Tampilkan postingan dengan label Lembaga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lembaga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Mei 2022

Lembaga Pendidikan Keluarga

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Lembaga Pendidikan Keluarga

Kata “Keluarga” secaraetimologi menurut K.H. Dewantara sebagai berikut :

“Bagi bangsa kita perkataan “Keluarga” tadi kita kenal sebagai rangkaian perkataan-perkataan “kawula”dan “warga”. “kawula” tidak lain artinya daripada “abdi” yakni “hamba” sedangkan “warga” berarti “anggota”. Sebagai abdi di dalam keluarga wajiblah seseorang menyerahkan segala kepentingan-kepentingannya kepada keluarganya. Sebaliknya sebagai warga atau anggota ia berhak sepenuhnya pula untuk ikut mengurus segala kepentingan didalam keluarganya.

Sedangkan dalam ilmu sosiologie, keluarga adalah bentuk masyarakat kecil yang terdiri dari beberapa individu yang terikat oleh suatu keturunan, yakni kesatuan antara ayah, ibu, dan anak yang merupakan kesatuan kecil dari bentuk-bentuk kesatuan masyarakat.[1]

Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan yang utama, kerana sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga.

Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak adalah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain.

Di dalam Pasal 1 UU Perkawinan Nomor I Tahun 1974, dinyatakan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera, berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Anak yang lahir dari perkawinan ini adalah anak yang sah dan menjadi hak serta tanggung jawab kedua orang tuanya memelihara dan mendidiknya dengan sebaik-baiknya. Kewajiban kedua orang tua mendidik anak ini terus berlanjut sampai ia dikawinkan atau dapat berdiri sendiri, bahkan menurut pasal 45 ayat 2 UU Perkawinan ini, kewajiban dan tanggung jawab orang tua akan kembali apabila perkawinan antara keduanya putus karena suatu hal. Maka anak ini kembali menjadi tanggung jawab orang tua.[2]

Menurut imam Ghozali “anak adalah suatu amanat Tuhan kepada ibu bapaknya”!. Maka orang tua wajib mendidik anaknya. Allah berfirman yang arinya :“Hai orang-orang yang beriman, lindungilah dirimu dan keluarga, akan siksa api neraka”. (QS. At-Tahrim:6).[3]

Maka dari itu, agama Islam menganjurkan kepada para pemuda khususnya, untuk mencari ibu (istri) yang baik, agar kelak baik pula dalam mendidik anak-anaknya.Allah menganjurkan dalam firman-Nya yang artinya :“Maka, kawinilah wanita-wanita yang baik bagimu” (QS. AnNisa:3)[4]

1.      Fungsi dan Peranan Pendidikan Keluarga

a.       Pengalaman Pertama Masa Kanak-kanak

Pendidikan keluarga adalah yang pertama dan utama. Maksud dari pertama adalah kehadiran anak di dunia disebabkan hubungan kedua orang tuanya. Merakalah yang harus bertanggung jawab terhadap anak mereka dan kewajiban dari orang tua bukan hanya sekedar memelihara eksistensi anak untuk menjadikannya kelak sebagai seorang pribadi, tetapi juga memberikan pendidikan anak sebagi individu yang tumbuh dan berkembang.

Sedangkan maksud dari utama adalah orang tua bertanggung jawab pada pendidikan anak karena seorang anak dilahirkan dalam keadaan yang tidak berdaya, dalam keadaan penuh ketergantungan dengan orang lain, dan tidak mampu berbuat apa-apa. Ia lahir dalam keadaan suci bagaikan meja lilin berwarna putih (a sheet of white paper avoid of all characters) atau yang lebih dikenal dengan istilah Tabularasa.

Di dalam Islam secara jelas Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan lewat sabdanya yang berbunyi :“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka orang tuanyalah yang dapat menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

b.      Menjamin Kehidupan Emosional Anak

Berdasarkan penelitian, terbukti adanya kelainan-kelainan di dalam perkembangan pribadi individu yang disebabkan oleh kurang berkembangnya kehidupan emosional antara lain:

1)      Anak-anak yang sejak dipelihara di rumah yatim piatu, panti asuhan atau di rumah sakit, banyak mengalami kelainan-kelainan jiwa seperti menjadi seorang anak pemalu, agresif dan lain-lain yang pada mulanya disebabkan kurang terpenuhinya rasa kasih sayang.

