaran berlangsung, dengan
menggunakan beberapa metode dan strategi yang bervariasi, misalnya kerja
kelompok, bermain peran, dan pemecahan masalah.
Pembelajaran kreaktif menuntut guru
untuk merangsang kreativitas siswa, baik dalam mengembangkan kecakapan berpikir
maupun dalam melakuakan suatu tindakan. Berpikir kreatif selalu dimulai
dengan berpikir kritis, yakni menemukan dan melahirkan sesuatu yang
sebelumnya tidak ada atau memperbaiki sesuatu.Berpikir kritis harus
dikembangkan dalam proses pembelajaran agar siswa terbiasa mengembangkan
kreativitasnya. Pada umumnya, berpikir kreatif memiliki empat tahapan sebagi
berikut ( Mulyasa, 2006: 192), yaitu:[3]
a. Tahapan pertama; persiapan,
yaitu proses pengumpulan informasi untuk diuji.
b. Tahap kedua; inkubasi, yaitu suatu
rentang waktu untuk merenungkan hipotesis informasi tersebut sampai
diperoleh keyakinan bahwa hipotesis tersebut rasional.
c. Tahap ketiga; iluminasi, yaitu
suatu kondisi untuk menemukan keyakinan bahwa hipotesis tersebut benar, tepat dan
rasional
d. Tahap keempat; verifkasi, yaitu
pengujian kembali hipotesis untuk dijadikan sebuah rekomendasi, konsep, atau
teori.
Siswa dikatakan kreatif apabila
mampu melakukan sesuatu yang menghasilkan sebuah kegiatan baru yang diperoleh
dari hasil berpikir kreatif dengan mewujudkannya dalam bentuk sebuah hasil
karya baru.
d)
Pembelajaran
Efektif
Pembelajaran dapat dikatakan
efektif jika mampu memberikan pengalaman baru kepada siswa membentuk kompetensi
siswa, serta mengantarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal.
Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan serta mendidik mereka dalam
perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran. Seluruh siswa harus
dilibatkan secara penuh agar bergairah dalam pembelajaran, sehingga suasana
pembelajaran betul-betul kondusif dan terarah pada tujuan dan pembentukan
kompetensi siswa.
Pembelajaran efektif menuntut
keterlibatan siswa secara aktif, karena mereka merupakan pusat kegiatan
pembelajaran dan pembentukan kompetensi. Siswa harus didorong untuk menafsirkan
informasi yang di sajikan oleh guru sampai informasi tersebut dapat diterima
oleh akal sehat. Dalam pelaksanaannya perlu proses penukaran pikiran,
diskusi, dan perdebatan dalam rangka pencapaian pemahaman yang sama terhadap
materi standar yang harus dikuasai siswa.
Pembelajaran efektif perlu didukung
oleh suasana dan lingkungan belajar yang memadai/kondusif. Oleh karena itu guru
harus mampu mengelola siswa, mengelola kegiatan pembelajaran, mengelola
isi/materi pembelajaran, dan mengelola sumber-sumber belajar. Menciptakan kelas
yang efektif dengan peningkatan efektivitas proses pembelajaran tidak bisa
dilakukan secara parsial,melainkan harus menyeluruh mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi.
Proses pelaksanaan pembelajaran
efektif dilakukan melalui prosedur sebagai berikut:[4]
1) melakukan appersepsi
2) melakukan
eksplorasi, yaitu memperkenalkan materi pokok dan kompetensi dasar yang akan
dicapai, serta menggunakan varuiasi metode
3) melakukan
konsolidasi pembelajaran, yaitu mengaktifkan siswa dalam pembentukan kompetensi
siswa dan mengaitkannya dengan kehidupan siswa,
4) melakukan
penilaian, yaitu mengumpulkan fakta-fakta dan data/dokumen belajar siswa
yang valid untuk melakukan perbaikan program pembelajaran.
Untuk melakukan pembelajaran yang
efektif , guru harus memerhatikan beberapa hal, sebagai berikut: (1)
pengelolaan tempat belajar, (2) pengelolaan siswa, (3) pengelolaan kegiatan
pembelajaran, (4) pengelolaan konten/materi pelajaran, dan (5) pengelolaan
media dan sumber belajar.
e)
Pembelajaran Menyenangkan
Pembelajaran menyenangkan (joyfull
instruction) merupakan suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat
suatu kohesi yang kuat antara guru dan siswa, tanpa ada perasaan terpaksa atau
tertekan ( not under pressure) ( Mulyasa, 2006:194). Dengan kata
lain, pembelajaran menyenangkan adalah adanya pola hubungan yang baik antara
guru dengan siswa dalam proses pembelajaran. Guru memosisikan diri sebagai
mitra belajar siswa, bahkan dalam hal tertentu tidak menutup kemungkinan guru
belajar dari siswanya. Dalam hal ini perlu diciptakan suasana yang demokratis
dan tidak ada beban, baik guru maupun siswa dalam melakukan proses
pembelajaran.
