BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Baik
dan buruk adalah persoalan yang pertama kali muncul di kalangan para filsuf
yunani. Persoalan ini pula yang menjadi pembicaraan utama dalam kajian ilmu
akhlak dan ilmu estetika. Sebelum membahas lebih lanjut tentang baik dan buruk
alangkah baiknaya untuk memahami kedua istilah tersebut yaitu baik dan buruk.
istilah
ini merupakan dua kata yang banyak digunakan untuk menentukan suatu perbuatan
yang dilakukan oleh manusia.Manusia pada dasarnya adalah mahkluk yang berprilaku
baik, tapi ada masa dimana manusia bisa berprilaku buruk. Baik dan buruk dalam
kehidupan menjadi tolak ukur apakah perilaku itu bermamfaat atau tidak.
Pembicaraan
mengenai baik dan buruk penting karna dua alasan. Pertama, persoalan ini
menjadi pembahasan utama ilmu ahklak sekaligus menjadi inti keberagaman
seseorang, kedua, mengetahui pandangan islam tentang persoalan ini di tengah
maraknya berbagai aliran yang memperbicangkan persoalan ini.
Baik
dan buruk selalu dikaitkan dengan adat istiadat yang berlaku dimasyarakat. Baik
dan buruk terlihat dari bagaimana seseorang berinteraksi dengan lingkungannya.
Kebaikan seseorang akan ternilai baik jika bermamfaat bagi banyak orang dan
sesuai dengan nilai-nilai norma yang berlaku, dan dinilai buruk jika perilaku seseorang
merugikan orang lain dan tidak sesuai dengan nilai-nilai norma.
Baik
dan buruk merupakan dua istilah yang banyak digunakan untuk menentukan suatu
perbuatan yang dilakukan seseorang. Kata baik dan buruk mengandung pengertian value (nilai), yang artinya kedua kata
tersebut berfungsi sebagai keterangan kualitas, karena merupakan kata sifat
yang bertugas menjelaskan atau nilai sesuatu.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian baik?
2. Bagaimana
adanya kebaikan?
3. Bagaimana
perbuatan baik menurut etikha?
4. Apa
pengertian buruk?
5. Bagaimana
ukuran baik dan buruk?
6. Bagaiman
ukuran baik dan buruk menurut islam?
C.
Tujuan
Masalah
1. Untuk
mengetahui pengertian baik.
2. Untuk
mengetahui bagaimana adanya kebaikan.
3. Untuk
mengetahui bagaimana perbuatan baik menurut etikha.
4. Untuk
mengetahui pengertian buruk.
5. Untuk
mengetahui bagaimana ukuran baik dan buruk.
6. Untuk
mengetahui bagaiman ukuran baik dan buruk menurut islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Baik
Pengertian
“baik” menurut Ethik adalah sesuatu yang berharga untuk sesuatu tujuan.
Sebagaimana pengertian benar dan salah, maka pada pengertian baik dan buruk
juga ada subjektif dan relatif, baik bagi seseorang belum tentu baik bagi orang
lain.sesuatu itu baik bagi seseorang apabila hal itu sesuai dan berguna untuk
tujuannya. Hal yang sama adalah mungkin buruk bagi orang lain, karena hal
tersebut tidak akan berguna bagi tujuannya. Masing-masing orang mempunyai
tujuan yang berbeda-beda bahkan ada yang bertentangan sehingga yang berharga
bagi seseorang atau untuk suatu golongan berbeda dengan yang harganya untuk
orang atau golongan lainnya.[1]
Akan
tetapi secara obyektif, walaupun tujuan orang atau golongan di dunia ini
berbeda-beda, sesungguhnya pada akhirnya semua mempunyai tujuan yang sama,
sebagai tujuan akhir tiap-tiap sesuatu, bukan saja manusia bahkan binatang pun
mempunyai tujuan. Dan tujuan akhir dari semuanya itu sama, yaitu bahwa semuanya
ingin baik. Dengan kata lain semuanya ingin bahagia. Tak ada seorang pun dan
satupun yang tidak ingin bahagia.
