Tampilkan postingan dengan label kelompok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kelompok. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juni 2022

Konseling Kelompok

 Makalah 

Konseling Kelompok 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar  Belakang

Pengembangan kemanusiaan seutuhnya hendaknya mencapai pribadi-pribadi yang kediriannya matang, tangguh, dengan kemampuan social yang menyejukkan, kesusilaan yang tinggi dan luhur serta berkeimanan dan ketakwaan yang kokoh dan dalam.Namun kenyataan yang sering kita jumpai dalam kehidupan masyarakat akhir-akhir ini, banyak pribadi yang kurang berkembang dan rapuh, kurangnya rasa kebersamaan sebagai anggota kelompok masyarakat, kehidupan social yang panas, kesusilaan yang rendah dan keimanan dan ketakwaan yang labil dan dangkal.

Sehubungan dengan masalah-masalah tersebut, maka dalam pengembangan pendidikan harus memperhatikan hal-hal tersebut agar setiap orang dapat berkembang secara optimal sehingga potensi-potensi yang dimlikinya mendapat sentuhan yang mendorongnya untuk berkembang sesuai dengan tahapan-tahapan  perkembangannya baik sebagai makhluk beragama, makhluk susila, makhluk individu, maupun sebagai makhluk social.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

KONSEP DASAR KONSELING KELOMPOK

A.    Pengertian Konseling Kelompok

Konseling kelompok, menurut Pauline Harrison adalah konseling yang terdiri dari 4-8 konseli yang bertemu dengan 1-2 konselor. Dalam prosesnya, konseling kelompok dapat membicarakan beberapa masalah, seperti kemampuan dalam membangun hubungan dan komunikasi, pengembangan harga diri, dan keterampilan-keterampilan dalam mengatasi masalah.

Konseling kelompok bersifat memberikan kemudahan dalam perkembangan individu, dalam arti bahwa konseling kelompok memberikan dorongan dan motivasi kepada individu untuk membuat perubahan-perubahan dengan memanfaatkan potensi secara maksimal sehingga dapat mewujudkan diri.

Dengan memperhatikan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok adalah proses konseling yang dilakukan dalam situasi kelompok, dimana konselor berinteraksi dengan konseli dalam bentuk kelompok yang dinamis untuk memfasilitasi perkembangan individu dan atau membantu individu dalam mengatasi masalah yang dihadapinya secara bersama-sama.[1]

 

B.     Fungsi Layanan Konseling Kelompok

Dengan memperhatikan defenisi konseling kelompok sebagaimana telah disebutkan di atas, maka kita dapat mengatakan bahwa konseling kelompok mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi layanan kuratif; yaitu layanan yang diarahkan untuk mengatasi persoalan yang dialami individu, serta fungsi layanan preventif; yaitu layanan konseling yang diarahkan untuk mencegah terjadinya persoalan pada diri individu. Juntika Nurihsan mengatakan bahwa konseling kelompok bersifat pencegahan dan penyembuhan. Konseling kelompok bersifat pencegahan, dalam arti bahwa individu yang dibantu mempunyai kemampuan normal atau berfungsi secara wajar di masyarakat, tetapi memiliki beberapa kelemahan dalam kehidupannya sehingga mengganggu kelancaran berkomunikasi dengan orang lain. Sedangkan, konseling kelompok bersifat penyembuhan dalam pengertian membantu individu untuk dapat keluar dari persoalan yang dialaminya dengan cara memberikan kesempatan, dorongan, juga pengarahan kepada individu untuk mengubah sikap dan perilakunya agar selaras dengan lingkungannya.

 

C.    Tujuan Layanan Konseling Kelompok

Menurut Winkel, konseling kelompok dilakukan dengan beberapa tujuan, yaitu:

1.      Masing-masing anggota memahami dirinya dengan baik dan menemukan dirinya sendiri. Berdasarkan pemahaman diri itu dia lebih terbuka terhadap aspek-aspek positif dalam kepribadiannya.

2.      Para anggota kelompok mengembangkan kemampuan berkomunikasi satu sama lain sehingga mereka dapat saling memeberikan bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan yang khas pada fase perkembangan mereka.

3.      Para anggota kelompok memperoleh kemampuan pengatur dirinya sendiri dan mengarahkan hidupnya sendiri, mula-mula dalam kontrak antar pribadi di dalam kelompok dan kemudian juga dalam kehidupan sehari-hari di luar kehidupan kelompoknya.

4.      Para anggota kelompok menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih mampu menghayati perasaan orang lain. Kepekaan dan penghayatan ini akan lebih sensitif juga terhadap kebutuhan-kebutuhan dan perasaan-perasaan sendiri.

