MODEL
PEMBELAJARAN INVESTIGASI DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MI/SD
A.
MODEL
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SD/MI
Matematika
adalah mata pelajaran yang dianggap sulit bagi sebagian orang, hal tersebut tak
lepas dari bidang kajian matematika yang dominan tentang rumus dan angka-angka
sehingga bagi sebagian orang menganggap pembelajaran metematika kelihatan rumit
dan butuh teknik khusus dalam mempelajarinya. Pembelajaran matematika memang
bersifat abstrak sehingga butuh perantara atau media khusus dalam mengajarkan
matematika.
Ilmu
matematika adalah ilmu dasar yang menunjang ilmu yang lain dalam
pengaplikasiannya oleh karena itu pemahaman matematika dengan benar akan
berimplikasi terhadap kemampuan dalam mengakaji beberapa ilmu yang berkaitan
dengan matematika. Sejak kapan matematika sebaiknya harus dipelajari?
adalah sebuah pertanyaan yang ditanyakan oleh sebagian orang. belajar
matematika sebaiknya dimulai dari lingkungan keluarga. namun yang paling tepat
adalah penguasaan dan pemahaman pembelajaran matematika memang sebaiknya
ditanamkan sejak anak masih duduk dibangku sekolah dasar.
Pembelajaran matematika di SD (sekolah dasar) menjadi bekal
awal anak dalam mengembangkan kemampuannya tentang pelajaran matematika, selain
itu usia sekolah dasar merupakan moment bagi anak untuk belajar matematika
karena pada usia sekolah dasar kemampuan anak dalam beberapa aspek sangat
menonjol.
Namun
bagaimana cara mengajarkan anak mata pejaran matematika di SD? untuk
mengajarkan mata pelajaran matematika di SD tidak boleh asal-asalan karena
sifat matematika yang abstrak kadang justru membuat anak sulit memahaminya.
dibutuhkan model pembelajaran yang memang sesuai dengan mata pelajaran
matematika agar tujuan pembelajaran matematika bisa tercapai. Apa-apa saja
10 model pembelajaran matematika di SD (sekolah dasar)? berikut sedikit ulasan
Model Pembelajaran Matematika di SD.
B.
KONSEP DASAR
DAN TEORI MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK
Menurut KBBI Investigasi adalah penyelidikan dengan mencatat atau merekan
fakta melakukan peninjauan, percobaan, dan lain sebagainya dengan tujuan
memperoleh jawabaan atas pertanyaan (tentang peristiwa, sifat atau khasiat
suatu zat, dan lain sebagainya). Sedangkan pengertian investigasi menurut
Arifin dan Afandi (2015, hlm. 13) “merupakan upaya penelitian,
penyelidikan, pencarian, informasi dan temuan lainnya untuk mengetahui/
membuktikan kebenaran atau bahkan kesalahan sebuah fakta yang kemudian
menyajikan kesimpulan atas rangkaian temuan dan susunan kejadian”. Rumpun
sosial adalah model yang menggabungkan antara belajar dan masyarakat. Kedudukan
belajar/mengajar disini adalah bahwa perilaku kooperatif tidak hanya merupakan
pemberi semangat.
Menurut Suyatno
dalam Yumisnaini (2013) “model pembelajaran investigasi kelompok adalah
pembelajaran yang melibatkan kelompok kecil dimana siswa bekerja menggunakan
inkuiri kooperatif, perencanaan, proyek, dan diskusi kelompok, dan kemudian
mempresentasikan penemuan mereka kepada kelas”. Selanjutnya Trianto dalam Yumisnaini (2013) menyebutkan bahwa “Investigasi
kelompok adalah metode pembelajaran yang melibatkan siswa sejak perencanaan,
baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui
investigasi. Metode pembelajaran ini menuntut para siswa untuk memiliki
kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses
kelompok”.
Menurut Slavin yang
dikutip oleh Yusron dalam Yumisnaini (2013), investigasi kelompok adalah model
pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa
untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui
bahan-bahan yang tersedia. Menurut pendapat ini investigasi kelompok adalah
model pembelajaran kooperatif yang menitikberatkan pada partisipasi yang tinggi
siswa dalam belajar kelompok yang dilakukan secara berkelompok dengan mencari
sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari. Dapat disimpulkan
bahwa model pembelajaran investigasi kelompok merupakan
model pembelajaran dimana peserta didik dalam kelompoknya secara aktif
melakukan perencanaan dalam memilih materi yang akan dipelajari untuk dilakukan
investigasi atau pencarian data dan fakta melalui tahap - tahap tertentu
terkait materi tersebut untuk dipresentasikan kepada teman atau kelompok lain
untuk saling bertukar informasi.
