Tampilkan postingan dengan label JIWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JIWA. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Mei 2022

GLOBALISASI DAN JIWA KEAGAMAAN

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Kebudayaan yang hidup pada suatu masyarakat, pada dasarnya merupakan gambaran dari pola pikir, tingkah laku, dan nilai yang dianut oleh masyarakat. Dari sudut pandang ini, agama disatu sisi memberikan kontribusi terhadap nilai-nilai budaya yang ada, sehingga agama pun bisa berjalan atau bahkan akomodatif dengan nilai-nilai budaya yang sedang dianutnya.

Pada sisi lain, karena agama sebagai wahyu dan memiliki kebenaran yang mutlak, maka agama tidak bisa disejajarkan dengan nilai-nilai budaya setempat, bahkan agama harus menjadi sumber nilai bagi kelangsungan nilai-nilai budaya itu. Disinilah terjadi hubungan timbal balik antara agama dengan budaya.

Persoalanya adalah apakah agama lebih dominan mempengaruhi terhadap budaya, atau sebaliknya apakah budaya lebih dominan mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku manusia dalam kehidupan masyarakat. Dalam kajian sosiologi, baik agama maupun budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

GLOBALISASI BUDAYA DAN JIWA KEAGAMAAN

 

A.      Pengertian Budaya Globalisasi

Globalisasi yang datang pada paroh dasawarsa 1970-an, bukanlah sebuah konsep tunggal untuk menjelaskan sebuah fenomena tunggal. Pada kenyataannya, banyak versi tentang globalisasi tetapi sebagai sebuah generalisasi, globalisasi adalah paradoks, dan paradoks ini tercipta sebagai akibat hadirnya di dalam ruang-waktu yang sama dalam skala global dua sifat yang saling bertentangan satu sama lainnya secara kontradiktif: homogenisasi/ heterogenisasi, penyeragaman/ keberanearagaman, unifikasi/ perbedaan, kesatuan/ keanekaragaman.[1]

Budaya global (global culture), yang dapat diartikan sebagai sebuah konsep yang digunakan untuk menjelaskan tentang ‘mendunianya’ berbagai aspek kebudayaan, yang di dalamnya terjadi proses penyatuan, unifikasi, dan homogenisasi. Ada juga yang mengatakan bahwa budaya global merupakan suatu proses pertukaran antar seseorang ataupun kelompok atas pengetahuan, maupun hasil-hasil alam, dalam level global, dimana ini pun turut meningkatkan komunikasi antar kelompok atau perseorangan tersebut. 

Globalisasi adalah proses kultural yang jauh lebih kompleks ketimbang sekedar penyeragaman, yang di dalamnya melibatkan apa yang disebut secara umum sebagai ‘silang budaya’ (cross-culture). Kebudayaan berada dalam sebuah ‘persilangan’ atau ‘perlintasan’ ketika di dalam sebuah ruang-waktu ‘bertemu’ dua atau lebih kebudaayaan, yang di dalam persilangan itu berbagai kemungkinan dapat terjadi. 

Saat ini dapat dikatakan bahwa kita berada dalam keadaan monoculture, dimana setiap unsur kebudayaan disatukan dalam ‘kesatuan budaya global’, yang akhirnya menciptakan homogenisasi gaya hidup, gaya, identitas, pandangan hidup, bahkan pandangan dunia. [2]

Salah satu bentuk nyata dari globalisasi budaya adalah berkembangnya bapa yang disebut sebagai pop culture. Pop culture atau budaya populer merupakan nilai, cita-rasa, perilaku, dan gaya hidup yang umumnya bersumber pada budaya barat, terutama Amerika. Perusahaan-perusahaan multinasional yang merupakan media berkembangnya budaya ini sebagian besar berasal dari Amerika.[3]

 

B.       Tradisi Keagamaan Era Globalisasi

Era globalisasi umumnya digambarkan sebagai kehidupan masyarakat dunia yang menyatu. Karena kemajuan teknologi, manusia antar Negara menjadi mudah berhubungan baik melalui kenjungan secara fisik, karena alat transportasi sudah bukan merupakan penghambat bagi manusia untuk melewati keberbagai tempat di seantero bumi ini, ataupun melalui pemanfaatan perangkat komunikasi.