5.      Masing-masing anggota kelompok menetapkan suatu sasaran yang ingin mereka capai, yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang konstruktif.

6.      Para anggota kelompok lebih berani melangkah maju dan menerima resiko yang wajar dalam bertindak, dari pada tinggal diam dan tidak berbuat apa-apa.

7.      Para anggota kelompok lebih menyadari dan menghayati makna dan kehidupan manusia sebagai kehidupan bersama, yang mengandung tuntutan menerima orang lain dan harapan akan diterima orang lain.

8.      Masing-masing anggota kelompok semakin menyadari bahwa hal-hal yang memprihatinkan bagi dirinya sendiri kerap juga menimbulkan rasa prihatin dalam hati orang lain. Dengan demikian dia tidak meresa terisolir, atau seolah-olah hanya dialah yang mengalami hal ini dan itu.

9.      Para anggota kelompok belajar berkomunikasi dengan anggota-anggota yang lain secara terbuka, dengan saling menghargai dan menaruh perhatian. Pengalaman bahwa komunikasi deminikan dimungkinkan akan membawa dampak positif dalam kehidupan dengan orang-orang yang dekat di kemudian hari.[2]

 

Bagi konseli, konseling kelompok dapat bermanfaat sekali karena melalui interaksi dengan anggota-anggota kelompok, mereka akan mengembangkan berbagai keterampilan yang pada intinya meningkatkan kepercayaan diri dan kepercayaan orang lain.

Tujuan pelaksanaan konseling kelompok ini dalah untuk meningkatkan kepercayaan diri konseli. Kepercayaan diri dapat ditinjau dalam kepercayaan diri lahir dan batin yang diimplementasikan ke dalam tujuh cirri yaitu; cinta diri dengan gaya hidup dan perilaku untuk memelihari diri, sadar akan potensi dan kekurangan yang dimiliki, memiliki tujuan hidup yang jelas, berpikir positif dengan apa yang akan dikerjakan dan bagaimana hasilnya, dapat berkomunikasi dengan orang lain, memiliki ketegasan, penampilan diri yang baik, dan memiliki pengendalian perasaan.

 

 

D.    Keterampilan Dasar Pemimpin Konseling Kelompok

Seorang konselor yang baik, harus membekali diri dengan berbagai keterampilan konseling. Dalam pelaksanaan konseling kelompok, ada beberapa keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh pemimpin kelompok. Menurut Jacob, at al. keterampilan-keterampilan dasar harus dimiliki konselor dalam layanan konseling kelompok sebagai berikut:

1.      Mendengar aktif

Mendengarkan secara aktif mengakibatkan mendengarkan isi, suara, dan bahasa tubuh orang yang berbicara. Hali ini juga melibatkan komitmen berkomunikasi kepada orang yang berbicara bahwa anda benar-benar mendengarkan . mendengarkan aktif sebagai pemimpin kelompok adalah tugas yang jauh lebih kompleks karena anda mendengarkan banyak orang pada satu waktu.

2.      Refleksi

Dalam konseling, refleksi mencerminkan komentar untuk menyampaikan bahwa anda memahami isi, perasaan dan apa yang di balik keduanya. Tujuannya adalah: (1). Untuk membantu anggota kelompok yang sedang berbicara menjadi lebih sadar akan apa yang dia katakana, dan (2). Untuk berkomunikasi kepadanya bahwa anda menyadari apa yang ia rasakan.

3.      Klarifikasi dan bertanya

Klarifikasi dapat dilakukan untuk kepentingan seluruh kelompok atau untuk pembicara, yaitu untuk membantu anggota menjadi lebih sadar akan apa yang dia katakan. Ada beberapa teknik untuk klarifikasi yang mungkin berguna bagi konselor; mempertanyakan, ulangan, dan menggunakan anggota lain untuk memperjelas.

 

 

4.      Meringkas

Keterampilan meringkas adalah suatu keharusan bagi semua pemimpin kelompok. Tanpa ringkasan, anggota dapat menangkap sebagian kecil atau poin yang tidak relevan.

5.      Menghubungkan

Menghubungkan adalah proses menghubungkan anggota secara bersama-sama untuk memfasilitasi ikatan. Ini adalah keterampilan yang berharga bagi para pemimpin kelompok, terutama yang mulai tahap grup, karena pemimpin menginginkan anggota untuk merasa terhubung satu sama lain dan kepada kelompok.

6.      Ceramah singkat dan pemberian informasi

Dalam pendidikan kelompok, pemimpin sering kali adalah orang yang memberikan keahlian pada subyek seperti diet, kesehatan, atau jenis pendidikan pasca sekolah menengah.