Di
dalam akhlak islamiah, antara baik sebagai alat/cara /tujuan sementara harus
segaris/sejalan dengan baik sebagai tujuan terakhir. Artinya cara untuk
mencapai tujuan baik sebagai tujuan sementara dan tujuan akhir berada dalam
satu garis lurus yaitu berdasarkan norma. Disamping baik juga harus benar,
sebab tidak semuaa cara yang berharga untuk mencapai tujuan itu disebut baik
apabila tidak segaris dengan baik sebagai tujuan akhir.
Tujuan
dari masing-masing sesuatu, walaupun berbeda-beda, semuanya akan bermuara
kepada satu tujuan yang dinamakan baik dan bahagia.kebaikan tertinggi ini bisa
juga disebut kebagiaan yang universal atau universal happiness.
Tujuan
akhir bagi setiap orang adalah bahagia. Untuk mencapai kebahagiaan masa kini
dan masa nanti orang berusaha untuk mencapainya. Jalan yang dipilih yang
menghubungkan keinginan dan tujuan iru berbeda-beda. Ada yang memilih melalui
studi untuk mendapatkan ilmu, yang dengan ilmunya menjadi jalan untuk sampai
kepada kebahagiaan. Ada yang dengan jalan menjadi pengusaha dan berdagang, yang
dengan berdagang akan menjadi orang yang mempunyai kekayaan, melalui kekayaanya
akan dipakai jalan untuk menuju kebahagiaan yang ditujunya. Ada yang melalui
jadi karyawan, sesuai dengan kemampuan yang ada padanya. Semua ini sebagai
tujuan pertama yang harus ditempuh terlebih dahulu untuk mencapai tujuan
selanjutnya.[2]
Dalam
ahklak islamiah, saan/cara yang sampai kepada tujuan-tujuan itu tetap harus
segaris, yaitu yang normative baik, bahw umpamanya untuk menjadi sarjana, ia
harus belajar, untuk belajar ia perlu buku-buku dan kitab-kitab kepustakaan.
Dan untuk mempunyai buku- buku dan
kitab-kitab ia harus membelinya.karna itu hal yang baik disertai dengan
kebenaran.
Di
dalam akhlak islamiah, untuk mencapai tujuan baik harus dengan jalan yang baik
dan benar. Sebab ada garis yang jelas antara yang boleh dan tidak boleh, ada
garis demarkasi antar yang boleh dilampaui dan tidak boleh dilampaui, garis
pemisah antara halal dan haram. Yang seharusnya melalui jalan yang dibolehkan
dan tidak tidak boleh melalui jalan yang dilarang.
Sebagaiman
contohnya kalau ada orang yang bertengkar atau bermusuhan sehingga yang satu
mau membunuh yang lainnya dan yang akan dibunuh itu sembunyi di tempat kita,
kalu kita berkata dengan jujur dan yang sebenarnya akan menimbulkan hal yang
tidak baik, bahkan akan menimbulkan perbuatan melanggar kebenaran yang
membiarkan pembunuhan. Karena itu dalam kasus yang tersebut yang baik adalah
tidak memberitahukan, sehingga orang akan selamat, yang dengan tidak
memberitahukan itu kita melindungi jiwa dari pembunuhan dan menolong orang yang
akan membunuh untuk tidak melakukan pelanggaran dan dosa besar.
B. Adanya
kebaikan
Banyak
orang yang mengira bahwa orang yang mengetahui tentang baik itu otomatis
menjadi baik, orang yang mengetahui ilmu akhlak menjadi orang yang berakhlak
mulia seperti halnya orang yang mengetahui ilmu agama, pandai dalam ilmu agama
menjadi orang yang beragama dengan baik. Belum tentu orang yang pandai dalam
ilmu agama itu menjalankan agama secara baik, seperti halnya orang yang tahu
akan ilmu ahklak belum tentu menjadi orang yang berakhlak mulia.
Kedudukan
ilmu akhlak dalam hal menunjukkan perbuatan yang baik dan yang lebih baik yang
seyogianya dilakukan oleh seseorang, dan yang buruk yang seharusnya dijauhi
adalah seperti halnya resep dari dokter yang menunjuk obat-obatan yang
seyogiannya dilakukan oleh si pasien. Atau kedudukan orang yang mengetahui ilmu
tentang baik dan buruk seperti halnya seorang pasien yang mengetahui atau
ditunjuk dokter tentang obat malaria dengan pil kina.
