Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juni 2022

POLA PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KHULAFAAURRASYIDIN

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar belakang Masalah

 

Terlepas dari paradigma pendidikan itu sendiri, pada masa Nabi, Negara Islam meliputi seluruh jazirah Arab dan pendidikan Islam berpusat di Madinah, setelah Rasulullah wafat kekuasaan pemerintahan Islam dipegang oleh Khulafaurrasyidin dan wilayah Islam telah meluas di luar jazirah Arab. Para khalifah ini bukan hanya memperhatikan aspek pendidikan, namun juga syiar agama dengan perluasan ekspansi militer, demi kokohnya Negara Islam.

Untuk itu tema makalah ini layak untuk dibahas, karena sebagai khasanah pengembangan pendidikan islam di Indonesia yang diadopsi dari Pendidikan Islam pada masa Khulafaurrasyidin.

 

B.     Rumusan Masalah

1.       Bagaimana pola Pendidikan Islam pada masa Khulafaurrasyidin?

2.       Rekontruksi Pendidikan Islam pada Masa Khulafaurrasyidin untuk Pendidikan Islam di Indonesia masa sekarang?

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pola Pendidikan Islam Pada Masa Khulafaurrasyidin

1.      Masa Abu Bakar al-Shiddiq (632-634 M)

a.       Sosial Masyarakat

Masa kepemimpinan Abu Bakar terhitung sangat singkat, hanya dua tahun. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah di kota Madinah. Mereka menganggap, bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad dengan sendirinya batal setelah Nabi wafat. Oleh karena itu, mereka menentang pemerintahan Abu Bakar. Dikarenakan sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini dengan apa yang disebut perang Riddah (perang melawan kemurtadan).[1]

b.      Pola Pendidikan

Dilihat dari sosial masyarakat yang pada saat itu tidak semua berpihak pada pemerintahan, dengan alasan diatas, Abu Bakar fokus untuk menangani pemberontakan orang-orang murtad, pengaku nabi dan pembangkan zakat. Hal ini menyebabkan pendidikan dimasa ini tidak banyak mengalami perubahan sejak masa Rasulullah SAW. Yakni berkisar pada materi pendidikan seputar tauhid, akhlak, ibadah, kesehatan.[2]

1.      Pendidikan keimanan (Tauhid) yaitu menanamkan bahwa satu-satunya yang wajib disembah adalah Allah.

2.      Pendidikan Akhlak, seperti adab masuk rumah orang lain, sopan santun bertetangga, bergaul dalam masyarakat dan lain sebagainya.

3.      Pendidikan Ibadah, seperti pelaksanaan sholat, puasa dan haji.

4.      Kesehatan, seperti kebersihan, gerak gerik dalam shalat merupakan didikan untuk memperkuat jasmani dan rohani.[3]

Mengenai bentuk lembaga pendidikan pada masa ini, Ahmad Syalabi menegaskan lembaga untuk belajar membaca dan menulis pada saat itu disebut dengan Kuttab.

Disamping itu masjid juga berfungsi sebagai tempat belajar, ibadah, dan musyawarah. Khusus Kuttab, merupakan pendidikan yang di bentuk setelah masjid.  Selanjutnya dalam pendapat yang lain mengatakan bahwa kuttab didirikan oleh orang-orang arab pada masa Abu Bakar. Sedangkan pusat pembelajaran pada masa ini adalah kota Madinah, dan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat Rasulullah SAW. yang terdekat.[4]

2.      Masa Umar bin Khatthab (634-644 M)

a.       Sosial Masyarakat

Sebelum Abu Bakar wafat, beliau telah menyaksikan persoalan yang timbul di kalangan kaum muslimin sejak Rasul wafat, berdasarkan hal inilah Abu Bakar menunjuk penggantinya yaitu Umar bin Khattab, yang tujuannya adalah untuk mencegah supaya tidak terjadi perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kebijakan Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat.[5]

Masa pemerintahan Umar bin Khatthab sekitar 10 tahun ini, mengalami perluasan wilayah kekuasaan. Yang mana Madinah sebagai pusat pemerintahan. Dengan meluasnya wilayah Islam mengakibatkan meluas pula kehidupan dalam segala bidang. Untuk memenuhi kebutuhan ini diperlukan manusia yang memiliki ketrampilan dan keahlian, sehingga dalam hal ini diperlukan pendidikan.