2)      Banyaknya terjadi tindak kejahatan atau kriminal. Penelitian menunjukkan bahwa tumbuhnya kejahatan karena kurangnya rasa kasih sayang yang diperoleh anak dari orang tua disebabkan kesibukan orang tua, suasana yang tidak religius, broken home dan sebaginya.

c.       Menanamkan Dasar Pendidikan Moral

Dalam hubungan ini Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa :“Rasa cinta, rasa bersatu dan lain-lain perasaan dan keadaan jiwa yang pada umumnya sangat berfaedah untuk berlangsungnya pendidikan, teristimewa pendidikan budi pekerti, terdapatlah di dalam hidup keluarga dalam sifat yang kuat dan murni, sehingga tak dapat pusat-pusat pendidikan lainnya menyamainya”.

Segala nilai yang dikenal anak akan melekat pada orang-orang yang disenangi dan dikaguminya, dan dengan melalui inilah salah satu proses yang ditempuh anak dalam mengenal nilai.

d.      Memberikan Dasar Pendidikan Sosial

Perkembangan benih-benih kesadarasan sosial pada anak-anak dapat dipupuk sedini mungkin, terutama lewat kehidupan keluarga yang penuh rasa tolong-menolong, gotong-royong secara kekeluargaan, menolong saudara atau tetangga yang sakit, bersama-sama menjaga ketertiban, kedamaian, kebersihan, dan keserasian dalam segala hal.

e.       Peletakan Dasar-dasar Keagamaan

Dalam keluarga, orang tua juga harus memberikan dasar-dasar keagamaan kepada anak-anaknya. Contohnya, anak-anak dibiasakan ikut ke mesjid bersama-sama, mendengarkan khutbah atau ceramah keagamaan. Maka setelah dewasa nanti anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang baik, berbudi pekerti, sopan santun terhadap orang yang ada disekitarnya. Dan sedangkan anak-anak yang tidak dibiasakan hal-hal yang baik sewaktu kecilnya maka setelah dewasa dia tidak akan perhatian terhadap hidup keagamaannya.[5]

2.      Tanggug jawab keluarga

Dasar-dasar tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya meliputi :

a.       Adanya motivasi atau dorongan cinta kasih yang dijiwai hubungan orang tua dan anak.

b.      Tanggung jawab sosial.

c.       Memelihara dan membesarkan anaknya.

d.      Memberikan pendidikan yang layak pada anakya.[6]

 

B.     Lembaga Pendidikan Sekolah

Pendidikan sekolah adalah pendidikan yang diperoleh seseorang di sekolah secara teratur, sistematis, bertingkat, dan dengan mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat.

Ada beberapa karakteristik proses pendidikan yang berlangsung di sekolah, yaitu :

1.      Pendidikan diselenggarakan secara khusus dan dibagi atas jenjang yang dimiliki hubungan hierarkis.

2.      Usia anak didik di suatu jenjang pendidikan relatif homogen.

3.      Waktu pendidikan relatif lama sesuai dengan program pendidikan yang harus diselesaikan.

4.      Materi atau isi pendidikan lebih banyak bersifat akademik dan umum.

5.      Adanya penekanan tentang kualitas pendidikan sebagai jawaban terhadap kebutuhan dimasa yang akan datang.[7]

 

1.      Tanggung jawab sekolah

Sebagai pendidikan yang bersifat formal, sekolah menerima fungsi pendidikan berdasarkan asas-asas tanggung jawab berikut:

a.       Tanggung jawab formal kelembagaan sesuai dengan fungsi dan tujuan yang ditetapkan menurut kententuan-ketentuan yang berlaku, dalam hal ini undang-undang pendidikan; UUSPN Nomor 20 Tahun 2003.

b.      Tanggung jawab keilmuan berdasarkan bentuk, isi, tujuan, dan tingkat pendidikan yang dipercayakan kepadanya oleh masyarakat dan bangsa.

c.       Tanggung jawab fungsional, ialah tanggung jawab profesional pengelola dan pelaksana pendidikan yang menerima ketetapan ini berdasarkan ketentuan-ketentuan jabatannya. Tanggung jawab ini merupakan pelimpahan tanggung jawab dan kepercayaan orang tua (masyarakat) kepada sekolah dari para guru.

