BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Alhamdulillah kesempatan puji syukur penulis panjadkan kehadiran Allah
SWT.karena telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Metodologi Pembelajaran Dengan Tujuan Akidah Akhlak”.
Didalam makalah ini penulis akan membahas mengenai
pengertian kewarisan, beberapa harta yang bersangkutan dengan harta pusaka,
pusaka dimasa jahiliyah, sebab-sebab pusaka, ahli waris.
Makalah ini disusun guna untuk memenuhi tugas mata
fiqi II. Penulis menyadari bahwa dalam proses penyelesaian makalah ini tidak
terlepas kesalahan dan kekurangan, untuk itu demi kebaikan makalah ini penulis
menerima keritikan juga saran dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini pada
masa yang akan datang.
B.
Rumusan
Masalah
Pengertian
metodologi
1.
Pengertian akidah
akhlak
2.
Sumber-sumber akidah
akhlak
3.
Metode pembelajaran
akidah akhlak
4.
Langkah-langkah
mengajarkan akidah
5.
Tujuan mengajarkan
akidah
C.
Tujuan Makalah
1.
Untuk mengetahui
pengertian akidah
2.
Sumber-sumber akidah
akhlak
3.
Mengetahui metode
pembelajaran akidah akhlak
4.
Langka-langkah mengajarkan akidah
5.
Tujuan mengajarkan
akidah
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Metodologi
Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu
dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan proses belajar mengajar (PBM)
bergantung pad acara mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut
siswa, maka siswa akan tekun, rajin,antusias menerima pelajaran yang diberikan,
sehingga akan diharapkan akan terjadi perubahan dan tingka laku pada siswa baik
tutur katanya , sopan santunnya, motoric dan gaya hidupnya.[1]
Dalam pengertian lain, metode pembelajaran merupakan
cara-cara yang digunakan guru untuk menyampaikan bahan pelajaran kepada ssiswa
untuk mencapai tujuan. Dalam kegiatam mengajar makin tepat metode yang
digunakan maka makin efektif dan efesien kegiatan belajar mengajar yang
dilakukan guru dan siswa pada akhirnya akan menunjang dan mengantarkan
keberhasilan mengajar yang dilakukan oleh guru.
B.
Pengertian aqidah akhlak
Secara Bahasa aqidah berasal dari kata berarti
ikatan dua utas tali dalam satu buku sehingga menjadi tersambung. Sehingga
aqidah menurut “ikatan” atau aqad juga berarti janji. Sedangkan menurut istilah
aqidah adalah urusan-urusan yang harus dibenarkan oleh hati dan diterimah
dengan rasa puas tertanam kuat dalam benak jiwa yang tidak dapat diguncangkan
oleh keraguan.
Kata “Akhlak” berasal dari Bahasa arab, jamak dari
khuluqun yang menurut Bahasa budi pekerti, peragai, tingkah laku atau tabiat. Pendidikan
akhlak berkisar tetntang persoalan kebaikan dan kesopanan, tingkah laku yang
terpuji serta berbagai persoalan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dan
bagaimana seharusnya seorang siswa bertingka laku.
Pendidikan
akhlak berkisar tetntang persoalan kebaikan dan kesopanan, tingkah laku yang
terpuji serta berbagai persoalan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dan
bagaimana seharusnya seorang siswa bertingka laku.
Pendidikan akhlak didasarkan pada ayat-ayat Al-Quran
dan hadist Rasul, serta memberikan contoh-contoh yang baik yang harus diikuti.
Kalua kita teliti isi Al-Quran, akan kita jumpai ajaran yang menyuruh berbuat
baik dan mencengah perbuatan jelak.
Sudah lama para filsuf juga mencoba memberikan
pengertian tentang kebaikan dan kejahatan. Al-Quran memberikan pengertian tentang kebaikan dan kejahatan sebagai berikut. Kebaikan adalah setiap
perintah allah untuk mengerjakannya, sedangkan kejahatan ialah setiap larangan
Allah untuk mengerjakannya. Allah tidak memerintah manusia kecuali hal-hal yang
baik bagi mereka dan tidak akan melarang sesuatu kecuali ada hal-hal yang jelek
bagi mereka.
Islam sangat mementingkan pendidikan rohani dan
membersihkan jiwa dari kedengkian-penipuan-kemunapikan serta buruk sangka
terhadap seseorang tanpa sebab. Jiwa yang koko tidak mungkin dicapai kecuali
dengan takut kepada allah subhana wa Ta’ala, yaitu dengan menanamkan akidah.
