Tampilkan postingan dengan label Standarisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Standarisasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juni 2022

Free Download Makalah Standarisasi Baik dan Buruk

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Baik dan buruk adalah persoalan yang pertama kali muncul di kalangan para filsuf yunani. Persoalan ini pula yang menjadi pembicaraan utama dalam kajian ilmu akhlak dan ilmu estetika. Sebelum membahas lebih lanjut tentang baik dan buruk alangkah baiknaya untuk memahami kedua istilah tersebut yaitu baik dan buruk.

istilah ini merupakan dua kata yang banyak digunakan untuk menentukan suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia.Manusia pada dasarnya adalah mahkluk yang berprilaku baik, tapi ada masa dimana manusia bisa berprilaku buruk. Baik dan buruk dalam kehidupan menjadi tolak ukur apakah perilaku itu bermamfaat atau tidak.

Pembicaraan mengenai baik dan buruk penting karna dua alasan. Pertama, persoalan ini menjadi pembahasan utama ilmu ahklak sekaligus menjadi inti keberagaman seseorang, kedua, mengetahui pandangan islam tentang persoalan ini di tengah maraknya berbagai aliran yang memperbicangkan persoalan ini.

Baik dan buruk selalu dikaitkan dengan adat istiadat yang berlaku dimasyarakat. Baik dan buruk terlihat dari bagaimana seseorang berinteraksi dengan lingkungannya. Kebaikan seseorang akan ternilai baik jika bermamfaat bagi banyak orang dan sesuai dengan nilai-nilai norma yang berlaku, dan dinilai buruk jika perilaku seseorang merugikan orang lain dan tidak sesuai dengan nilai-nilai norma.

Baik dan buruk merupakan dua istilah yang banyak digunakan untuk menentukan suatu perbuatan yang dilakukan seseorang. Kata baik dan buruk mengandung pengertian value (nilai), yang artinya kedua kata tersebut berfungsi sebagai keterangan kualitas, karena merupakan kata sifat yang bertugas menjelaskan atau nilai sesuatu.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian baik?

2.      Bagaimana adanya kebaikan?

3.      Bagaimana perbuatan baik menurut etikha?

4.      Apa pengertian buruk?

5.      Bagaimana ukuran baik dan buruk?

6.      Bagaiman ukuran baik dan buruk menurut islam?

C.    Tujuan Masalah

1.      Untuk mengetahui pengertian baik.

2.      Untuk mengetahui bagaimana adanya kebaikan.

3.      Untuk mengetahui bagaimana perbuatan baik menurut etikha.

4.      Untuk mengetahui pengertian buruk.

5.      Untuk mengetahui bagaimana ukuran baik dan buruk.

6.      Untuk mengetahui bagaiman ukuran baik dan buruk menurut islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Baik

Pengertian “baik” menurut Ethik adalah sesuatu yang berharga untuk sesuatu tujuan. Sebagaimana pengertian benar dan salah, maka pada pengertian baik dan buruk juga ada subjektif dan relatif, baik bagi seseorang belum tentu baik bagi orang lain.sesuatu itu baik bagi seseorang apabila hal itu sesuai dan berguna untuk tujuannya. Hal yang sama adalah mungkin buruk bagi orang lain, karena hal tersebut tidak akan berguna bagi tujuannya. Masing-masing orang mempunyai tujuan yang berbeda-beda bahkan ada yang bertentangan sehingga yang berharga bagi seseorang atau untuk suatu golongan berbeda dengan yang harganya untuk orang atau golongan lainnya.[1]  

Akan tetapi secara obyektif, walaupun tujuan orang atau golongan di dunia ini berbeda-beda, sesungguhnya pada akhirnya semua mempunyai tujuan yang sama, sebagai tujuan akhir tiap-tiap sesuatu, bukan saja manusia bahkan binatang pun mempunyai tujuan. Dan tujuan akhir dari semuanya itu sama, yaitu bahwa semuanya ingin baik. Dengan kata lain semuanya ingin bahagia. Tak ada seorang pun dan satupun yang tidak ingin bahagia.

Di dalam akhlak islamiah, antara baik sebagai alat/cara /tujuan sementara harus segaris/sejalan dengan baik sebagai tujuan terakhir. Artinya cara untuk mencapai tujuan baik sebagai tujuan sementara dan tujuan akhir berada dalam satu garis lurus yaitu berdasarkan norma. Disamping baik juga harus benar, sebab tidak semuaa cara yang berharga untuk mencapai tujuan itu disebut baik apabila tidak segaris dengan baik sebagai tujuan akhir.