2.      Sifat-sifat lembaga pendidikan sekolah

Sifat-sifat pendidikan sekolah sebagai berikut:

a.       Tumbuh sesudah keluarga (pendidikan kedua)

b.      Lembaga pendidikan formal

c.       Lembaga pendidikan yang tidak bersifat kodrati

3.      Fungsi dan peranan sekolah

Peranan sekolah melalui kurikulum, antara lain:

a.       Anak didik belajar bergaul sesama anak didik, antara guru dengan anak didik dan antara anak didik dengan orang yang bukan guru.

b.      Anak didik belajar menaati peraturan-peraturan sekolah.

c.       Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara.

Fungsi sekolah itu, sebagaimana diperinci oleh Suwarno dalam   bukunya Pengantar Umum Pendidikan, sebagai berikut:

a.       Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan.

b.      Spesialisasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran.

c.       Efisiensi dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran.

d.      Sosialisasi.

e.       Konservasi dan transmisi kultural.

f.       Transisi dari rumah ke masyarakat

4.      Macam-macam Sekolah

a.       Ditinjau dari segi yang mengusahakan

1)      Sekolah negeri

2)      Sekolah swasta

b.      Ditinjau dari sudut tingkatan

Menurut UU Nomor 20 Tahun 2004, jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

1)      Pendidikan dasar terdiri dari: sekolah dasar (madrasah ibtidaiyah) dan SMP/MTs

2)      Pendidikan menengah terdiri dari: SMA (MA) dan SMK (MAK)

3)      Pendidikan tinggi terdiri dari: akademi, institut, sekolah tinggi, dan universitas

c.       Ditinjau dari sifatnya

1)      Sekolah umum

2)      Sekolah kejuruan

5.      Sumbangan khas sekolah sebagai lembaga pendidikan

Berikut ini dikemukakan beberapa sumbangan sekolah bagi pendidikan anak yaitu:

a.       Sekolah melaksanakan tugas mendidik maupun mengajar anak, serta memperbaiki, memperluas tingkah laku si anak didik yang dibawa dari keluarga.

b.      Sekolah mendidik][ maupun mengajar anak didik menjadi pribadi dewasa sekaligus warga negara yang dewasa.

c.       Sekolah mendidik maupun mengajar anak didik menerima dan memiliki kebudayaan bangsa.

d.      Lewat bidang pengajaran, sekolah membantu anak didik mengembangkan kemampuan intelektual dan keterampilan kerja, sehingga anak didik memiliki keahlian untuk bekerja dan ikut membangun bangsa dan negara.[8]

 

C.     Lembaga Pendidikan di Masyarakat

Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan ketiga setelah keluarga dan sekolah. Masyarakat diartikan sebagai sekumpulan orang yang menempati suatu daerah yang diikat oleh pengalaman-pengalaman yang sama, memiliki sejumlah persesuaian dan sadar akan kesatuannya, serta dapat bertindak bersama untuk mencukupi krisis kehidupannya.

Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat benyak sekali, meliputi segala bidang baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.

Lembaga pendidikan yang dalam istilah UU Nomor 20 Tahun 2003 disebut dengan jalur pendidikan non formal, bersifat fungsional, dan praktis yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan kerja peserta didik yang berguna bagi usaha perbaikan taraf hidupnya.[9]

 

1.      Beberapa istilah jalur pendidikan luar sekolah

Pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat atau yang dikenal dengan jalur pendidikan luar sekolah, memiliki beberapa istilah di dalam kerangka pelaksanaan pendidikannya, sebagai berikut:

a.       Pendidikan sosial

b.      Pendidikan masyarakat

c.       Pendidikan rakyat

d.      Pendidikan luar sekolah atau out of school education

e.       Mass education

f.       Adult education

g.      Extension education

h.      Fundamental [10]

2.      Sasaran dan program pendidikan Nonformal

Dalam konteks ini dapat diklasifikasikan menjadi enam kategori yaitu:

a.       Para buruh dan petani

Pendidikan meraka sangat rendah bahkan tanpa pendidikan sama sekali. Mereka hidup dalam suasana tradisional dan kebiasaannya yang masih belum maju. Program pendidikan yang harus diberikan kepada mereka sebagai berikut:

1)      Pendidikan yang mampu meningkatkan produktivitas mereka dengan cara mengajarkan berbagai keterampilan dan metode baru.