7.      Mendorong dan pendukung

Sebagai pemimpin kelompok, kemampuan ini akan sangat penting dalam membantu menangani anggota dengan situasi kecemasan baru dan berbagi ide-ide mereka atau perasaan pribadi dengan anggota lain.

8.      Pengaturan nada

Dengan pengaturan nada suara, berarti kita menciptakan suasana untuk grup dengan mengatur tinggi rendah suara saat berbicara dengan kelompok. Pengaturan suara dilakukan agar suara kita terkesan sejuk dan dapat menyampaikan pesan dengan baik.

9.      Pemodelan dan self-disclosure

Keterampilan ini juga berguna untuk mendapatkan anggota untuk berbagi pikiran dan perasaan. Corey dan Corey menyatakan bahwa “salah satu cara terbaik untuk mengajarkan perilaku yang diinginkan adalah dengan pemodelan perilaku dalam kelompok”.

 

10.  Penggunaan mata

Pemimpin harus menyadari bagaimana matanya dapat mengumpulkan informasi berharga, mendorong anggota untuk berbicara, dan mungkin mencegah anggota dari berbicara.

11.  Penggunaan suara

Suara pemimpin dapat digunakan untuk mempengaruhi suasana kelompok, yaitu melalui ketinggian nada suara, kecepatan dan kontennya. Seorang pemimpin dapat menentukan bagaimana kualitas kelompok yang dipimpinnya melalui isi kata-katanya dan nada suaranya.

12.  Penggunaan energi pemimpin

Pemimpin perlu gembira saat mempimpin, jika mereka tidak bersemangat, para anggota kelompok mungkin tidak akan semangat mengikuti kegiatan kelompok

13.  Mengidentifikasi pengikut

Sebuah keterampilan yang sangat berguna bagi konselor yang memberikan layanan kelompok adalah menemukan siapa pengikutnya yang ada dalam kelompok, yaitu anggota  mana yang dapat diandalkan untuk bersikap kooperatif dan membantu.

14.  Pemahaman multicultural

Pemimpin tidak hanya perlu memahami berbagai budaya dari para anggota kelompok, tetapi juga perlu memahami bagaimana setiap anggota yang beragam budaya dapat mempengaruhi partisipasinya dalam kelompok.

 

15.  Focusing

Terkait dengan keterampilan focusing, Jacob, at al. membahas beberapa isu penting, yaitu bagaimana membangun fokus, bertahan pada fokus, bergeser dari fokus, dan memperdalam fokus.

 

 

16.  Cutting off and drawing out

Cutting off  memungkinkan pemimpin untuk memastikan bahwa isi dari kelompok cocok dengan tujuan. Keterampilan cutting off diperlukan untuk menampung, pergeseran dan memperdalam fokus. Dengan memahami mengapa anggota bersikap diam, pemimpin yang baik dapat memilih bagaimana dan kapan harus menarik keluar (drawing out) beberapa anggota.

17.  Rounds and dyads

Rounds sangat membantu dalam pengumpulan informasi, melibatkan anggota, dan membantu dalam mengumpulkan informasi, melibatkan anggota, dan membantu dalam mengendalikan anggota.

Sementara itu, dyad merupakan kegiatan dimana sepasang anggota mendiskusikan isu-isu atau menyelesaikan tugas dalam kelompok. Dyad berperan penting untuk mengembangkan kenyamanan, kehangatan antar anggota, pengolahan latihan, dan menyediakan waktu bagi pemimpin untuk berpikir.[3]

 

E.     Keunggulan dan keterbatasan konseling kelompok

Dalam layanan konseling, konselor dihadapkan pada berbagai teknik dan strategi maupun pendekatan. Terhadap pilihan tersebut, konselor mesti menyadari bahwa tidak ada teknik, strategi maupun pendekatan yang paling baik untuk menangani semua persoalan konseli. Pada dasarnya, ketepatan sebuah teknik, strategi maupun pendekatan tersebut sangat ditentukan oleh persoalan konseli serta berbagai hal yang terkait dengan permasalahan tersebut.

      Sebagai suatu teknik layanan bimbingan dan konseling, penggunaan konseling kelompok memiliki beberapa keunggulan dan keterbatasan. Pemanfaatan suasana kelompok dalam konseling dapat menyediakan nilai-nilai terapeutik yang sulit, atau sebagiannya bahkan tak mungkin, disediakan melalui konseling individual. Namun, disisi lain konseling kelompok secara simultan memiliki beberapa keterbatasan. Pemahaman akan keunggulan dan keterbatasan konseling kelompok ini bisa dijadikan sebagai salah satu pertimbangan untuk menetukan kapan dan untuk apa sebaiknya teknik konseling kelompok digunakan.