Menurut Aunurrahman
dalam Arifin dan Afandi (2015, hlm. 13-14), seorang guru dapat menggunakan
model investigasi kelompok di dalam pembelajaran dengan beberapa keadaan
diantaranya : 1) Bilamana guru bermaksud agar siswa-siswa mencapai studi yang
mendalam tentang isi atau materi, yang tidak dapat dipahami secara memadai dari
sajian-sajian informasi yang terpusat pada guru; 2) Bilamana guru bermaksud
mendorong siswa untuk lebih skeptis tentang ide - ide yang disajikan dari
fakta-fakta yang mereka dapatkan; 3) Bilamana guru bermaksud meningkatkan minat
siswa terhadap suatu topik yang memotivasi mereka membicarakan berbagai
persoalan di luar kelas; 4) Bilamana guru bermaksud membantu siswa memahami
tindakan-tindakan pencegahan yang diperlukan atas interpretasi informasi yang
berasal dari penelitian-penelitian orang lain yang mungkin dapat mengarah pada
pemahaman yang kurang positif; 5) Bilamana guru bermaksud mengembangkan
keterampilan-keterampilan penelitian, yang selanjutnya dapat mereka pergunakan
di dalam situasi belajar yang lain, seperti halnya cooperative learning; 6) Bilamana guru menginginkan peningkatan
dan perluasan kemampuan siswa.
Setiap hal pasti
memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu pula dengan model investigasi
kelompok ini. Kelebihan - kelebihan dalam model pembelajaran group investigation adalah sebagai berikut: 1) Melatih peserta
didik untuk mendesain suatu penemuan; 2) Melatih berpikir dan bertindak
kreatif; 3) Dapat memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis; 4)
Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan; 5) Menafsirkan dan mengevaluasi
hasil pengamatan; 6) Merangsang perkembangan kemajuan berpikir peserta didik
untuk menghadapi masalah yang dihadapi secara tepat. Di samping memiliki
kelebihan, model investigasi kelompok ini juga memiliki kekurangan, diantaranya
: 1) Membutuhkan keaktifan anggota kelompok dalam melakukan penyelidikan atau
investigasi; 2) Jika seluruh anggota kelompok pasif, maka akan menyulitkan
mereka dalam melakukan kegiatan investigasi.
Killen yang dikutip
Haffidianti (2011, hlm.15) dalam Aunurrahman (2009, hlm. 153) memaparkan
beberapa ciri esensial investigasi kelompok sebagai pendekatan pembelajaran
adalah: 1) Peserta didik bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil dan
memiliki independensi terhadap guru; 2) Kegiatan-kegiatan peserta didik
terfokus pada upaya menjawab pertanyaan - pertanyaan yang telah dirumuskan; 3)
Kegiatan belajar peserta didik akan selalu mempersyaratkan mereka untuk mengumpulkan
sejumlah data, menganalisisnya, dan mencapai beberapa kesimpulan; 4) Peserta
didik akan menggunakan pendekatan yang beragam di dalam belajar; 5) Hasil-hasil
dari penelitian peserta didik dipertukarkan di antara seluruh peserta didik.
Adapula prinsip -
prinsip model pembelajaran investigasi kelompok menurut Slavin (2008, hlm.
215-217) dalam Haffidianti (2011, hlm.16), a). Menguasai
kemampuan kelompok, kesuksesan
implementasi dari group investigation sebelumnya menuntut pelatihan dalam
kemampuan komunikasi dan sosial; b). Perencanaan kooperatif, anggota
kelompok mengambil bagian dalam merencanakan berbagai tugas dari proyek mereka.
Bersama - sama mereka menentukan apa yang mereka ingin investigasikan
sehubungan dengan upaya mereka menyelesaikan masalah yang mereka hadapi, sumber
apa yang mereka butuhkan, siapa melakukan apa, dan bagaimana mereka akan
menampilkan proyek mereka yang sudah selesai di hadapan kelas; c). Peran guru, di
dalam kelas yang melaksanakan proyek group investigation, guru bertindak
sebagai narasumber dan fasilitator. Guru tersebut berkeliling di antara
kelompok - kelompok yang ada, untuk melihat bahwa mereka bisa mengelola
tugasnya, dan membantu tiap kesulitan yang mereka hadapi dalam interaksi
kelompok, termasuk masalah dalam kinerja terhadap tugas-tugas khusus yang
berkaitan dengan proyek pembelajaran.
Model pembelajaran group investigation meletakkan dasar
pada psikologi pendidikan John Dewey, yang mana dia percaya bahwa para siswa
akan mengalami pembelajaran bermakna jika mereka mampu menunjukkan
langkah-langkah penyelidikan ilmiah (Tsoi, dkk., 2004). Karakter unik
investigasi kelompok ada pada investigasi dari empat fitur dasar seperti
investigasi, interaksi, penafsiran,dan motivasi intrinsik (Sharan, 2009).
Slavin (dalam Suartika, dkk., 2013, hlm. 3) menyatakan kegiatan pembelajaran group investigation memiliki enam langkah pembelajaran antara lain;
1) Grouping (menetapkan jumlah anggota kelompok,
menentukan sumber, memilih topik, merumuskan permasalahan), 2) Planning (menetapkan apa yang akan dipelajari, bagaimana mempelajari, siapa
melakukan apa, apa tujuannya), 3) Investigation (saling tukar
informasi dan ide, berdiskusi, klarifikasi, mengumpulkan informasi,
menganalisis data, membuat inferensi), 4) Organizing (anggota kelompok
menulis laporan, merencanakan presentasi laporan, penentuan penyaji, moderator,
dan notulis), 5) Presenting (salah satu kelompok menyajikan, kelompok lain berperan secara aktif sebagai
pendengar (audiens), dan 6) Evaluating (masing-masing siswa
melakukan koreksi terhadap laporan masing-masing berdasarkan hasil diskusi
kelas, siswa dan guru berkolaborasi mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan,
melakukan penilaian kompetensi dasar yang difokuskan pada pencapaian pemahaman.
