Tampilkan postingan dengan label konseling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konseling. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juni 2022

Konseling Kelompok

 Makalah 

Konseling Kelompok 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar  Belakang

Pengembangan kemanusiaan seutuhnya hendaknya mencapai pribadi-pribadi yang kediriannya matang, tangguh, dengan kemampuan social yang menyejukkan, kesusilaan yang tinggi dan luhur serta berkeimanan dan ketakwaan yang kokoh dan dalam.Namun kenyataan yang sering kita jumpai dalam kehidupan masyarakat akhir-akhir ini, banyak pribadi yang kurang berkembang dan rapuh, kurangnya rasa kebersamaan sebagai anggota kelompok masyarakat, kehidupan social yang panas, kesusilaan yang rendah dan keimanan dan ketakwaan yang labil dan dangkal.

Sehubungan dengan masalah-masalah tersebut, maka dalam pengembangan pendidikan harus memperhatikan hal-hal tersebut agar setiap orang dapat berkembang secara optimal sehingga potensi-potensi yang dimlikinya mendapat sentuhan yang mendorongnya untuk berkembang sesuai dengan tahapan-tahapan  perkembangannya baik sebagai makhluk beragama, makhluk susila, makhluk individu, maupun sebagai makhluk social.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

KONSEP DASAR KONSELING KELOMPOK

A.    Pengertian Konseling Kelompok

Konseling kelompok, menurut Pauline Harrison adalah konseling yang terdiri dari 4-8 konseli yang bertemu dengan 1-2 konselor. Dalam prosesnya, konseling kelompok dapat membicarakan beberapa masalah, seperti kemampuan dalam membangun hubungan dan komunikasi, pengembangan harga diri, dan keterampilan-keterampilan dalam mengatasi masalah.

Konseling kelompok bersifat memberikan kemudahan dalam perkembangan individu, dalam arti bahwa konseling kelompok memberikan dorongan dan motivasi kepada individu untuk membuat perubahan-perubahan dengan memanfaatkan potensi secara maksimal sehingga dapat mewujudkan diri.

Dengan memperhatikan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok adalah proses konseling yang dilakukan dalam situasi kelompok, dimana konselor berinteraksi dengan konseli dalam bentuk kelompok yang dinamis untuk memfasilitasi perkembangan individu dan atau membantu individu dalam mengatasi masalah yang dihadapinya secara bersama-sama.[1]

 

B.     Fungsi Layanan Konseling Kelompok

Dengan memperhatikan defenisi konseling kelompok sebagaimana telah disebutkan di atas, maka kita dapat mengatakan bahwa konseling kelompok mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi layanan kuratif; yaitu layanan yang diarahkan untuk mengatasi persoalan yang dialami individu, serta fungsi layanan preventif; yaitu layanan konseling yang diarahkan untuk mencegah terjadinya persoalan pada diri individu. Juntika Nurihsan mengatakan bahwa konseling kelompok bersifat pencegahan dan penyembuhan. Konseling kelompok bersifat pencegahan, dalam arti bahwa individu yang dibantu mempunyai kemampuan normal atau berfungsi secara wajar di masyarakat, tetapi memiliki beberapa kelemahan dalam kehidupannya sehingga mengganggu kelancaran berkomunikasi dengan orang lain. Sedangkan, konseling kelompok bersifat penyembuhan dalam pengertian membantu individu untuk dapat keluar dari persoalan yang dialaminya dengan cara memberikan kesempatan, dorongan, juga pengarahan kepada individu untuk mengubah sikap dan perilakunya agar selaras dengan lingkungannya.

 

C.    Tujuan Layanan Konseling Kelompok

Menurut Winkel, konseling kelompok dilakukan dengan beberapa tujuan, yaitu:

1.      Masing-masing anggota memahami dirinya dengan baik dan menemukan dirinya sendiri. Berdasarkan pemahaman diri itu dia lebih terbuka terhadap aspek-aspek positif dalam kepribadiannya.

2.      Para anggota kelompok mengembangkan kemampuan berkomunikasi satu sama lain sehingga mereka dapat saling memeberikan bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan yang khas pada fase perkembangan mereka.

3.      Para anggota kelompok memperoleh kemampuan pengatur dirinya sendiri dan mengarahkan hidupnya sendiri, mula-mula dalam kontrak antar pribadi di dalam kelompok dan kemudian juga dalam kehidupan sehari-hari di luar kehidupan kelompoknya.

4.      Para anggota kelompok menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih mampu menghayati perasaan orang lain. Kepekaan dan penghayatan ini akan lebih sensitif juga terhadap kebutuhan-kebutuhan dan perasaan-perasaan sendiri.

5.      Masing-masing anggota kelompok menetapkan suatu sasaran yang ingin mereka capai, yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang konstruktif.

6.      Para anggota kelompok lebih berani melangkah maju dan menerima resiko yang wajar dalam bertindak, dari pada tinggal diam dan tidak berbuat apa-apa.

7.      Para anggota kelompok lebih menyadari dan menghayati makna dan kehidupan manusia sebagai kehidupan bersama, yang mengandung tuntutan menerima orang lain dan harapan akan diterima orang lain.

8.      Masing-masing anggota kelompok semakin menyadari bahwa hal-hal yang memprihatinkan bagi dirinya sendiri kerap juga menimbulkan rasa prihatin dalam hati orang lain. Dengan demikian dia tidak meresa terisolir, atau seolah-olah hanya dialah yang mengalami hal ini dan itu.

9.      Para anggota kelompok belajar berkomunikasi dengan anggota-anggota yang lain secara terbuka, dengan saling menghargai dan menaruh perhatian. Pengalaman bahwa komunikasi deminikan dimungkinkan akan membawa dampak positif dalam kehidupan dengan orang-orang yang dekat di kemudian hari.[2]

 

Bagi konseli, konseling kelompok dapat bermanfaat sekali karena melalui interaksi dengan anggota-anggota kelompok, mereka akan mengembangkan berbagai keterampilan yang pada intinya meningkatkan kepercayaan diri dan kepercayaan orang lain.

Tujuan pelaksanaan konseling kelompok ini dalah untuk meningkatkan kepercayaan diri konseli. Kepercayaan diri dapat ditinjau dalam kepercayaan diri lahir dan batin yang diimplementasikan ke dalam tujuh cirri yaitu; cinta diri dengan gaya hidup dan perilaku untuk memelihari diri, sadar akan potensi dan kekurangan yang dimiliki, memiliki tujuan hidup yang jelas, berpikir positif dengan apa yang akan dikerjakan dan bagaimana hasilnya, dapat berkomunikasi dengan orang lain, memiliki ketegasan, penampilan diri yang baik, dan memiliki pengendalian perasaan.

 

 

D.    Keterampilan Dasar Pemimpin Konseling Kelompok

Seorang konselor yang baik, harus membekali diri dengan berbagai keterampilan konseling. Dalam pelaksanaan konseling kelompok, ada beberapa keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh pemimpin kelompok. Menurut Jacob, at al. keterampilan-keterampilan dasar harus dimiliki konselor dalam layanan konseling kelompok sebagai berikut:

1.      Mendengar aktif

Mendengarkan secara aktif mengakibatkan mendengarkan isi, suara, dan bahasa tubuh orang yang berbicara. Hali ini juga melibatkan komitmen berkomunikasi kepada orang yang berbicara bahwa anda benar-benar mendengarkan . mendengarkan aktif sebagai pemimpin kelompok adalah tugas yang jauh lebih kompleks karena anda mendengarkan banyak orang pada satu waktu.

2.      Refleksi

Dalam konseling, refleksi mencerminkan komentar untuk menyampaikan bahwa anda memahami isi, perasaan dan apa yang di balik keduanya. Tujuannya adalah: (1). Untuk membantu anggota kelompok yang sedang berbicara menjadi lebih sadar akan apa yang dia katakana, dan (2). Untuk berkomunikasi kepadanya bahwa anda menyadari apa yang ia rasakan.

3.      Klarifikasi dan bertanya

Klarifikasi dapat dilakukan untuk kepentingan seluruh kelompok atau untuk pembicara, yaitu untuk membantu anggota menjadi lebih sadar akan apa yang dia katakan. Ada beberapa teknik untuk klarifikasi yang mungkin berguna bagi konselor; mempertanyakan, ulangan, dan menggunakan anggota lain untuk memperjelas.

 

 

4.      Meringkas

Keterampilan meringkas adalah suatu keharusan bagi semua pemimpin kelompok. Tanpa ringkasan, anggota dapat menangkap sebagian kecil atau poin yang tidak relevan.

5.      Menghubungkan

Menghubungkan adalah proses menghubungkan anggota secara bersama-sama untuk memfasilitasi ikatan. Ini adalah keterampilan yang berharga bagi para pemimpin kelompok, terutama yang mulai tahap grup, karena pemimpin menginginkan anggota untuk merasa terhubung satu sama lain dan kepada kelompok.

6.      Ceramah singkat dan pemberian informasi

Dalam pendidikan kelompok, pemimpin sering kali adalah orang yang memberikan keahlian pada subyek seperti diet, kesehatan, atau jenis pendidikan pasca sekolah menengah.

7.      Mendorong dan pendukung

Sebagai pemimpin kelompok, kemampuan ini akan sangat penting dalam membantu menangani anggota dengan situasi kecemasan baru dan berbagi ide-ide mereka atau perasaan pribadi dengan anggota lain.

8.      Pengaturan nada

Dengan pengaturan nada suara, berarti kita menciptakan suasana untuk grup dengan mengatur tinggi rendah suara saat berbicara dengan kelompok. Pengaturan suara dilakukan agar suara kita terkesan sejuk dan dapat menyampaikan pesan dengan baik.

9.      Pemodelan dan self-disclosure

Keterampilan ini juga berguna untuk mendapatkan anggota untuk berbagi pikiran dan perasaan. Corey dan Corey menyatakan bahwa “salah satu cara terbaik untuk mengajarkan perilaku yang diinginkan adalah dengan pemodelan perilaku dalam kelompok”.