Pada masa khalifah Umar bin Khattab, sahabat-sahabat yang sangat berpengaruh  tidak diperlukan untuk keluar daerah kecuali atas izin dari khalifah dan dalam waktu yang terbatas. Jadi, kalau ada diantara umat Islam yang ingin belajar harus pergi ke Madinah, ini berarti bahwa penyebaran ilmu dan pengetahuan para sahabat dan tempat pendidikan terpusat di Madinah.[6]

b.      Pola Pendidikan

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, pendidikan juga tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya, Pola penddidikan dimasa ini mengalami perkembangan. Khalifah saat itu sering mengadakan penyuluhan (pendidikan) di kota Madinah. Beliau juga menerapkan pendidikan di Masjid-masjid dan mengangkat guru dari sahabat-sahabat untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukkan. Mereka bukan hanya bertugas mengajarkan al-Quran, akan tetapi juga dibidang Fiqih. Adapun tenaga pengajar sebagian besar adalah para sahabat yang senior, antara lain Abdurrahman bin Ma’qal dan Imran bin al-Hasyim (di Bashrah), Abdurrahman bin Ghanam (di Syiria), Hasan bin Abi Jabalah (di Mesir).[7] Adapun mata pelajaran yang diberikan meliputi membaca dan menulis al-Qur’an dan menghafalkannya serta belajar pokok-pokok agama Islam. Namun Pendidikan pada masa Umar bin Khattab lebih maju daripada dengan sebelumnya. Pada masa ini tuntutan untuk belajar bahasa Arab juga sudah mulai nampak, orang yang baru masuk Islam dari daerah yang ditaklukan harus belajar dan memahami pengetahuan Islam. Oleh karena itu, pada masa ini sudah terdapat pengajaran bahasa Arab.

Berdasarkan hal di atas, pelaksanaan pendidikan di masa Khalifah Umar bin Khattab lebih maju, sebab selama Umar memerintah Negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini disebabkan di samping telah diterapkannya masjid sebagai pusat pendidikan, juga telah terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai kota dengan materi yang dikembangkan, baik dari ilmu bahasa, menulis, dan pokok ilmu–ilmu lainnya. Pendidikan dikelola di bawah pengaturan Gubernur yang berkuasa saat itu, serta diiringi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian, baitulmal, dan sebagainya. Adapun sumber gaji para pendidik pada waktu itu diambilkan dari daerah yang ditaklukan dan dari baitulmal.[8]

3.      Masa Utsman bin ‘Affan (644-656 M)

a.       Sosial Masyarakat

Masa pemerintahan Utsman yang berlangung kurang lebih 11 tahun, masa yang lumayan lama ini stabilitas politik mulai memanas, hal ini disebabkan terjadinya fitnah dikalangan masyarakat. Salah satunya terdapat beberapa wilayah yang hendak melepaskan diri dari pemerintahan Ustman bin Affan, yang disebabkan dendam lama sebelum ditaklukkan Islam. Daerah tersebut adalah  Khurasan dan Iskandariah. Selain itu ada dua hal yang menyebabkan rasa kebencian kepada Khalifah semakin memuncak, yaitu kelemahan Utsman dan sikap Nepotisme. Utsman memang memiliki perangai yang berbeda dengan Khalifah sebelumnya. Jika umar dengan ketegasannya menimbulkan wibawa dan disegani oleh masyarakat, berbeda dengan Utsman yang bersikap lemah lembut. Sedangkan sikap Nepotismenya diwujudkan dalam bentuk pemerintahan. Pasalnya, pada masa ini banyak gubernur-gubernur yang dilepas jabatannya, dan digantikan dengan kerabatnya sendiri. Antara lain Mughirah bin Syu’bah gubernur Kufah digantikan Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Musa al-‘Asy’ari gubernur Bashrah digantikan Abdullah bin ‘Amir bin Kariz, ‘Amr bin ‘Ash gubernur Mesir digantikan abdullah bin Sa’d bin Abi Sarah.[9]

Saif bin Umar mengatakan, bahwa sebab terjadinya pemberontakan beberapa kelompok menentang pemerintah adalah disebabkan seorang yahudi bernama Abdullah bin Saba’ yang berpura-pura masuk Islam dan pergi kedaerah Mesir untuk menyebarkan idenya tersebut dibeberapa kalangan masyarakat. Maka mulailah masyarakat mengingkari kepemimpinan Ustman Bin Affan serta mencelanya.

b.      Pola Pendidikan

Pola pendidikan tidak jauh berbeda dengan pola pendidikan yang diterapkan pada masa Umar. Hanya saja pada periode ini, para sahabat yang asalnya dilarang untuk keluar dari kota Madinah kecuali mendapatkan izin dari Khalifah, mereka diperkenankan  untuk keluar dan mentap di daerah-daerah yang mereka sukai. Dengan kebijakan ini, maka orang yang menuntut ilmu (para peserta didik) tidak merasa kesulitan untuk belajar ke Madinah.[10]