Oleh karena itu cerita-cerita yang diajarkan harus berkisar tentang pendidikan
yang diambil dari buku sejarah. Juga dapat diambil dari kejadian-kejadian yang
timbul dari kalangan murid sekolah dasar dan dihubungkan dengan teman-temannya
atau binatang-binatang yang dipeliharanya.
C.
Sumber-sumber aqidah
Apabila diperhatikan dengan seksama bahwa sumber
atau dasar aqidah berupa Al-quran dan assunna dan selain itu adalah fitra
tauhid yang dimiliki setiap manusia karena hidayah taufiqiyah dari allah swt.
Melalui akal pikirannya akan menyadari bahwa dirinya itu makhluk dan hambah
allah swt dan manusia dan qalb lebih dalam lagi seperti kaum sufi dalam
meletakkan landasan aqidahnya.[2]
D.
Metode Pembelajaran
Akhlak
Metode pembelajaran akhlak serangkain cara yang
terencana untuk mencapai tujuan yang ditentukan dalam sebuah intraksi yang
saling berhubungan untuk tingkah laku, budi pekerti mulia dan bernilai uluhiyah
yang tinggi. Adapun pengajaran akhlak menurut
Dr. Armai Arief, M.A
1.
Metode pembiasaan
Metode
pembiasaan adalah metode pengajaran dalam pendidikan islam, dapat dikatakan
bahwa pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak
didik berpikir, bersikaf dan bertindak sesuai dengan tuntunan agama islam.
2.
Metode teladan
Metode
teladan yaitu mengambil contoh atau meniru orang yang dekat dengannya. Oleh
karena itu dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang yang berbudi baik.[3]
Disamping
itu, boleh juga guru membuat cerita-cerita hayalan dan tujuannya mengarahkan
anak-anak untuk berbuat baik. Guru harus mengetahui bahwa mendidik anak
disekolah Dasar harus dimulai dengan menegakkan kebiasaan-kebiasaan yang baik
dan memperbaiki pengaruh dari luar yang tidak baik, yang mungkin telah mempengarui
jiwanya.
Guru
harus membimbing murid cara duduk, menulis mendengarkan, membaca, bertanya,
belajar, bejalan, makan, pergaulan dengan teman-temannya, dan bermain. Guru
harus membingbing angar si anak berahlak dengan akhlak yang baik sejak kecil.
Contoh
teladan yang baik memberi pengaruh yang besar terhadap pendidika akhlak, karena
meniru adalah suatu sifat anak-anak. Tingkah laku guru sangat besar pengaruhnya
dalam jiwa anak-anak.
Cerita
sebagaimana kami kemukakan, merupakan jalan yang baik untuk pendidikan akhlak.
Anak-anak suka mendengar cerita dan menceritakannya kembali. Keadaan ini perlu
kita mamfaatkan untuk meningkatkan kegairaan belajar mereka. Hendaklah
kesempatan ini kita mamfaatkan untuk mendidik mereka sesuai dengan kemauan
kita.
Cerita
yang paling disenagi oleh anak-anak ialah cerita-cerita dongeg, terutama dongeg
tentang binatang. Kemudian cerita-cerita yang dapat membangkitkan khayalan dan
cerita-cerita yang berhubungan dengan kehidupan dan lingkungannya.
Cerita-cerita jenaka yang menggembirakan, mereka sangat suka.
Guru
yang cerdas dapat memasukkan dalam cerita tentang binatang atau materi-materi
akhlak lainnya yang ingin diajarkan kepada anak, tetapi secara terselubung
(kalua anak mengetahui tidak akan mau mendengarkannya lagi).
3.
Langkah-langkah
Mengajarkan Akidah
Metode
mengajarkan akidah yang paling baik ialah metode yang dapat menyentuh perasaan
dan pikiran murid. Metode ini dapat dilaksanakan dengan tahap-tahap berikut:
a. Pengantar
Pengantar ini dapat ditempu dalam beberapa bentuk
antara lain:
1) Mengajak
murid memperhatikan berbagai benda di ala mini yang merupakan kebesaran Allah
subahana wa Ta’ala
2) Mengulang-ulang
pelajaran yang lalu.
