Makalah
Konseling Kelompok
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pengembangan kemanusiaan seutuhnya hendaknya
mencapai pribadi-pribadi yang kediriannya matang, tangguh, dengan kemampuan
social yang menyejukkan, kesusilaan yang tinggi dan luhur serta berkeimanan dan
ketakwaan yang kokoh dan dalam.Namun kenyataan yang sering kita jumpai dalam kehidupan
masyarakat akhir-akhir ini, banyak pribadi yang kurang berkembang dan rapuh,
kurangnya rasa kebersamaan sebagai anggota kelompok masyarakat, kehidupan
social yang panas, kesusilaan yang rendah dan keimanan dan ketakwaan yang labil
dan dangkal.
Sehubungan dengan masalah-masalah tersebut,
maka dalam pengembangan pendidikan harus memperhatikan hal-hal tersebut agar
setiap orang dapat berkembang secara optimal sehingga potensi-potensi yang
dimlikinya mendapat sentuhan yang mendorongnya untuk berkembang sesuai dengan
tahapan-tahapan perkembangannya baik
sebagai makhluk beragama, makhluk susila, makhluk individu, maupun sebagai
makhluk social.
BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP DASAR KONSELING
KELOMPOK
A.
Pengertian
Konseling Kelompok
Konseling kelompok, menurut Pauline
Harrison adalah konseling yang terdiri dari 4-8 konseli yang bertemu dengan 1-2
konselor. Dalam prosesnya, konseling kelompok dapat membicarakan beberapa
masalah, seperti kemampuan dalam membangun hubungan dan komunikasi,
pengembangan harga diri, dan keterampilan-keterampilan dalam mengatasi masalah.
Konseling kelompok bersifat memberikan
kemudahan dalam perkembangan individu, dalam arti bahwa konseling kelompok
memberikan dorongan dan motivasi kepada individu untuk membuat
perubahan-perubahan dengan memanfaatkan potensi secara maksimal sehingga dapat
mewujudkan diri.
Dengan memperhatikan penjelasan di atas
dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok adalah proses konseling yang
dilakukan dalam situasi kelompok, dimana konselor berinteraksi dengan konseli
dalam bentuk kelompok yang dinamis untuk memfasilitasi perkembangan individu
dan atau membantu individu dalam mengatasi masalah yang dihadapinya secara
bersama-sama.[1]
B.
Fungsi
Layanan Konseling Kelompok
Dengan memperhatikan defenisi konseling
kelompok sebagaimana telah disebutkan di atas, maka kita dapat mengatakan bahwa
konseling kelompok mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi layanan kuratif; yaitu
layanan yang diarahkan untuk mengatasi persoalan yang dialami individu, serta fungsi
layanan preventif; yaitu layanan konseling yang diarahkan untuk mencegah
terjadinya persoalan pada diri individu. Juntika Nurihsan mengatakan bahwa
konseling kelompok bersifat pencegahan dan penyembuhan. Konseling kelompok
bersifat pencegahan, dalam arti bahwa individu yang dibantu mempunyai kemampuan
normal atau berfungsi secara wajar di masyarakat, tetapi memiliki beberapa
kelemahan dalam kehidupannya sehingga mengganggu kelancaran berkomunikasi
dengan orang lain. Sedangkan, konseling kelompok bersifat penyembuhan dalam
pengertian membantu individu untuk dapat keluar dari persoalan yang dialaminya
dengan cara memberikan kesempatan, dorongan, juga pengarahan kepada individu
untuk mengubah sikap dan perilakunya agar selaras dengan lingkungannya.
C.
Tujuan
Layanan Konseling Kelompok
Menurut Winkel, konseling kelompok
dilakukan dengan beberapa tujuan, yaitu:
1. Masing-masing
anggota memahami dirinya dengan baik dan menemukan dirinya sendiri. Berdasarkan
pemahaman diri itu dia lebih terbuka terhadap aspek-aspek positif dalam
kepribadiannya.
2. Para
anggota kelompok mengembangkan kemampuan berkomunikasi satu sama lain sehingga
mereka dapat saling memeberikan bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas
perkembangan yang khas pada fase perkembangan mereka.
3. Para
anggota kelompok memperoleh kemampuan pengatur dirinya sendiri dan mengarahkan
hidupnya sendiri, mula-mula dalam kontrak antar pribadi di dalam kelompok dan
kemudian juga dalam kehidupan sehari-hari di luar kehidupan kelompoknya.