1.      Keunggulan konseling kelompok.

Pemanfaatan suasana kelompok untuk kepentingan konseling atau terapi memiliki beberapa keunggulan. Keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh layanan konseling kelompok dijelaskan secara rinci oleh Natawijaya sebagai berikut:

a.       Menghemat waktu dan energi.

Dilihat dari jumlah konseli yang dapat dilayani, konseling kelompok memungkinkan konselor untuk bisa melayani lebih banyak konseli dari pada konseli individual. Dengan memanfaatkan suasana kelompok, dalam waktu yang sama konselor bisa melayani sejumlah konseli sekaligus. Ini merupakan suatu efisiensi ini, konselor lebih memungkinkan untuk bisa melayani konseli dalam jumlah yang lebih banyak.

b.      Menyediakan sumber belajar dan masukan yang kaya bagi konseli.

Setiap orang biasanya memiliki variasi pandangan dan informasi sehingga terlibatnya sejumlah orang dalam konseling ke;lompok memungkinkan para konseli untuk mendapatkan sumber belajar dan masukan yang kaya. Keberadaan sejumlah orang dalam konseling kelompok bisa memberikan lebih banyak ide dan pandangan. Sebaliknya, dalam konseling individual interaksi yang terjadi terbatas hanya antara seorang konselor dan konseli. Dalam suasana interaksi semacam ini, konselor berperan sebagai satu-satunya sumber yang bisa saling berbagai informasi dan pengalaman dengan konseli.

c.       Pengalaman komunalitas dalam konseling kelompok dapat meringankan beban penderitaan dan menentramkan konseli

Adanya interaksi antar peserta dalam konseling kelompok memungkinkan para konseli menjadi saling mengetahui dan memahami permasalahan, perasaan, dan penglaman mereka satu sama yang lain. Mereka tahu bahwa orang lain juga memiliki pikiran, perasaan, dan permasalahan yang serupa.

d.      Memenuhi kebutuhan akan rasa memiliki.

Rasa untuk memiliki merupakan kebutuhan manusia yang kuat. Kebutuhan ini dapat terpenuhi sebgaian bila seseorang yang berada dalam kelompok. Para anggota konseling kelompok akan saling mengidentifikasikan satu sama lain sehingga dan akhirnya mereka merasa sebagai bagian dari keseluruhan kelompok.

e.       Bisa menjadi sarana untuk melatih dan mengembangkan keterampilan dan perilaku sosial dalam suasana yang mendekati kondisi kehidupan nyata.

Dengan demikian, kelompok konseling bisa menjadi suatu arena untuk memperaktekan berbagai keterampilan dan perilaku sosial secara aman. Para konseli bisa mempraktekan keterampilan-keterampilan dan perilaku-perilaku barubyang telah mereka pejari dalam suatu kondisi lingkungan yang bersipat mendukung sebelum mereka mencobahnya dalam konteks lingkungan yang sesungguhnya.

Selain melalui bermain peran, kesempatan untuk mencoba perilaku baru juga bisa terjadi di saat para konseli berhubungan satu sama lain selama sesi konseling kelompok. Mereka bisa salaing berbagi informasi tentang diri mereka , berbeda pendapat satu sama lain, memperhatikan orang lain berbicara, dan atau bahkan mungkin menangis di depan orang lain.

 

f.       Menyediakan kesempatan untuk  belajar dari pengelaman orang lain.

Dalam konseling kelompok, konseli memliki kesempatan untuk saling mendengar dan memperhatikan permasalahan mereka satu sama lain dan cara-cara pengambilan keputusan untuk mengatasinya.

g.      Memberikan motivasi yang lebih kuat kepada konseli untuk berperilaku konsisten sesuai dengan rencana tindakannya.

Keterlibatan banyak orang dalam konseling kelompok dapat menjadi satu kekuatan yang mendorong konseli untuk lebih bertangung jawab terhadap perilaku dan komitmen-komitmen yang dibuatnya bersama kelompok. Hal ini bisa terjadi terutama bagi mereka yang sudah terlibat dalam suatu kelompok yang  kohesif, saling menghargai, dan saling menghargai,dan saling memberikan dukungan satu sama lain.

