BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Proses
pendidikan dari masa ke masa terus melakukan inovasi, sesuai dengan
perkembangan dan kemampuan manusia itu sendiri, sehingga pendidikan mengalami
kemajuan yang cukup pesat. Hal ini terbukti dengan adanya penemuan ilmu
pengetahuan baru, yang sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan selalu bersifat
maju dan berorientasi ke depan. Dalam perkembangannya pendidikan berorientasi
pada perkembangan potensi manusia, dan tidak lagi memusatkan pada kemampuan
teknikal dalam melakukan eksplorasi dan ekploitasi alam.
Dalam
proses pembelajaran, terdapat 5 komponen penting, yaitu tujuan, penddik,
peserta didik, materi, dan evaluasi. Kelima aspek tersebut merupakan satu
kesatuan yang membentuk lingkungan pembelajaran. Pembelajaran disebut efektif
bila dapat memfasilitasi peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
ditentukan. Pengajar perlu menyusun strategi yang sesuai dengan karakteristik
peserta didik dan mampu membuatnya mencapai kompetensi yang ditentukan dalam
tujuan pembelajaran.
Dalam
kreativitas pembelajaran, berkait erat keinginan dan usaha. Untuk menghasilkan
sesuatu yang kreatif diperlukan usaha. Kreativitas menghasilkan sesuatu yang
berbeda dari yang telah ada. Orang yang kreatif berusaha mencari sesuatu yang
baru dan memberikan alternatif terhadap sesuatu yang talah ada. Pemikir kreatif
tidak pernah puas terhadap apa yang telah ada atau ditemukan sebelumnya. Mereka
selalu ingin menemukan sesuatu yang lebih baik dan lebih efisien. Kreativitas
lebih memerlukan evaluasi internal dibandingkan eksternal. Pemikir kreatif
harus percaya pada standar yang telah ditentukan sendiri. Kreativitas meliputi
ide yang tidak dibatasi. Pemikir kreatif harus bisa melihat suatu masalah dari
berbagai aspek (sudut pandang) dan menghasilkan solusi yang baru dan tentang
pentingnya penerapan strategi-startegi pembelajaran yang dapat
meningkatkan kecakapan berpikir kreatif siswa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Strategi Pembelajaran Berbasis
Masalah
Menurut Jodion Siburian, dkk dalam Panduan Materi Pembelajaran Model
Pembelajaran Sains (2010:174) sebagai berikut: Pembelajaran berbasis masalah
(problem based learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang
berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran artinya dihadapkan
pada suatu masalah, yang kemudian dengan melalui pemecahan masalah, melalui
masalah tersebut siswa belajar keterampil-keterampilan yang lebih mendasar.
Menurut Muslimin I dalam Boud dan Felleti
(2000:7), Pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning) adalah
suatu pendekatan untuk membelajarkan siswa untuk mengembangkan keterampilan
berfikir dan keterampilan memecahkan masalah, belajar peranan orang dewasa yang
otentik serta menjadi pelajar mandiri. Pembelajaran berdasarkan masalah tidak
dirancang untuk membantu guru memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya
kepada siswa, akan tetapi pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk
membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan
keterampilan intelektual, belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan
mereka dalam pengalaman nyata dan menjadi pembelajaran yang mandiri.
Model pembelajaran berbasis masalah adalah
sebuah model pembelajaran yang dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan
berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh siswa
yang diharapkan dapat menambah keterampilan siswa dalam pencapaian materi
pembelajaran.
Bern dan Eriction (2001: 5) menegaskan bahwa
pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) merupakan strategi pembelajaran
yang melibatkan siswa dalam memecahkan masalah dengan mengintegrasikan berbagai
konsep dan keterampilan dari berbagai disiplin ilmu. Strategi ini meliputi
mengumpulkan dan menyatukan informasi, dan mempersentasikan penemuan. Strategi
pembelajaran menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa
untuk belajar tentang berpikir kritis dan keterampilan pemacahan masalah, serta
untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari mata pelajaran. Dalam
hal ini siswa terlibat dalam penyelidikan untuk memecahkan masalah yang
mengintegrasikan keterampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran.
Strategi ini mencakup pengumpulkan informasi berkaitan dengan pertanyaan,
menyintesa, dan mempresentasikan
penemuannya kepada orang lain.