4. Para
anggota kelompok menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih
mampu menghayati perasaan orang lain. Kepekaan dan penghayatan ini akan lebih
sensitif juga terhadap kebutuhan-kebutuhan dan perasaan-perasaan sendiri.
5. Masing-masing
anggota kelompok menetapkan suatu sasaran yang ingin mereka capai, yang
diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang konstruktif.
6. Para
anggota kelompok lebih berani melangkah maju dan menerima resiko yang wajar
dalam bertindak, dari pada tinggal diam dan tidak berbuat apa-apa.
7. Para
anggota kelompok lebih menyadari dan menghayati makna dan kehidupan manusia
sebagai kehidupan bersama, yang mengandung tuntutan menerima orang lain dan
harapan akan diterima orang lain.
8. Masing-masing
anggota kelompok semakin menyadari bahwa hal-hal yang memprihatinkan bagi dirinya
sendiri kerap juga menimbulkan rasa prihatin dalam hati orang lain. Dengan
demikian dia tidak meresa terisolir, atau seolah-olah hanya dialah yang
mengalami hal ini dan itu.
9. Para
anggota kelompok belajar berkomunikasi dengan anggota-anggota yang lain secara
terbuka, dengan saling menghargai dan menaruh perhatian. Pengalaman bahwa
komunikasi deminikan dimungkinkan akan membawa dampak positif dalam kehidupan
dengan orang-orang yang dekat di kemudian hari.[2]
Bagi konseli, konseling kelompok dapat
bermanfaat sekali karena melalui interaksi dengan anggota-anggota kelompok,
mereka akan mengembangkan berbagai keterampilan yang pada intinya meningkatkan
kepercayaan diri dan kepercayaan orang lain.
Tujuan pelaksanaan konseling kelompok
ini dalah untuk meningkatkan kepercayaan diri konseli. Kepercayaan diri dapat
ditinjau dalam kepercayaan diri lahir dan batin yang diimplementasikan ke dalam
tujuh cirri yaitu; cinta diri dengan gaya hidup dan perilaku untuk memelihari
diri, sadar akan potensi dan kekurangan yang dimiliki, memiliki tujuan hidup
yang jelas, berpikir positif dengan apa yang akan dikerjakan dan bagaimana
hasilnya, dapat berkomunikasi dengan orang lain, memiliki ketegasan, penampilan
diri yang baik, dan memiliki pengendalian perasaan.
D.
Keterampilan
Dasar Pemimpin Konseling Kelompok
Seorang konselor yang baik, harus
membekali diri dengan berbagai keterampilan konseling. Dalam pelaksanaan
konseling kelompok, ada beberapa keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh
pemimpin kelompok. Menurut Jacob, at al. keterampilan-keterampilan dasar harus
dimiliki konselor dalam layanan konseling kelompok sebagai berikut:
1. Mendengar
aktif
Mendengarkan
secara aktif mengakibatkan mendengarkan isi, suara, dan bahasa tubuh orang yang
berbicara. Hali ini juga melibatkan komitmen berkomunikasi kepada orang yang
berbicara bahwa anda benar-benar mendengarkan . mendengarkan aktif sebagai
pemimpin kelompok adalah tugas yang jauh lebih kompleks karena anda
mendengarkan banyak orang pada satu waktu.
2. Refleksi
Dalam
konseling, refleksi mencerminkan komentar untuk menyampaikan bahwa anda
memahami isi, perasaan dan apa yang di balik keduanya. Tujuannya adalah: (1).
Untuk membantu anggota kelompok yang sedang berbicara menjadi lebih sadar akan
apa yang dia katakana, dan (2). Untuk berkomunikasi kepadanya bahwa anda
menyadari apa yang ia rasakan.
3. Klarifikasi
dan bertanya
Klarifikasi
dapat dilakukan untuk kepentingan seluruh kelompok atau untuk pembicara, yaitu
untuk membantu anggota menjadi lebih sadar akan apa yang dia katakan. Ada beberapa
teknik untuk klarifikasi yang mungkin berguna bagi konselor; mempertanyakan,
ulangan, dan menggunakan anggota lain untuk memperjelas.
4. Meringkas
Keterampilan
meringkas adalah suatu keharusan bagi semua pemimpin kelompok. Tanpa ringkasan,
anggota dapat menangkap sebagian kecil atau poin yang tidak relevan.
5. Menghubungkan
Menghubungkan
adalah proses menghubungkan anggota secara bersama-sama untuk memfasilitasi
ikatan. Ini adalah keterampilan yang berharga bagi para pemimpin kelompok,
terutama yang mulai tahap grup, karena pemimpin menginginkan anggota untuk
merasa terhubung satu sama lain dan kepada kelompok.