Untuk mewujudkan
kemampuan berpikir siswa, guru perlu menerapkan berbagai pembelajaran model
inovatif. Model pembelajaran inovatif yang dimaksud adalah “model yang
menggunakan paham konstrutivistik” (Shadiq, 2006). Paham tersebut menyatakan
bahwa pengetahuan akan terbentuk atau terbangun di dalam pikiran siswa sendiri
ketika ia berupaya untuk mengorganisasikan pengalaman barunya berdasarkan pada
kerangka kognitif yang sudah ada di dalam pikirannya. Menurut Paul Suparno
(dalam Syaripudin & Kurniasih, 2015, hlm. 125) Jika seseorang tidak
mengkonstruksikan pengetahuannnya sendiri secara aktif, meskipun ia berumur
tua, pengetahuannya akan tetap tidak berkembang.
Model pembelajaran group investigation,
membuat siswa akan
lebih termotivasi untuk berbuat sesuatu yang baik dan produktif saat siswa
dihadapkan pada masalah yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari. Untuk
memecahkan suatu permasalahan siswa harus mampu menganalisis dan memahami
konsep. Hal ini akan memberi arah kepada siswa untuk mengidentifikasi apa yang
perlu diketahui dan dipelajari untuk dapat memahami konsep dan memecahkan
masalah, serta merancang investigasi dan mengidentifikasi sumber-sumber belajar
yang diperlukan.
C.
TUJUAN
MATERI,METODE,MEDIA,SUMBER BELAJAR,DAN EVALUASI PENDIDIKAN AKIDAH,IBADAH DAN
AKHLAK
1. Tujuan
Pada prinsipnya yang menjadi tujuan akhir
pendidikan agama islam yang sesuai dengan identik dengan tujuan hidup manusia
muslim adalah mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.Tujuan pendidikan agama
islam yaitu membina manusia beragama berarti manusia yang mampu melaksanakan
ajaran-ajaran agama islam dengan baik dan sempurna,sehingga tercermin mana
sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupannya,dalam rangka mencapai kebahagiaan
dan kejayaan dunia dann akhirat,yang dapat dibina melalui pengajaran agama yang
intensi dan efektif.Dalam hadist riwayat Al-Baihaqi yang artinya:Sesungguhnya
aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesolihan akidah dan akhlak.
2. Materi
Materi pendidikan agama islam yaitu
memiliki 4 pokok yaitu:Quran hadis,akidah akhlak,fiqih dan sejarah kebudayaan
islam.Menurut Arifin ada 3 aspek nilai yang terkandung dalam pendidikan islam
yang hendak direalisasikan melalui metode yaitu pertama membentuk peserta didik
menjadi hamba Allah yang mengabdi kepadanya semata ,kedua yaitu berpacuan pada
Al quran dan hadis.
3. Metode
Metode pembelajaran ini harus diterapkan
dalam mempermudah pencapaian tujuan sebagaimana hadis nabi yang artinya bagi
segala sesuatu itu ada caranya dan metode masuk surga,adalah ilmu H.R Dailani.
4. Evalusi
Evaluasi merupakan salah satu komponen
penting yang harus ditempuh untuk memantau hasil yang diperoleh dan dapat
dijadikan umpan balik pendidikan yang dapat memperbaiki dan menyempurnakan
program dan kegiatan pembelajaran.(Handayani et al., 2021, pp. 96–100)
D.
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
Lapp, Bender, Ellenwood, &
John (Aunurrahman: 1997) berpendapat bahwa berbagai aktifitas belajar mengajar dapat dijabarkan
dari 4 model utama, yaitu; (1) The Classical Model, (2)The
Technological Model, (3) the Personalised Model, dan (4) The
Interaction Model.
Stalling (Aunurrahman: 1997), mengemukakan 5 model dalam pembelajaran : (1) TheExploratory
Model, (2) The Group Process Model, (3) The
Developmental Cognitive Model, (4) The Programmed Model dan
(5) The Fundamental Model.
Joyce, Weil, dan Calhoun (dalam Aunurrahman:2000) mendeskripsikan empat
kategori model mengajar, yaitu:
1. Kelompok Model Interaksi Sosial
( Social Interaction Models)
·
Investigasi Kelompok (Group Investigation)
·
Bermain Peran (Role Playing)
·
Model Penelitian Yurisprudensi (Jurisprodential Inquiry)
2. Kelompok Model Pengolahan
Informasi (Information Processing Model)
·
Berpikir Induktif (Induktive Thinking)
·
Pencapaian Konsep (Concept Attainment)
·
Memorisasi
·
Advance Organizers
·
Penelitian Ilmiah (Scientific Inquiry)
·
Inquiry Training
·
Synectics
2. Kelompok Model Personal (The
Personal Family Model)
·
Pembelajaran Tanpa Arahan (Non Directive Teaching)
·
Model Pembelajaran untuk Meningkatkan Rasa Percaya Diri (Enhancing Self
Esteem):
1) Model Latihan Kesadaran (Ewareness Training Models)
2) Model Pertemuan Kelas (Classroom Meeting)
3. Kelompok Model-model Sistem
Perilaku (The Behavioral Systems Family)
·
Belajar Tuntas (Mastery Learning)
·
Pengajaran Langsung (Direct Instruction)
·
Simulasi (Simulation)
·
Social Learning
·
Programmed Schedule
E.