Bern dan Erickson menegaskan bahwa pembelajaran
berbasis masalah (problem-based learning) merupakan strategi pembelajaran yang
melibatkan siswa dalam memecahkan masalah dengan mengintegrasikan berbagai
konsep dan keterampilan dari berbagai disiplin ilmu. Strategi ini meliputi
mengumpulkan informasi, dan mempresentasikan penemuan.[1]
Dalam penerapan Strategi Pembelajaran Berbasis
Masalah (SPBM). Dalam penerpn strategi ini guru memeberikan kesempatan kepada
siswa untuk menetapkan topik masalah, walaupun sebenarnya guru sudah
mempersiapkan agar siswa mampu menyelesaikan maslah secara sistematis dan
logis.
Dilihat dari aspek psikologi belajar SPMB
bersandarkan kepada psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar
adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Belajar bukan
semata-mata proses menghafal sejumlah fakta, tetapi suatu proses interaksi
secara sadar antara individu dengan lingkungannya. Melalui proses ini sedikit
demi sedikit siswa akan berkembang secara utuh. Artinya, perkembangan siswa
tidak hanya terjadi pada aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan
psikomotor melalui pernghayatan secara internal akan problema yang dihadapi.
Di lihat dari aspek fisilofis tentang fungsi
sekolah sebagai arena atau wadah untuk mempersipakan anak didik agar dapat
hidup di masyarakat, maka SPBM merupakan strategi yang memungkinkan dan sangat
penting unuk dikembangkan. Hal ini sebabkan pada kenyataannya manusia akan
dihadapkan kepada masalah. SPBM inilah diharapkan dapat memberikan latihan dan
kemampuan setiap individu untuk dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
Dilihat dari konteks perbaikan kualitas
pendidikan, maka SPBM merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat
digunakan untuk memperbaiki sistem pembelajaran. Kita menyadari selama ini
kemampuan siswa untuk dapat menyelesaikan masalah kurang diperhatikan oleh
setiap guru. Akibatnya, manakala siswa menghadapi masalah, walaupun masalah itu
dianggap sepele, banyak siswa yang tidak dapat menyelesaikannya dengan baik.
SPBM dapat diartikan sebagai rangkaian
aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang
dihadapi secara ilmiah. Terdapat 3 ciri utama dari SPBM. Pertama, SPBM
merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi SPBM ada
sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. SPBM tidak diharapkan siswa hanya
sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan
tetapi melalui SPBM siswa aktif berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah
data dan akhirnya menyimpulkan. Kedua, aktivitas pembelajran diarahkan untuk
menyelesaikan masalah. SPBM menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses
pembelajran. Artinya tanpa masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.
Ketiga, peecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir
secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir
deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan
empiris. Sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan
tertentu, sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasrkan pada
data dan fakta yang jelas.
Untuk mengimplementasikan SPBM, guru perlu
memilih bahan pelajaran yang memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan.
Permasalahan tersebut bisa diambil dari buku teks atau dari sumber-sumber lain
misalnya dari peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, dari peristiwa
dalam keluargaatau dari peristiwa kemasyarakatan.
Strategi pembelajaran dengan pemecahan masalah
dapat diterapkan :
a)
Manakala guru menginginkan agar siswa tidak
hanya sekedar dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan
memahaminya secara penuh.
b)
Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan
keterampilan berpikir rasional siswa, yaitu kemapuan menganalisi situasi, menerapkan
pengetahuan yang mereka miliki dan situasi baru, mengenal adanya perbedaan
antara fakta dan pendapat, serta mengembangkan kemampuan dalam membuat judgment
secar objektif.
c)
Manakala guru menginginkan kemampuan siswa
untuk memecahkan masalah serta membuat tantangan intelektual siswa.
d)
Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih
bertanggung jawab dalam belajarnya.
e)
Jika guru inginagar siswa memahami hubungan
anatar apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupan nya (hubungan antar
teori dengan kenyataan. )
B.
Hakikat Masalah dalam SPBM
Antara strategi pembelajaran inkuiri (SPI) dan strategi pembelajaran
berbasis masalah (SPBM) memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut terletak pada
jenis masalah serta tujuan yang ingin di capai.