Khalifah Utsman bin Affan sudah merasa cukup dengan pendidikan yang sudah berjalan, namun begitu ada satu usaha yang cemerlang yang telah terjadi di masa ini yang disumbangkan untuk umat Islam, dan sangat berpengaruh luar biasa bagi pendidikan Islam, yaitu untuk mengumpulkan tulisan ayat-ayat al-Qur’an. Penyalinan ini terjadi karena perselisiahn dalam bacaan al-Qur’an. Berdasarkan hal tersebut, khalifah Usman memerintahkan kepada tim yang dimpimpin Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Zaid bin Ash, dan Abdurrahman bin Harist.[11]

Bila terjadi pertikaian bacaan, maka harus diambil pedoman kepada dialek suku Quraisy, sebab al-Qur’an ini diturunkan dengan lisan Quraisy. Zaid bin Tsabit bukan orang Quraisy, sedangkan ketiganya adalah orang Quraisy.

Tugas mendidik dan mengajar umat pada masa Utsman bin Affan diserahkan pada umat itu sendiri, artinya pemerintah tidak mengangkat guru-guru, dengan demikian para pendidik sendiri melaksanakan tugasnya hanya dengan mengharap keridhaan Allah.

4.      Masa Ali bin Abi Thalib (656-611 M)

a.       Sosial Masyarakat

Beberapa hari setelah pembunuhan Ustman bin Affan, stabilitas keamanan kota madinah menjadi rawan. Gafqy bin Harb memegang keamanan ibukota Islam itu selama kira-kira lima hari sampai terpilihnya Khalifah yang baru. Kemudian Ali bin Abi Thalib tampil menggantikan Ustman bin Affan, dengan menerima baiat dari sejumlah kaum muslimin.[12]

Pada masa pemerintahan  Ali yang hanya sekitar enam tahun itu, terjadi kekacauan politik dan pemberontakan, salah satunya disebabkan kebijakan Khalifah yang memecat gubernur-gubernur yang diangkat oleh khalifah sebelumnya (Ustman bin Affan). Seperti Ibnu Amir Gubernur Bashrah Ustman bin Hanif, Abdullah Gubernur Mesir diganti Qais bin Sa’ad, tak terkecuali Mu’awiyah bin Abi Sufyan Gubernur Damaskus, diminta untuk meletakkan jabatannya, namun menolak dan bahkan tidak mau mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

Selain itu, beliau juga mengeluarkan kebijakan baru dengan menarik hasil tanah yang sebelumnya telah hadiahkan oleh utsman kepada penduduk. Tidak lama setelah itu, terjadi kesalah-pahaman diantara Ali bin Abi Thalib dengan Aisyah binti Abu Bakar, Thalhah dan Zubair. Mereka berselisih mengenai penyelesaian kasus pembunuhan Ustman bin Affan. Hal ini mengakitbatkan pergolakan politik hingga terjadinya peperangan yang dikenal dengan peran Jamal yang dimenangi dari kubu Ali bin Abi Thalib.  Selain itu, pada masa ini terjadi perang shiffin. Yaitu peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufwan, gubernur Damaskus. Yang berakhir dengan Tahkim sebagai akibat timbulnya golongan pembenci Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan Khawarij.

b.      Pola Pendidikan

Masa enam tahun dengan situasi pemerintahan yang tidak stabil ini, dapat disimpulkan bahwa pendidikan pada masa ini mendapat hambatan, dikarenakan  Khalifah sendiri tidak sempat untuk memikirkannya. Dan itu berarti pola pendidikannya tidak jauh berbeda dengan masa-masa sebelumnya.[13]

B.     Pusat dan Sistem Pendidikan

Secara umum pusat Pendidikan Islam pada Masa Khulafau Rasyidin terbagi dibeberapa wliayah antara lain:

1.      Mekkah. Guru pertama di Makkah adalah Muadz bin Jabal yang mengajarkan Al-Qur’an dan Hadist.

2.      Madinah. Sahabat yang terkenal antara lain: Abu bakar, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat-sahabat lainnya.

3.      Bashrah. Sahabat yang termasyhur antara lain: Abu Musa al-Asy’ari, dia adalah seorang ahli fikih dan al-Qur’an.

4.      Kuffah. Sahabat-sahabat yang termasyhur adalah Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Mas’ud mengjarkan Al-Qur’an, tafsir, hadist, dan fikih.