6. Ceramah
singkat dan pemberian informasi
Dalam
pendidikan kelompok, pemimpin sering kali adalah orang yang memberikan keahlian
pada subyek seperti diet, kesehatan, atau jenis pendidikan pasca sekolah
menengah.
7. Mendorong
dan pendukung
Sebagai
pemimpin kelompok, kemampuan ini akan sangat penting dalam membantu menangani
anggota dengan situasi kecemasan baru dan berbagi ide-ide mereka atau perasaan
pribadi dengan anggota lain.
8. Pengaturan
nada
Dengan pengaturan nada
suara, berarti kita menciptakan suasana untuk grup dengan mengatur tinggi
rendah suara saat berbicara dengan kelompok. Pengaturan suara dilakukan agar
suara kita terkesan sejuk dan dapat menyampaikan pesan dengan baik.
9. Pemodelan
dan self-disclosure
Keterampilan
ini juga berguna untuk mendapatkan anggota untuk berbagi pikiran dan perasaan.
Corey dan Corey menyatakan bahwa “salah satu cara terbaik untuk mengajarkan
perilaku yang diinginkan adalah dengan pemodelan perilaku dalam kelompok”.
10. Penggunaan
mata
Pemimpin
harus menyadari bagaimana matanya dapat mengumpulkan informasi berharga,
mendorong anggota untuk berbicara, dan mungkin mencegah anggota dari berbicara.
11. Penggunaan
suara
Suara
pemimpin dapat digunakan untuk mempengaruhi suasana kelompok, yaitu melalui
ketinggian nada suara, kecepatan dan kontennya. Seorang pemimpin dapat
menentukan bagaimana kualitas kelompok yang dipimpinnya melalui isi
kata-katanya dan nada suaranya.
12. Penggunaan
energi pemimpin
Pemimpin
perlu gembira saat mempimpin, jika mereka tidak bersemangat, para anggota
kelompok mungkin tidak akan semangat mengikuti kegiatan kelompok
13. Mengidentifikasi
pengikut
Sebuah
keterampilan yang sangat berguna bagi konselor yang memberikan layanan kelompok
adalah menemukan siapa pengikutnya yang ada dalam kelompok, yaitu anggota mana yang dapat diandalkan untuk bersikap
kooperatif dan membantu.
14. Pemahaman
multicultural
Pemimpin
tidak hanya perlu memahami berbagai budaya dari para anggota kelompok, tetapi
juga perlu memahami bagaimana setiap anggota yang beragam budaya dapat
mempengaruhi partisipasinya dalam kelompok.
15. Focusing
Terkait
dengan keterampilan focusing, Jacob,
at al. membahas beberapa isu penting, yaitu bagaimana membangun fokus, bertahan
pada fokus, bergeser dari fokus, dan memperdalam fokus.
16. Cutting off and drawing
out
Cutting off memungkinkan pemimpin untuk memastikan bahwa
isi dari kelompok cocok dengan tujuan. Keterampilan cutting off diperlukan
untuk menampung, pergeseran dan memperdalam fokus. Dengan memahami mengapa
anggota bersikap diam, pemimpin yang baik dapat memilih bagaimana dan kapan
harus menarik keluar (drawing out)
beberapa anggota.
17. Rounds and dyads
Rounds
sangat membantu dalam pengumpulan informasi, melibatkan anggota, dan membantu
dalam mengumpulkan informasi, melibatkan anggota, dan membantu dalam
mengendalikan anggota.
Sementara
itu, dyad merupakan kegiatan dimana sepasang anggota mendiskusikan isu-isu atau
menyelesaikan tugas dalam kelompok. Dyad berperan penting untuk mengembangkan
kenyamanan, kehangatan antar anggota, pengolahan latihan, dan menyediakan waktu
bagi pemimpin untuk berpikir.[3]
E.
Keunggulan
dan keterbatasan konseling kelompok
Dalam
layanan konseling, konselor dihadapkan pada berbagai teknik dan strategi maupun
pendekatan. Terhadap pilihan tersebut, konselor mesti menyadari bahwa tidak ada
teknik, strategi maupun pendekatan yang paling baik untuk menangani semua persoalan
konseli. Pada dasarnya, ketepatan sebuah teknik, strategi maupun pendekatan
tersebut sangat ditentukan oleh persoalan konseli serta berbagai hal yang
terkait dengan permasalahan tersebut.