B. Prinsip PAKEM
Pembelajaran pakem merupakan sebuah
model pembelajaran kontekstual yang melibatkan paling sedikit empat prinsip
utama dalam proses pembelajarannya.
1.
Pertama, proses
Interaksi (siswa berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan siswa,
multimedia, referensi, lingkungan dsb).
2.
Kedua, proses
Komunikasi (siswa mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru dan
rekan siswa lain melalui cerita, dialog atau melalui simulasi role-play).
3.
Ketiga, proses
Refleksi, (siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah
pelajari, dan apa yang mereka telah lakukan).
4.
Keempat, proses
Eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan melibatkan semua indera mereka
melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan atau wawancara)
1.
Ciri-ciri atau
Karakteristik PAKEM
a. Pembelajarannya mengaktifkan peserta didik
b. Mendorong kreativitas peserta didik &guru
c. Pembelajarannya efektif
d. Pembelajarannya menyenangkan utamanya bagi
peserta didik
2.
Tujuan PAKEM
Depdiknas (2005b) menjelaskan bahwa
tujuan PAKEM adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan
dengan menyiapkan siswa memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan sikap untuk
persiapan kehidupan masa depannya. Kegiatan PAKEM mengeksplorasi pengelolaan
kelas belajar aktif, strategi dan teknik pembelajaran yang efektif untuk
mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir.
3.
Kelebihan dan
Kekurangan PAKEM
Segala hal yang ada di dunia ini
pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Begitu pula dalam pembelajaran model
PAKEM.
Adapun kelebihan dari model PAKEM adalah :
a.
Pakem merupakan
pembelajaran yang mengembangkan kecakapan hidup
b.
Dalam pakem
siswa belajar bekerja sama
c.
Pakem mendorong
siswa menghasilkan karya kreatif
d.
Pakem mendorong
siswa untuk terus maju mencapai sukses
e.
Pakem menghargai
potensi semua siswa
f.
Program untuk
meningkatkat pakem disekolah harus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya
Sedangkan kekurangan dari model PAKEM adalah :
a.
Perbedaan
individual siswa belum diperhatikan termasuk laki-laki / perempuan,
pintar/kurang pintar,social,ekonomi tinggi/rendah
b.
Pembelajaran
belum membelajarkan kecakapan hidup
c.
Pengelompokan
siswa masih dari segi pengaturan tempat duduk,kegiatan yang dilakukan siswa
sering kali belum mencerminkan belajar kooperatif yang benar
d.
Guru belum
memperoleh kesempatan menyaksikan pembelajaran pakem yang baik
e.
Pajangan sering
menampilkan hasil kerja siswa yang cenderung seragam
f.
Pembelajaran
masih sering berupa pengisian lembar kerja siswa (LKS) yang sebagian besar
pertanyaanya bersifat tertutup
C. Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam
Pelaksanaan Pakem
1.
Memahami
sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak memiliki sifat:
rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak
orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia – selama mereka normal
– terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar
bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif.
Kegiatan pembelajaran merupakan
salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua
sifat, anugerah Tuhan, tersebut. Suasana pembelajaran dimana guru memuji anak
karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang
mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang
subur seperti yang dimaksud.
2.
Mengenal
anak secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan
keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM
(Pembelajaran Aktif, Menyenangkan, dan Efektif) perbedaan individual perlu
diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran.
Semua anak dalam kelas tidak selalu
mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan
belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk
membantu temannya yang lemah (tutor sebaya).
Dengan mengenal kemampua n
anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga belajar anak
tersebut menjadi optimal.
3.
Memanfaatkan
perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak
kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku
ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas
atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok.
Berdasarkan pengalaman, anak akan
menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti
ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian,
anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya
berkembang.
4. Mengembangkan
kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
Pada dasarnya hidup ini adalah
memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif
pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal
dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak
lahir.
Oleh karena itu, tugas guru adalah
mengembangkannya, antara lain dengan sering-sering memberikan tugas atau
mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa
yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa,
berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu).
5. Mengembangkan
ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan
hal yang sangat disarankan dalam PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya
dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan
yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan
menimbulkan inspirasi bagi siswa lain.
D.
