BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam penelitian ilmiah ada satu hal yang harus dipikirkan yaitu instrumen
penelitian atau sering disebut juga dengan alat pengumpul data. Pada kesempatan
kali ini, kami akan membahas tentang apa yang dimaksud dengan instrumen
penelitian yang dikemukakan oleh para ahli dan apa saja jenis-jenis instrumen
penelitian.
Penelitian dapat diartikan sebagai suatu proses penyelidikan secara
sistematis yang ditujukan pada penyediaan informasi untuk menyelesaikan
masalah. Sebagai suatu kegiatan sistematis penelitian harus dilakukan dengan
metode tertentu yang dikenal dengan istilah metode penelitian, yakni suatu cara
ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah
ini harus didasari ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris dan sitematis.
Dalam melaksanakan kegiatan penelitian, keberadaan instrumen penlitian
merupakan bagian yang sangat integral dan termasuk dalam komponen metodelogi
penelitian karena instrumen penilitian merupakan alat yang digunakan untuk
mengumpulkan, memeriksa menyelidiki suatu masalah yang sedang diteliti.
Suatu instrumen yang baik tentu harus memiliki validitas dan realibilitas
yang baik. Untuk memperoleh instrumen yang baik tentu selain harus
diujicobakan, dihitung validitas dan realibilitasnya juga harus dibuat sesuai
kaidah-kaidah penyusunan instrumen.
Berkaitan dengan hal tersebut, pada pembahasan ini akan diuraikan berbagai
hal terkait dengan instrumen penelitian yang pembahasannya diawali dengan
pengertian instrumen penelitian, jenis, langkah-langkah penyususan, dan teknik
pengujian validitas dan realibilitasnya
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah pengertian
instrumen penelitian?
2.
Apakah instrumen
penelitian untuk penelitian kualitatif?
3.
Apakah instrumen
penlitian untuk penelitian kuantitatif?
4.
Bagaimana
langkah-langkah menyusun instrumen?
5.
Apakah yang
dimaksud dengan validitas dan realibilitas instrumen?
6.
Bagaimana pengujian
validitas instrumen?
7.
Bagaimana pengujian
realibilitas instrumen?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui
apa itu pengertian instrumen penelitian.
2.
Untuk mengetahui
instrumen penelitian untuk penelitian kualitatif.
3.
Untuk mengetahui
instrumen penlitian untuk penelitian kuantitatif.
4.
Untuk mengetahui
langkah-langkah menyusun instrumen.
5.
Untuk mengetahui
apa yang dimaksud dengan validitas dan realibilitas instrumen.
6.
Untuk mengetahui
cara pengujian validitas instrumen.
7.
Untuk mengetahui
cara pengujian realibilitas instrumen.
D.
Metodologi Penulisan
Dalam rangka pembahasan topik-topik di
atas, penulis menggunakan metode library research, dengan cara
mengumpulkan dan menganalisis berbagai buku atau sumber-sumber yang membahas
permasalahan ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah semua alat yang digunakan
untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah. Instrumen penelitian
dapat diartikan pula sebagai alat untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisa dan
menyajikan data-data secara sistematis dan objektif dengan tujuan memecahkan
suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis. Jadi semua alat yang bisa mendukung
suatu penelitian bisa disebut instrumen penelitian.[1]
Menurut Suharsimi Arikunto (2006:149), instrumen
pengumpulan data adalah “alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti
dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan
dipermudah olehnya”.
Sedangkan menurut Ibnu Hadjar (1999:160) berpendapat
bahwa instrumen merupakan “alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi
kuantitatif tentang variasi karakteristik variabel secara obyektif”.
Dari beberapa pendapat pendapat ahli di atas dapat
disimpulkan bahwa instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh
peneliti untuk mengumpulkan informasi kuantitatif tentang variabel yang sedang
diteliti.
B.