Sebagai suatu teknik layanan bimbingan dan konseling, penggunaan
konseling kelompok memiliki beberapa keunggulan dan keterbatasan. Pemanfaatan
suasana kelompok dalam konseling dapat menyediakan nilai-nilai terapeutik yang
sulit, atau sebagiannya bahkan tak mungkin, disediakan melalui konseling
individual. Namun, disisi lain konseling kelompok secara simultan memiliki
beberapa keterbatasan. Pemahaman akan keunggulan dan keterbatasan konseling
kelompok ini bisa dijadikan sebagai salah satu pertimbangan untuk menetukan
kapan dan untuk apa sebaiknya teknik konseling kelompok digunakan.
1.
Keunggulan
konseling kelompok.
Pemanfaatan
suasana kelompok untuk kepentingan konseling atau terapi memiliki beberapa
keunggulan. Keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh layanan konseling kelompok
dijelaskan secara rinci oleh Natawijaya sebagai berikut:
a. Menghemat
waktu dan energi.
Dilihat dari jumlah konseli yang dapat
dilayani, konseling kelompok memungkinkan konselor untuk bisa melayani lebih
banyak konseli dari pada konseli individual. Dengan memanfaatkan suasana
kelompok, dalam waktu yang sama konselor bisa melayani sejumlah konseli
sekaligus. Ini merupakan suatu efisiensi ini, konselor lebih memungkinkan untuk
bisa melayani konseli dalam jumlah yang lebih banyak.
b. Menyediakan
sumber belajar dan masukan yang kaya bagi konseli.
Setiap orang biasanya memiliki variasi
pandangan dan informasi sehingga terlibatnya sejumlah orang dalam konseling
ke;lompok memungkinkan para konseli untuk mendapatkan sumber belajar dan
masukan yang kaya. Keberadaan sejumlah orang dalam konseling kelompok bisa memberikan
lebih banyak ide dan pandangan. Sebaliknya, dalam konseling individual
interaksi yang terjadi terbatas hanya antara seorang konselor dan konseli.
Dalam suasana interaksi semacam ini, konselor berperan sebagai satu-satunya
sumber yang bisa saling berbagai informasi dan pengalaman dengan konseli.
c. Pengalaman
komunalitas dalam konseling kelompok dapat meringankan beban penderitaan dan
menentramkan konseli
Adanya interaksi antar peserta dalam
konseling kelompok memungkinkan para konseli menjadi saling mengetahui dan
memahami permasalahan, perasaan, dan penglaman mereka satu sama yang lain.
Mereka tahu bahwa orang lain juga memiliki pikiran, perasaan, dan permasalahan
yang serupa.
d. Memenuhi
kebutuhan akan rasa memiliki.
Rasa untuk memiliki merupakan kebutuhan
manusia yang kuat. Kebutuhan ini dapat terpenuhi sebgaian bila seseorang yang
berada dalam kelompok. Para anggota konseling kelompok akan saling
mengidentifikasikan satu sama lain sehingga dan akhirnya mereka merasa sebagai
bagian dari keseluruhan kelompok.
e. Bisa
menjadi sarana untuk melatih dan mengembangkan keterampilan dan perilaku sosial
dalam suasana yang mendekati kondisi kehidupan nyata.
Dengan demikian, kelompok konseling bisa
menjadi suatu arena untuk memperaktekan berbagai keterampilan dan perilaku
sosial secara aman. Para konseli bisa mempraktekan keterampilan-keterampilan
dan perilaku-perilaku barubyang telah mereka pejari dalam suatu kondisi
lingkungan yang bersipat mendukung sebelum mereka mencobahnya dalam konteks
lingkungan yang sesungguhnya.
Selain melalui bermain peran, kesempatan untuk
mencoba perilaku baru juga bisa terjadi di saat para konseli berhubungan satu
sama lain selama sesi konseling kelompok. Mereka bisa salaing berbagi informasi
tentang diri mereka , berbeda pendapat satu sama lain, memperhatikan orang lain
berbicara, dan atau bahkan mungkin menangis di depan orang lain.
f. Menyediakan
kesempatan untuk belajar dari pengelaman
orang lain.
Dalam konseling kelompok, konseli
memliki kesempatan untuk saling mendengar dan memperhatikan permasalahan mereka
satu sama lain dan cara-cara pengambilan keputusan untuk mengatasinya.
g. Memberikan
motivasi yang lebih kuat kepada konseli untuk berperilaku konsisten sesuai
dengan rencana tindakannya.