Tujuan dari masing-masing sesuatu, walaupun berbeda-beda, semuanya akan bermuara kepada satu tujuan yang dinamakan baik dan bahagia.kebaikan tertinggi ini bisa juga disebut kebagiaan yang universal atau universal happiness.

Tujuan akhir bagi setiap orang adalah bahagia. Untuk mencapai kebahagiaan masa kini dan masa nanti orang berusaha untuk mencapainya. Jalan yang dipilih yang menghubungkan keinginan dan tujuan iru berbeda-beda. Ada yang memilih melalui studi untuk mendapatkan ilmu, yang dengan ilmunya menjadi jalan untuk sampai kepada kebahagiaan. Ada yang dengan jalan menjadi pengusaha dan berdagang, yang dengan berdagang akan menjadi orang yang mempunyai kekayaan, melalui kekayaanya akan dipakai jalan untuk menuju kebahagiaan yang ditujunya. Ada yang melalui jadi karyawan, sesuai dengan kemampuan yang ada padanya. Semua ini sebagai tujuan pertama yang harus ditempuh terlebih dahulu untuk mencapai tujuan selanjutnya.[2]

Dalam ahklak islamiah, saan/cara yang sampai kepada tujuan-tujuan itu tetap harus segaris, yaitu yang normative baik, bahw umpamanya untuk menjadi sarjana, ia harus belajar, untuk belajar ia perlu buku-buku dan kitab-kitab kepustakaan. Dan untuk mempunyai  buku- buku dan kitab-kitab ia harus membelinya.karna itu hal yang baik disertai dengan kebenaran.

Di dalam akhlak islamiah, untuk mencapai tujuan baik harus dengan jalan yang baik dan benar. Sebab ada garis yang jelas antara yang boleh dan tidak boleh, ada garis demarkasi antar yang boleh dilampaui dan tidak boleh dilampaui, garis pemisah antara halal dan haram. Yang seharusnya melalui jalan yang dibolehkan dan tidak tidak boleh melalui jalan yang dilarang.

Sebagaiman contohnya kalau ada orang yang bertengkar atau bermusuhan sehingga yang satu mau membunuh yang lainnya dan yang akan dibunuh itu sembunyi di tempat kita, kalu kita berkata dengan jujur dan yang sebenarnya akan menimbulkan hal yang tidak baik, bahkan akan menimbulkan perbuatan melanggar kebenaran yang membiarkan pembunuhan. Karena itu dalam kasus yang tersebut yang baik adalah tidak memberitahukan, sehingga orang akan selamat, yang dengan tidak memberitahukan itu kita melindungi jiwa dari pembunuhan dan menolong orang yang akan membunuh untuk tidak melakukan pelanggaran dan dosa besar.

 

B.     Adanya kebaikan

Banyak orang yang mengira bahwa orang yang mengetahui tentang baik itu otomatis menjadi baik, orang yang mengetahui ilmu akhlak menjadi orang yang berakhlak mulia seperti halnya orang yang mengetahui ilmu agama, pandai dalam ilmu agama menjadi orang yang beragama dengan baik. Belum tentu orang yang pandai dalam ilmu agama itu menjalankan agama secara baik, seperti halnya orang yang tahu akan ilmu ahklak belum tentu menjadi orang yang berakhlak mulia.

Kedudukan ilmu akhlak dalam hal menunjukkan perbuatan yang baik dan yang lebih baik yang seyogianya dilakukan oleh seseorang, dan yang buruk yang seharusnya dijauhi adalah seperti halnya resep dari dokter yang menunjuk obat-obatan yang seyogiannya dilakukan oleh si pasien. Atau kedudukan orang yang mengetahui ilmu tentang baik dan buruk seperti halnya seorang pasien yang mengetahui atau ditunjuk dokter tentang obat malaria dengan pil kina.

Soalnya terserah kepada si pasien sendiri, apakah dia mau melakukan minum obat agar dia sembuh atau tidak. Apabila dia tahu obat penyakit tapi tidak mulu melaksanakan berobat tentu tidak akan sembuh dari penyakitnya. Demikian pula halnya orang yang mengetahui ilmu tentang baik dan buruk yang baik yang seharusnya dilakukan.