 

10.  Penggunaan mata

Pemimpin harus menyadari bagaimana matanya dapat mengumpulkan informasi berharga, mendorong anggota untuk berbicara, dan mungkin mencegah anggota dari berbicara.

11.  Penggunaan suara

Suara pemimpin dapat digunakan untuk mempengaruhi suasana kelompok, yaitu melalui ketinggian nada suara, kecepatan dan kontennya. Seorang pemimpin dapat menentukan bagaimana kualitas kelompok yang dipimpinnya melalui isi kata-katanya dan nada suaranya.

12.  Penggunaan energi pemimpin

Pemimpin perlu gembira saat mempimpin, jika mereka tidak bersemangat, para anggota kelompok mungkin tidak akan semangat mengikuti kegiatan kelompok

13.  Mengidentifikasi pengikut

Sebuah keterampilan yang sangat berguna bagi konselor yang memberikan layanan kelompok adalah menemukan siapa pengikutnya yang ada dalam kelompok, yaitu anggota  mana yang dapat diandalkan untuk bersikap kooperatif dan membantu.

14.  Pemahaman multicultural

Pemimpin tidak hanya perlu memahami berbagai budaya dari para anggota kelompok, tetapi juga perlu memahami bagaimana setiap anggota yang beragam budaya dapat mempengaruhi partisipasinya dalam kelompok.

 

15.  Focusing

Terkait dengan keterampilan focusing, Jacob, at al. membahas beberapa isu penting, yaitu bagaimana membangun fokus, bertahan pada fokus, bergeser dari fokus, dan memperdalam fokus.

 

 

16.  Cutting off and drawing out

Cutting off  memungkinkan pemimpin untuk memastikan bahwa isi dari kelompok cocok dengan tujuan. Keterampilan cutting off diperlukan untuk menampung, pergeseran dan memperdalam fokus. Dengan memahami mengapa anggota bersikap diam, pemimpin yang baik dapat memilih bagaimana dan kapan harus menarik keluar (drawing out) beberapa anggota.

17.  Rounds and dyads

Rounds sangat membantu dalam pengumpulan informasi, melibatkan anggota, dan membantu dalam mengumpulkan informasi, melibatkan anggota, dan membantu dalam mengendalikan anggota.

Sementara itu, dyad merupakan kegiatan dimana sepasang anggota mendiskusikan isu-isu atau menyelesaikan tugas dalam kelompok. Dyad berperan penting untuk mengembangkan kenyamanan, kehangatan antar anggota, pengolahan latihan, dan menyediakan waktu bagi pemimpin untuk berpikir.[3]

 

E.     Keunggulan dan keterbatasan konseling kelompok

Dalam layanan konseling, konselor dihadapkan pada berbagai teknik dan strategi maupun pendekatan. Terhadap pilihan tersebut, konselor mesti menyadari bahwa tidak ada teknik, strategi maupun pendekatan yang paling baik untuk menangani semua persoalan konseli. Pada dasarnya, ketepatan sebuah teknik, strategi maupun pendekatan tersebut sangat ditentukan oleh persoalan konseli serta berbagai hal yang terkait dengan permasalahan tersebut.

      Sebagai suatu teknik layanan bimbingan dan konseling, penggunaan konseling kelompok memiliki beberapa keunggulan dan keterbatasan. Pemanfaatan suasana kelompok dalam konseling dapat menyediakan nilai-nilai terapeutik yang sulit, atau sebagiannya bahkan tak mungkin, disediakan melalui konseling individual. Namun, disisi lain konseling kelompok secara simultan memiliki beberapa keterbatasan. Pemahaman akan keunggulan dan keterbatasan konseling kelompok ini bisa dijadikan sebagai salah satu pertimbangan untuk menetukan kapan dan untuk apa sebaiknya teknik konseling kelompok digunakan.

1.      Keunggulan konseling kelompok.

Pemanfaatan suasana kelompok untuk kepentingan konseling atau terapi memiliki beberapa keunggulan. Keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh layanan konseling kelompok dijelaskan secara rinci oleh Natawijaya sebagai berikut:

a.       Menghemat waktu dan energi.

Dilihat dari jumlah konseli yang dapat dilayani, konseling kelompok memungkinkan konselor untuk bisa melayani lebih banyak konseli dari pada konseli individual. Dengan memanfaatkan suasana kelompok, dalam waktu yang sama konselor bisa melayani sejumlah konseli sekaligus. Ini merupakan suatu efisiensi ini, konselor lebih memungkinkan untuk bisa melayani konseli dalam jumlah yang lebih banyak.

b.      Menyediakan sumber belajar dan masukan yang kaya bagi konseli.

Setiap orang biasanya memiliki variasi pandangan dan informasi sehingga terlibatnya sejumlah orang dalam konseling ke;lompok memungkinkan para konseli untuk mendapatkan sumber belajar dan masukan yang kaya. Keberadaan sejumlah orang dalam konseling kelompok bisa memberikan lebih banyak ide dan pandangan. Sebaliknya, dalam konseling individual interaksi yang terjadi terbatas hanya antara seorang konselor dan konseli. Dalam suasana interaksi semacam ini, konselor berperan sebagai satu-satunya sumber yang bisa saling berbagai informasi dan pengalaman dengan konseli.

c.       Pengalaman komunalitas dalam konseling kelompok dapat meringankan beban penderitaan dan menentramkan konseli

Adanya interaksi antar peserta dalam konseling kelompok memungkinkan para konseli menjadi saling mengetahui dan memahami permasalahan, perasaan, dan penglaman mereka satu sama yang lain. Mereka tahu bahwa orang lain juga memiliki pikiran, perasaan, dan permasalahan yang serupa.

d.      Memenuhi kebutuhan akan rasa memiliki.

Rasa untuk memiliki merupakan kebutuhan manusia yang kuat. Kebutuhan ini dapat terpenuhi sebgaian bila seseorang yang berada dalam kelompok. Para anggota konseling kelompok akan saling mengidentifikasikan satu sama lain sehingga dan akhirnya mereka merasa sebagai bagian dari keseluruhan kelompok.

e.       Bisa menjadi sarana untuk melatih dan mengembangkan keterampilan dan perilaku sosial dalam suasana yang mendekati kondisi kehidupan nyata.

Dengan demikian, kelompok konseling bisa menjadi suatu arena untuk memperaktekan berbagai keterampilan dan perilaku sosial secara aman. Para konseli bisa mempraktekan keterampilan-keterampilan dan perilaku-perilaku barubyang telah mereka pejari dalam suatu kondisi lingkungan yang bersipat mendukung sebelum mereka mencobahnya dalam konteks lingkungan yang sesungguhnya.

Selain melalui bermain peran, kesempatan untuk mencoba perilaku baru juga bisa terjadi di saat para konseli berhubungan satu sama lain selama sesi konseling kelompok. Mereka bisa salaing berbagi informasi tentang diri mereka , berbeda pendapat satu sama lain, memperhatikan orang lain berbicara, dan atau bahkan mungkin menangis di depan orang lain.

 

f.       Menyediakan kesempatan untuk  belajar dari pengelaman orang lain.

Dalam konseling kelompok, konseli memliki kesempatan untuk saling mendengar dan memperhatikan permasalahan mereka satu sama lain dan cara-cara pengambilan keputusan untuk mengatasinya.

g.      Memberikan motivasi yang lebih kuat kepada konseli untuk berperilaku konsisten sesuai dengan rencana tindakannya.

Keterlibatan banyak orang dalam konseling kelompok dapat menjadi satu kekuatan yang mendorong konseli untuk lebih bertangung jawab terhadap perilaku dan komitmen-komitmen yang dibuatnya bersama kelompok. Hal ini bisa terjadi terutama bagi mereka yang sudah terlibat dalam suatu kelompok yang  kohesif, saling menghargai, dan saling menghargai,dan saling memberikan dukungan satu sama lain.

 

h.      Bisa menjadi suasana eksplorasi

Dengan penguatan dari kelompok, konseli bisa terdorong untuk melakukan eksplorasi terhadap kebutuhan dan masalah perkembangan serta menyuasaikan diri masing-masing. Kelompok dapat menyediakan suatu adegan sosial yang mendorong konselu berintekrasi dengan peserta yang lain yang mungkin mereka itu tidak sekedar memilki pemahaman tentan masalahnya, tetapi juga akan saling berbagi permasalahan yang dibawanya tersebut. Dalam kondisi seperti itu, konseling kelompok dapat menyediakan rasa aman yang dibutuhkan oleh pra konseli untuk secara spontan dan secara bebas berintekrasi dan mengambil resiko sehingga meningkatkan kemungkinan mereka untuk saling berbagi pengalaman dengan orang lain yang memilki pengalaman serupa.