PENGERTIAN HASIL
BELAJAR
Hasil belajar
merupakan kompetensi yang telah dicapai oleh seseorang setelah melakukan
kegiatan belajar. Dengan demikian, hasil belajar merupakan salah satu indikator
keberhasilan pelaksanaan pembelajaran. Menurut Sudjana ( 2006:22),“hasil
belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima
pengalaman belajarnya”. Lebih lanjut, Anas dalam Harefa (
2010, p. 21) mengatakan
“Hasil belajar adalah tingkat penguasaan peserta didik terhadap tujuan-tujuan
khusus yang ingin dicapai dalam unit-unit program pengajaran atau tingkat
pencapaian terhadap tujuan-tujuan umum pengajaran”. Sedangkan menurut Suprijono
(2009:5), “hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai,
pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasidan keterampilan”.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
merupakan kemampuan yang dimiliki oleh siswa yang menjadi indikator tingkat
penguasaan terhadap tujuan- tujuan khusus dan umum yang ingin dicapai dalam
kegiatan pembelajaran. Menurut KTSP, hasil belajar dibagi dalam 3 aspek yaitu
pemahaman konsep, penalaran dan komunikasi, serta pemecahan masalah.
F.
MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK
1. Model Pembelajaran Investigasi
Investigasi atau penyelidikan
merupakan kegiatan pembelajaran yang memberikan kemungkinan siswa untuk
mengembangkan pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan dan hasil benar sesuai
pengembangan yang dilalui siswa (Soppeng, 2009) . Kegiatan belajarnya diawali
dengan pemecahan soal-soal atau masalah-masalah yang diberikan oleh guru,
sedangkan kegiatan belajar selanjutnya cenderung terbuka, artinya tidak
terstruktur secara ketat oleh guru, yang dalam pelaksananya mengacu pada
berbagai teori investigasi.
Menurut Height (dalam Krismanto,
2004), investigasi berkaitan dengan kegiatan mengobservasi secara rinci dan
menilai secara sistematis. Jadi investigasi adalah proses penyelidikan yang
dilakukan seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil
perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam
suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil.
Talmagae dan Hart (dalam Soppeng, 1977) menyatakan bahwa investigasi
diawali oleh soal-soal atau masalah-yang diberikan oleh guru, sedangkan
kegiatan belajarnya cenderung terbuka, artinya tidak terstruktur secara ketat
oleh guru. Siswa dapat memilih jalan yang cocok bagi mereka. Seperi halnya
Height, mereka menyatakan pula bahwa karena mereka bekerja dan mendiskusikan
hasil dengan rekan-rekannya, maka suasana investigasi ini akan merupakan satu
hal yang sangat potensial dalam menunjang pengertian siswa.
Menurut Soedjadi (dalam Sutrisno,
1999 : 162), model belajar “investigasi” sebenarnya dapat dipandang sebagai model
belajar “pemecahan masalah” atau model “penemuan”. Tetapi model belajar
“investigasi” memiliki kemungkinan besar berhadapan dengan masalah yang
divergen serta alternatif perluasan masalahnya. Sudah barang tentu dalam
pelaksanaannya selalu perlu diperhatikan sasaran atau tujuan yang ingin
dicapai, mungkin tentang suatu konsep atau mungkin tentang suatu prinsip
Pada investigasi, siswa bekerja
secara bebas, individual atau berkelompok. Guru hanya bertindak sebagai
motivator dan fasilitator yang memberikan dorongan siswa untuk dapat
mengungkapkan pendapat atau menuangkan pemikiran mereka serta menggunakan
pengetahuan awal mereka dalam memahami situasi baru. Guru juga berperan dalam
mendorong siswa untuk dapat memperbaiki hasil mereka sendiri maupun hasil kerja
kelompoknya. Kadang mereka memang memerlukan orang lain, termasuk guru untuk
dapat menggali pengetahuan yang diperlukan, misalnya melalui pengembangan
pertanyaan-pertanyaan yang lebih terarah, detail atau rinci. Dengan demikian
guru harus selalu menjaga suasana agar investigasi tidak berhenti di tengah
jalan.
Berdasarkan uraian di atas dapat
disimpulakan bahwa Investigasi adalah proses penyelidikan yang dilakukan
seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil perolehannya,
dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam suatu
investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil.
2. Model Pembelajaran
Investigasi kelompok
Menurut Aunurrahman (2009:152)
Seorang guru dapat menggunakan strategi investigation kelompok di dalam proses
pembelajaran dengan beberapa keadaan, antara lain sebagai berikut:
1. Bilamana guru bermaksud agar siswa-siswa
mencapai studi yang mendalam tentang isi atau materi, yang tidak dapat
dipahami secara memadai dari sajian-sajian informasi yang terpusat pada
guru.