Kalau kita akan menjadi orang baik, kita harus menjalankan kebaikan itu. Kalau kita ingin menjadi orang beragama kita harus melaksanakan ketentuan-ketentuan agama. Dan kebaikan ini akan menjadi akhlaknya apabila perbuatan baik itu dibiasakannya. Tidak cukup untuk disebut berakhlak baik apabila melakukan kebaikan itu tidak menjadi kebiasaannya. Umpamanya shalat hanya sesekali atau puasanya sering ditinggalkan atau zakatnya tidak diberikan.[3]

 

C.    Macam Perbuatan Baik Menurut Ethika

Bagaimanakah perbuatan yang disebut baik oleh ethika? Hal-hal atau sifat-sifat atau perbuatan tingkah laku seseorang yang mempunyai predkat baik, atau yang dikategorikan kepada kebaikan, tidak semuanya menjadi baik.

Perbuatan atau hal-hal yang baik ada beberapa macam, ada yang baik, yang sangat baik dan ada yang terbaik, di samping ada yang kurang dan terlalu. Yang baik paa garis besarnya ada dua macam : yang baik dan terbaik. Di luar daripaa itu adalah tidak baik.

Sesuatu perbuatan disebut baik, ada yang paling baiknya, umpamanya berderma adalah baik. Berderma yang bagaimana yang terbaik. Tentu hal ini harus diukur dari keadaan yang berderma itu sendiri, tentu tidak sama antara orang jutawan dengan orang biasa. Demikian pula sifat baik, seperti berani adalah baik. Hemat adalah baik tapi bagaimana yang terbaik.

Menurut ahli filsafat tidak semua yang dilakukan kebaika itu menjadi baik, bahkan menjadi tidak baik apabila dilakukan secara kurang atau dilakukan keterlaluan. Menurut Plato, ahi filsafat kuno, yang baik itu ialah yang ada di tengah-tengah antara dua ujungawal dan ujung akhir. Sebelum ujung awal adalah kurang dan sesudah ujung akhir adalah terlalu.

Adapun pertengahan itu tidak persis ditengah betul, mungkin di tengah betul mungkin dekat dengan ke ujung awal, mungkin dekat ujung akhir. Sebagaimana contohnya, umpamanya “berani” adalah baik : kurang berani sebelum ujung awal adalah pengecut, ini tidak baik. Terlalu berani, sesudah ujung akhir adalh nekad ini juga tidak baik, yang baik adalah berani yang peertengahan tidak pengecut dan tidak nekad, tapi berani dengan segala perhitungan untuk kemenangan. Pengecut menyebabkan kekalahan dan nekad menyebabkan kehancuran juga kalah.[4]

 

D.    Pengertian buruk

Sesuatu yang tidak berharga, tidak berguna untuk tujuan. Apabila yang merugikan atau yang menyebabkan tidak tercapainya tujuan adalah  “buruk”. Apa yang kamu tabur, itu yang akan kamu tuai. Perilaku yang baik akan membuahkan hasil yang baik, sedangkan perilaku yang buruk akan membuahkan hasil yang buruk pula. Jika kamu mau menuai hasil yang baik dalam hidupmu, lakukan ha-hal yang baik dari sekarang dan kikis kebiasaan burukmu. Ada beberepa contoh perilkaku buruk dalam masyarakat di sekitar kita :[5]

1.      Malas

Kebiasaan malas timbul dari kebiasaan menunda-nunda suatu pekerjaan, sebab ia penyakit yang bisa menjagkit siapapun, hindari kebiasaan menunda-nunda jika tidak  ingin hidup hancur hanya karna rasa malas yang mengakar   dalam hdup.

2.      Emosi yang tinggi

Emosi yang tinggi tentu memiliki tingkat emosional yang berbeda-beda. Keadaan emosional seseorang yang tinggi seringkali menyebabkan ia mudah marah, jika hal ini terus menerus hidup akan kacau. Mengapa? Karna kemaharan dapat menimbulkan pertengkaran dan orang yang lekas gusar mempunyai banyak pelanggaran, yang mana ia akan berkesan buruk

3.      Hawa nafsu

Musuh di dalam diri sendiri adalah hawa nafsu. Hawa nafsu memang merupakan kecendrungan alamiah terhadap sesuatu yang sesuai dengan keinginan, namun jika kamu menurutinya hidup akan celaka. Karena itu, jangan mengingkari sesuatu yang bukan milikmu, jangan dengarkan jeritan hati yang membahayakan.