Intrumen Penelitian Untuk Penelitian Kualitatif
Dalam penelitian kualitatif, instrumen atau alat
penelitian adalah peneliti itu sendiri. Oleh karena itu peneliti sebagai
instrumen juga harus “divalidasi” seberapa jauh peneliti kualitatif siap
melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan.
Validasi terhadap peneliti sebagai instrumen meliputi
validitas terhadap pemahaman metode penelitian kualitatif, penguasaan wawasan
terhadap bidang yang diteliti, kesiapan peneliti untuk memasuki objek
penelitian, baik secara akademik maupun logistiknya. Yang melakukan validitas
adalah peneliti sendiri, penugasan teori dan wawasan terhadap bidang yang
diteliti serta kesiapan dan bekal memasuki lapangan.
Peneliti kualitatif sebagai “human instrument” berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih
informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas
data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya.[2]
C.
Instrumen Penelitian Untuk Penelitian Kuantitatif
Jika dalam penelitian kualitatif, instrumen penlitian adalah
penelitinya sendiri, maka dalam penelitian kuantitatif, instrumen harus dibuat
dan menjadi perangkat yang “independent” dari peneliti. Peneliti harus mampu
membuat istrumen sebagus mungkin, apapun instrumen itu.
Pada umumnya instrumen penelitian dalam penelitian
kuantitatif terbagi dua, yakni tes dan non tes.[3]
1.
Tes
Tes
adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk
keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki
individu atau kelompok. Dalam membicarakan tes ini akan disampaikan sekaligus
alat ukur lain yang sifatnya terstandar (standardized). Ditinjau dari sasaran
atau objek yang akan dievaluasi, maka dibedakan adanya beberapa macam tes dan
alat ukur lain.
a. Tes
kepribadian atau personality tes, yaitu tes yang digunakan untuk mengungkap
kepribadian seseorang. Yakni yang diukur bisa self-concept creativitas,
disiplin, kemampuan khusus dan sebagainya.
b. Tes
bakan atau apttitude test, yaitu tes yang digunakan untuk mengukur atau
mengetahui bakat seseorang.
c. Tes
inteligensi atau intelligence test, yaitu tes yang digunakan untuk mengadakan
estimasi atau perkiraan terhadap tingkat intelektual seseorang dengan cara
memberikan berbagai tugas orang yang akan diukur intelegensinya.
d. Test
sikap atau attitude, yaitu alat yang digunakan untuk mengadakan pengukuran
terhadap berbagai sikap seseorang.
e. Teknik
proyeksi atau projektif teqnique.
f. Tes
minat atau measures interest, adalah alat untuk menggali minat seseorang
terhadap sesuatu.
g. Tes
prestasi atau achievement test, yaitu tes yang digunakan untuk mengukur
pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu.
Dalam menggunakan metode tes, peneliti
menggunakan instrument berupa tes atau soal-soal tes.
2. Angket
atau kuesioner (Questionnaires)
Kuesioner
adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk pemperoleh informasi
dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang iaketahui.
Kuesioner dapat dibeda bedakan menjadi beberapa jenis, tergantung pada sudut
pandangan.
a. Dipandang
Dari cara menjawab, maka
ada:
1) Kuesioner
terbuka, yang memberi
kesempatan kepada responden
untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri.
2) Kuesioner
tertutup, yang sudah disediakan jawabanya sehingga responden tinggal memilih.
b. Dipandang
dari jawaban yang diberikan ada:
1) Kuesioner
langsung, yaitu responden menjawab tentang dirinya.
2) Responden
tidak langsung, yaitu jika responden menjawab tentang orang lain.
c. Dipandang
dari bentuknya,
maka ada:
1) Kuesioner
pilihan ganda, yang dimaksud adalah sama dengan kuesioner tertutup
2) Kuesioner
isian, yang dimaksud adalah kuesioner terbuka.
3) Check
list, sebuah daftar, dimana responden
tinggal membubuhkan tanda check (√) pada kolom yang sesuai.