2.      Keterbatasan Konseling Kelompok

Di samping memiliki sejumlah keunggulan, konseling kelompok  juga tidak terlepas dari sejumlah keterbatasan. Menurut Pietrofesa etal. Dalam Natawijaya, keterbatasan-keterbatasan dari konseling kelompok adalah sebagai berikut:

a.       Tidak cocok digunakan untuk menangangi masalah-masalah perilaku tertentu seperti agresi yang ekstrim, konflik kakak-adik atau orangtua-anak yang intensif.

b.      Ambiguitas inheren yang melekat dalam proses kelompok menyebabkan beberapa konselor terlalu mengendalikan kelompok.

c.       Isu-isu dan masalah-masalah yang dimunculkan dalam kelompok kadang-kadang mengganggu nilai-nilai personal atau membahayakan hubungan siswa atau konselor dengan pihak lain seperti dengan orang tua atau dengan administrator.

d.      Unsur konfidensialitas yang sangat esensial bagi kelompok yang efektif sulit untuk dicapai dalam konseling kelompok.

e.       Modeling perilaku yang tidak diinginkan sulit untuk dieliminasi.

f.       Meningkatnya keterangan, kecemasan, dan keterlibatan yang terjadi dapat menimbulkan akibat yang tidak diinginkan.

g.      Kombinasi yang tepat dari anggota kelompok adalah penting, namun sulit untuk dicapai.

h.      Beberapa anggota kelompok menerima perhatian individual yang tidak memadai.

i.        Adanya kesulitan untuk menjadwal konseling kelompok dalam adegan sekolah.

j.        Hakikat konseling kelompok yang tidak spesifik sering sulit untuk menjastifikasi orangtua, guru, dan administrator yang skeptic.

k.      Konselor kelompok harus terlatih dengan baik dan sangat terampil.[4]


 

BAB III

PENUTUP

 

A.   Kesimpulan

Dari pembahasan makalah di atas, dapat kami simpilkan beberapa hal sebagai berikut :

1.      Pengembangan kemanusiaan seutuhnya hendaknya mencapai pribadi-pribadi yang kediriannya matang, tangguh, dengan kemampuan social yang menyejukkan, kesusilaan yang tinggi dan luhur dan berkeimanan dan ketakwaan yang kokoh dan dalam, maka bimbingan dan konseling sangat diharapkan untuk membantu tercapainya cita-cita tersebut.

2.      Konseling adalah suatu proses bantuan yang diberikan kepada individu yang mangalami masalah (klien), dilakukan oleh seorang ahli (konselor) secara langsung dan menyenangkan, dengan memperoleh informasi dari klien ataupun pihak lain  sehingga individu tersebut dapat memahami dirinya  dan permasalahannya, agar ia dapat berinteraksi secara efektif dalam lingkungannya dan masyarakat pada umumnya.

3.      Konseling kelompok merupakan salah satu layanan konseling yang di selenggarakan dalam suasana kelompok yang memanfaatkan dinamika kelompok, serta terdapat hubungan konseling yang hangat, terbuka, permisif dan penuh keakraban.

B.   Penutup.

Demikianlah makalah ini kami sajikan, jika terdapat hal-hal yang tidak berkenan atau terdapat kekurangan pada sistematika penulisan atau penggunaan formulasi bahasa yang kurang tepat, maka kami sangat mengharapkan kritik dan saran dalam rangka perbaikan makalah ini.

 


 

DAFTAR  PUSTAKA

 

Kurnanto, M.Edi, Konseling Kelompokm Bandung : Alfa Beta CV,2013.

 

 



[1] M. Edi ,Kurnanto,  2013,Konseling Kelompokm Bandung : Alfa Beta CV, hlm. 7

[2] Ibid, hlm.11

[3] Ibid, hlm.26

[4] Ibid, hlm.33

Selasa, 14 Juni 2022

teori konseling hadler

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR  BELAKANG

 

Adler merupakan salah satu teoris besar dalam psikologi kepribadian yang telah mengembangkan Konseling Adlerian bersama para pengikutnya berdasarkan teori psikologi individual Adler . Konsep-konsepnya revolusioner dan menampilkan sisi kemanusiaan yang utuh dalam dialektikanya. Adler awalnya merupakan anggota bahkan sebagai ketua Masyarakat Psikoanalisis Wina yang merupakan organisasi pengembang teori Freud, namun kemudian memisahkan diri karena mengambangkan ide-ide dan konsepnya sendiri.

Konsep yang dikembangkan oleh Adler memiliki perbedaan yang substansial dengan teoris Freud. Adler yang berlatar belakang pendidikan dokter kemudian mengembangkan suatu teori yang spesifik yang disebutnya psikologi individual. Teori Adler ini sangat menekankan peranan ego dan kontekstualitas sosial dalam gerak dinamika kehidupan manusia.

Dari beberapa sumber, diperoleh keterangan bahwa selama perang dunia I, Adler bekerja sebagai dokter pada laskar tentara Austria dan sesudah perang, dia tertarik pada bimbingan anak-anak dan mendirikan klinik bimbingan pertama yang berhubungan dengan sistem aliaran Wina. Dia juga mendorong berdirinya aliran eksperimental di wina yang menerapkan teorinya di bidang pendidikan (Furtmuller, dalam Hall & Lindzey, 1993).

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Biografi Singkat Alfred Adler

 

Alfred Adler lahir di Wina pada tahun 1870.Dia menyelesaikan studinya dalam lapangan kedokteran pada Universitas Wina pada tahun 1895. Mula-mula ia mengambil spesialisasi dalam Ophtamologi, dan kemudian dalam lapangan pskiatri. Mula-mula bekerja sama dengan Freud dan menjadi anggota serta akhirnya menjadi presiden “Masyarakat Psikoanalisis Wina”. Namun dia segera mengembangkan pendapatnya sendiri yang menyimpang dari pendapat Freud dan lain0lain anggota persatuan itu, yang akhirnya menyebabkan dia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden serta dari keanggotaannya dalam “Masyarakat Psikoanalisis Wina” tersebut dan mendirikan aliran baru yang di berinya nama Individual Psychologie. Hal ini terjadi pada tahun 1911.

Sejak tahun 1935 Adler menetap di Amerika Serikat. Di sana dia melanjutkan prakteknya sebagai ahli penyakit syaraf dan juga menjadi guru besar dalam psikologi medis di Long Island College of Medicine. Dia meninggal di Scotlandia pada tahun 1937, ketika sedang perjalanan keliling untuk memberikan ceramah-ceramah.

Seperti Psikoanalisis pengaruh Adler juga lekas meluas, walaupun tidak seluas pengaruh Psikoanalisis, terutama karena Adler dengan pengikut-pengikutnya mempraktekkan teorinya dalam lapangan pendidikan. Pendapat-pendapat Adler tetap terpelihara dan bertambah luas berkat adanya “The American Society of Individual Psychology” yang mempunyai majalah tersendiri yaitu : The American Journal of individual Psychology. Sebagai penulis, Adler sendiri juga cukup produktif, banyak tulisan-tulisannya; salah satu hasil karyanya yang oleh para ahli dianggap representative ialah : Praxis und Theorie der Individual Psychologie.

 

 

B.     Konsep-konsep Utama Teori Adler

 

Observasi-observasi Adler sebagian besar di lakukan di lingkungan terapeutik, dan paling banyak berupa rekonstruksi-rekonstruksi tentang masa lampau sebagaimana diingat oleh pasien dan penilaian-penialaian atas tingkah laku sekarang berdasarkan laporan-laporan verbal. Adler meninggalkan teori dasar Freud karena ia percaya Freud berlebihan berfikir sempit dalam penekanannya pada penentuan biologis dan insting. Adler percaya bahwa individu mulai membentuk pendekatan untuk hidup di suatu tempat pertama di awal 6 tahun kehidupan. Fokusnya adalah pada bagaimana persepsi seseorang dari masa lalu dan interpretasinya peristiwa awal memiliki pengaruh yang berkelanjutan. Pada banyak alasan teoritis, Adler menentang Freud. MenurutAdler, misalnya, manusia termotivasi terutama oleh keterkaitan sosial bukan oleh dorongan seksualperilaku terarah dan di arahkan pada tujuan; dan kesadaran, lebih dari ketidaksadaran, merupakan fokus dari terapi. Tidak seperti Freud, Adler menekankan pilihan dan tanggung jawab, yang berarti dalam hidup, dan berjuang untuk keberhasilan, penyelesaian, dan kesempurnaan. Adler dan Freud dibuat sangat kontras teori, meskipun kedua pria dibesarkan di kota yang sama di era yang sama dan di didik sebagai dokter di universitas yang sama. Individu dan sangat mereka pengalaman masa kecil yang berbeda yang pasti faktor kunci yang membentuk mereka jelas pandangan yang berbeda dari sifat manusia(Schultz &Schultz, 2005).
Berikut ini beberapa fokus penelitian Adler :

 

1.      Pandangan Tentang Sifat Dasar Manusia

Adler meninggalkan teori dasar Freud karena ia percaya bahwa Freud berlebihan
membatasi secara sempit penekanannya pada penentuan biologis dan insting. Adler
percaya bahwa individu mulai membentuk pendekatan untuk hidup di suatu tempat 
pada
yang pertama 6 tahun
 pertama kehidupannya. Fokusnya adalah pada bagaimana persepsi seseorang dari masa lalu dan interpretasi peristiwa awalnya memiliki pengaruh yang berkelanjutan. Pada banyak alasan teoritis, Adler menentang Freud. Menurut
Adler, misalnya, manusia termotivasi terutama oleh keterkaitan sosial bukan oleh dorongan seksual; perilaku terarah dan diarahkan pada tujuan; dan kesadaran,
lebih dari ketidaksadaran, merupakan fokus dari terapi
. Tidak seperti Freud,
Adler menekankan pilihan dan tanggung jawab, yang berarti dalam hidup, dan berjuang untuk keberhasilan, penyelesaian, dan kesempurnaan. Adler dan Freud 
membuat teori yang sangat kontras meskipun kedua pria tersebutdibesarkan di kota yang sama di era yang sama serta di didik sebagai dokter di universitas yang sama. Individual mereka dan pengalaman masa kecil yang berbeda yang pasti faktor kunci yang membentuk pandangan berbeda mereka mengenai sifat dasar  manusia (Schultz & Schultz, 2005).
Teori Adler berfokus pada perasaan 
inferioritas, yang ia lihat sebagai normal
kondisi semua orang dan sebagai sumber segala upaya manusia. Alih-alih menjadi
dianggap sebagai tanda kelemahan atau kelainan, perasaan 
inferior bisa menjadi
sumber kreativitas. Mereka memotivasi kita untuk berjuang demi penguasaan, keberhasilan (keunggulan), dan penyelesaian. Kita didorong untuk mengatasi rasa inferioritas kita dan berusaha untuk mendapati tingkat yang semakin tinggi dari perkembangan (Schultz & Schultz, 2005). Memang, sekitar usia 6 tahun pengelihatan khayalan kita tentang diri kita sebagai sosok sempurna atau lengkap mulai terbentuk menjadi tujuan hidup. Tujuan hidup menyatukan kepribadian dan menjadi sumber motivasi manusia; setiap perjuangan dan setiap upaya untuk mengatasi inferioritas sekarang sejalan dengan tujuan ini.
Dari perspektif Adlerian, perilaku manusia tidak ditentukan semata-mata oleh keturunan dan lingkungan. Sebaliknya, kita memiliki kapasitas untuk menafsirkan, pengaruh,
dan membuat 
rencana. Adler menegaskan bahwa genetika dan faktor keturunan tidak begitu penting seperti apa yang kita pilih untuk lakukan dengan kemampuan dan keterbatasan yang kita miliki.
Adlerians mengakui bahwa kondisi biologis dan lingkungan membatasi kemampuan kita untuk memilih dan menciptakan. Adlerians menempatkan fokus
 pengulangan untuk pendidikan individu dan membentuk kembali masyarakat. Adler adalah pendahulu dari pendekatan subjektif psikologi yang berfokus pada faktor-faktor penentu internal perilaku seperti nilai-nilai, kepercayaan, sikap, tujuan, kepentingan, dan persepsi individu tentang realitas. Dia adalah seorang pelopor pendekatan yang holistik, sosial, berorientasi tujuan, sistemik, dan humanistik. Adler juga merupakan terapis sistemik pertama, karena ia menyatakan bahwa adalah penting untuk memahami orang-orang dalam sistem di mana mereka tinggal.