2. Bilamana guru bermaksud mendorong siswa
untuk lebih skeptis tentang ide-ide yang disajikan dari fakta-fakta yang
mereka dapatkan
3. Bilamana guru bermaksud meningkatkan minat
siswa terhadap suatu topik yang memotivasi mereka membicarakan berbagai
persoalan di luar kelas
4. Bilamana guru bermaksud membantu siswa
memahami tindakan-tindakan pencegahan yang diperlukan atas interpretasi
informasi yang berasal dari penelitian-penelitian orang lain yang
mungkin dapat mengarah pada pemahaman yang kurang positif
5. Bilamana guru bermaksud mengembangkan
keterampilan-keterampilan penelitian, yang selanjutnya dapat
mereka pergunakan di dalam situasi belajar yang lain, seperti halnya
cooperative learning
6. Bilamana guru menginginkan peningkatan dan
perluasan kemampuan siswa.
Menurut Killen ( dalam
Aunurrahman, 1998 : 146) memaparkan beberapa ciri essensial investigasi
kelompok sebagai pendekatan pembelajaran adalah: Para siswa bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil dan memilki independensi terhadap guru
1. Kegiatan-kegiatan siswa terfgokus pada upaya menjawab
pertanyaan yang telah dirumuskan
2. Kegiatan belajar siswa akan selalu mempersaratkan
mereka untuk mengumpulkan sejumlah data, menganalisisnya dan mencapai
beberapa kesimpulan
3. Siswa akan menggunakan pendekatan yang beragam di
dalam belajar
4. Hasil-hasil dari penelitian siswa dipertukarkan di
antara seluruh siswa.
Ibrahim.(dalam Yasa, 2000:23)
menyatakan dalam kooperatif tipe investigasi kelompok guru membagi kelas
menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa heterogen dengan
mempertimbangkan keakraban dan minat yang sama dalam topik tertentu. Siswa
memilih sendiri topik yang akan dipelajari, dan kelompok merumuskan penyelidikan
dan menyepakati pembagian kerja untuk menangani konsep-konsep penyelidikan yang
telah dirumuskan. Dalam diskusi kelas ini diutamakan keterlibatan pertukaran
pemikiran para siswa.
Slavin (2009: 218), mengemukakan tahapan-tahapan dalam menerapkan
pembelajaran investigasi kelompok adalah sebagai berikut:
Tahap 1: Mengidentifikasikan
Topik dan Mengatur Murid ke dalam Kelompok
(Grouping)
·
Para siswa meneliti beberapa sumber, memilih topik, dan mengkategorikan
saran-saran.
- Para siswa bergabung dengan kelompoknya
untuk mempelajari topik yang telah mereka pilih.
- Komposisi kelompok didasarkan pada
ketertarikan siswa dan harus bersifat heterogen.
- Guru membantu dalam pengumpulan
informasi dan memfasilitasi pengaturan.
Tahap 2: Merencanakan Tugas yang
akan Dipelajari (Planning)
- Para siswa merencanakan bersama
mengenai:
Apa yang kita pelajari ?
Bagaimana kita mempelajarinya?
Siapa melakukan apa? (pembagian tugas).
Untuk tujuan atau kepentingan apa kita menginvestigasi topik ini?
Tahap 3: Melaksanakan Investigasi
( Investigation)
- Para siswa mengumpulkan informasi,
menganalisis data, dan membuat kesimpulan.
- Tiap anggota kelompok berkontribusi
untuk usaha-usaha yang dilakukan kelompoknya.
- Para siswa saling bertukar,
berdiskusi, mengklarifikasi, dan mensintesis semua gagasan.
Tahap 4: Menyiapkan Laporan
Akhir (Organizing)
- Anggota kelompok menentukan
pesan-pesan essensial dari proyek mereka.
- Anggota kelompok merencanakan apa yang
akan mereka laporkan, dan bagaimana mereka akan membuat
presentasi mereka
- Wakil-wakil kelompok membentuk
sebuah panitia acara untuk mengkoordinasikan
rencana-rencana presentasi.
Tahap 5: Mempresentasikan Laporan
Akhir (Presenting)
- Presentasi yang dibuat untuk seluruh
kelas dalam berbagai macam bentuk
- Bagian presentasi tersebut harus dapat
melibatkan pendengarnya secara aktif
- Para pendengar tersebut mengevaluasi
kejelasan dan penampilan presentasi berdasarkan kreteria
yang telah ditentukan sebelumnya oleh seluruh anggota kelas.
Tahap 6: Evaluasi (Evaluating)
- Para siswa saling memberikan umpan
balik mengenai topik tersebut, mengenai tugas yang telah mereka kerjakan,
mengenai keefktifan pengalaman-pengalaman mereka
- Guru dan murid berkolaborasi dalam
mengevaluasi pembelajaran siswa.
- Penilaian atas pembelajaran harus
mengevaluasi pemikiran paling tinggi
Berdasarkan uraian di atas bahwa model pembelajaran investigasi kelompok
ialah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok yang bersifat heterogen
dimana setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama dalam
mencapai tujuan pembelajaran.
G.