4) Rating-scale
(skala bertingkat), yaitu
pernyataan diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkatan-tingkatan,
misalnya mulai dari sangat setuju sampai kesangat tidak setuju.
Keuntungan
kuesioner
a. Tidak
memerlukan hadirnya peneliti.
b. Dapat
dibagikan secara serentak kepada banyak responden.
c. Dapat
dijawab oleh responden menurut kecepatannya masing-masing, dan menurut waktu
senggang responden.
d. Dapat
dibuat anonim sehingga responden bebas, jujur dan tidak malu-malu menjawab.
e. Dapat
dibuat terstandar sehingga bagi semua responden dapat diberi pertanyaan yang
benar-benar sama.
Kelemahan Kesioner
a. Responden
sering tidak teliti dalam menjawab sehingga ada pertanyaan yang terlewati tidak
terjawab, padahal sukar diulang untuk diberikan kembali kepadanya.
b. Sering
sukar dicari validitasnya.
c. Walaupun
dibuat anonim, kadang-kadang responden dengan sengaja memberikan jawaban yang
tidak betul atau tidak jujur.
d. Sering
tidak kembali, terutama jika dikirim lewat pos. menurut penelitian, angket yang
dikirim lewat pos angka pengembaliannya sangat rendah, hanya sekitar 20%
(Anderson).
e. Waktu
pengembaliannya tiddak bersama-sama bahkan kadang-kadang ada yang terlalu lama
sehingga terlambat.
3.
Interviu (Interview)
Interviu
yang sering juga disebut dengan wawancara atau questioner lisan, adalah sebuah
dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi
dari terwawancara (interviewer).
Ditinjau
dari pelaksanannya, maka dibedakan atas:
a. Interviu
bebas, inguided interview, dimana pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi
juga mengingat akan data apa yang akan dikumpulkan.
b. Interviu
terpimpin, guided interview, yaitu inreviu yang dilakukan oleh pewawancara
dengan membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci.
c. Interviu
bebas terpimpin, yaitu kombinasi antara interviu bebas dan interviu terpimpin.
4.
Observasi
Didalam
pengertian psikolog, observasi atau disebut pula dengan pengamatan, meliputi
kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh
alat indra. Apa yang dikatakan ini sebenarnya adalah pengamatan langsung.
Didalam artian penelitian observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner,
rekaman gambar, rekaman suara.
Observasi
dapat dilakukan dengan dua cara, yang kemudian digunakan untuk menyebut jenis
observasi, yaitu:
a. Observasi
non-sitematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrument
pengamatan.
b. Observasi
sistematis yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai
instrumen pengamatan.
5.
Skala bertingkat (rating scale)
Rating
atau skala bertingkat adalah suatu ukuran subjektif yang dibuat
berskala.Walaupun bertingkat ini menghasilkan data yang kasar, tetapi cukup
memberikan informasi tertentu program atau orang.Instrument ini dapat dengan
mudah memberikan gambaran penampilan, terutama penampilan didalam orang
menjalankan tugas, yang menunjukkan frekuensi munculnya sifat-sifat.
Rating Scale harus di interpretasikan secara hati hati karena
di samping menghasilkan gambaran yang kasar juga jawaban responden tidak begitu
saja mudah dipercaya. Sehubungan dengan iniBergman dan Siegel mendaftar hal-hal yang mempengaruhi ketidakjujuran jawaban
responden yaitu:
a.
Persahabatan
b.
Kecepatan
menerka
c.
Cepat
memutuskan
d.
Jawaban kesan
pertama
e.
Penampilan
instrumen
f.
Prasangka
g.
Hallo
effects
h.
Kesalahan
pangambilan rata rata
i.
Kemurahan
hati.
6.
Dokumentasi
Dokumentasi, berasal dari kata dokumen, yang
artinya barang barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki
benda-benda tertulis seperti buku buku, majalah, dokumen,
peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan
sebagainya.