Berbeda dengan SPI, masalah dalam SPBM adalah masalah yang bersifat
terbuka. Artinya jawaban dari masalah tersebut belum pasti. Setiap siswa bahkan
guru dapat mengembangkan kemungkinan jawaban. Denagn demikian, SPBM memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berekplorasi mengumpulkan dan menganalisis data
secar lengkap untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Tujuan yang ingin dicapai
oleh SPBM adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis, analitis, sistematis
dan logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data
secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah.
Hakikat masalah dalam SPBM adalah gap atau kesenjangan antara situasi
nyata dan kondisi yang diharapkan, atau antar kenyataan yang terjadi dengan apa
yang diharapkan. Kesenjangan tersebut bisa dirasakan dari adanya keresahan,
keluhan dan kerisauan atau kecemasan.[2]
Oleh karena itu, maka materi pelajaran atau topik tidak terbatas pada materi
pelajaran yang bersumber dari buku saja, akan tetapi juga dapat juga bersumber
dari peristiwa-peristiwa tertentu sesuai denagn kurikulum yang berlaku. Dibawah
ini diberikan kriteria pemilihan bahan pelajaran SPBM.
1.
Bahan pelajaran harus
mengandung isu-isu yang mengandung konflik (conflict issue) yang bisa bersumber
dari berita, rekaman video, dan yang lainnya.
2.
Bahan yang dipilih
adalah bahan yang bersifat familiar (akrab) dengan siswa, sehingga setiap siswa
dapat mengikutinya dengan baik.
3.
Bahan yang dipilih
merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak (universal),
sehingga terasa manfaatnya.
4.
Bahan yang dipilih
merupakan bahan yang mendukung tujuan atau kompetensi yang harus dimiliki oleh
siswa sesuai dengan kurikulum berlaku.
5.
Bahan yang dipilih
sesuai dengan minat siswa sehingga setiap siswa merasa perlu untuk
mempelajarinya.
C.
Pendekatan Belajar Berbasis Masalah
Belajar Berbasis masalah adalah salah satu bentuk pembelajaran ynag
berlandaskan para paradiqma konstruktivisme, yang berorientasi pada proses
belajar siswa(student-centerned-learning). PBL (problem Based Learning)
merupakan model pembelajaran yang sangat popular dalam dunia kedokteran sejak
1970-an. PBL berfokus pada penyajian suatu permasalahan (nyata atau simulasi)
kepada siswa, kemudian siswa dimintai mencari pemecahannya melalui serangkaian
penelitian dan investigasi berdasarkan teori, konsep, prinsip yang dipeljarinya
dari berbagai bidang ilmu (multiple perspective). Permasalahan menjadi focus,
stimulus, dan pemandu proses belajar. Sementara, guru menjadi fasilitator dan
pembimbing. PBL mempuanyai banyak variasi, diantaranya terdapat 5 bentuk
belajar berbasis masalah, yaitu:
1.
Permasalahan sebagai
pemandu: masalah menjadi acuan kongkret yang harus menjadi perhatian pemelajar.
Bacaan diberikan sejalan dengan masalah. Masalah menjadi kerangka berfikir
pemelajar dalam mengerjakan tugas.
2.
Permasalahan sebagai
kesatuan dan alat evaluasi: masalah disajikan setelah tugas-tugas dan
penjelasan diberikan. Tujuannya diberikan kesempatan bagi pemelajar untuk
menerapkan pengetahuannya untuk memecahkan masalah
3.
Permasalahan sebagai
contoh: masalah dijadikan contoh dan bagian dari bahan belajar. Masalah
digunakan untuk menggambarkan teori, konsep dan prinsip dan dibahas antara
pemelajar dan guru.
4.
Permasalahan sebagai
fasilitasi proses belajar: masalah dijadikan alat untuk melatih pemelajar
bernalar dan berfikir kritis.
5.
Permasalahan sebagai
stimulus belajar: masalah merangsang pemelajar untuk mengembangkan keterampilan
mengumpulkan dan menganalisis data yang berkaitan dengan masalah dan
keterampilan metakognitif.
Definisi pendekatan belajar berbasis masalah adalah suatu lingkungan
belajar di mana masalah mengendalikan proses belajar mengajar. Hal ini berarti
sebelum pelajar belajar, mereka diberikan umpan berupa masalah. Masalah
diajukan agar pelajar mengetahui bahwa mereka memecahkan masalah tersebut.