 

2.                     Persepsi Subjektif atas Realitas

Adlerians mencoba untuk melihat dunia dari bingkai subjektif acuan klien, orientasi digambarkan sebagai fenomenologis. Pendekatan ini fenomenologis dalam hal ini memperhatikan cara individu di mana seseorang melihat dunia mereka."Realitas subjektif" ini meliputi persepsi individu, pikiran, perasaan, nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kesimpulan. Perilaku dipahami dari sudut pandang perspektif subjektif ini. Dari Perspektif Adlerian, realitas objektif adalah kurang penting dibandingkan bagaimana kita menafsirkan realitas dan makna kita membubuhkan untuk apa yang kita alami. Beberapa pendekatan lain yang memiliki fenomenologis yang perspektif adalah terapi eksistensialperson-centered theraphy, terapi Gestalt ,terapi kognitif behavioral, terapi realitas, dan pendekatan post modern.

3.      Kersatuan dan Pola Kepribadian Manusia
Adler bernama pendekatannya Psikologi Individu dan menekankan pemahaman seluruh orang‒bagaimana semua dimensi dari seseorang komponennya saling berhubungan, dan bagaimana semua komponen ini disatukan oleh gerakan menuju tujuan hidup individu. Adler menekankan kesatuan dan keutuhan orang tersebut. Konsep holistik Ini berarti bahwa kita tidak dapat dipahami dalam bagian-bagian, tetapi semua aspek diri kita sendiri harus dipahami dalam hubungan (Carlson & Englar-Carlson, 2008). Fokusnya adalah pada pemahaman seluruh orang dalam konteks mereka tertanam sosial dari keluarga, budaya, sekolah, dan bekerja. Kami sosial, kreatif, pengambilan keputusan makhluk yang bertindak dengan tujuan dan tidak dapat sepenuhnya diketahui di luar konteks yang memiliki arti dalam hidup kita (Sherman & Dinkmeyer, 1987).
Kepribadian manusia menjadi bersatu melalui pengembangan kehidupan tujuan. Pikiran, perasaan, keyakinan, keyakinan, sikap, karakter individu, dan tindakan adalah ekspresi dari nya keunikan, dan semua mencerminkan rencana kehidupan yang memungkinkan untuk gerakan menuju tujuan hidup yang dipilih sendiri. 
Implikasi dari pandangan holistik ini kepribadian adalah bahwa klien merupakan bagian integral dari sistem sosial. Ada penekankan lebih pada hubungan interpersonal dari pada psikodinamika internal individu.
PERILAKU SEBAGAI 
MAKSUD TERTENTU dan MENGARAHKAN TUJUAN. Psikologi Individual mengasumsikan bahwa semua perilaku manusia memiliki tujuan. Manusia menetapkan tujuan untuk diri mereka sendiri, dan perilaku menjadi bersatu dalam konteks tujuan-tujuan tersebut. Konseptujuan perilaku mungkin landasan teori Adler. Adler mengganti penjelasan deterministik dengan teleologis (sengaja, berorientasi pada tujuan) yang. Asumsi dasar Psikologi Individu adalah bahwa kita bisa hanya berpikir, merasa, dan bertindak dalam kaitannya dengan persepsi kita tentang tujuan kami. Oleh karena itu, kita dapat sepenuhnya dipahami hanya berdasarkan mengetahui tujuan dan goal kemana arah kita berjuang. Adlerians yang tertarik di masa depan, tanpa meminimalkan pentingnya pengaruh masa lalu. Mereka menganggap bahwa keputusan didasarkan pengalaman seseorang, pada situasi sekarang, dan pada arah di mana orang tersebut bergerak.

BERJUANG UNTUK KEPENTINGAN DAN KEUNGGULAN.Adler menekankan bahwa berjuang untuk kesempurnaan dan mengatasi inferioritas dengan mencari penguasaan adalah bawaan (Ansbacher & Ansbacher, 1979). Untuk memahami perilaku manusia, itu adalah penting untuk memahami ide-ide inferioritas dasar dan kompensasi. Dari tahun-tahun awal kami, kami menyadari bahwa kami tidak berdaya dalam banyak hal, yang ditandai dengan perasaan inferioritas. Inferioritas ini bukan merupakan faktor negatif dalam hidup. Menurut Adler, saat kami mengalami inferioritas kita  ditarik oleh perjuangan untuk keunggulan. Dia mempertahankan bahwa tujuan keberhasilan menarik orang maju ke arah penguasaan dan memungkinkan mereka untuk mengatasi hambatan. Tujuan dari kontribusi superioritas untuk perkembangan manusia. Namun, penting untuk dicatat bahwa "superioritas," seperti yang digunakan oleh Adler, tidak selalu berarti menjadi superior dari orang lain. Sebaliknya, itu berarti bergerak dari yang dirasakan lebih rendah (atau minus) posisi untuk dirasakan lebih tinggi (atau plus) posisi. Orang mengatasi perasaan tidak berdaya dengan berjuang untuk kompetensi, penguasaan, dan kesempurnaan. Mereka dapat berusaha untuk mengubah kelemahan menjadi kekuatan, misalnya, atau berusaha untuk unggul di satu bagian untuk mengkompensasi cacat
di 
bagian lain. Cara-cara yang unik di mana orang mengembangkan gaya berjuang
kompetensi adalah apa yang merupakan individualitas atau gaya hidup. Cara di
yang Adler bereaksi terhadap masa kecilnya dan pengalaman remaja adalah hidup
contoh aspek teorinya.

LIFESTYLE .keyakinan inti dari seorang individu dan panduan asumsi setiap orang
melalui gerakan hidup dan mengatur kenyataan
nya, memberikan arti hidup
peristiwa. Adler menyebut gerakan kehidupan ini "gaya hidup." Lifestyle sering digambarkan sebagai persepsi kita tentang diri, orang lain, dan dunia. Ini mencakup karakteristik individu cara berpikir, bertindak, merasa, hidup, dan berusaha menuju tujuan jangka panjang (Mosak & Maniacci, 2008). Adler melihat kami sebagai aktor, pencipta, dan seniman. Dalam berjuang untuk tujuan yang telah yang berarti kepada kami, kami mengembangkan gaya yang unik dari kehidupan (Ansbacher, 1974).
Dalam berjuang untuk tujuan 
superioritas, Adlerians percaya kita masing-masing mengembangkan segi yang unik dari kepribadian kita, atau gaya hidup kita sendiri. Segala sesuatu yang kita lakukan adalah dipengaruhi oleh gaya hidup yang unik ini. Pengalaman dalam keluarga dan hubungan antara saudara kandung berkontribusi untuk pengembangan ini cara konsisten diri mempersepsi, berpikir, merasa, dan berperilaku. Meskipun gaya yang unik kami dibuat terutama selama pertama 6 tahun hidup, kejadian setelah mungkin memiliki efek mendalam pada pengembangan kepribadian kita. Pengalaman dalam diri mereka bukanlah faktor yang menentukan; bukan, itu adalah penafsiran kita tentang peristiwa ini bahwa kepribadian bentuk. Interpretasi yang salah dapat menyebabkan gagasan keliru dalam logika pribadi kita, yang akan significantlyinfluence perilaku ini. Setelah kami menjadi sadar akan pola dan kelangsungan hidup kita, kita berada dalam posisi untuk mengubah asumsi-asumsi yang salah dan membuat perubahan mendasar. Kita bisa membingkai pengalaman masa kecil dan sadar menciptakan gaya hidup baru.


4.      Minat Sosial dan Perasaan Masyarakat

Kepentingan sosial dan perasaan masyarakat (Gemeinschaftsgefühl) mungkin menjadi yang paling signifikan dan khas dalam konsep Adler(Ansbacher, 1992). Istilah-istilah ini mengacu pada kepentingan sosial mengharuskan kita memiliki cukup kontak dengan masa sekarang untuk membuat bergerak ke arah masa depan yang bermakna, bahwa kita bersedia untuk memberi dan mengambil, dan bahwa kita mengembangkan kemampuan kami untuk memberikan kontribusi bagi kesejahteraan orang lain (Milliren, Evans, & Newbauer, 2007). Kepentingan sosial meliputi berjuang untuk masa depan yang lebih baik untuk kemanusiaan. Proses sosialisasi, yang dimulai di masa kanak-kanak, melibatkan menemukan tempat dalam masyarakat dan memperoleh rasa memiliki dan memberikan kontribusi (Kefi r, 1981).kesadaran menjadi bagian dari komunitas manusia dan individu individu sikap dalam menghadapi dunia sosial.