Metode dokumentasi dapat dilaksanakan dengan :
a. Pedoman
dokumentasi yang memuat garis-garis besar atau kategori yang akan dicari
datanya.
b. check-list, yaitu daftar variabel yang akan dikumpulkan datanya. Dalam hal
inipeneliti tinggal memberikan tanda atau tally setiap kemunculan gejala
yang dimaksud.
D.
Langkah-langkah Menyusun Instrumen
Ada
enam langkah dalam penyusunan instrumen
penelitian,yaitu:[4]
1. Mengidentifikasikan
variabel-variabel yang diteliti.
2. Menjabarkan
variabel menjadi dimensi-dimensi
3. Mencari
indikator dari setiap dimensi.
4. Mendeskripsikan
kisi-kisi instrumen
5. Merumuskan
item-item pertanyaan atau pernyataan instrumen
6.
Petunjuk pengisian
instrumen.
Salah satu langkah penting dalam penyusunan instrumen
sendiri adalah melakukan uji coba perangkat instrumen. Langkah ini sering
diabaikan oleh peneliti karena menjadi beban berat dan dianggap kurang ada
manfaatnya. Padahal langkah uji coba ini sangat besar manfaatnya dan mempunyai
tujuan tertentu yaitu untuk mengetahui:
1.
Apakah instrumen
itu dapat diintrumentasikan dengan mudah, hal ini dapat dilakukan dengan
observasi.
2.
Apakah setiap butir
itu dapat dibaca dan dipahami oleh responden.
3.
Ketetapan instrumen,
baik butir instrumen maupun perangkat instrumen secara keseluruhan dan
ketetapan (reliabilitas) instrumen.[5]
E.
Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Menurut Ibnu Hadjar (1999:161), kualitas instrumen
ditentukan oleh dua kriteria utama, yaitu validitas dan reliabilitas. Validitas
suatu instrumen menunjukkan seberapa jauh ia dapat mengukur apa yang hendak
diukur. Sedangkan reliabilitas menunjukkan tingkat konsistensi dan akurasi
hasil pengukuran.
Sedangkan Burhan Bungin (2005: 96,97), validitas alat
ukur adalah akurasi alat ukur terhadap yang diukur walaupun dilakukan
berkali-kali dan di mana-mana. Sedangkan realibilitas alat ukur menurutnya
adalah kesesuaian alat ukur dengan yang diukur, sehingga alat ukur itu dapat
dipercaya atau dapat diandalkan.
F.
Pengujian Validitas Instrumen
Ada tiga jenis pengujian Validitas Instrumen.
1. Pengujian Validitas konstruk
Instrumen yang mempunyai validitas konstruk jika instrumen
tersebut dapat digunakan untukmengukur gejala sesuai dengan dengan yang
didefinisikan. Misalnya akan mengukur efektivitaskerja, maka perlu
didefinisikan terlebih dahulu apa itu efektivitas kerja. Setelah itu disiapkaninstrumen
yang digunakan untuk mengukur efektivitas kerja sesuai dengan definisi.
Untuk menguji validitas konstruk, maka dapat digunakan pendapat
ahli. Setelah instrumendikonstruksikan tentang aspek-aspek yang akan diukur,
dengan berlandaskan teori tertentu, makaselanjutnya dikonsultasikan dengan
ahli. Para ahli diminta pendapatnya tentang instrumen yangtelah disusun
itu.Jumlah tenaga ahli yang digunakan minimal tiga orang, dan umumnya merekatelah
bergelar doktor sesuai dengan lingkup yang diteliti.
Setelah pengujian konstruk dengan ahli, maka diteruskan dengan uji
coba instrumen.Setelahdata ditabulasi, maka pengujian validitas konstruk
dilakukan dengan analisis faktor, yaitu denganmengkorelasikan antar skor item
instrumen.