Soalnya
terserah kepada si pasien sendiri, apakah dia mau melakukan minum obat agar dia
sembuh atau tidak. Apabila dia tahu obat penyakit tapi tidak mulu melaksanakan
berobat tentu tidak akan sembuh dari penyakitnya. Demikian pula halnya orang
yang mengetahui ilmu tentang baik dan buruk yang baik yang seharusnya
dilakukan.
Kalau
kita akan menjadi orang baik, kita harus menjalankan kebaikan itu. Kalau kita
ingin menjadi orang beragama kita harus melaksanakan ketentuan-ketentuan agama.
Dan kebaikan ini akan menjadi akhlaknya apabila perbuatan baik itu
dibiasakannya. Tidak cukup untuk disebut berakhlak baik apabila melakukan
kebaikan itu tidak menjadi kebiasaannya. Umpamanya shalat hanya sesekali atau
puasanya sering ditinggalkan atau zakatnya tidak diberikan.[3]
C. Macam
Perbuatan Baik Menurut Ethika
Bagaimanakah
perbuatan yang disebut baik oleh ethika? Hal-hal atau sifat-sifat atau
perbuatan tingkah laku seseorang yang mempunyai predkat baik, atau yang
dikategorikan kepada kebaikan, tidak semuanya menjadi baik.
Perbuatan
atau hal-hal yang baik ada beberapa macam, ada yang baik, yang sangat baik dan
ada yang terbaik, di samping ada yang kurang dan terlalu. Yang baik paa garis
besarnya ada dua macam : yang baik dan terbaik. Di luar daripaa itu adalah
tidak baik.
Sesuatu
perbuatan disebut baik, ada yang paling baiknya, umpamanya berderma adalah
baik. Berderma yang bagaimana yang terbaik. Tentu hal ini harus diukur dari
keadaan yang berderma itu sendiri, tentu tidak sama antara orang jutawan dengan
orang biasa. Demikian pula sifat baik, seperti berani adalah baik. Hemat adalah
baik tapi bagaimana yang terbaik.
Menurut
ahli filsafat tidak semua yang dilakukan kebaika itu menjadi baik, bahkan
menjadi tidak baik apabila dilakukan secara kurang atau dilakukan keterlaluan.
Menurut Plato, ahi filsafat kuno, yang baik itu ialah yang ada di tengah-tengah
antara dua ujungawal dan ujung akhir. Sebelum ujung awal adalah kurang dan
sesudah ujung akhir adalah terlalu.
Adapun
pertengahan itu tidak persis ditengah betul, mungkin di tengah betul mungkin
dekat dengan ke ujung awal, mungkin dekat ujung akhir. Sebagaimana contohnya,
umpamanya “berani” adalah baik : kurang berani sebelum ujung awal adalah
pengecut, ini tidak baik. Terlalu berani, sesudah ujung akhir adalh nekad ini
juga tidak baik, yang baik adalah berani yang peertengahan tidak pengecut dan
tidak nekad, tapi berani dengan segala perhitungan untuk kemenangan. Pengecut
menyebabkan kekalahan dan nekad menyebabkan kehancuran juga kalah.[4]
D. Pengertian
buruk
Sesuatu yang
tidak berharga, tidak berguna untuk tujuan. Apabila yang merugikan atau yang
menyebabkan tidak tercapainya tujuan adalah
“buruk”. Apa yang kamu tabur, itu yang akan kamu tuai. Perilaku yang
baik akan membuahkan hasil yang baik, sedangkan perilaku yang buruk akan
membuahkan hasil yang buruk pula. Jika kamu mau menuai hasil yang baik dalam
hidupmu, lakukan ha-hal yang baik dari sekarang dan kikis kebiasaan burukmu.
Ada beberepa contoh perilkaku buruk dalam masyarakat di sekitar kita :[5]
1. Malas
Kebiasaan
malas timbul dari kebiasaan menunda-nunda suatu pekerjaan, sebab ia penyakit
yang bisa menjagkit siapapun, hindari kebiasaan menunda-nunda jika tidak ingin hidup hancur hanya karna rasa malas
yang mengakar dalam hdup.