Adler mengajarkan bahwa kita harus berhasil menguasai tiga tugas kehidupan universal:
membangun persahabatan (tugas sosial), membangun keintiman (cinta-tugas perkawinan), dan kontribusi kepada masyarakat (tugas kerja). Semua orang perlu untuk mengatasi tugas-tugas ini, tanpa memandang usia, jenis kelamin, waktu dalam sejarah, budaya, atau kebangsaan. Dreikurs dan Mosak (1967) dan Mosak dan Dreikurs (1967) menambahkan dua lainnya tugas kehidupan ke daftar ini: bergaul dengan diri kita sendiri (self-acceptance), dan mengembangkan dimensi spiritual kami (termasuk nilai-nilai, makna, tujuan hidup, dan hubungan kita dengan alam semesta, atau kosmos). Masing-masing tugas memerlukan pengembangan kapasitas psikologis bagi persahabatan dan milik, atas kontribusi dan harga diri, dan kerja sama (Bitter, 2006). Tugas ini hidup dasar
begitu fundamental bagi kehidupan manusia bahwa disfungsi dalam salah satu dari mereka sering kali merupakan indikator gangguan psikologis (American Psychiatric Association, 2000).
Lebih sering daripada tidak, ketika orang mencari terapi, itu karena mereka berjuang
dengan berhasil memenuhi satu atau lebih dari tugas-tugas kehidupan ini. Tujuan terapi adalah untuk membantu klien dalam memodifikasi gaya hidup mereka sehingga mereka dapat lebih efektif menavigasi satu dari tugas-tugas ini (Carlson & Englar-Carlson, 2008).

5.      Urutan Kelahiran dan Hubungan Persaudaraan

Pendekatan Adlerian yang unik dalam memberikan perhatian khusus pada hubungan
antara saudara kandung dan posisi kelahiran psikologis dalam keluarga seseorang. Adler diidentifikasi lima posisi psikologis, atau titik pandang, dari mana anak-anak
cenderung memandang kehidupan: tertua, kedua hanya dua, tengah, bungsu, dan anak tunggal bukanlah konsep deterministik tetapi tidak meningkatkan kemungkinan seseorang memiliki satu set tertentu dari pengalaman. Urutan kelahiran sebenarnya kurang penting dari interpretasi individu nya atau tempatnya dalam keluarg
a karena. Adlerians melihat masalah yang paling sering manusia sebagai sosial di alam, mereka menekankan hubungan dalam keluarga sebagai awal kami dan, mungkin, yang paling berpengaruh pada sistem sosial.
Adler (1931/1958) mengamati bahwa banyak orang bertanya-tanya mengapa anak-anak di keluarga yang sama sering berbeda begitu luas, dan ia menunjukkan bahwa itu adalah suatu kesalahan untuk menganggap bahwa anak-anak dari keluarga yang sama terbentuk di lingkungan yang sama.

Meskipun saudara berbagi aspek kesamaan dalam konstelasi keluarga, situasi psikologis masing-masing anak berbeda satu dengan yang lain karena urutan kelahiran. Uraian berikut pengaruh kelahiran didasarkan pada Ansbacher dan Ansbacher (1964), Dreikurs (1953), dan Adler (1931/1958).

1.      Anak tertua biasanya menerima banyak perhatian, dan selama dia adalah anak tunggal, dia biasanya agak manja sebagai pusat perhatian. Dia cenderung di andalkan dan sulit bekerja dan berusaha untuk menjaga depan. Ketika adik baru tiba di tempat kejadian, bagaimanapun, dia menemukan dirinya digulingkan dari posisi favoritnya. Dia tidak lagi unik atau khusus. Dia mungkin percaya bahwa pendatang baru (atau penyusup) akan merampok nya cinta yang dia selama ini sudah terbiasa.

2.      Anak kedua dari hanya dua bersaudara berada dalam posisi yang berbeda. Dari waktu dia
lahir, dia berbagi perhatian dengan anak lain. Anak kedua 
berperilaku khas seolah-olah dia berada di perlombaan. Seolah-olah anak kedua ini berada di pelatihan mengungguli kakak atau saudara perempuan. Ini perjuangan kompetitif antara anak pertama dan kedua pengaruh latihan kemudian di hidup mereka. Anak muda mengembangkan bakat untuk menemukan jalan keluar dimana titik-titik kelemahan yang ada pada yang saudaranya lebih tua dan hasilnya adalah untuk memenangkan pujian dari kedua orang tua dan guru dengan mencapai keberhasilan di mana kakak telah gagal. Jika salah satu berbakat pada hal tertentu, yang lain berusaha untuk mendapatkan pengakuan untuk mengembangkan kemampuan lainnya. Kelahiran kedua adalah sering berlawanan dengan si sulung.

3.      Anak tengah sering merasa ditekan keluar. Anak ini mungkin menjadi yakin
dari ketidakadilan hidup dan merasa dicurangi. Orang ini mungkin menganggap
 bahwa sikap "saya lemah"  dan bisa menjadi anak bermasalah. Namun, terdapat konflik terutama dalam keluarga, anak tengah bisa menjadi penghubung dan pendamai, orang yang memegang sesuatu bersama-sama. Jika ada empat anak di keluarga, anak kedua akan sering merasa seperti anak tengah dan kehendak ketiga lebih santai, lebih sosial, dan dapat sejajar dengan sulung.

4.      Anak bungsu selalu menjadi bayi di keluarganya dan cenderung menjadi satu-satunya yang paling dimanjakan. Dia memiliki peran khusus untuk bermain, untuk semua anak-anak lain yang maju. Anak bungsu cenderung untuk pergi dengan cara mereka sendiri. Mereka sering mengembangkan cara yang tidak orang lain/keluarga telah pikirkan.

5.      Anak memiliki masalah sendiri. Meskipun ia berbeda karakteristik anak tertua (misalnya, drive prestasi yang tinggi), dia mungkin tidak belajar untuk berbagi atau bekerja sama dengan anak-anak lain. Dia akan belajar untuk berurusan dengan orang dewasa baik, karena denga mereka membuat dunia keluarga nya. Seringkali, satu-satunya anak dimanjakan oleh orang tuanya dan dapat menjadi ketergantungan terikat pada satu atau
keduanya. Dia mungkin ingin memiliki panggung sepanjang waktu, dan jika posisinya
ditantang, ia akan merasa itu tidak adil.
Urutan kelahiran dan interpretasi posisi seseorang dalam keluarga memiliki 
pengaruh besar
dengan bagaimana orang dewasa berinteraksi di dunia. Individu memperoleh gaya berhubungan tertentu dengan orang lain di masa kecil dan membentuk gambaran yang pasti dari diri mereka sendiri bahwa mereka membawa ke dalam interaksi dewasa mereka. Dalam terapi Adlerian, bekerja dengan dinamika keluarga, terutama hubungan antara saudara kandung, mengasumsikan kunci peran. Meskipun penting untuk menghindari stereotip individu, itu tidak membantu untuk melihat bagaimana tren  kepribadian tertentu yang dimulai pada masa kanak-kanak sebagai akibat dari saudara pengaruh persaingan individu sepanjang hidup.

Proses Terapi

Tujuan Terapi

·         Membina kepentingan sosial

·         Membantu klien mengatasi perasaan putus asa dan rendah diri

·         Membantu klien  memahami keyakinan – keyakinan perasaan, motivasi dan tujuan yang menentukan gaya hidupnya

·         Mendorong individu untuk mengenali kesetaraan antara orang-orang

·         Membantu orang untuk menjadi anggota kontribusi dari masyarakat

 

Fungsi dan Peran Terapis
Konselor Adlerian menyadari bahwa klien dapat menjadi berkecil hati dan fungsi tidak efektif karena kepercayaan yang salah, nilai-nilai yang salah, dan tujuan yang tidak pernah dicapai. Mereka beroperasi pada asumsi bahwa klien akan merasa dan berperilaku baik jika mereka menemukan dan memperbaiki kesalahan dasar mereka. Terapis cenderung untuk mencari
kesalahan besar dalam pemikiran dan menghargai seperti ketidakpercayaan, keegoisan, tidak realistis ambisi, dan kurang percaya diri.
Fungsi utama dari terapis adalah untuk membuat penilaian yang komprehensif dari fungsi klien. Terapis sering mengumpulkan informasi tentang individu gaya hidup dengan cara kuesioner pada klien keluarga konstelasi, yang meliputi orang tua, saudara, dan lain-lain yang tinggal di rumah, tugas-tugas kehidupan, dan kenangan awal. Ketika diringkas dan ditafsirkan, kuesioner ini memberikan gambaran dari dunia sosial awal individu. Dari informasi ini konstelasi keluarga, terapis mampu mendapatkan perspektif tentang klien bidang utama keberhasilan dan kegagalan dan pengaruh kritis yang memiliki bantalan pada peran klien telah diasumsikan di dunia.
Konselor juga menggunakan kenangan awal sebagai prosedur penilaian. Ingatan Dini (ER) yang Defi didefinisikan sebagai "cerita tentang peristiwa yang seseorang mengatakan terjadi [satu kali] sebelum ia berusia 10 tahun "(Mosak & Di Pietro, 2006, hal. 1). ER insiden c spesifik bahwa klien ingat, bersama dengan perasaan dan pikiran yang disertai insiden kecil ini. 
Kenangan ini sangat berguna dalam mendapatkan pemahaman yang lebih baik dari klien (Clark, 2002).
Setelah ini kenangan awal dirangkum dan diinterpretasikan, terapis mengidentifikasi beberapa keberhasilan besar dan kesalahan dalam hidup klien. Tujuannya adalah untuk memberikan titik tolak untuk usaha terapi. ER sangat berguna sebagai perangkat penilaian fungsional karena mereka menunjukkan apa yang klien lakukan dan bagaimana mereka berpikir di kedua cara adaptif dan maladaptif (Mosak & Di Pietro, 2006). Proses pengumpulan kenangan awal adalah bagian dari apa yang disebut penilaian gaya hidup, yang mencakup belajar untuk memahami tujuan dan motivasi klien. Ketika proses ini selesai, terapis dan klien memiliki target untuk terapi.
Mosak dan Maniacci (2008) menganggap mimpi sebagai bagian penting dari 
proses penilaian. Freud beranggapan bahwa mimpi adalah sebuah upaya untuk memecahkan masalah lama, dan Adler melihat mimpi sebagai latihan tindakan kemungkinan program masa depanSama seperti kenangan awal mencerminkan tujuan jangka panjang klien, mimpi menyarankan kemungkinan jawaban untuk masalah yg ada pada klien. Dalam menafsirkan mimpi, terapis menganggap fungsi purposive mereka. Mosak dan Maniacci (2008) menegaskan: "Mimpi menjadi baling-baling cuaca untuk pengobatan, membawa masalah ke permukaan dan menunjuk ke gerakan pasien "(hal. 84).