2. Pengujian Validitas Isi
Instrumen yang harus memiliki validitas isi adalah instrumen yang
digunakan untuk mengukurprestasi belajar dan mengukur efektivitas pelaksanaan
program dan tujuan.Untuk menyusuninstrumen prestasi belajar yang mempunyai
validitas isi, maka instrumen harus disusunberdasarkan materi pelajaran yang
telah diajarkan.Sedangkan instrumen yang digunakan untukmengetahui pelaksanaan
program, maka instrumen disusun berdasarkan program yang telahdirencanakan.
Untuk instrumen yang berbentuk tes, maka pengujian validitas isi
dapat dilakukan denganmembandingkan antara isi instrumen dengan materi
pelajaran yang telah diajarkan.Jika dosenmemberikan ujian di luar pelajaran
yang telah ditetapkan, berarti instrumen ujian tersebut tidakmempunyai
validitas isi.
Secara teknis, pengujian validitas konstruksi dan validitas isi
dapat dibantu dengan menggunakankisi-kisi instrumen.Dalam kisi-kisi itu
terdapat variabel yang diteliti, indikator sebagai tolokukur, dan nomor butir
(item) pertanyaan atau pernyataan yang telah dijabarkan dari indikator.Dengan
kisi-kisi instrumen itu, maka pengujian validitas dapat dilakukan dengan mudah
dansistematis.
3. Pengujian
Validitas Eksternal
Validitas
eksternal instrumen diuji dengan cara membandingkan (untuk mencari
kesamaan)antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakta-fakta empiris
yang terjadi di lapangan.Misalnya instrumen untuk mengukur kinerja sekelompok
pegawai.Maka kriteria kinerja padainstrumen tersebut dibandingkan dengan
catatan-catatan di lapangan (empiris) tentang kinerjayang baik.Bila telah
terdapat kesamaan antara kriteria dalam instrumen dengan fakta dilapangan, maka
dapat dinyatakan instrumen tersebut mempunyai Validitas eksternal yang tinggi.
G.
Pengujian Reliabilitas Instrumen
Pengujian reliabilitas instrumen menurut Sugiyono (2010:354) dapat
dilakukan secara eksternaldan internal. Secara eksternal, pengujian dilakukan
dengan test – retest (stability), equivalent,dan gabungan keduanya.
Secara internal pengujian dilakukan dengan menganalisis konsistensibutir-butir
yang ada pada instrumen dengan teknik-teknik tertentu.
1. Test retest
Instrumen penelitian dicobakan beberapa kali pada responden yang
sama dengan instrumen yangsama dengan waktu yang berbeda. Reliabilitas diukur
dari koefisien korelasi antara percobaanpertama dengan yang berikutnya.Bila
koefisien korelasi positif dan signifikan, maka instrumentersebut sudah
dinyatakan reliabel.
2. Ekuivalen
Instrumen yang ekuivalen adalah pertanyaan yang secara bahasa
berbeda, tetapi maksudnyasama. misalnya, berapa tahun pengalaman Anda bekerja
di lembaga ini? Pertanyaan tersebutekuivalen dengan tahun berapa Anda mulai
bekerja di lembaga ini?
Pengujian
dengan cara ini cukup dilakukan sekali, tetapi instrumennya dua dan berbeda,
padaresponden yang sama. Reliabilitas diukur dengan cara mengkorelasikan antara
data instrumenyang satu dengan instrumen yang dijadikan ekuivalennya. Bila
korelasi positif dan signifikan,maka instrumen dapat dinyatakan reliabel.
3. Gabungan
Pengujian
dilakukan dengan cara mencobakan dua instrumen yang ekuivalen beberapa kali
keresponden yang sama. cara ini merupakan gabungan dari test-retest (stability)
dan ekuivalen.Reliabilitas instrumen dilakukan dengan mengkorelasikan dua
instrumen, setelah itudikorelasikan pada pengujian kedua dan selanjutnya
dikorelasikan secara silang. Jika dengan duakali pengujian dalam waktu yang
berbeda, maka akan dapat dianalisis keenam koefisienreliabilitas. Bila keenam
koefisien korelasi itu semuanya positif dan signifikan, maka dapatdinyatakan
bahwa instrumen itu reliabel.