Keterlibatan banyak orang dalam
konseling kelompok dapat menjadi satu kekuatan yang mendorong konseli untuk
lebih bertangung jawab terhadap perilaku dan komitmen-komitmen yang dibuatnya
bersama kelompok. Hal ini bisa terjadi terutama bagi mereka yang sudah terlibat
dalam suatu kelompok yang kohesif,
saling menghargai, dan saling menghargai,dan saling memberikan dukungan satu
sama lain.
h. Bisa
menjadi suasana eksplorasi
Dengan penguatan dari
kelompok, konseli bisa terdorong untuk melakukan eksplorasi terhadap kebutuhan
dan masalah perkembangan serta menyuasaikan diri masing-masing. Kelompok dapat
menyediakan suatu adegan sosial yang mendorong konselu berintekrasi dengan
peserta yang lain yang mungkin mereka itu tidak sekedar memilki pemahaman
tentan masalahnya, tetapi juga akan saling berbagi permasalahan yang dibawanya
tersebut. Dalam kondisi seperti itu, konseling kelompok dapat menyediakan rasa
aman yang dibutuhkan oleh pra konseli untuk secara spontan dan secara bebas
berintekrasi dan mengambil resiko sehingga meningkatkan kemungkinan mereka untuk
saling berbagi pengalaman dengan orang lain yang memilki pengalaman serupa.
2.
Keterbatasan
Konseling Kelompok
Di
samping memiliki sejumlah keunggulan, konseling kelompok juga tidak terlepas dari sejumlah
keterbatasan. Menurut Pietrofesa etal. Dalam
Natawijaya, keterbatasan-keterbatasan dari konseling kelompok adalah sebagai
berikut:
a. Tidak
cocok digunakan untuk menangangi masalah-masalah perilaku tertentu seperti
agresi yang ekstrim, konflik kakak-adik atau orangtua-anak yang intensif.
b. Ambiguitas
inheren yang melekat dalam proses kelompok menyebabkan beberapa konselor
terlalu mengendalikan kelompok.
c. Isu-isu
dan masalah-masalah yang dimunculkan dalam kelompok kadang-kadang mengganggu
nilai-nilai personal atau membahayakan hubungan siswa atau konselor dengan
pihak lain seperti dengan orang tua atau dengan administrator.
d. Unsur
konfidensialitas yang sangat esensial bagi kelompok yang efektif sulit untuk
dicapai dalam konseling kelompok.
e. Modeling
perilaku yang tidak diinginkan sulit untuk dieliminasi.
f. Meningkatnya
keterangan, kecemasan, dan keterlibatan yang terjadi dapat menimbulkan akibat
yang tidak diinginkan.
g. Kombinasi
yang tepat dari anggota kelompok adalah penting, namun sulit untuk dicapai.
h. Beberapa
anggota kelompok menerima perhatian individual yang tidak memadai.
i.
Adanya kesulitan untuk
menjadwal konseling kelompok dalam adegan sekolah.
j.
Hakikat konseling
kelompok yang tidak spesifik sering sulit untuk menjastifikasi orangtua, guru,
dan administrator yang skeptic.
k. Konselor
kelompok harus terlatih dengan baik dan sangat terampil.[4]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan makalah di atas, dapat kami
simpilkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Pengembangan
kemanusiaan seutuhnya hendaknya mencapai pribadi-pribadi yang kediriannya
matang, tangguh, dengan kemampuan social yang menyejukkan, kesusilaan yang
tinggi dan luhur dan berkeimanan dan ketakwaan yang kokoh dan dalam, maka
bimbingan dan konseling sangat diharapkan untuk membantu tercapainya cita-cita
tersebut.
2. Konseling
adalah suatu proses bantuan yang diberikan kepada individu yang mangalami
masalah (klien), dilakukan oleh seorang ahli (konselor) secara langsung dan
menyenangkan, dengan memperoleh informasi dari klien ataupun pihak lain sehingga individu tersebut dapat memahami
dirinya dan permasalahannya, agar ia
dapat berinteraksi secara efektif dalam lingkungannya dan masyarakat pada
umumnya.
3. Konseling
kelompok merupakan salah satu layanan konseling yang di selenggarakan dalam
suasana kelompok yang memanfaatkan dinamika kelompok, serta terdapat hubungan
konseling yang hangat, terbuka, permisif dan penuh keakraban.
B. Penutup.
Demikianlah makalah ini kami sajikan, jika
terdapat hal-hal yang tidak berkenan atau terdapat kekurangan pada sistematika
penulisan atau penggunaan formulasi bahasa yang kurang tepat, maka kami sangat
mengharapkan kritik dan saran dalam rangka perbaikan makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Kurnanto, M.Edi, Konseling Kelompokm
Bandung : Alfa Beta CV,2013.