Aplikasi: Teknik Terapi dan Prosedur
Konseling Adlerian ini disusun sekitar empat tujuan sentral yang sesuai dengan empat tahapan proses terapi (Dreikurs, 1967). Maskapai
fase tidak linear dan tidak maju dalam langkah-langkah kaku; lebih tepatnya, mereka bisa
terbaik dipahami sebagai tenun yang mengarah ke permadani. Fase ini
sebagai berikut:
1 Membangun hubungan terapeutik yang tepat.

2 Jelajahi dinamika psikologis yang beroperasi di klien (penilaian).
3 Mendorong pengembangan pemahaman diri (insight ke tujuan).
4. Bantuan klien membuat pilihan baru (reorientasi dan reedukasi).
Dreikurs (1997) dimasukkan fase ini ke dalam apa yang disebutnya psikoterapi kecil dalam konteks dan pelayanan pengobatan holistik. Pendekatannya terhadap terapi memiliki telah diuraikan dalam apa yang sekarang disebut terapi singkat Adlerian atau ABT (Bitter,Christensen, Hawes, & Nicoll, 1998). Cara kerja dibahas dalam berikut bagian.
Tahap 1: Menetapkan Hubungan tersebut
Praktisi Adlerian bekerja dengan cara kolaboratif dengan klien, dan ini Hubungan didasarkan pada rasa peduli yang mendalam, keterlibatan, dan persahabatan. Kemajuan terapi hanya mungkin bila ada keselarasan jelas tujuan antara terapis dan klien. Proses konselin
g agar lebih efektif, harus berurusan dengan masalah-masalah pribadi klien mengakui tidak bisa sebagai signifikan dan bersedia untuk mengeksplorasi dan berubah. Efektivitas terapi pada fase terapi Adlerian selanjutnya didasarkan pada perkembangan dan kelanjutan dari hubungan terapeutik yang solid selama pertama fase terapi (Watts, 2000; Watts & Pietrzak, 2000).


Tahap 2: Jelajahi Individu Psikologis Dinamika
Tujuan dari tahap kedua konseling Adlerian adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam 
mengenai gaya hidup individu. Selama tahap penilaian ini, fokus adalah pada konteks sosial dan budaya individu. Daripada mencoba untuk muat klien menjadi model yang terbentuk sebelumnya, praktisi Adlerian memungkinkan konsep identitas budaya yang menonjol muncul dalam proses terapi, dan isu-isu ini kemudian ditujukan (Carlson & Englar-Carlson, 2008).

Tahap 3: Mendorong pemahaman diri dan wawasan
Selama fase ketiga ini, terapis Adlerian menafsirkan temuan dari penilaian sebagai jalan untuk mempromosikan pemahaman diri dan wawasan. Mosak dan Maniacci (2008) difinisi wawasan sebagai "pemahaman diterjemahkan ke konstruktif tindakan "(hal. 84). Ketika Adlerians berbicara wawasan, mereka mengacu pada pemahaman motivasi yang beroperasi dalam kehidupan klien. Pemahaman diri hanya mungkin bila tujuan dan sasaran perilaku tersembunyi dibuat sadar.
Adlerians menganggap wawasan sebagai bentuk khusus dari kesadaran yang memfasilitasi
pemahaman yang berarti dalam hubungan terapeutik dan bertindak sebagai dasar untuk perubahan. Insight adalah alat untuk mencapai tujuan, dan bukan tujuan itu sendiri.

Tahap 4: Reorientasi dan Reedukasi
Tahap final dari proses terapi adalah tahap berorientasi aksi yang dikenal sebagai reorientasi dan reedukasi: menempatkan wawasan ke dalam praktek. Fase ini berfokus untuk membantu orang menemukan perspektif baru dan lebih fungsional. Klien keduanya didorong dan ditantang untuk mengembangkan keberanian untuk mengambil risiko dan membuat perubahan dalam hidup mereka. Adlerians tertarik lebih dari perubahan perilaku. reorientasi melibatkan aturan pergeseran interaksi, proses, dan motivasi. Pergeseran ini difasilitasi melalui perubahan kesadaran, yang sering terjadi selama terapi sesi dan yang diubah ke dalam tindakan di luar kantor terapi (Bitter & Nicoll, 2004). Selain itu, terutama pada fase ini terapi, Adlerians
fokus pada pendidikan ulang (lihat bagian pada tujuan terapi). Adlerians mengajar, membimbing,
memberikan informasi, dan memberikan dorongan kepada klien yang tidak dianjurkan.
Dalam beberapa kasus, perubahan yang signifikan diperlukan jika klien untuk mengatasi keputusasaan dan fi nd tempat untuk diri mereka sendiri dalam kehidupan ini. Lebih sering, bagaimanapun, orang hanya perlu reorientasi ke sisi berguna hidup. Manfaat melibatkan sisi rasa memiliki dan sedang dinilai, memiliki kepentingan dalam orang lain dan kesejahteraan mereka, keberanian, penerimaan ketidaksempurnaan, kepercayaan diri, rasa humor, kemauan untuk berkontribusi, dan keramahan keluar. Sisi berguna hidup ditandai dengan penyerapan diri, penarikan dari tugas hidup, perlindungan diri sendiri, atau tindakan terhadap sesama manusia seseorang. orang di sisi berguna hidup menjadi kurang fungsional dan lebih rentan terhadap
psikopatologi.

Aplikasi Terapi Adlerian pada Kasus Stan


            T
ujuan dasar dari seorang ahli terapi Adlerian bekerja dengan stan adalah empat kali lipat dan sesuai dengan empat tahap konseling: (1) membangun dan mempertahankan kerja sama yang baik dengan stan, (2) menjelajahi dinamika stan, (3) mendorong stan untuk mengembangkan wawasan dan pemahaman, dan (4) membantu stan melihat alternatif barudan membuat pilihan baru.

            Untuk mengembangkan saling percaya dan menghormati, terapist membayar perhatian dekat dengan pengalaman subjektif stan dan mencoba untuk mendapatkan rasa bagaimana ia telah bereaksi terhadap poin dalam hidupnya selama ini tialm session itu, stan bereaksi terhadap konselor sebagai ahli yang memiliki jawaban. Dia yakin bahwa ketika ia membuat keputusan ia biasanya berakhir menyesali hasil. Stan mendekati penasihatnya putus asa. Karena penasihatnya memandang konseling sebagai hubungan antara sama, ia awalnya berfokus pada perasaannya menjadi sama dengan kebanyakan orang lain. Tempat yang baik untuk memulai adalah menjelajahi perasaarendah dirinya, yang katanya dia merasakan hal tersebut dalam kebanyakan situasi. Tujuan konseling di kembangkan bersama, dan konselor menghindari untuk memutuskan apa tujuan Stan yang seharusnya. Dia  juga menolak memberikan Stan rumus sederhana yang ia minta.

            Konselor stan ini prepsres sebuah assesment gaya hidup yang di dasarkan pada questinnaire yang keran informasi tentang tahun-tahun awal stan, terutama pengalamannya dalam keluarganya. (lihatbuku pedoman siswa untuk penjelasan lengkap ini bentuk assesment gaya hidupseperti yangditerapkan pada Stan)Assesment ini mencakup penentuan cuaca yang menimbulkan bahaya bagi dirinya sendiri karena stan tidak menyebutkan ide bunuh diri. Selama fase assesment, yang mungkin memakan waktu beberapa sesi, konselor Adlerian mengeksplorasi hubungan Stan yang sosial, perannya sebagai seorang pria, dan perasaannya tentang dirinya sendiri. Dia memberikan penekanan pada tujuan stan dalam kehidupan dan prioritasnya. Dia tidak membayar banyak perhatian untuk masa lalunya, kecuali untuk menunjukkan konsistensi antara masa lalu dan sekarang saat ia bergerak menuju masa depan.

            Karena tempat-tempat konselor Stan ini mengeksplorasi kenangan awal sebagai sumber pemahaman tujuannya, motivasi, dan nilai-nilai, ia meminta Stan untuk menceritakan kenangan paling awal. Ia menjawab sebagai berikut:

            Saya adalah sekitar 6, aku pergi ke sekolah, dan aku takut anak-anak lain dan guru. Ketika saya pulang, saya menangis dan mengatakan kepada ibu saya, saya tidak ingin kembali ke sekolah. Dia berteriak padaku dan memanggilku bayi. Setelah itu saya merasa ngeri dan bahkan lebih takut.

Ingatan awal lain Stan pada usia 8:

            Keluarga saya mengunjungi kakek-nenek saya. Saya bermain di luar, dan beberapa anak di lingkungan memukul saya tanpa alasan. Kami mulai bertengkar, dan ibu saya keluar dan memarahi saya untuk menjadi seorang anak kasar seperti itu. Dia tidak akan percaya saya ketika saya mengatakan ia yang mulai menyerangku duluan .Aku merasa marah dan sakit hati karena dia tidak percaya padaku.