Dalam kaitannya dengan jiwa keagamaan, dampak globalisasi dapat dilihat melalui hubungannya  dengan perubahan sikap. Prof. Dr. Mar’at mengemukakan beberapa teori tentang perubahan sikap. Menurut teori yang dikemukakan oleh Osgood dan Tannen-baum perubahan sikap akan terjadi jika terjadi persamaan persepsi pada diri seseorang atau masyarakat terhadap sesuatu. Hal ini berarti bahwa apabila pengaruh globalisasi dengan segala muatannya dinilai baik oleh individu maupun masyarakat, maka mereka akan menerimanya. Selanjutnya, menurut teori Festinger, bahwa perubahan seakan terjadi apabila terjadi keseimbangan (consonance) kognitif (Pengetahuan) terhadap lingkungannya.[4]

Dengan demikian, perubahan sikap dari seseorang atau masyarakat akan terjadi apabila menurut pengetahuan mereka kemajuan teknologi yang dialaminya di era globalisasi sejalan dengan pengetahuan dan pemikirannya. Hal ini akan member dampak penerimaan pengaruh yang dating. Sedangkan, menurut teori Reactance, manusia akan menerime sesuatu dengan mengubah sikap yang sebelumnya menentang, apabila menurut penilaiannya sesuatu itu akan mengarah kepada aktivitas yang lebih aktif. Teori ini menyiratkan bahwa penerimaan terhadap sesuatu didasarkan atas manfaat pada aktivitas seseorang. Sebaiknya dalam teori fungsional dikemukakan bahwa perubahan sikap tergantung dari pemenuhan kebuutuhan. Perubahan sikap ini dalam pendekatan psikolodi adalah berupa kecenderungan yang besar untuk menyenangi sesuatu. Jadi, apabila seseorang merasa sependapat dengan sesuatu maka akan timbul simpati. Pada garis besarnya, proses perubahan sikap tersebut dapat digambarkan melalui dua jalur, yaitu proses rasional dan proses emosional. Proses rasional diawali adanya perhatian, pemahaman, penerimaan, dan berakhir pada  keyakinan. Sedangkan proses emosional berawal dari perhatian, simpati,menerima dan berakhir pada minat.[5]

Era globalisasi memberikan perubahan besar pada tatanan dunia secara menyeluruh dan perubahan itu dihadapi bersama sebagai suatu perubahan yang wajar. Era global ditandai oleh proses kehidupan mendunia, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi serta terjadinya lintas budaya. Kondisi ini mendukung terciptanya berbagai kemudahan dalam hidup manusia. Mobilitas menjadi cepat oleh adanya kemajuan bidang transportasi. Kemdian dengan dukungan teknik kimunikasi yang canggih, manusia dapat dengan mudah berhubungan dan memperoleh informasi.

Kehidupan manusia di era global mengacu ke kehidupan cosmopolitan (warga dunia). Batas geografis negara seakan melebur menjadi kawasan global (dunia yang satu). Demikian juga dengan rasa kebangsaan kian menipis. Di pihak lain dampak dari mobilitas manusia yang semakin tinggi dan kemudahan transportasi, terjadi proses lintas budaya yang cepat. Dukungan dari kecanggihan system informasi, menjadikan dunia semakin transparan. Sementara itu nilai-nilai tradisional mengalami penggerusan. Manusia mengalami proses perubahan system nilai. Bahkan mulai kehilangan pegangan hidup yang bersumber dari tradisi masyarakatnya. Era global seakan menawarkan alternative kehidupan baru bagi manusia, yakni kekaguman terhadap hasil rekayasa ilmu pengetahuan dan teknologi yang menawarkan dan kemudahan dan kenikmatan bendawi. Di pihak lain manusia juga diharapkan pada upaya untuk mempertahankan system nilai yang mereka anut. Dalam situasi seperti itu, bias saja terjadi berbagai kemungkinan. Pertama, mereka yang tidak ikut larut dalam pengaguman yang berlebihan terhadap rekayasa teknologi dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keagamaan, kemungkinan akan lebih meyakini kebenaran agama. Kedua, golongan yang longgar dari nilai-nilai ajaran agama akan mengalami kekosongan jiwa, golongan ini sulit menentukan pilihan guna menentramkan gejolak dalam jiwanya.[6]

 

C.      Antara Budaya Dan Agama

Seperti halnya kebudayaan, agama sangat menekankan makna dan signifikasi sebuah tindakan. Karena itu sesungguhnya terdapat hubungan yang sangat erat antara kebudayaan dan agama bahkan sulit dipahami kalau perkembangan sebuah kebudayaan dilepaskan dari pengaruh agama. Sesunguhnya tidak ada satupun kebudayaan yang seluruhnya didasarkan pada agama. Untuk sebagian kebudayaan juga terus ditantang oleh ilmu pengetahuan, moralita, serta pemikiran kritis.