2. Emosi
yang tinggi
Emosi
yang tinggi tentu memiliki tingkat emosional yang berbeda-beda. Keadaan
emosional seseorang yang tinggi seringkali menyebabkan ia mudah marah, jika hal
ini terus menerus hidup akan kacau. Mengapa? Karna kemaharan dapat menimbulkan
pertengkaran dan orang yang lekas gusar mempunyai banyak pelanggaran, yang mana
ia akan berkesan buruk
3. Hawa
nafsu
Musuh
di dalam diri sendiri adalah hawa nafsu. Hawa nafsu memang merupakan
kecendrungan alamiah terhadap sesuatu yang sesuai dengan keinginan, namun jika
kamu menurutinya hidup akan celaka. Karena itu, jangan mengingkari sesuatu yang
bukan milikmu, jangan dengarkan jeritan hati yang membahayakan.
4. Serakah
Sikap
serakah timbul dari ketidakpasan akan sesuatu yang telah dicapai. Maka dari
itu, berlatih untuk berpuas diri sangat penting. Bersyukurlah dengan apa yang
kamu rasakan dan miliki saat ini karena sikap serakah seringkali menuntun
seseorang melakukan tindak kejahatan.
5. Iri
hati.
Sikap
iri hati sering tercermin saat seseorang tidak suka melihat orang lain lebis
sukses dari dirinya, lebih mapan, lebih rupawan, dan lebih segalanya. Inilah
yang menyeybabkan seseorang terdorong untuk berbuat jahat.
6. Egois
Egois
atau ingin menang sendiri merupakan sikap dimana kamu lebih mementingkan
kepentingan pribadi disbanding orang lain. Manusia adalah makhluk sosial yang
artinya kamu tidak dapat hidup sendiri dan kamu akan selalu butuh bantuan orang
lain. Sebab tidak mungkin bisa berdiri sendiri seperti sekarang ini tanpa
dukungan oleh orang-orang di sekeliling kita.
E. Ukuran
Baik dan Buruk
Setiap
gerak atau langkah untuk mencari nilai, sudah tentu manusia memiliki standar
untuk mengukur sesuatu yang baik dan buruk. Atas dasar ini muncul berbagai
aliran[6]
1. Aliran
naturalisme
Menurut
aliran ini, ukuran baik dan buruk adalah sesuatu itu sesuai dengan fitrah
(naluri) manusia atau tidak. Apabila sesuai dengan fitrah dikatakan baik,
sedangkan apabila tidak sesuai akan dipandang buruk. Seluruh makhluk yang
diciptakan di dunia ini hanya memiliki satu tujuan yaitu memenuhi suatu
panggilan kearah kesempurnaan yang abadi. Sebab manusia dibekali akal.
2. Aliran
Hedonisme
Aliran
ini memiliki pandangan :
a. Setiap
perbuatan dikatakan susila apabila perbuatan itu mengandung kelezatan atau
kenikmatan.
b. Kelezatan
atau kenikmatan merupakan suatu tolak ukur dalam menentukan baik buruknya suatu
perbuatan.
3. Aliran
Eudaemonisme
Aliran
ini memiliki beberapa pandangan :
a. Tujaun
hidup dan kegiatan manusia adalah tercapainya kebahagiaan dan kesejahteraan
yang sifatnya hanya sementara.
b. Kesenangan
dan kebahagiaan jasmaniah adalah satu-satunya hal yang baik dalam dirinya
sendiri, sedangkan kejahatan dianggap sebagai penyebab utama segala bentuk rasa
sakit dan kesedihan.
c. Yang
disebut baik secara moral adalah hal-hal yang mendatangkan kegunaan dan
keuntungan dalam upaya manusia mencapai cita-citanya, yaitu kebahagiaan dan
sukses sementara.
4. Aliran
humanisme
Menurut
aliran ini perbuatan baik adalah perbuatan yang sesuai dengan penilaian yang
diberikan oleh hati nurani. Dan sebaliknya perbuatan buruk adalah perbuatan
yang menurut hati nurani atau kekuatan batin di pandang buruk.
5. Aliran
utilitarianisme
Memiliki
beberapa pandangan
a. Baik
buruknya suatu perbuatan atas dasar besar kecilnya mamfaat yang ditimbulkan
bagi manusia.
b. Kebaikan
yang tertinggi adalah mamfaat
c. Tujuannya
adalah kebahagiaan orang banyak
6. Aliran
vitalisme
Menurut
paham ini yang baik adalah yang mencermnkan kekuatan dalam hidup manusia. Paham
ini lebih lanjut cendrung pada sikap binatang, dan berlku hukum siapa yang kuat
dan menang itulah yang baik. Kekuatan dan kekuasaan menjadi lambang dan status
sosial untuk dihormati.