5.      Damsyik (Syam). Setelah Syam menjadi bagian Negara Islam dan penduduknya banyak beragama Islam. Maka Khalifah Umar mengirim tiga orang guru ke negara itu. Yang dikirin adalah Muaz bin Jabal, Ubaidah, dan Abu Darda’. Ketiga sahabat itu mengajar di Syam pada tempat yang berbeda. Abu Darda’ di Damsyik, Muaz bin Jabal di Palestina, Ubaidah di Hims.

6.      Mesir. Sahabat yang mula-mula mendirikan madrasah dan menjadi guru di Mesir adalah Abdullah bin Amru bin Ash, ia adalah seorang ahli hadist.[14]

Sedangkan Sistem pendidikan Islam secara umum pada masa Khulafaurrasyidin dilakukan secara mandiri, tidak dikelola oleh pemerintah, kecuali pada masa Khalifah Umar bin Khattab yang turut campur dalam menambahkan materi kurikulum pada lembaga Kuttab. Materi pendidikan Islam yang diajarkan pada masa khalifah al-Rasyidin sebelum masa Umar bin Khattab, untuk pendidikan dasar:[15]

1.      Membaca dan menulis

2.      Membaca dan menghafal Al-Qur’an

3.      Pokok-pokok agama Islam, seperti cara wudhu, shalat, shaum dan sebagainya.

Ketika Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah, ia menginstruksikan kepada penduduk kota agar anak-anak diajari:

1.      Berenang

2.      Mengendarai unta

3.      Memanah

Sedangkan materi pendidikan pada tingkat menengah dan tinggi terdiri dari:

1.      Al-qur’an dan tafsirnya.

2.      Hadits dan pengumpulannya.

3.      Fiqh (tasyri’).

Pusat dan sistem pendidikan ini terus berlanjut sampai pada Khalifah terakhir Ali bin Abi Thalib.


 


BAB III

PENUTUP

 

A.     Kesimpulan

 Berdasarkan uraian sebagaimana tersebut di atas, dapat kami simpulkan sebagai berikut:

Pendidikan pada masa khalifah Abu Bakar tidak jauh berbeda dengan pendidikan pada masa Rasulullah. Pada masa khalifah Umar bin Khattab, pendidikan sudah lebih meningkat dimana pada masa khalifah Umar, guru-guru sudah diangkat dan digaji untuk mengajar ke daerah-daerah yang baru ditaklukan. Pada masa khalifah Usman bin Affan, pendidikan diserahkan pada rakyat dan sahabat tidak hanya terfokus di Madinah saja, tetapi sudah di bolehkan ke daerah-daerah untuk mengajar. Pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, pendidikan kurang mendapat perhatian, ini disebabkan pemerintahan Ali selalu dilanda konflik yang berujung kepada kekacauan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008.

Syamsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta; Prenada Media, 2008.

Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta :Hidayakarya Agung, 1989.

Ahmad Sjalaby, Sedjarah Pendididikan Islam, Djakarta: Bulan Bintang.

Sukarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Islam, Bandung:  Angkasa, 1983.

Mahmud Syakir, al-Tarikh al-Islamy; al-Khulafau al-Rasyidun Vol. III, Bairut: al-Maktab al-Islami, 2000.



[1]  Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008), hal. 36.

[2] Syamsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta; Prenada Media, 2008), hal. 45.


 

 

[3]  Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam,  (Jakarta :Hidayakarya Agung, 1989), hal. 18.

[4] Ahmad Sjalaby, Sedjarah Pendididikan Islam, (Djakarta: Bulan Bintang), hal. 33.

[5]  Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam,...hal. 37.

 

[6] Sukarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Islam, (Bandung:  Angkasa, 1983), hal. 51.

[7] Syamsul Nizar, Sejarah Pendidikan ... hal. 47.

 

[8] Ibid.

[9] Mahmud Syakir, al-Tarikh al-Islamy; al-Khulafau al-Rasyidun Vol. III, (Bairut: al-Maktab al-Islami, 2000), hal. 233.

 

[10] Syamsul Nizar, Sejarah Pendidikan ... hal. 49.

[11] Samsul Munir Amin M.A., Sejarah Peradaban Islam,  (Jakarta: Amzah, 2009), hal. 105.

[12]Ibid., hal. 109.

.

 

[13] Syamsul Nizar,Sejarah Pendidikan ... hal. 50.

 

[14] Syamsul Nizar,Sejarah Pendidikan ... hal. 53.

[15] Syamsul Nizar,Sejarah Pendidikan ... hal. 57.

makalah aspek manajemen organisasi

makalah aspek manajemen organisasi  BAB I PENDAHULUAN   Manajemen secara umum diartikan sebagai ‘pengaturan’, artinya manajemen adalah...