Meskipun tidak dapat disamakan, agama dan kebudayaan dapat saling mempengaruhi. Agama mempengaruhi sistem kepercayaan serta praktik-praktik kehidupan. Sebaliknya kebudayaan pun dapat mempengaruhi agama, khususnya dalam hal bagaimana agama diinterprestasikan atau bagaimana ritual-ritualnya harus dipraktikkan. Tidak ada agama yang bebas budaya dan apa yang disebut Sang –Illahi tidak akan mendapatkan makna manusiawi yang tegas tanpa mediasi budaya, dalam masyarakat Indonesia saling mempengarui antara agama dan kebudayaan sangat terasa. Praktik inkulturasi dalam upacara keagamaan hampir umum dalam semua agama.

Agama yang digerakkan budaya timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif. Budaya agama tersebut akan terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam kondisi objektif dari kehidupan penganutnya.[7]

Hubungan kebudayaan dan agama tidak saling merusak, kuduanya justru saling mendukung dan mempengruhi. Ada paradigma yang mengatakan bahwa ” Manusia yang beragma pasti berbudaya tetapi manusia yang berbudaya belum tentu beragama”.

Jadi agama dan kebudayaan sebenarnya tidak pernah bertentangan karena kebudayaan bukanlah sesuatu yang mati, tapi berkembang terus mengikuti perkembangan jaman. Demikian pula agama, selalu bisa berkembang di berbagai kebudayaan dan peradaban dunia.[8]

 

D.      Komitmen Beragama di Era Globalisasi

Di zaman yang modern ini, sebuah pendidikan adalah sesuatu yang wajib kita miliki untuk mengarungi berbagai ancaman negatif yang masuk kedalam negeri. Karena, tanpa adanya pendidikan yang kita miliki, maka kita akan mudah terjerumus dalam era globalisasi negatif. Untuk itu kita haruslah mempunyai pendidikan sebagai bekal kita untuk memilih dan memilah berbagai arus yang masuk dalam zaman modern ini.[9]

Zaman modern erat kaitannya dengan globalisasi, globalisasi sendiri dapat diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional antara suatu negara dengan negara yang lain, sehingga hubungan negara di dunia saling terikat satu sama lain.

Pendidikan islam dengan beragam sistem dan tingkatannya dari waktu ke waktu senantiasa mengalami tantangan. Berbagai kemajuan dan ketertinggalan pendidikan islam seperti yang terdapat dalam sejarah. Antara lain, disebabkan kemampuannya dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi.[10]

Tantangan pendidikan islam saat ini jauh berbeda dengan tantangan pendidikan islam sebagaimana yang terdapat pada zaman klasik dan pertengahan, baik secara eksternal maupun internal. Tantangan pendidikan di zaman klasik dan pertengahan cukup berat, namun secara psikologis dan ideologis lebih mudah diatasi. Secara internal, umat islam pada zaman klasik masih segar (fresh), masa kehidupan mereka dengan sumber ajaran islam masih sangatlah dekat, serta semangat berijtihad dalam berjuang memajukan ajaran islam fii sabilillah masih sangat kuat. Secara eksternal, umat islam masih belum mampu menghadapi ancaman yang serius dari negara-negara lain yang sudah maju.[11]

Tantangan pendidikan islam di zaman sekarang, selain menghadapi pertarungan ideologi-ideologi bedar di dunia sebagaimana negara-negara maju, seperti Amerika, Jepang, China, Benua Eropa, dll. Juga menghadapi berbagai kecenderungan yang tidak ubahnya seperti badai besar (turbulence) atau tsunami.

Menurut Daniel Bell, kecenderungan di era globalisasi dunia ditandai dengan lima kecenderungan, antara lain:

1.        Kecenderungan integrasi ekonomi yang menyebabkan terjadinya persaingan bebas dalam segala bidang, terutama dalam dunia pendidikan. Pendidikan islam akan termosak-masik dengan doktrin-doktrin orang Barat yang hanya mengandalkan logikanya saja.

2.        Kecenderungan fragmantasi politik yang menyebabkan terjadinya peningkatan tuntutan dan harapan dari masyarakat.

3.        Kecenderungan menggunakan teknologi tinggi (high technology) khususnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi ini menyebabkan terjadinya tuntutan dari masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang lebih cepat, transparan juga tidak dibatasi oleh waktu dan tempat.