7. Aliran
religiosisme.
Menurut
aliran ini yang dianggap baik adalah perbuatan yang sesuai dengan kehendak
tuhan, sedangkan perbuatan yang buruk adalah tidak sesuai dengan kehendak
tuhan, dalam paham ini keyakinan teologis, yakni keimanan kepada tuhan sangat
memegang peranan penting, karena tidak mungkin orang mau berbuat sesuai dengan
kehendak tuhan, jika yang bersangkutan tidak beriman kepada Nya.
F. Baik
dan buruk menurut ajaran islam
Menurut
ajaran islam penentuan baik dan buruk harus berdasarkan pada petunjuk ajaran al
quran dan hadist. Didalam al quran maupun hadist dapat dijumpai berbagai
istilah yang mengacu pada kebaikan dan ada pula istilah yang mengacu kepada
yang buruk misalnya al hasanah,
atthoyyibah, khairah, karimah, mahmudah dan al birr.
1. Al-hasanah
digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau dipandang baik
2. Atthoyyibah
khusus digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang memberikan kelezatan kepada
panca indra dan jiwa
3. Al-khoir
digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang baik oleh seluruh ummat Islam
4. Al-mahmudah
digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang utama sebagai akibat dari melakukan
sesuatu yang disukai oleh Allah SWT dengan demikian Al-mahmudah lebih
menunjukkan kepada kebaikan yang bersifat batin dan spiritual
5. Al-karimah
digunakan untuk menunjukkan pada perbuatan dan akhlah yang terpuji yang
ditampakkan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Biasanya Al-karimah ini
digunakan untuk menunjukkan perbuatan terpuji
6. Al-birr
digunakan untuk menunjukkan pada upaya memperluas atau memperbanyak melakuka
perbuatan yang baik.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengertian
“baik” menurut Ethik adalah sesuatu yang berharga untuk sesuatu tujuan, Di
dalam akhlak islamiah, antara baik sebagai alat/cara /tujuan sementara harus segaris/sejalan
dengan baik sebagai tujuan terakhir. Artinya cara untuk mencapai tujuan baik
sebagai tujuan sementara dan tujuan akhir berada dalam satu garis lurus yaitu
berdasarkan norma. Disamping baik juga harus benar, sebab tidak semuaa cara
yang berharga untuk mencapai tujuan itu disebut baik apabila tidak segaris
dengan baik sebagai tujuan akhir.
Tujuan akhir bagi setiap orang adalah bahagia.
Untuk mencapai kebahagiaan masa kini dan masa nanti orang berusaha untuk
mencapainya. Jalan yang dipilih yang menghubungkan keinginan dan tujuan iru
berbeda-beda. Kalau kita akan menjadi orang baik, kita harus menjalankan
kebaikan itu. Kalau kita ingin menjadi orang beragama kita harus melaksanakan
ketentuan-ketentuan agama. Dan kebaikan ini akan menjadi akhlaknya apabila
perbuatan baik itu dibiasakannya.
Sesuatu
yang tidak berharga, tidak berguna untuk tujuan. Apabila yang merugikan atau
yang menyebabkan tidak tercapainya tujuan adalah “buruk”. Adapun contohnya malas, emosi yang
tinggi, hawa nafsu, serakah, iri hati dan egois.
Ukuran baik dan burk menurut bebrapa
aliran
1. Aliran
naturalism
2. Aliran
Hedonisme
3. Aliran
Eudaemonisme
4. Aliran
humanisme
5. Aliran
utilitarianisme
6. Aliran
vitalisme
7. Aliran
religiosisme
Ukuran baik dan buruk menurut islam
1. Al-hasanah
2. Atthoyyibah
3. Al-khoir
4. Al-mahmudah
5. Al-karimah
6. Al-birr
B. Saran
Dalam
makalah ini tentunya ada banyak sekali koreksi dari para pembaca, karena kami
menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Maka dari itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca yang dengan itu
semua kami harapkan makalah ini akan menjadi lebih baik lagi.
DAFTAR
PUSTAKA
Rachmat
Djatnika, system etika islam,
Jakarta: pustaka panjimas, 1992