PEMECAHAN MASALAH DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
1. Pengertian Masalah
Suatu pertanyaan akan menjadi
masalah jika pertanyaan itu menunjukan adanya suatu tantangan yang tidak dapat
dipecahkan oleh suatu prosedur rutin yang sudah diketahui oleh si pelaku (
Fadjar Shadiq, 2004: 10). Definisi di atas mengandung implikasi bahwa suatu
masalah harus mengandung adanya “tantangan” dan “belum diketahuinya prosedur
rutin”. Prosedur rutin di sini adalah soal yang penyelesainnya sudah bisa
ditebak, diketahui rumusnya, dan hanya dengan satu atau dua langkah soal sudah
terselesaikan. Tidak semua pertanyaan merupakan suatu masalah. Bagi seseorang
suatu pertanyaan bisa menjadi suatu masalah sedang bagi orang lain tidak.
Masalah berbeda dengan soal
latihan. Pada soal latihan, siswa telah mengetahui cara menyelesaikannya,
karena telah jelas hubungan antara yang diketahui dengan yang ditanyakan, dan
biasanya ada contoh soal. Pada masalah siswa tidak tahu bagaimana cara
menyelesaikannya, tetapi siswa tertarik dan tertantang untuk menyelesaikannya.
Berdasarkan uraian di atas maka
dapat diartikan bahwa suatu pertanyaan akan menjadi masalah hanya jika
pertanyaan itu menunjukkan adanya suatu tantangan yang tidak dapat
dipecahkan oleh suatu prosedur rutin yang sudah diketahui oleh penjawab
pertanyaan, sebab suatu masalah bagi seseorang dapat menjadi bukan masalah bagi
orang lain karena ia sudah mengetahui prosedur untuk menyelesaikannya.
2. Pemecahan masalah
matematika
Dalam pembelajaran matematika,
masalah-masalah yang sering dihadapi siswa berupa soal-soal atau tugas-tugas
yang harus diselesaikan siswa. Pemecahan masalah dalam hal ini adalah aturan
atau urutan yang dilakukan siswa untuk memecahkan soal-soal atau tugas-tugas
yang diberikan kepadanya. Menurut Wardhani (2006:16), pemecahan masalah adalah
proses menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya kedalam situasi
baru yang belum dikenal. Dengan demikian ciri dari penugasan berbentuk
pemecahan masalah adalah: (1) ada tantangan dalam materi, tugas, atau soal, (2)
masalah tidak dapat diselesaikan dengan menggunakan prosedur rutin yang sudah
diketahui penjawab.
Dari uraian diatas dapat diartikan bahwa dalam pemecahan masalah siswa
didorong dan diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berinisiatif dan berfikir
sistematis dalam menghadapi suatu masalah dengan menerapkan pengetahuan yang
didapat sebelumnya.
3. Langkah-langkah menyelesaikan
masalah
Menurut Polya (1973:5-22), ada empat langkah dalam menyelesaikan masalah
yaitu:
Memahami masalah
Pada kegiatan ini yang dilakukan adalah merumuskan: apa yang diketahui, apa
yang ditanyakan, apakah informasi cukup, kondisi (syarat) apa yang harus
dipenuhi, menyatakan kembali masalah asli dalam bentuk yang lebih operasional
(dapat dipecahkan).
Merencanakan pemecahannya
Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini adalah mencoba mencari atau
mengingat masalah yang pernah diselesaikan yang memiliki kemiripan dengan sifat
yang akan dipecahkan, mencari pola atau aturan , menyusun prosedur
penyelesaian.
Melaksanakan rencana
Kegiatan pada langkah ini adalah menjalankan prosedur yang telah dibuat
pada langkah sebelumnya untuk mendapatkan penyelesaian .
Memeriksa kembali prosedur dan
hasil penyelesaian
Kegiatan pada langkah ini adalah menganalis dan mengevaluasi apakah
prosedur
yang diterapkan dan hasil yang diperoleh benar, apakah ada prosedur lain
yang lebih efektif , apakah prosedur yang dibuat dapat digunakan untuk
menyelesaikan masalah sejenis, atau apakah prosedur dapat dibuat
generalisasinya.
4. Stategi pemecahan masalah
Menurut Polya dan Pasmep (Fajar
Shadiq, 2004:13) beberapa strategi pemecahan masalah antara lain:
Mencoba-coba
Strategi ini biasanya digunakan
untuk mendapatkan gambaran umum pemecahan masalah (trial and error).
Proses mencoba-coba ini tidak akan selalu berhasil, adakalanya gagal. Proses
mencoba-coba dengan menggunakan suatu analisis yang tajam sangat dibutuhkan
pada penggunaan strategi ini.
Membuat diagram
Strategi ini berkait dengan
pembuatan sket atau gambar untuk mempermudah memahami masalah dan mempermudah
mendapatkan gambaran umum penyelesaiannya. Dengan strategi ini, hal-hal yang
diketahui tidak sekedar dibayangkan namun dapat dituangkan ke atas kertas.
Mencobakan pada soal yang lebih
sederhana
Strategi ini berkait dengan
penggunaan contoh-contoh khusus yang lebih mudah dan lebih sederhana, sehingga
gambaran umum penyelesaian masalah akan lebih mudah dianalisis dan akan
lebih mudah ditemukan.
Membuat tabel
Strategi ini digunakan untuk
membantu menganalisis permasalahan atau jalan pikiran, sehingga segala
sesuatunya tidak hanya dibayangkan saja.