3) Metode
cerita. Untuk ini dapat diambil cerita-cerita yang ada hubungannya dengan
aqidah, seperti cerita asbahul kahfi,yaitu cerita tentang kebangkitan tiga
pemudah setelah mati berates –ratus tahun. Cerita-cerita itu ada pengarunya
dalam jiwa murid, yang mungkin akan dicontoh dan ditiruhnya. Dalam Al-quran
banyak sekali cerita, terutama tentang umad yang terdahulu. Mereka yang beriman
mendapat kebahagian, dan yang tidak beriman gagal dalam kehidupan serta akan
mendapat siksa yang pedih.
b. Menghubung-hubungkan
Menghubungkan antara aqidah yang
telah mereka pelajari dan sedang dipelajari dengan kejadian-kejadian yang ada
dalam masyarakat, angar dapat mereka bandingkan atau cocokkan dengan akidah
yang baru mereka pelajari. Sehingga amalan dan ibadah yang mereka lakukan tetap
ada hubungannya dengan ayat-ayat yang telah mereka pelajari dalam kelas itu,
maupun dalam kelas-kelas sebelumnya.[4]
Dalam mengajarkan pendidikan
akhlak, seorang guru dapat megikuti metode sebagai berikut:
1) Persiapan
Guru mempersiapkan cerita yang akan
diceritakan atau mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari, sesuatu hal yang
membawa pengaru besar dalam jiwa anak-anak. Guru menceritakan kepada anak bahwa
dia sendiri mendengar atau melihat kejadian tersebut.
Kadang- kadang guru harus dapat
mendengar dan melihat dari kehidupan dari sisi kehidupan masarakat untuk
dijadikan dasar-dasar berbagai cerita.Telah kami sebutkan bahwa cerita
mempunyai pengaruh besar dalam pengarahan terhadap anak-anak
2) Bahan
pelajaran
Guru boleh mengambil satu atau
mengambil cerita dari buku teks, kemudian menceritakan dengan cara yang menarik
sehingga murid tertarik untuk mendengarkannya dengan penuh kegairajhan
kadang-kadang meminta seorang murid untuk membaca cerita yang ada dalam buku
teks kemudian kata-kata yang sulit didiskusikan bersama.
3) Hubungan/evaluasi
Materi yang dibahas dihubungkan
dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilakukan guru dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan setelah selesai bercerita. Kemudian minta kepada murid
untuk memberi contoh-contoh, atau mereka menceritakan kejadian-kejadian lain
yang ada hubungannya dengan materi pokok. Guru mengajukan beberapa pertanyaan
tentang cerita yang diceritakan murid kepada teman-temannya.
4) Kesimpulan
Guru menyimpulkan tujuan pelajaran
itu dan menulisnya dengan tulisan yang baik dipapan tulis angar murid
mengetahui dengan jelas tujuan pelajaran itu. Guru membaca apa yang telah
dituliskan itu sebagai contoh, kemudian minta murid membacanya.
4.
Tujuan Mengajarkan
Akidah
Sasaran pengajaran akidah ialah
untuk mewujudkan maksud-maksud sebagai
berikut:
a. Memperkenalkan
kepada murid akan kepercayaan yang benar, yang menyalamatkan mereka dari
siksaan Allah Ta’alah. Juga diperkenalkan tentang rukun iman, ketaatan kepada
allah, dan beramal dengan amal yang baik untuk kesempurnaan iman mereka.
b. Menanamkan
iman kepada Allah, para Malaikat Allah kitab-kitab Allah, Rasul-rasul-Nya,
adanya kadar baik dan buruk dan tentang hari kiamat kedalam jiwa anak.
c. Menumbuhkan
generasi yang kepecayaan dan keimanan-nya sah dan benar, dan selalu ingat
kepada Allah, bersyukur, dan beribadah kepadanya.[5]
d. Membantu
murid angar mereka berusaha memahami berbagai hakikat, umpamanya
1) Allah
berkuasa dan mengetahui segala sesuatunya walau sekecil apapun.
2) Percaya
bahwa allah adil, baik di dunia maupun di akhirat.
3) Membersikan
jiwa dan pikiran murid dari perbuatan syirik.
BAB
III
PENUTUP
Dari hasil pembahasan yang telah
dikemukakan diatas maka dapat disimpulkan bahwa metodologi pembelajaran Akidah
Akhlak merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus diketahui dan
dikuasai oleh seorang guru. Letak keberhasilan dari proses belajar mengajar
berada pada seorang guru yang kreatif dan berkualitas menggunakan metode
pembelajaran akidah akhlak haruslah sesuai kebutuhan peserta didik sehingga
dapat memahami bidang studi Akidah Akhlak.
[1] Muhammad Abdul Qadir
Ahmad. metodologi pengajaran Agama Islam,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2008). Hlm.115.
[2]
Ibid,. hlm.117.
[3] Armai Arief. Pengantar ilmu dan metodologi pendidikan
islam. ( Jakarta ciputat
pers.2002). hlm.108.
[4] A. Mustofa. Akhlak
Tasawuf (bandung: CV. Pustaka Setia.
1995), hlm. 120.
[5] Ibid,.hlm. 121.