4.      Serakah

Sikap serakah timbul dari ketidakpasan akan sesuatu yang telah dicapai. Maka dari itu, berlatih untuk berpuas diri sangat penting. Bersyukurlah dengan apa yang kamu rasakan dan miliki saat ini karena sikap serakah seringkali menuntun seseorang melakukan tindak kejahatan.

5.      Iri hati.

Sikap iri hati sering tercermin saat seseorang tidak suka melihat orang lain lebis sukses dari dirinya, lebih mapan, lebih rupawan, dan lebih segalanya. Inilah yang menyeybabkan seseorang terdorong untuk berbuat jahat.

6.      Egois

Egois atau ingin menang sendiri merupakan sikap dimana kamu lebih mementingkan kepentingan pribadi disbanding orang lain. Manusia adalah makhluk sosial yang artinya kamu tidak dapat hidup sendiri dan kamu akan selalu butuh bantuan orang lain. Sebab tidak mungkin bisa berdiri sendiri seperti sekarang ini tanpa dukungan oleh orang-orang di sekeliling kita.

 

E.     Ukuran Baik dan Buruk

Setiap gerak atau langkah untuk mencari nilai, sudah tentu manusia memiliki standar untuk mengukur sesuatu yang baik dan buruk. Atas dasar ini muncul berbagai aliran[6]

1.      Aliran naturalisme

Menurut aliran ini, ukuran baik dan buruk adalah sesuatu itu sesuai dengan fitrah (naluri) manusia atau tidak. Apabila sesuai dengan fitrah dikatakan baik, sedangkan apabila tidak sesuai akan dipandang buruk. Seluruh makhluk yang diciptakan di dunia ini hanya memiliki satu tujuan yaitu memenuhi suatu panggilan kearah kesempurnaan yang abadi. Sebab manusia dibekali akal.

2.      Aliran Hedonisme

Aliran ini memiliki pandangan :

a.       Setiap perbuatan dikatakan susila apabila perbuatan itu mengandung kelezatan atau kenikmatan.

b.      Kelezatan atau kenikmatan merupakan suatu tolak ukur dalam menentukan baik buruknya suatu perbuatan.

3.      Aliran Eudaemonisme

Aliran ini memiliki beberapa pandangan :

a.       Tujaun hidup dan kegiatan manusia adalah tercapainya kebahagiaan dan kesejahteraan yang sifatnya hanya sementara.

b.      Kesenangan dan kebahagiaan jasmaniah adalah satu-satunya hal yang baik dalam dirinya sendiri, sedangkan kejahatan dianggap sebagai penyebab utama segala bentuk rasa sakit dan kesedihan.

c.       Yang disebut baik secara moral adalah hal-hal yang mendatangkan kegunaan dan keuntungan dalam upaya manusia mencapai cita-citanya, yaitu kebahagiaan dan sukses sementara.

4.      Aliran humanisme

Menurut aliran ini perbuatan baik adalah perbuatan yang sesuai dengan penilaian yang diberikan oleh hati nurani. Dan sebaliknya perbuatan buruk adalah perbuatan yang menurut hati nurani atau kekuatan batin di pandang buruk.

5.      Aliran utilitarianisme

Memiliki beberapa pandangan

a.       Baik buruknya suatu perbuatan atas dasar besar kecilnya mamfaat yang ditimbulkan bagi manusia.

b.      Kebaikan yang tertinggi adalah mamfaat

c.       Tujuannya adalah kebahagiaan orang banyak

6.      Aliran vitalisme

Menurut paham ini yang baik adalah yang mencermnkan kekuatan dalam hidup manusia. Paham ini lebih lanjut cendrung pada sikap binatang, dan berlku hukum siapa yang kuat dan menang itulah yang baik. Kekuatan dan kekuasaan menjadi lambang dan status sosial untuk dihormati.

7.      Aliran religiosisme.

Menurut aliran ini yang dianggap baik adalah perbuatan yang sesuai dengan kehendak tuhan, sedangkan perbuatan yang buruk adalah tidak sesuai dengan kehendak tuhan, dalam paham ini keyakinan teologis, yakni keimanan kepada tuhan sangat memegang peranan penting, karena tidak mungkin orang mau berbuat sesuai dengan kehendak tuhan, jika yang bersangkutan tidak beriman kepada Nya.