4.        Kecenderungan interpendensi (saling tergantungan) yaitu suatu keadaan dimana seseorang baru dapat memenuhi kebutuhannya apabila dibantu oleh orang lain. Berbagai siasat dan stategi yang dilakukan oleh negara-negara maju untuk membuat negara-negara berkembang tergantung kepadanya, demikian terjadi dengan cara yang intensif. Sebagaimana yang dilakukan oleh negara Amerika, membuat kebijakan hegemoni politik yang memengaruhi negara sekutu menjadi ketergantungan kepada negara Amerika, termasuk ketergantungan dalam dunia pendidikan. Yang akhirnya akan berdampak buruk bagi negara sekutu, apalagi negara Indonesia.

5.        Kecenderungan yang munculnya dari penjajahan baru dalam bidang kebudayaan (new colonization in culture) yang mengakibatkan terjadinya pola pikir (mindset) masyarakat pengguna pendidikan, yaitu dari yang semula mereka belajar dalam rangka meningkatkan kemampuan intelektual, moral, fisik dan psikisnya, berubah menjadi belajar untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang besar.[12]

Akan tetapi, tantangan yang dihadapi pendidikan agama islam telah melahirka berbagai paradigma baru dalm dunia pendidikan. Visi, misi, tujuan, kurikulum, proses belajar dan mengajar, pendidik, peserta didik, manajemen, sarana prasarana, kelembagaan, pendidikan kini tengah mengalami perubahan yang sangatlah besar. Pendidikan islam, dengan pengalamnnya yang panjang seharusnya dapet memberikan jawaban yang tepat atas berbagai tantangan tersebut, untuk menjawab pertanyaan ini, pendidikan islam membutuhkan sumber daya manusia yang handal, berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, memiliki komitmen dan etos kerja yang tinggi, manajemen yang berbasis sistem, infra struktur yang kuat, sumber dana yang memadai, kemampuan politik yang kuat serta standar yang unggul.

Sesungguhnya tugas pendidikan islam adalah untuk meraih kembali kejayaan islam sebagai sistem dan peradaban dengan melahirkan para ulama’ dan ilmuan seperti pada saat zaman keemasan islam, seperti contoh ilmuan-ilmuan pada zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid, dan lain-lain. Jika duku masa kejayaan islam telah melahirkan berbagai macam lembaga pendidikan yang sangat popular di dunia, kini sangatlah berbeda 180 derajat dengan yang terjadi di Indonesia sekarang ini. Lembaga pendidikan islam saat itu dikatakan popular karena mampu memberikan inspirasi bagi peradaban dunia karena berpijak pada ajaran islam sebagai sebuah ajaran ideologi yang sistematik dna aplikatif, dan tidak lupa berpijak kepada Al-Qur’an dan Hadis, Ijma’ dan Qiyas para ulama’, bukan berpijak pada nilai-nilai yang lain.[13]

Sebagai generasi muda, kita haruslah mempunyai pendidikan yang cukup agar tidak terjerumus kedalam arus yang salah seperti gaya berpakaian yang tidak sopan, mewarnai rambut, bahkan sampai minum-minuman keras yang seperti yang dilakukan oleh orang barat. Kitalah sebagai generasi muda yang akan menjadi penerus dalam memajukan bangsa ini, sehingga haruslah kita memiliki skill yang matang dengan cara melalui pendidikan yang harus kita tempuh agar mampu melewati berbagai rintangan di masa ini, terlebih masa yang akan datang, karena masa depan tentu akan semakin banyak rintangan yang menghadang[14].

Sebagai contohnya saja, untuk mencari pekerjaan, syarat utama tentu jenjang pendidikan terlebih dahulu yang diutamakan. Bukan karena apa-apa mereka memberikan syarat jenjang pendidikan sebagai syarat utama, akan tetapi, jikalau mereka menerima pegawai yang tidak memiliki pendidikan yang baik, maka usaha yang telah mereka rintis akan sulit, bahkan tidak mungkin berkembang, bahkan bisa jadi pula usaha mereka akan runtuh hanya karena seorang pegawai yang tidak memiliki pendidikan yang memadai.

Namun, di dalam kehidupan ini, pendidikan bukanlah untuk mencari pekerajaan semata. Pendidikan juga dapat untuk memecahkan masalah atau problema kehidupan yang sering kita jumpai dan kita alami. Dengan pendidikan, penyelesaian masalah tersebut dapat terselesaikan dengan cara yang cepat, baik dan tepat. Itulah fungsi pendidikan yang seharusnya kita pahami dan praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan pendidikan untuk mencari sebuah pekerjaan hanyalah salah satu fungsi pendidikan.