Pendekatan ini juga mencakup keduanya itu yaitu sebagai sebuah kurikulum
dan sebuah proses. Kurikulum pemelajaran berbasis masalah terdiri atas
masalah-masalah yang dirancang dan dipilih dengan teliti, yang menuntut
kemahiran pembelajar dalam critical knowledge, problem solving proficiency,
self-directed learning strategis dan team participation skills. Dalam prosenya,
pendekatan belajar berbasis masalah ini meniru pendekatan system yang biasa
digunakan untuk memecahkan masalah atau menemukan tantangan-tantangan yang
dihadapi dalam hidup dan karir (Borrows dan Kelson). Para ahli lainnya
mengemukakan bahwa, pendekatan berbasis masalah adalah suatu pendekatan untuk
membentk struktur kurikulum yang melibatkan pelajar menghadapi masalah dengan
latihan yang memberikan stimulus untuk belajar (Boud dan Feletti). Pendekatan
ini juga merupakan suatu pengajaran yang menantang pelajar untuk “learn to
learn”, bekerjasama dalam sebuah group untuk mencari solusi dari
masalah-masalah yang nyata didunia ini. Masalah-masalah ini digunakan untuk
menarik rasa keingintahuan pelajar dan menginisiasikan pokok-pokok perkara.
Metode ini mempersiapkan pelajar untuk berfikir kritis dan analitis, serta
untuk menemukan san menggunakan sumber-sumber belajar
Terdapat sejumlah tujuan dari problem based learning ini. Berdasarkan
Barrows, Tamblyn (1980) dan Engel (1977), problem based learning dapat
meningkatkan kedisiplinan dan kesuksesan dalam hal (1) adaptasi dan partisipasi
dalam suatu perubahan, (2) aplikasi dari pemecahan masalah dalm situasi yang
baru atau yang akan dating, (3) pemikiran yang kreatif dan kritis, (4) adopsi
data holistic untuk masalah-masalah dan situasi-situasi, (5) apresiasi dari
beagam cara pandang, (6) kolaborasi tim yang sukses, (7) identifikasi dalam
mempelajari kelemahan dan kekuatan, (8) kemajuan mengarahkan diri sendiri, (9)
kemampuan komunikasi yang efektif, (10) uraian dasar-dasar atau argumentasi
pengetahuan, (11) kemampuan dalam kepemimpinan, dan (12) pemanfaatan
sumber-sumber yang bervariasi dan relevan.[3]
D.
Tahapan- tahapan SPBM
Banyak ahli yang menjelaskan bentuk penerapan SPBM. John Dewey seorang 6
langkah SPBM yang kemudian dia namakan metode pemecahan masalah (problem
solving), yaitu :
a.
Merumuskan masalah
yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan.
b.
Menganalisis masalah,
yaitu langkah siswa meninjau masalah secar kritis dari berbagai sudut pandang.
c.
Merumuskan hipotesis
yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan
pengetahuan yang dimilikinya.
d.
Mengumpulkan data,
yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk
pemecahan masalah.
e.
Pengujian hipotesis,
yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan
penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.
f.
Merumuskan rekomendasi
pemecahan masalah yang dapat dilakukan sesuia rumusan hasil pengujian hipotesis
dan rumusan kesimpulan.
Sesuai dengan tujuan SPBM adalah untuk menumbuhkan sikap ilmiah, dari
beberapa bentuk SPBM yang dikemukakan para ahli, maka secara umum SPBM bisa
dilakukan dengan langkah-langkah :[4]
1.
Menyadari Masalah
Implemanatsi SPBM adalah harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah
yang harus di pecakan. Pada tahapan ini guru membimbing siswa pada kesadaran
adanya kesenjanagn atau gap yang dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial.
Kemampuan yang harus dicapai oleh siswa pada tahapan ini adalah siswa dapat
menentukan atau menangkap kesenjangan yang terjadi dari berbagai fenomena yang
ada. Mungkin pada tahap ini siswa dapat menemukan lebih dari satu, akan tetapi
guru dapat mendorong siswa agar menentukan satu atau dua kesenjangan yang
pantas untuk dikaji baik melalui kelompok kecil atau bahkan individual.
2.