 

F.     Baik dan buruk menurut ajaran islam

Menurut ajaran islam penentuan baik dan buruk harus berdasarkan pada petunjuk ajaran al quran dan hadist. Didalam al quran maupun hadist dapat dijumpai berbagai istilah yang mengacu pada kebaikan dan ada pula istilah yang mengacu kepada yang buruk  misalnya al hasanah, atthoyyibah, khairah, karimah, mahmudah dan al birr.

1.      Al-hasanah digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau dipandang baik

2.      Atthoyyibah khusus digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang memberikan kelezatan kepada panca indra dan jiwa

3.      Al-khoir digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang baik oleh seluruh ummat Islam

4.      Al-mahmudah digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang utama sebagai akibat dari melakukan sesuatu yang disukai oleh Allah SWT dengan demikian Al-mahmudah lebih menunjukkan kepada kebaikan yang bersifat batin dan spiritual

5.      Al-karimah digunakan untuk menunjukkan pada perbuatan dan akhlah yang terpuji yang ditampakkan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Biasanya Al-karimah ini digunakan untuk menunjukkan perbuatan terpuji

6.      Al-birr digunakan untuk menunjukkan pada upaya memperluas atau memperbanyak melakuka perbuatan yang baik.

 

 

 


 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Pengertian “baik” menurut Ethik adalah sesuatu yang berharga untuk sesuatu tujuan, Di dalam akhlak islamiah, antara baik sebagai alat/cara /tujuan sementara harus segaris/sejalan dengan baik sebagai tujuan terakhir. Artinya cara untuk mencapai tujuan baik sebagai tujuan sementara dan tujuan akhir berada dalam satu garis lurus yaitu berdasarkan norma. Disamping baik juga harus benar, sebab tidak semuaa cara yang berharga untuk mencapai tujuan itu disebut baik apabila tidak segaris dengan baik sebagai tujuan akhir.

 Tujuan akhir bagi setiap orang adalah bahagia. Untuk mencapai kebahagiaan masa kini dan masa nanti orang berusaha untuk mencapainya. Jalan yang dipilih yang menghubungkan keinginan dan tujuan iru berbeda-beda. Kalau kita akan menjadi orang baik, kita harus menjalankan kebaikan itu. Kalau kita ingin menjadi orang beragama kita harus melaksanakan ketentuan-ketentuan agama. Dan kebaikan ini akan menjadi akhlaknya apabila perbuatan baik itu dibiasakannya.

Sesuatu yang tidak berharga, tidak berguna untuk tujuan. Apabila yang merugikan atau yang menyebabkan tidak tercapainya tujuan adalah  “buruk”. Adapun contohnya malas, emosi yang tinggi, hawa nafsu, serakah, iri hati dan egois.

Ukuran baik dan burk menurut bebrapa aliran

1.      Aliran naturalism

2.      Aliran Hedonisme

3.      Aliran Eudaemonisme

4.      Aliran humanisme

5.      Aliran utilitarianisme

6.      Aliran vitalisme

7.      Aliran religiosisme

Ukuran baik dan buruk menurut islam

1.      Al-hasanah

2.      Atthoyyibah

3.      Al-khoir

4.      Al-mahmudah

5.      Al-karimah

6.      Al-birr

B.     Saran

Dalam makalah ini tentunya ada banyak sekali koreksi dari para pembaca, karena kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca yang dengan itu semua kami harapkan makalah ini akan menjadi lebih baik lagi.

 

 

 

 

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Rachmat Djatnika, system etika islam, Jakarta: pustaka panjimas, 1992

http://gemintang.weblight.com

http://deaprasmanita.wordpress.com



[1] Rachmat Djatnika, system etika islam, (Jakarta: pustaka panjimas, 1992), hlm. 34.

[2] Ibid., hlm. 36.

[3] Ibid., hlm. 41.

[4] Ibid., hlm. 42.

[5] http://gemintang.weblight.com

                                          

makalah aspek manajemen organisasi

makalah aspek manajemen organisasi  BAB I PENDAHULUAN   Manajemen secara umum diartikan sebagai ‘pengaturan’, artinya manajemen adalah...