Pada hakikatnya pendidikan islam bertujuan untuk melahirkan generasi manusia yang mampu mengelola, memakmurkan, menguasai dan menerapkan hukum aturan Allah di muka bumi ini. Itulah juga termasuk visi para Nabi dan Rasal, bukan untuk melahirkan manusia-manusia perusak (fasid) bumi dan alam. Itulah yang dimaksudkan Allah dalam ayat-Nya bahwasanya Allah akan menciptakan para khalifah dari kalangan manusia yang kelak dipertanyakan oleh para malaikat.[15]

Di era seperti ini, studi-studi yang tidak dapat menjawab pertanyaan zaman baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan sendirinya akan tersingkirkan dan tidak diminati oleh khalayak masyarakat. Berbeda dengan studi-studi yang menawarkan pekerjaan dan penghasilan bagi lulusannya, akan banyak diminati oleh masyarakat. Kecenderungan penjajahan baru dalam bidang kebudayaan juga menyebabkan munculnya budaya pop atau budaya urban yang menyebabkan ajaran agama yang bersifat normatif dan menjanjikan masa depan yang baik (akhirat/surga), kurang diminati oleh masayarakat.

Oleh karena itu, kita harus berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits, memperbanyak kumpul kepada para ulama’-ulama’ agar kita tidak tersesat dari jalan-Nya, jalan yang murkai-Nya, yang menyebabkan kita masuk neraka.[16]

 


 

BAB III

KESIMPULAN

 

Budaya global (global culture), yang dapat diartikan sebagai sebuah konsep yang digunakan untuk menjelaskan tentang ‘mendunianya’ berbagai aspek kebudayaan, yang di dalamnya terjadi proses penyatuan, unifikasi, dan homogenisasi. Ada juga yang mengatakan bahwa budaya global merupakan suatu proses pertukaran antar seseorang ataupun kelompok atas pengetahuan, maupun hasil-hasil alam, dalam level global, dimana ini pun turut meningkatkan komunikasi antar kelompok atau perseorangan tersebut.

Dalam kaitannya dengan jiwa keagamaan, dampak globalisasi dapat dilihat melalui hubungannya  dengan perubahan sikap. Prof. Dr. Mar’at mengemukakan beberapa teori tentang perubahan sikap. Menurut teori yang dikemukakan oleh Osgood dan Tannen-baum perubahan sikap akan terjadi jika terjadi persamaan persepsi pada diri seseorang atau masyarakat terhadap sesuatu. Hal ini berarti bahwa apabila pengaruh globalisasi dengan segala muatannya dinilai baik oleh individu maupun masyarakat, maka mereka akan menerimanya. Selanjutnya, menurut teori Festinger, bahwa perubahan seakan terjadi apabila terjadi keseimbangan (consonance) kognitif (Pengetahuan) terhadap lingkungannya.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali Ashraf, Horison, 1993  Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus

 

Djaali, 2009, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara

 

Gazalba, Sidi, Asas Agama Islam, Jakarta: PT Bulan Bintang, 1985

 

Jalaluddin, 2005, Psikologi Agama, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

 

Prijono, Prasaran Mengenai Kebudayaan Jakarta: Rineka Cipta, 2008.

 

Prof.Dr.H Jalaludin, 2004, Psikologi Agama Jakarta: rajawali Pers

 

Suryabrata, Sumardi, 2004, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

 



[1] Horison Ali Ashraf, 1993  Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus., hal 13

[2] Ibid., hal 18

[3] Djaali, 2009, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara., hal 23

[4] Ibid., hal 26

[5] Sidi Gazalba, Asas Agama Islam, Jakarta: PT Bulan Bintang, 1985., hal 30

[6] Ibid., hal 33

[7] Jalaluddin, 2005, Psikologi Agama, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada., hal 18

[8] Djaali., Op.,Cit., hal 29

[9] Prijono, Prasaran Mengenai Kebudayaan Jakarta: Rineka Cipta, 2008., hal 12

[10] Ibid., hal 17

[11] Horison Ali Ashraf., Op.,Cit., hal 22

[12] Prof. Dr. H Jalaludin, 2004, Psikologi Agama Jakarta: rajawali Pers., hal 19

[13] Ibid., hal 22

[14] Sidi Gazalba., Op.,Cit., hal 39

[15] Sumardi Suryabrata, 2004, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada., hal 44

[16] Prijono., Op.,Cit., hal 20

makalah aspek manajemen organisasi

makalah aspek manajemen organisasi  BAB I PENDAHULUAN   Manajemen secara umum diartikan sebagai ‘pengaturan’, artinya manajemen adalah...