 

h.      Bisa menjadi suasana eksplorasi

Dengan penguatan dari kelompok, konseli bisa terdorong untuk melakukan eksplorasi terhadap kebutuhan dan masalah perkembangan serta menyuasaikan diri masing-masing. Kelompok dapat menyediakan suatu adegan sosial yang mendorong konselu berintekrasi dengan peserta yang lain yang mungkin mereka itu tidak sekedar memilki pemahaman tentan masalahnya, tetapi juga akan saling berbagi permasalahan yang dibawanya tersebut. Dalam kondisi seperti itu, konseling kelompok dapat menyediakan rasa aman yang dibutuhkan oleh pra konseli untuk secara spontan dan secara bebas berintekrasi dan mengambil resiko sehingga meningkatkan kemungkinan mereka untuk saling berbagi pengalaman dengan orang lain yang memilki pengalaman serupa.

2.      Keterbatasan Konseling Kelompok

Di samping memiliki sejumlah keunggulan, konseling kelompok  juga tidak terlepas dari sejumlah keterbatasan. Menurut Pietrofesa etal. Dalam Natawijaya, keterbatasan-keterbatasan dari konseling kelompok adalah sebagai berikut:

a.       Tidak cocok digunakan untuk menangangi masalah-masalah perilaku tertentu seperti agresi yang ekstrim, konflik kakak-adik atau orangtua-anak yang intensif.

b.      Ambiguitas inheren yang melekat dalam proses kelompok menyebabkan beberapa konselor terlalu mengendalikan kelompok.

c.       Isu-isu dan masalah-masalah yang dimunculkan dalam kelompok kadang-kadang mengganggu nilai-nilai personal atau membahayakan hubungan siswa atau konselor dengan pihak lain seperti dengan orang tua atau dengan administrator.

d.      Unsur konfidensialitas yang sangat esensial bagi kelompok yang efektif sulit untuk dicapai dalam konseling kelompok.

e.       Modeling perilaku yang tidak diinginkan sulit untuk dieliminasi.

f.       Meningkatnya keterangan, kecemasan, dan keterlibatan yang terjadi dapat menimbulkan akibat yang tidak diinginkan.

g.      Kombinasi yang tepat dari anggota kelompok adalah penting, namun sulit untuk dicapai.

h.      Beberapa anggota kelompok menerima perhatian individual yang tidak memadai.

i.        Adanya kesulitan untuk menjadwal konseling kelompok dalam adegan sekolah.

j.        Hakikat konseling kelompok yang tidak spesifik sering sulit untuk menjastifikasi orangtua, guru, dan administrator yang skeptic.

k.      Konselor kelompok harus terlatih dengan baik dan sangat terampil.[4]


 

BAB III

PENUTUP

 

A.   Kesimpulan

Dari pembahasan makalah di atas, dapat kami simpilkan beberapa hal sebagai berikut :

1.      Pengembangan kemanusiaan seutuhnya hendaknya mencapai pribadi-pribadi yang kediriannya matang, tangguh, dengan kemampuan social yang menyejukkan, kesusilaan yang tinggi dan luhur dan berkeimanan dan ketakwaan yang kokoh dan dalam, maka bimbingan dan konseling sangat diharapkan untuk membantu tercapainya cita-cita tersebut.

2.      Konseling adalah suatu proses bantuan yang diberikan kepada individu yang mangalami masalah (klien), dilakukan oleh seorang ahli (konselor) secara langsung dan menyenangkan, dengan memperoleh informasi dari klien ataupun pihak lain  sehingga individu tersebut dapat memahami dirinya  dan permasalahannya, agar ia dapat berinteraksi secara efektif dalam lingkungannya dan masyarakat pada umumnya.

3.      Konseling kelompok merupakan salah satu layanan konseling yang di selenggarakan dalam suasana kelompok yang memanfaatkan dinamika kelompok, serta terdapat hubungan konseling yang hangat, terbuka, permisif dan penuh keakraban.

B.   Penutup.

Demikianlah makalah ini kami sajikan, jika terdapat hal-hal yang tidak berkenan atau terdapat kekurangan pada sistematika penulisan atau penggunaan formulasi bahasa yang kurang tepat, maka kami sangat mengharapkan kritik dan saran dalam rangka perbaikan makalah ini.

 


 

DAFTAR  PUSTAKA

 

Kurnanto, M.Edi, Konseling Kelompokm Bandung : Alfa Beta CV,2013.

 

 



[1] M. Edi ,Kurnanto,  2013,Konseling Kelompokm Bandung : Alfa Beta CV, hlm. 7

[2] Ibid, hlm.11

[3] Ibid, hlm.26

[4] Ibid, hlm.33

makalah aspek manajemen organisasi

makalah aspek manajemen organisasi  BAB I PENDAHULUAN   Manajemen secara umum diartikan sebagai ‘pengaturan’, artinya manajemen adalah...