Penerapan
Pakem
PAKEM
diterapkan dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pembelajaran model
konvensional dinilai menjemukan, kurang menarik bagi para peserta didik
sehingga berakibat kurang optimalnya penguasaan materi bagi peserta didik.[5]
Sedangkan
PAKEM memungkinkan peserta didik mengejakan kegiatan yang beragam untuk
mengembangkan keterampilan dan pemahaman dengan penekanan kepada belajar sambil
bekerja, sementara guru menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar
termasuk pemanfaatan lingkungan supaya pembelajaran lebih menarik, menyenangkan
dan efektif.[6]
Sekurang-kurangnya
ada dua alasan mengapa pembelajaran model PAKEM diterapkan di Indonesia, yakni:
1.
PAKEM lebih
memungkinkan peserta didik dan guru sama-sama aktif terlibat dalam
pembelajaran. Selama ini kita mengenal pembelajaran model konvensional yang
dinilai hanya guru yang aktif (monologis), sementara peserta didiknya pasif,
sehingga pembelajarannya dinilai menjemukan, kurang menarik, dan tidak
menyenangkan.
2.
PAKEM lebih
memungkinkan, baik peserta didik maupun guru sama-sama kreatif. Guru berupaya
kreatif, mencoba berbagai cara melibatkan semua peserta didiknya dalam
pembelajaran. Sementara peserta didik juga dituntut kreatif pula dalam
berinteraksi dengan sesama teman, guru, maupun bahan ajar dengan segala alat
bantunya sehingga pada akhirnya hasil pembelajaran dapat meningkat.
Gambaran
PAKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama pembelajaran.
Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu
dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut tabel beberapa contoh
kegiatan pembelajaran dan kemampuan guru.
|
Kemampuan Guru |
Pembelajaran |
|
Guru
menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam. |
Sesuai
mata pelajaran, guru menggunakan, misal:Alat yang tersedia atau yang dibuat sendiriGambarStudi
kasusNara sumberLingkungan |
|
Guru
memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan. |
Siswa:Melakukan
percobaan, pengamatan, atau wawancaraMengumpulkan data/jawaban dan
mengolahnya sendiri Menarik kesimpulan Memecahkan masalah, mencari rumus
sendiri Menulis laporan/hasil karya lain dengan kata-kata sendiri |
|
Guru
memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara
lisan atau tulisan. |
Melalui:DiskusiLebih
banyak pertanyaan terbuka Hasil karya yang merupakan pemikiran anak sendiri |
|
Guru
menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa. |
Siswa
dikelompokkan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu)Bahan
pelajaran disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut.Tugas perbaikan atau
pengayaan diberikan |
|
Guru
mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman siswa sehari-hari. |
Siswa
menceritakan atau memanfaatkan pengalamannya sendiri.Siswa menerapkan hal
yang dipelajari dalam kegiatan sehari-hari |
|
Menilai
pembelajaran dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus. |
Guru
memantau kerja siswa, Guru memberikan umpan balik |
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
PAKEM adalah
singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan
bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa
sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Kreatif juga
dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga
memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkanadalah
suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan
perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya
tinggi.
Pembelajaran
pakem merupakan sebuah model pembelajaran kontekstual yang
melibatkan paling sedikit empat prinsip utama dalam proses pembelajarannya,
yaitu : proses interaksi, proses komunikasi, proses refleksi, dan proses
eksplorasi.
B. Saran
Dewasa
ini, perkembangan model dan metode pembelajaran berkembang pesat. Banyak sekali
bermunculan model-model maupun metode pembelajaran yang baru. Tujuannya sama,
intinya ingin memacu motivasi belajar siswa agar lebih aktif dalam
pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapai dicapai dengan maksimal.
Untuk
itu, sebagai seorang guru kita harus pandai-pandai menentukan model maupun
metode mana yang akan kita terapkan dalam pembalajaran.
Dalam pemilihan model dan metode tersebut kita harus sesuaikan
dengan karakteristik siswa dan pelajaran, sehingga siswa dapat mengikuti
pelajaran dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Hamalik Oemar, 1999, Kurikulum Dan
Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara.
Haryono, Anung, 2009, Media
Pembelajaran, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Henyat Soetomo. 1993. Pembinaan dan Pengembangan
Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara.
Slameto, 2003. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana Nana, 2005, Dasar –Dasar Proses Belajar
Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo.
[1] Hamalik Oemar, Kurikulum Dan
Pembelajaran, (Jakarta:
Bumi Aksara1999).hlm.78
[2] Haryono, Anung, Media Pembelajaran,
(Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada. 2009).hlm.90
[3] Sudjana Nana, 2005, Dasar –Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar
Baru Algesindo.
[4] Henyat Soetomo. Pembinaan dan
Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara.1990), hlm.89
[5] Slameto, 2003. Belajar Dan
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta.hlm.76
[6] Ibid.