Merumuskan Masalah
Bahan pelajaran dalam bentuk topik yang dapat dicari dari kesenjangan,
slanjutnya difokuskan pada masalah apa yang pantas untuk dikaji. Rumusan
masalah sangat penting, sebab selanjutnya akan berhubungan dengan kejelasan dan
kesamaan persepsi tentang masalah dan berkaitan dengan data-data apa yang harus
dikumpulkan untuk menyelesaikannya. Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam
langkah ini adalah siswa dapat menentukan prioritas masalah. Siswa dapat
memanfaatkan pengetahuanya untuk mengkaji, memerinci, dan menganalisis masalah
sehingga pada akhirnya muncul rumusan masalah yang jelas, spesifik, dan dapat
dipecahkan.
3.
Merumuskan Hipotesis
Sebagai proses berpikir ilmiah yang merupakan perpaduan dari berpikir
deduktif dan induktif, maka merumuskan hipotesis merupakan langkah penting yang
tidak boleh ditinggalkan.
4.
Mengumpulkan Data
Yaitu sebagai proses berpikir empiris, keberadaan data dalam proses
berpikir ilmiah merupakan hal yang sangat penting. Sebab, menentukan cara
menyelesaikan masalah sesuai dengan hipotesis yang diajukan harus diajukan
sesuai dengan data yang ada. Kemampuan yang diharapkan pada tahap ini adalah
kecakapan siswa untuk mengumpulkan dan memilah data, kemudian memetakan dan
menyajikan dalam berbagai tampilan sehingga mudah dipahami.
5.
Menguji hipotesis
Berdasarkan data yang dikumplkan, akhirnya siswa mengumpulkan hipotesis
mana yang diterima dan mana yang ditolak kemampuan yang diharapkan dari siswa
dalam tahapan ini adalah kecakapan menelaah data dan sekaligus membahasnya
untuk melihat hubungannya dengan masalah yang dikaji. Disamping itu, diharapkan
siswa dapat mengambil keputusan dan mengambil kesimpulan.
6.
Menentukan pilihan
penyelesaian
Merupakan akhir dari proses SPBM. Kemampuan diharapkan dari tahapan ini
adalah kecakapan memilih alternatif penyelesaian yang memungkinkan dapat
dilakukan serta dapat memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi sehubungan
dengan alternatif yang dipilihnya, termasuk memperhitungkan akibat yang akan
terjadi pada pilihannya.
E.
Keunggulan dan kelemahan SPBM
1.
Keunggulan
Sebagai suatu strategi pembelajaran, SPBM memiliki beberapa keunggulan
diantaranya.
1) Pemecahan masalah (problem solving) merupaka teknik yang cukup bagus
untuk lebih memahami isi pelajaran.
2) Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta
dapat memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
3) Pemecahan masalah (roblem solving) dapat meningkatkan aktifitas
pembelajaran siswa.
4) Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaiman
mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan masalah.
5) Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk
mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang
mereka lakukan. Disamping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk
melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
6) Melalui pemecahan masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada
siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika,ipa, sejarah dan lain sebagainya)
pada dasarnya merupakan cara berfikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh
siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
7) Pemeccahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan
disukai siswa.
8) Pemecahan masalah(problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa
untuk berfikir kritis dan mengembangkan
kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
9) Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada
siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
10) Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk
secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah
berakhir.
2.
Kelemahan
Disamping keunggulan, SPBM juga memiliki kelemahan,
diantaranya:
1) Mana kala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan
bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa
enggan untuk mencoba.
2) Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan
cukup waktu untuk persiapan
3) Tanpa pemahaman maka mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang
dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.[5]
F.
Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Problem-Based Intruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang
bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan
memfasilitasi penyelidikan dan dialog
Beberapa tahapan yang perlu guru lalui dalam pembelajaran berbasis
masalah adalah :
·
Guru menjelaskan
tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat
dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
·
Guru membantu siswa
mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan
masalah tersebut ( menetapkan topik,tugas jadwal, dan lain-lain).
·
Guru mendorong siswa
untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen
untukmendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah,pengumpulan data, hipotesis,
pemcahan masalah.
·
Guru membantu siswa
dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan
membantu mereka berbagi tugas denagn temannya.
·
Guru membantu siswa
untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan
proses-proses yang mereka gunakan.
G.
Tujuan dan langkah-langkah Pembelajaran
Berbasis Masalah
Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) bertujuan membantu
siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah,
belajar peranan orang dewasa yang otentik dan menjadi pelajar yang mandiri.
1.