            Berdasarkan ingatan awal ini, konselor Stan ini menunjukkan bahwa Stan melihat kehidupan sebagai sesuatu yang menakutkan yang tak terduga bermusuhan dan ia merasa tidak bisa mengandalkan perempuan; mereka cenderung keras, tidak bisa mempercayai, dan tidak peduli.
Setelah mengumpulkan data berdasarkan assesment gaya hidup tentangnya konstelasi keluarga dan ingatan awal, terapist membantu Stan di dalam proses meringkas dan menafsirkan informasi ini. Perhatian khusus diberikan oleh terapis untuk mengidentifikasi kesalahan dasar, yaitu kesimpulan yang salah tentang persepsi-mengalahkan hidup. Berikut adalah beberapa kesimpulan keliru Stan yang telah ia tarik:
 1. "saya tidak harus dekat dengan orang, karena mereka pasti akan menyakiti saya."
2.  "karena orang tua saya sendiri tidak ingin aku dan tidak mencintaiku, aku tidak akan pernah di inginkan atau di cintai oleh seseorang. "
3.  "kalau saja aku bisa menjadi sempurna, mungkin orang akan mengakui dan menerima saya."
4.  "seorang pria berarti tidak menunjukkan emosi."


            Konselor merangkum informasi dan menafsirkan yang menyebabkan wawasan dan meningkatkan pemahaman diri pada bagian Stan ini. Dia mendapatkan peningkatan kesadaran dari kebutuhan untuk mengendalikan dunia sehingga dia bisa menjaga perasaan menyakitkan di cek. Dia melihatlebih jelas beberapa cara ia mencoba untuk mendapatkan kontrol atas rasa sakitnya: melalui penggunaan alkohol, menghindari situasi antar pribadi yang mengancam, dan menjadi tidak mau mengandalkan orang lain untuk dukungan psikologis. Melalui melanjutkan penekanan pada keyakinannya, tujuan, dan niat, Stan datang untuk melihat bagaimana logika pribadinya tidak akurat. Dalam kasus ini,silogisme untuk gaya hidupnya dapat dijelaskan dengan cara ini: (1) "saya tidak dicintai, tidak signifikan, dan tidak menghitung," (2) "dunia adalah tempat yang mengancam, dan hidup tidak adil, "(3)" Karena itu, saya harus menemukan cara untuk menjaga diri dan tetap aman. "selama fase ini prosess, konselor stan membuat interpretasi berpusat pada gaya hidupnya, arahnya saat ini,tujuan dan tujuan-Nya, dan bagaimana logika pribadinya bekerja. Tentu saja, stan ini diharapkan melaksanakan asesmen pekerjaan rumah yang membantunya dalam menerjemahkan wawasan ke dalam perilaku baru. dengan cara ini ia adalah seorang peserta aktif dalam terapinya.

            Dalam tahap reorientasi terapi, stan dan penasihatnya bekerja sama untuk mempertimbangkan sikap alternatif, keyakinan, dan negosiasi. Sekarang stan melihat bahwa ia tidak harus terjebak dalam pola masa lalu, merasa didorong, dan menyadari bahwa dia memiliki kekuatan untuk mengubah hidupnya. ia menerima bahwa ia tidak akan berubah hanya dengan memperoleh wawasan dengan melakukan tindakan yang berorientasi.

Tindak lanjut: Anda terus sebagai terapis Adlerian stan ini

            Menggunakan pertanyaan-pertanyaan ini untuk membantu anda berpikir tentang bagaimana anda akan nasihat stan menggunakan pendekatan Adlerian.
 1. Apakah ada beberapa cara yang akan anda usahakan untuk membangun hubungan dengan stan berdasarkan kepercayaan dan saling menghormati? bisakah Anda dapat membayangkan kesulitan dalam mengembangkan hubungan dengan dia?
2.  Apa aspek gaya hidup stan yang khusus dan menarik bagi Anda? dalam konselingnya, bagaimana mengeksplorasi hal ini?
3. Terapis Adlerian mengidentifikasi empat dari kesimpulan keliru stan ini. Apakah Anda dapat mengidentifikasi dengan salah satu kesalahan dasar?  Jika demikian, apakah anda pikir ini akan membantu atau menghalangi venesstherapeautik efek anda dengan dia?
4. Bagaimana mungkinAnda membantu stan dalam menemukan kepentingan sosial dan melampaui keasyikan dengan masalahnya sendiri?
5. Apa kekuatan dan sumber daya di stan anda mungkin DRW untuk mendukung tekad dan komitmen untuk berubah?

            Wawasan mereka ke dalam tindakan di dunia nyata. Teori Adlerian kontemporer adalah sebuah pendekatan integratif, menggabungkan kognitif, konstrutivisiteksistensial, psikodinamik, dan sistem perspektif. Bebrapa dari karakteristik umum termasuk penekanan pada membangun hubungan hormat klien-terapis, penekanan pada kekuatan dan sumber klien, dan optimis dan masa depan orientasi. Pendekatan Adlerian memberikan praktisi banyak kebebasan dalam bekerja dengan klien. Kontribusi Adlerian besar telah dibuat dalam bidang berikut: pendidikan dasar, kelompok konsultasi dengan guru, kelompok pendidikan orang tua, pasangan dan terapi keluarga, dan konseling kelompok.

Kontribusi Pendekatan Adlerian


            Kekuatan dari pendekatan Adlerian adalah fleksibilitas dan alam intergratifnya. Terapis Adlerian dapat baik secara teoritis integratif dan teknis eklektik (watt &Shulman, 2003). Pendekatan terapi ini memungkinkan untuk penggunaan berbagai teknik kognitif, perilaku, dan pengalaman. Terapis Adlerian adalah akal dan fleksibel dalam menggambar pada setiap metode, yang dapat diterapkan untuk berbagai deliverse dari koefisien dalam berbagai pengaturan dan format. Terapis terutama prihatin tentang melakukan apa yang ada dalam kepentingan terbaik dari klien daripada meremascliennts menjadi satu kerangka teoritis (watt, 1999, 2000;watt&Pietrzak, 2000;watt&Shulman, 2003).

            Kontribusi lain dari pendekatan Adlerian adalah bahwa hal itu cocok untuk waktu singkat, terapi waktu terbatas. Adler adalah pendukung terapi waktu terbatas, dan teknik yang digunakan oleh banyak pendekatan terapi singkat kontemporer sangat mirip dengan intervensi yang dibuat oleh atau yang biasa digunakan oleh praktisi Adlerian (carlson etal., 2006). Terapi Adlerian dan terapi singkat kontemporer memiliki kesamaan sejumlah karakteristik, termasuk cepat membangunkan aliansi yang kuat terapi, fokus yang jelas masalah dan keselarasan tujuan, asesmen cepat dan aplikasi untuk perlakuan, penekanan pada intervensi aktif dan direktif, fokus pendidikan psikologi, sebuahorientasisekarang dan masa depan, fokus pada kekuatan klien dan tanggung dan harapan optimis perubahan, dan sensitifitas waktu yang penjahit pengobatan dengan kebutuhan unik dari klien (carlson etal., 2006). Menurut mosak dan dipietro (2006), ingatan awal memberikan dasar untuk terapi singkat. mereka mengklaim bahwa ingatan awal sering berguna dalam minmizing jumlah sesi terapi. Prosedur ini membutuhkan sedikit waktu untuk mengelola dan menafsirkan dan memberikan arah bagi terapi suntuk bergerak.

            Bitter dan Nicoll (2000) mengidentifikasi lima karakteristik yang membentuk dasar untuk kerangka integratif dalam terapi singkat: keterbatasan waktu, fokus, konselor resmi, gejala sebagai solusi, dan tugas-tugas perilaku. Membawa proses waktu-pembatasan terhadap terapi menyampaikan kepada klien harapan bahwa perubahan akan terjadi dalam waktu singkat. ketika jumlah sesi yang ditentukan, baik klien dan terapis termotivasi untuk tetap fokus pada hasil yang diinginkan dan untuk bekerja seefisien mungkin. karena tidak ada jaminan bahwa sesi masa depan akan terjadi, terapis singkat cenderung bertanya pada diri sendiri pertanyaan ini: "?  jika saya hanya punya satu sesi untuk menjadi berguna dalam kehidupan orang ini, apa yang akan saya ingin capai" (p.38).

            Konsep Adlerian saya menggambar pada kebanyakan dalam pekerjaan profesional saya adalah (1) pentingnya mencari tujuan hidup seseorang, termasuk bekerja menilai bagaimana tujuan-tujuan ini infuence individu; (2) fokus pada interpretasi individu dari pengalaman awal di keluarga, dengan titik berat khusus pada dampaknya saat ini; (3) penggunaan klinis dari ingatan awal di kedua asesmen dan pengobatan; (4) penggunaan mimpi sebagai latihan untuk tindakan di masa depan; (5) kebutuhan untuk memahami dan menghadapi kesalahan dasar; (6) penekanan kognitif, yang menyatakan bahwa emosi dan perilaku tersebut sangat dipengaruhi oleh keyakinan seseorang dan proses berpikir; (7) ide bekerja rencana aksi yang dirancang untuk membantu klien membuat perubahan; (8) hubungan kolaboratif, dimana efisien dan terapis bekerja menuju tujuan yang telah disepakati bersama; dan (9) penekanan diberikan dorongan selama proses konseling secara keseluruhan. Beberapa konsep Adlerian memiliki implikasi untuk pengembangan pribadi. salah satu gagasan ini yang telah membantu saya untuk memahami arah hidup saya adalah asumsi bahwa eelings rendah diri yang terkait dengan berjuang untuk keunggulan (corey, seperti dikutip dalamnystul, 1999a).