2)      Pendidikan yang mampu mendidik mereka agar bisa memenuhi kewajiban sebagai warga negara dan kepala keluarga yang baik, sehingga pendidikan bagi anak-anak mereka sangat penting.

3)      Pendidikan yang mampu mendidik mereka untuk memanfaatkan waktu senggang secara efektif.

b.      Para remaja putus sekolah

Golongan remaja yang mengangggur karena tidak mendapatkan pendidikan keterampilan atau under employed disebabkan kurangnya bakat dan kemampuan. Dalam upaya perkembangan pribadinya, mereka perlu diberi pendidikan kultural dan kegiatan-kegiatan yang rekreatif.

c.       Para pekerja yang berketerampilan

Program pendidikan yang diberikan kepada mereka bersifat kejuruan dan teknik yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang teleh mereka miliki. Tujuan dari program pendidikan ini ada dua yaitu:

1)      Dapat menyelamatkan mereka dari bahaya kekurangan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki.

2)      Akan membuka jalan bagi mereka untuk naik jenjang dalam promosi kedudukan yang lebih baik.

d.      Golongan teknisi dan profesional

Mereka sangat dibutuhkan oleh masyarakat karena mereka sangat berperan penting untuk kemajuan masyarakat sehingga mereka senantiasa memperbaharui dan menambah pengetahuan dan keterampilannya.

e.       Para pemimpin masyarakat

Mereka dituntut untuk mampu mensintesakan pengetahuan dari berbagai macam profesi atau keahlian dan selalu memperbaharui sikap-sikap dan gagasan yang sesuai dengan kemajuan dan pembangunan.

f.       Anggota masyarakat yang sudah tua

Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak pengetahuan yang belum mereka ketahui pada waktu muda. Oleh karena itu, pendidikan ini merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi mereka, meskipun kalau dilihat dari segi materi yang tidak banyak menguntungkan.[11]

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Lingkunganpendidikanmerupakanfaktor yang mempengaruhiterhadappraktekpendidikandan proses berlangsungnya proses pendidikan. Lingkunganpendidikanadalahsegalasesuatu yang adadanterjadidisekeliling proses pendidikanituberlangsung. Lingkunganpendidikanmerupakankomponen yang sangatbesarpengaruhnyaterhadap proses danhasilpendidikan.

Lembagapendidikanyaitulembaga yang mempunyaitanggungjawabdanperanandalamusahapencapaiantujuanpendidikanyaitupendewasaandirimanusia. Lembaga-lembagapendidikanitumeliputi: lembagakeluarga, lembagasekolah, danlembagamasyarakat. Dan masing-masinglembagamempunyaitanggungjawab yang terpadudalamrangkamencapaitujuannasional.

Keluargamerupakanlingkunganpertama yang bertanggungjawabuntukmemberikandasardalammengembangkanpertumbuhananaksebagaimakhlukindividu, sosial, dan religious. Sekolahmerupakanlingkungan yang kedua yang bertugasmengembangkanpotensidasar yang dimilikimasing-masinganakdidik agar mempunyaikecerdasanintelektualdan mental. Masyarakatsebagailembagaketiga yang memberikananakdalamkemampuanpenalaran, penampilan, dansikap.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 Ahmadi, Abudan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1991.

 

Hasbullah, Dasar-Dasar Imu Pendidikan, Jakarta:PT Rajagrafindo Persada, 2011.



[1]Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 1991), hlm177

[2]Hasbullah, Dasar-Dasar Imu Pendidikan, (Jakarta:PT Rajagrafindo Persada, 2011), hlm 39

[3] Abu AhmadidanNurAhbiyati, op., cit, hlm 178

[4]Ibid., hlm180

[5]Hasbullah, Dasar-Dasar Imu Pendidikan, (Jakarta:PT Rajagrafindo Persada, 2011), hlm43

 

[6]Ibid.,  hlm45

[7]Ibid.,hlm 47

[8]Hasbullah, Dasar-Dasar Kependidikan, (Jakarta: PTRaja Grafindo Persada,2011), hlm 55

[9]Ibid, hlm 56

[10]Ibid., hlm 58

[11]Ibid.,hlm 61

makalah aspek manajemen organisasi

makalah aspek manajemen organisasi  BAB I PENDAHULUAN   Manajemen secara umum diartikan sebagai ‘pengaturan’, artinya manajemen adalah...