Ciri-ciri utama
pembelajaran berbasis masalah meliputi :
Menurut Arends, berbagai pengembangan pengajaran berdasarkan masalah
telah memberikan model pengajaran itu memiliki karakteristik sebagai berikut:
a)
Pengajuan pertanyaan
atau masalah. Bukannya mengorganisasikan di sekitar prinsip-prinsip atau
keterampilan akademik tertentu, pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan
pengajaran disekitar pertanyaan dan masalah yang dua-duanya secara sosial
penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa.
b)
Berfokus pada
keterkaitan antar disiplin. Meskipun pembelajaran berbasis masalah ungkin
berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika , ilmu-ilmu sosial),
masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam
pemecahannya, siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.
c)
Penyelidikan
autentik. Pembelajaran berbasis masalah mengharuskan siswa melakukan
penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata.
Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis,
dan membuat ramalan, mengumpul dan menganalisa informasi, melakukan eksperimen
(jika diperlukan), membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan. Sudah barang
tentu, metode penyelidikan yang digunakan, bergantung kepada masalah yang
sedang dipelajari.
d)
Menghasilkan produk
dan memamerkannya. Pembelajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk
menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artifak dan peragaan
yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan.
e)
Kolaborasi.
Pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu
dengan yang lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok
kecil. Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat
dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan
dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.
H.
Manfaat Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran berbasis masalah tidak dirancang untuk membantu guru
memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pembelajaran berbasis
masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir,
pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual;belajar berbagai peran orang
dewasa melalui pelibatan meeka dalam pengalaman nyata atau simulasi dan menjadi
pebelajar yang otonom dan mandiri.
Menurut sudjana, manfaat khusus yang diperoleh dari metode dewey adalah
metode pemecahan masalah. Tugas guru adalah membantu para siswa merumuskan
tugas-tugas, dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran. Objek pelajaran tidak
dipelajari dari buku, tetapi masalah yang ada disekitarnya.
I.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis
Masalah
Menurut Boud dan Felleti pembelajaran berbasis masalah (problem based
learning) adalah suatu pendekatan untuk membelajarkan siswa untuk mengembangkan
keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, belajar peranan
orang dewasa yang otentik serta menjadi pelajar yang mandiri. Pembelajaran
berbasis masalah tidak di rancang untuk membantu guru memberikan informasi
sebanyak-banyaknya kepada siswa, akan tetapi pembelajaran berbasis masalah
dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan
masalah, dan keterampilan intelektualnya, belajar berbagai peran orang dewasa
melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi dan menjadi
pembelajaran yan mandiri.
1.
Pelaksanaan
pembelajaran berbasis masalah
a)
Tugas perencanaan.
Pembelajaran berbasis masalah memerlukan banyak perencanaan seperti halnya
model-model pembelajaran yang berpusat pada siswa lainnya.
b)
Penetapan tujuan. Pertama
mendeskripsikan bagaimana pembelajaran berbasis masalah direncanakan untuk
membantu tercapainya tujuan-tujuan tertentu misalnya keterampilan menyelidiki,
memahami peran orang dewasa dan membantu siswa menjadi pebelajar yang mandiri.
c)
Merancang situasi
masalah. Dalam pembelajaran berbasis masalah guru memberikan kebebasan siswa
untuk memilih masalah yang akan diselidiki, karena cara ini meningkatkan
motivasi siswa. Masalah sebaiknya
otentik, mengandung teka-teki dan tidak terdefinisikan secara ketat,
memungkinkan kerja sama, bermakna dan konsisten dengan tujuan kurikulum.
d)
Organisasi sumber
daya dan rencana logistik. Dalam pembelajaran berbasis masalah guru
mengorganisasikan sumber daya dan merencanakan keperluan untuk keperluan
penyelidikan siswa karena dalam model pembelajaran ini dimungkinkan siswa
bekerja dengan beragam material dan peralatan, pelaksanaan dapat dilakukan
didalam maupun di luar kelas.
2.
Tugas interaktif
a)
Orientasi siswa pada
masalah. Siswa perlu memeahami bahwa pemeblajaran berbasis masalah adalah
kegiatan penyeidikan terhadap masalah-masalah yang penting dan untuk menjadi
pelajar yang mandiri. Oleh karena itu cara yang baik dalam menyajikan masalah
adalah dengan menggunakan kejadian-kejadian yang mencengangkan dan menimbulkan
misteri sehingga merangsang untuk memecahkan masalah tersebut.
b)
Mengorganisasikan
siswa untuk belajar. Dalam pembelajarn berbasis masalah siswa memerlukan
bantuan guru untuk merencanakan penyelidikan dan tugas-tugas pelaporan.