4. Internal
Consistency
Pengujian
reliabilitas dengan internal consistency, dilakukan dengan cara mencobakan
instrumensekali saja, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan
teknik-teknik tertentu. Hasil analisisdapat digunakan untuk memprediksi
reliabilitas instrumen.Pengujian reliabilitas instrumen dapatdilakukan dengan
teknik belah dua dari Spearman Brown (Split half), KR20, KR21 dan
AnovaHoyt.[6]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Instrumen penelitian merupakan alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh
peneliti dalam melakukan kegiatan untuk mengumpulkan data agar kegiatan
tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.
Jenis-jenis insrumen penelitian ada dua, yaitu instrumen penelitian untuk
penelitian kualitatif dan instrumen penelitian untuk penelitian kuantitatif.
Instrumen dalam penlitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri, sedangkan
instrumen dalam penelitian kuantitatip dapat berupa tes, angket, wawancara,
observasi, skala bertingkat dan dokumentasi.
Salah satu langkah penting dalam penyusunan istrumen sendiri adalah
melakukan uji coba perangkat instrumen. Syarat pokok suatu instrumen penelitian
adalah validitas dan realibilitas.
DAFTAR PUSTAKA
Ruslan,
Rosady,Metode Penelitian, Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2004.
Emzir,
Metodologi Penelitian Pendidikan
Kualitatif dan Kuantitatif, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014.
Syaodih
Sukmadinata, Nana,Metodologi Penelitian
Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010.
Nusa
Putra, Research & Develompment, Jakarta:
Raja Grafindo, 2013.
Arikunto,
Suharsimi,Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta, 2006.
Suryabrata,
Sumadi, Metodologi Penelitian, Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2005.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur ke hadirat
Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Instrumen Penelitian” ini .
Dalam penyusunan makalah ini, dengan
kerja keras dan dukungan dari berbagai pihak, kami telah berusaha untuk dapat
memberikan yang terbaik dan sesuai dengan harapan, walaupun di dalam
pembuatannya menghadapi kesulitan, karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan
keterampilan yang dimiliki.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini
kami ingin erterima kasih kepada bapak Drs. Fitriadi Lubis, M.Pd. selaku dosen
pengampu mata kuliah Research Methodology dan juga kepada orangtua dan
teman-teman serta pihak lainnya yang telah memberikan dukungan dan dorongan.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan
makalah ini terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang
membangun sangat kami butuhkan agar dapat menyempurnakan di masa yang akan
datang. Walaupun demikian, semoga apa yang disajikan dalam makalah ini, kiranya
dapat bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan.
Padangsidimpuan,
16 Oktober 2018
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................ i
DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang........................................................................................................ 1
B.
Rumusan Masalah.................................................................................................... 1
C.
Tujuan...................................................................................................................... 2
D.
Metodologi Penulisan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Instrumen Penelitian.............................................................................. 3
B.
Instrumen Penelitian untuk Penelitian Kualitatif.................................................... 3
C.
Instrumen Penelitian untuk Penelitian Kuantitatif.................................................. 4
D.
Langkah-Langkah Menyusun Instrumen................................................................. 8
E.
Validitas dan Realibilitas Instrumen....................................................................... 9
F.
Penyajian Validitas Instrumen................................................................................. 9
G.
Penyajian Realibilitas Instrumen............................................................................. 10
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan.............................................................................................................. 11
B.
Daftar Pustaka......................................................................................................... 12
[1] Sumadi
Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2005), h. 51.
[2]Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif
dan Kuantitatif, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), h. 78.
[3] Suharsimi
Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006)
[4]Rosady
Ruslan, Metode Penelitian, (Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 169.
[5] Nusa Putra,
Research & Develompment, (Jakarta:
Raja Grafindo, 2013), h. 175.
[6] Nana
Syaodih Sukmadinata, Metodologi
Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), h. 287.