Menemukan pola
Strategi ini berkait dengan
pencarian keteraturan-keteraturan. Keteraturan yang sudah diperoleh akan
lebih memudahkan untuk menemukan penyelesaian masalahnya.
Memecah tujuan
Strategi ini berkait dengan
pemecahan tujuan umum yang hendak dicapai. Tujuan pada bagian ini dapat
digunakan sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuan yang sebenarnya.
Memperhitungkan setiap
kemungkinan
Strategi ini berkait dengan
penggunaan aturan- aturan yang dibuat sendiri oleh para pelaku selama proses
pemecahan masalah berlangsung sehingga dapat dipastikan tidak akan ada satu
alternatif yang terabaikan.
Berpikir logis
Strategi ini berkaitan dengan
penggunaan penalaran ataupun penarikan kesimpulan yang sah atau valid dari
berbagai informasi atau data yang ada.
Bergerak dari belakang
Dalam strategi ini proses
penyelesaian masalah dimulai dari apa yang ditanyakan, bergerak menuju apa yang
diketahui. Melalui proses tersebut dianalisis untuk dicapai pemecahan
masalahnya.
Mengabaikan hal yang tidak
mungkin
Dalam strategi ini setelah memahami
masalah dengan merumuskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan. Bila
ditemukan hal yang tidak berhubungan dengan apa yang diketahui dan apa
ditanyakan sebaiknya diabaikan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa siswa dikatakan mampu memecahkan
masalah apabila telah memenuhi tahap-tahap pemecahan masalah dan menggunakan
strategi yang ada, selain itu pengerjaannya harus sistematis dan jelas
H.
Kele bihan dan Kekurangan Pembelajaran
Investigasi
Model Pembelajaran Group
Investigation yang digunakan dalam pembelajaran menulis surat dinas memiliki
beberapa kelebihan.
Setiawan (2006:9) mendeskxipsikan beberapa kelebihan dari pembelajaran GI,
yaitu sebagai berikut:
1) Secara Pribadi
b) dalam proses belajarnya dapat bekerja
secara bebas b)memberi semangat untuk berinisiatif, kreatif, dan aktif c)rasa
percaya diri dapat lebih meningkat d)dapat belajar untuk memecahkan, menangani
suatu masalah e)mengembangkan antusiasme dan rasa pada fisika
2) Secara Sosial a)meningkatkan belajar bekerja
sama
b) belajar berkomunikasi baik dengan teman
sendiri maupun guru
c) belajar berkomunikasi yang baik
secara sistematis
d) belajar menghargai pendapat orang lain
e) meningkatkan partisipasi dalam membuat
suatu keputusan
3) Secara Akademis
a) siswa terlatih untuk mempertanggungjawabkan
jawaban yang diberikan
b) bekerja secara sistematis
c) mengembangkan dan melatih
keterampilan fisika dalam berbagai bidang
d) merencanakan dan mengorganisasikan
pekerjaannya
e) mengecek kebenaran jawaban yang mereka buat
f) Selalu berfikir tentang
cara atau strategi yang digunakan sehingga didapat suatu kesimpulan yang
berlaku umum.
Model Pembelajaran Group Investigation selain memiliki kelebihan juga
terdapat beberapa kekurangannya, yaitu:
a) Sedikitnya materi yang tersampaikan pada
satu kali pertemuan
b) Sulitnya memberikan penilaian secara
personal
c) Tidak semua topik cocok dengan model
pembelajaran GI, model pembelajaran GI cocok untuk diterapkan pada suatu topik
yang menuntut siswa untuk memahami suatu bahasan dari pengalaman yang dialami
sendiri
d) Diskusi kelompok biasanya berjalan kurang
efektif
e) Siswa yang tidak tuntas memahami materi
prasyarat akan mengalami kesulitan saat menggunakan model ini (Setiawan,
2006:9).
Berdasarkan pemaparan mengenai model pembelajaran GI tersebut, jelas bahwa
model pembelajaran GI mendorong siswa untuk belajar lebih aktif dan lebih
bermakna. Artinya siswa dituntut selalu berfikir tentang suatu persoalan dan
mereka mencari sendiri secara penyelesaiannya. Dengan demikian mereka akan
lebih terlatih untuk selalu menggunakan keterampilan pengetahuannya, sehingga
pengetahuan dan pengalaman belajar mereka akan tertanam untuk jangka waktu yang
cukup lama. (Setiawan,
2006, p. 9)
I.
KAITAN MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH
MATEMATIKA
Dari uraian yang telah dijelaskan
sebelumnya tampak adanya keterkaitan antara model pembelajaran investigasi
kelompok dan kemampuan pemecahan masalah. Pada tahap-tahap Investigasi kelompok
yaitu : Pengelompokkan, perencanaan, penyelidikan, pengorganisasian, persentase
dan evaluasi. Dari tahap-tahap investigasi kelompok ini berkembang
langkah-langkah pemecahan masalah, yaitu: memahami masalah, merencanakan
pemecahan masalah, melaksanakan rencana pemecahan masalah dan memeriksa kembali
prosedur dan hasil penyelesaian.
J.