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif juga berlaku untuk
mengorganisasikan siswa kedalam kelompok pembelajaran berbasis masalah.
c)
Membantu penyelidikan
mandiri dan kelompok. (1) guru membantu siswa dalam pegumpulan informasi dari
berbagai sumber, siswa diberi pertanyaan dan membuat siswa memikirkan masalah
dan jenis informasi yang dibutuhkan untuk pemecahan masalah sehingga siswa
diajarkan menjadi penyelidik yang katif dan dapat menggunakan metode yang
sesuai untuk memecahkan masalah tersebut. (2) guru mendorong pertukaran ide
secara bebas dan penerimaan sepenuhnya ide-ide tersebut. (3) puncak kegiatan
pembelajaran berbasis masalah adalah penciptaan dan peragaan seperti poster,
videotape dan lain sebagainya.
3.
Analisis dalam
evaluasi proses pemecahan masalah.
Tugas guru pada tahp akhir pembelajaran berbasis
masalah adalah membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir
mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan yang mereka gunakan.[6]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulam
Beberapa bahasan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa dari
beberapa ahli diantaranya Menurut Jodion Siburian, dkk Muslimin I dalam Boud dan Felleti, Bern dan
Eriction. hampir sama menjelaskan bahwa SPBM merupakan salah satu model
pembelajaran yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran
dihadapkan pada suatu masalah, yang kemudian dengan melalui pemecahan masalah,
melalui masalah tersebut siswa belajar keterampil-keterampilan yang lebih
mendasar.
Hanya saja Muslimin I dalam Boud dan Felleti (2000:7), Bern dan
Eriction (2001: 5) menambahkan bahwa SPMB juga memberikan keterampilan berfikir
dan keterampilan memecahkan masalah, belajar peranan orang dewasa yang otentik
serta menjadi pelajar mandiri
Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu
guru memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya kepada siswa, akan tetapi
pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan
kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektual, belajar
berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata dan
menjadi pembelajaran yang mandiri.
Kemudian Bern dan Eriction SPBM merupakan strategi pembelajaran
yang melibatkan siswa dalam memecahkan masalah dengan mengintegrasikan berbagai
konsep dan keterampilan dari berbagai disiplin ilmu. Strategi ini meliputi
mengumpulkan dan menyatukan informasi, dan mempersentasikan penemuan.
DAFTAR
PUSTAKA
Eveline Siregar dkk, Teori Belajar dan Pembalajaran, Ghalia
Indonesia: Bogor, 2010.
Kokom Komalasari, Pembelajaran Kontekstual konsep dan aplikasi,
Revika Aditama: Bandung, cet-3, 2013.
Mohammad Jauhar, Implementasi PAIKEM, Prestasi Pustakaray,
2011, Jakarta.
Nanang Hanafiah dan Cucu Suhada, Konsep Strategi Pembelajaran. Cet
ketiga. Bandung: PT Refika Aditama, 2012.
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar
Mengajar. Cet kedua Jakarta: PT Reneka Cipta, 2002
Warsono, Pembelajaran Aktif Teori dan Asesmen Bandung; PT
Remaja Rosdakarya. 2013.
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan, Jakarta: Preneda Sanjaya, 2011.
[1] Kokom Komalasari, Pembelajaran Kontekstual konsep dan aplikasi,
Revika Aditama: Bandung, cet-3, 2013, hal. 59
[2] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar
Mengajar. Cet kedua (Jakarta: PT Reneka Cipta, 2002). Hlm. 1-2
[3] Eveline Siregar dkk, Teori Belajar dan Pembalajaran, Ghalia
Indonesia: Bogor, 2010, hal. 120-121
[4] Nanang Hanafiah dan Cucu Suhada, Konsep Strategi Pembelajaran. Cet
ketiga. (Bandung: PT Refika Aditama, 2012) Hlm. 20.
[5] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan, (Jakarta: Preneda Sanjaya, 2011). Hlm. 214-221.
[6] Mohammad Jauhar, Implementasi PAIKEM, Prestasi Pustakaray,
2011, Jakarta. Hlm 86-91