            Sulit untuk melebih-lebihkan kontribusi adler untuk praktek terapi kontemporer. banyak gagasanyangrevoutionarydan jauhdari waktu ke depan. Pengaruhnya melampaui individu konseling, memperluas ke dalam gerakan kesehatan mental masyarakat (Ansbacher, 1974). Abraham Maslow, Victor Frankl, rollo mungkin, aaront. beck, dan albert ellis memiliki semua mengakui utang mereka kepada adler. Baik Frankl dan mungkin melihat dia sebagai pelopor gerakan eksistensial karena posisinya bahwa manusia bebas untuk memilih dan bertanggung jawab penuh atas apa yang mereka membuat diri mereka. pandangan ini juga membuatnya pelopor dari psikologi subjektif pendekatan tp, yang berfokus pada faktor-faktor penentu internal perilaku: nilai-nilai, kepercayaan, sikap, tujuan, kepentingan, arti pribadi, persepsi subjektif dari realitas dan berusaha menuju realisasi diri.

            Menurut pendapat saya, salah satu kontribusi Adler yang paling penting adalah pengaruhnya pada sistem terapi lainnya. Banyak ide dasarnya telah menemukan cara mereka ke sekolah-sekolah psikologis lain, seperti pendekatan sistem keluarga, terapi gestalt, teori belajar, terapi realitas, terapi eksistensial, dan pendekatan postmodern terhadap terapi. Semua pendekatan ini didasarkan pada konsep serupa dari orang sebagai tujuan, menentukan diri, dan berjuang untuk pertumbuhan. dalam banyak hal, adler tampaknya telah membuka jalan bagi pembangunan umum baik dalam terapi kognitif dan konstruktif (watt, 2003). Adlerian ini premis dasar adalah bahwa jika klien dapat mengubah cara berpikir mereka maka mereka dapat mengubah perasaan dan perilaku mereka. Studi Theoris konseling kontemporer mengungkapkan bahwa banyak gagasan adler ini telah reppreared di pendekatan modern dengan nomen kl atur yang berbeda, dan sering kali tanpa memberikan adler kredit yang karena dia (watt, 1999; watt & Pietrzak, 2000 ;watt&Shulman, 2003). jelas bahwa ada keterkaitan signifikan teori Adlerian dengan sebagian besar teori hari ini. Carlson dan Englar-carlson (2008) menegaskan bahwa adlerian menghadapi tantangan terus mengembangkan pendekatan mereka sehingga memenuhi kebutuhan masyarakat global kontemporer: "sedangkan ide Adlerian hidup dalam pendekatan teoretis lain, ada pertanyaan tentang apakah teori Adlerian sebagai pendekatan yang berdiri sendiri yang layak dalam jangka panjang" (hal.133).

penulis ini percaya bahwa untuk model Adlerian untuk bertahan hidup dan berkembang, maka akan diperlukan untuk menemukan cara untuk berjuang untuk signifikansi.

Kekurangan Dari Keanekaragaman Perspektif

Seperti halnya sebagian besar model barat, pendekatan Adlerian cenderung untuk fokus pada diri sebagai lokus perubahan dan tanggung jawab. karena budaya lain memiliki konsep berbeda, penekanan utama ini pada mengubah diri otonom mungkin menjadi masalah bagi banyak klien. asumsi tentang keluarga inti Barat yang dibangun ke dalam konsep Adlerian dari urutan kelahiran dan keluarga konteks, beberapa gagasan ini mungkin kurang relevan atau setidaknya mungkin perlu dikonfigurasi ulang.
            Teori Adlerian memiliki beberapa kelemahan potensi budaya-budaya yang tidak tertarik untuk menjelajahi pengalaman masa lalu masa kanak-kanak, kenangan awal, pengalaman keluarga, dan impian. Pendekatan ini juga memiliki keterbatasan efektis dengan clientss yang nnot memahami purposeof exporing rincian analisis gaya hidup ketika berhadapan dengan masalah kehidupan saat ini (Arciniega & newlon, 2003). di samping itu, budaya beberapa klien dapat menyebabkan mereka melihat konselor sebagai "ahli" dan mengharapkan bahwa konselor akan memberikan mereka withh solusi untuk masalah mereka. untuk klien ini, peran terapis Adlerian dapat menimbulkan masalah karena terapis Adlerian adalah nt ahli dalam Soling masalah orang lain. sebaliknya, mereka melihatnya sebagai fungsi mereka untuk mengajar orang metode alternatif mengatasi masalah kehidupan.

            Banyak klien yang memiliki masalah mendesak cenderung ragu-ragu untuk mendiskusikan bidang kehidupan mereka bahwa mereka mungkin nnot lihat sebagai terhubung ke strugges yang membawa mereka ke terapi. individu dapat percaya bahwa itu adalah tidak pantas untuk mengungkapkan informasi famlily. dalam hal ini carlson dan carlson (2000) menunjukkan bahwa sensitivitas terapis dan pemahaman clents secara budaya dibangun keyakinan tentang mengungkapkan informasi keluarga sangat penting. jika terapis mampu menunjukkan pemahaman tentang nilai-nilai budaya klien, saya kemungkinan bahwa klien ini akan lebih terbuka untuk proses asesmen dan pengobatan. masih, jim pahit (komunikasi pribadi, 17 Februari 2007) telah mencatat bahwa ketika ia bekerja untuk pertama kalinya dalam sebuah budaya baru dan berbeda, ia akes rata-rata sekitar lima kesalahan sehari. menurut pendapat saya, apa yang lebih penting daripada melakukan kesalahan adalah bagaimana kita memulihkan dari mereka.

a)      Kelebihan

1.      Keyakinan yang optimistis bahwa setiap orang dapat berubah untuk mencapai sesuatu ke arah evolus manusia bersifat positif

2.      Penekanan hubungan konseling sebagai suatu media untuk mengubah klien

3.      Menekan bahwa masyarakat tidak sakit atau salah akan tetapi manusianya yang sakit atau salah.

4.      Menekan bahwa kekuatan sebagai pusat pendorong prilaku

5.      Gagasan ini banyakmempengaruhi pendekatan – pendekatan lain

6.      Berorientasi humanistic

7.      Tingkah lakunya berarah tujuan

8.      Lebih menekankan pada asepek – aspek psikologis sosial

9.      Dasarnya dirancang dalam latar belakang kelompok

10.  Konsep – konsep dasar dan prosedur serta terapnya mudah diikuti

11.  Modelnya dibangun dengan lebih memperdulikan kesesuaiannya untuk menangani orang – orang normal yang bermasalah dari pada terhadap orang – orang yang menderita psikosa.

 

b)      Kelemahan

1.       Terlalu banyak menekankanpada tilikan intelektual dalam upaya perubahan

2.       Penekanan yang berlebihan pada pengalaman nilai, minat subjektif sebagai penentu prilaku

3.       Meminimalkan factor biologis dan riwayat masa lalu

4.       Terlalu banyak  menekan kan tanggung jawab pada ketrampilan diagnostik konselor

5.       Dari segi presesi kemungkinan untuk di tes dan validitas empiriknya pada pendekatan ini lemah (kurang teliti)

6.       Ada kecenderungan untuk menyederhanakan secara berlebihan terhadap beberapa masalah manusia yang kompleks

 

Batasan dan Kritik Pendekatan Adlerian

Adler harus memilih antara mencurahkan waktu untuk meresmikan teori dan mengajar orang lain konsep dasar psikologi individu. diap; nilai praktek bagus dan mengajar sebelum orginisir dan menyajikan teori yang jelas dan sistematis. sebagai hasilnya, presentasi tertulisnya seringkali sulit untuk diikuti, dan banyak dari mereka adalah transkrip dari ceramah yang dia berikan. awalnya, banyak orang mempertimbangkan ide-idenya agak longgar sederhana.

            Penelitian yang mendukung efektifitas teori Adlerian terbatas tapi telah meningkat selama 25 tahun terakhir (watt &shullman, 2003). Namun, sebagian besar dari teori masih memerlukan pengujian empiris dan analisis komparatif. Teori ini terutama berlaku di daerah konseptual yang adlerian menerima sebagai aksiomatik: misalnya, perkembangan gaya hidup; kesatuan kepribadian dan penerimaan pandangan tunggal diri; penolakan keunggulan hereditas dalam menentukan perilaku, perilaku terutama patologis; dan kegunaan dari beberapa intervensi yang digunakan oleh berbagai adlerian.

  BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Adler dibesarkan di kota, situasi dan kondisi dan pekerjaan yang sama dengan Freud, bahkan dia awalnya adalah pengikut dari aliran Freud. Namun, berkat pengalaman serta belajar dalam menangani dan mengamati perilaku pasiennya, Adler mematahkan pendapat dari Freud tentang perilaku manusia, sehingga mempunyai nilai lebih dalam teorinya.

Teori individual Adler ini memang lebih berupaya membuat manusia sadar bahwa manusia adalah makhluk yang berguna, berdaya serta memiliki rasa sosial yang kuat.Teori Adler memiliki kekuatan dalam memprediksi perilaku manusia melalui tujuan dari hasil perilaku yang diperbuatnya, sebagai tujuan akhir dari gambaran diri manusia. Hal ini dapat membangkitkan semangat dan gaya hidup manusia dalam melakukan aktivitasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                            DAFTAR PUSTAKA

 

Suryabrata, Sumardi. 2013. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Rajawali Pers

Yusuf, Syamsu. 2008. Teori Kepribadian. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Koratno, Dwi. 2013. Teori-Teori Kepribadian Psikoanalitik Kontemporer-1.Yogyakarta : Kanisius (Anggota IKAPI)

 

Corey, Gerald. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psychoteraphy. USA: Thomson Higher Education

 

makalah aspek manajemen organisasi

makalah aspek manajemen organisasi  BAB I PENDAHULUAN   Manajemen secara umum diartikan sebagai ‘pengaturan’, artinya manajemen adalah...