Kesimpulan
Tujuan dan manfaat
dibuatnya makalah ini bagi penyusun agar dapat memahami dan mendalami wawasan
mengenai pembelajaran, khususnya mengenai model pembelajaran investigasi
kelompok sebagai bidang keilmuan dari penyusun. Tujuan dan manfaat bagi pembaca
adalah untuk menambah wawasan mengenai upaya meningkatkan efektifitas
pembelajaran, khususnya melalui model investigasi kelompok.
Untuk mewujudkan
kemampuan berpikir siswa, guru perlu menerapkan berbagai pembelajaran model
inovatif. Model pembelajaran inovatif yang dimaksud adalah “model yang
menggunakan paham konstrutivistik” (Shadiq, 2006). Paham tersebut menyatakan
bahwa pengetahuan akan terbentuk atau terbangun di dalam pikiran siswa sendiri
ketika ia berupaya untuk mengorganisasikan pengalaman barunya berdasarkan pada
kerangka kognitif yang sudah ada di dalam pikirannya. Menurut Paul Suparno
(dalam Syaripudin & Kurniasih, 2015, hlm. 125) Jika seseorang tidak
mengkonstruksikan pengetahuannnya sendiri secara aktif, meskipun ia berumur
tua, pengetahuannya akan tetap tidak berkembang.
DAFTAR PUSTAKA
Abeefatihazzuri. 2010. Model Pembelajaran Investigasi. (Online). http://id.shvoong.com /social-sciences/sociology/1964875-model-pembelajaran-investigasi/. (diakses 7 januari 2010).
Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
BSNP. 2010. Standar Isi. (Online). http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=103/. (diakses 16 Desember 2009).
Depdiknas. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi (MTK-26: Model-model
Pembelajaran Matematika). Jakarta: Ditjen Dikdasmen Depdiknas.
Krisna. 2009. Pengertian Dan Ciri-ciri Pembelajaran.
(Online). http://krisna1.blog.uns. ac.id/2009
/10/19/pengertian-dan-ciri-ciri-pembelajaran/. (diakses 5 Januari 2010).
Polya. 1973. How To Solve It. New Jersey: Princeton University
Press.
Riduwan.. 2006. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-Karyawan dan
Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta.
Robertusmargana.2009. Proses dan Strategi Pemecahan Masalah. (Online). http://4.25.3. 32/search?q=cache:EtKvb77XwWYJ:robertmath4edu.wordpress.com/2009/01/15/proses-dan-strategi-pemecahan-masalah/+langkahlangkah+dalam+menyelesaikan+
soal+pemecahan+masalah&cd=7&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a. (diakses 26 Desember 2009).
Setiawan. 2006. Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan
Investigasi. PPP Matematika Yokyakarta 2006.
Shadiq, Fadjar. 2009. Apa dan Mengapa Matematika Begitu
Penting?. (Online). http://fadjarp3g.files.wordpress.com/2009/10/09-apamat_limas_.pdf .
(diakses 4 Januari 2010.
————-. 2004. Penalaran, Pemecahan Masalah dan komunikasi dalam Pembelajaran
Matemátika. PPPG Matematika Yokyakarta 2004.
Slavin. 2009. Cooperative Learning. Bandung : Nusa Media.
Soppeng, Syarif. 2009. Model Pembelajaran Investigasi dalam
Pembelajaran
Matematika .(Online). http://www.psb-psma.org/content/blog/model-
investigasi-dalam-pembelajaran-matematika. (diakses 16 Desember 2009).
Surianta, I Made. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
type STAD dengan Media VCD. (Online). http://disdikklungkung.net/index2.php?option=com_conten
t&task=emailform&id=73&itemid=46. (diakses 5 Januari 2010).
Sutrisno, Joko. 2001. Penguasaan Konsep dan Prinsip serta kemampuan
Pemecahan
Masalah Siswa dalam Geometri Melalui Model
Pembelajaran Investigasi
Kelompok
(Studi Eksperimen di SLTP Negeri 4 Kodya Bandar Lampung).
Proposal Penelitian. Bandung: PPS UPI Bandung..(Online). http://74.125.153. 132/search?q=cache:qF6J2Ea4kNsJ:www.scribd.com/doc/16862558/ProposalJoko+contoh+proposal+investigasi+kelompok+penelitian+experimen&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a.
(diakses 16 desember 2009).
Tim MKPBM. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.
Universitas Pendidikan Indonesia.
Wardhani, Sri.2006. Permasalahan Pembelajaran dan Penilaian
Kemahiran Matematika SMP. PPPG Matematika Yokyakarta 2006.
yahya, halimfathani. 2009. memahami kembali
definisi dan
deskripsi matematika.
(online). http://masthoni.wordpress.com/2009/07/12/melihat-kembali-definisi-dan-deskripsi-matematika/. (diakses 5 januari10).
Yasa, Doantara. 2008. Pembelajaran Kooperatif tipe Group
Investigation (GI) (Online).http://74.125.153.132/search?q=cache:kW9RbrkxSBgJ:ipotes.wordpress.com/2008/04/28/pembelajaran-kooperatif-tipe-group-investigation-gi/+tahap-tahap+investigasi+kelompok+dalam+matematika&cd=8&hl=id&
ct=clnk&gl=id (diakses 31 Desember 2009).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar