BAB I
PENDAHULUAN
Kebudayaan yang hidup pada suatu masyarakat, pada dasarnya merupakan
gambaran dari pola pikir, tingkah laku, dan nilai yang dianut oleh masyarakat.
Dari sudut pandang ini, agama disatu sisi memberikan kontribusi terhadap
nilai-nilai budaya yang ada, sehingga agama pun bisa berjalan atau bahkan
akomodatif dengan nilai-nilai budaya yang sedang dianutnya.
Pada sisi lain, karena agama sebagai wahyu dan memiliki kebenaran yang
mutlak, maka agama tidak bisa disejajarkan dengan nilai-nilai budaya setempat,
bahkan agama harus menjadi sumber nilai bagi kelangsungan nilai-nilai budaya
itu. Disinilah terjadi hubungan timbal balik antara agama dengan budaya.
Persoalanya adalah apakah agama lebih dominan mempengaruhi terhadap budaya,
atau sebaliknya apakah budaya lebih dominan
mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku manusia dalam kehidupan masyarakat.
Dalam kajian sosiologi, baik agama maupun budaya merupakan bagian dari
kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat
ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.
BAB II
PEMBAHASAN
GLOBALISASI BUDAYA DAN JIWA KEAGAMAAN
A. Pengertian Budaya Globalisasi
Globalisasi
yang datang pada paroh dasawarsa 1970-an, bukanlah sebuah konsep tunggal untuk
menjelaskan sebuah fenomena tunggal. Pada kenyataannya, banyak versi tentang
globalisasi tetapi sebagai sebuah generalisasi, globalisasi adalah paradoks,
dan paradoks ini tercipta sebagai akibat hadirnya di dalam ruang-waktu yang
sama dalam skala global dua sifat yang saling bertentangan satu sama lainnya
secara kontradiktif: homogenisasi/ heterogenisasi, penyeragaman/ keberanearagaman,
unifikasi/ perbedaan, kesatuan/ keanekaragaman.[1]
Budaya
global (global culture), yang dapat diartikan sebagai sebuah konsep yang
digunakan untuk menjelaskan tentang ‘mendunianya’ berbagai aspek kebudayaan,
yang di dalamnya terjadi proses penyatuan, unifikasi, dan homogenisasi. Ada
juga yang mengatakan bahwa budaya global merupakan suatu proses pertukaran
antar seseorang ataupun kelompok atas pengetahuan, maupun hasil-hasil alam,
dalam level global, dimana ini pun turut meningkatkan komunikasi antar kelompok
atau perseorangan tersebut.
Globalisasi
adalah proses kultural yang jauh lebih kompleks ketimbang sekedar penyeragaman,
yang di dalamnya melibatkan apa yang disebut secara umum sebagai ‘silang
budaya’ (cross-culture). Kebudayaan berada dalam sebuah ‘persilangan’ atau
‘perlintasan’ ketika di dalam sebuah ruang-waktu ‘bertemu’ dua atau lebih
kebudaayaan, yang di dalam persilangan itu berbagai kemungkinan dapat
terjadi.
Saat
ini dapat dikatakan bahwa kita berada dalam keadaan monoculture, dimana setiap
unsur kebudayaan disatukan dalam ‘kesatuan budaya global’, yang akhirnya
menciptakan homogenisasi gaya hidup, gaya, identitas, pandangan hidup, bahkan
pandangan dunia. [2]
Salah
satu bentuk nyata dari globalisasi budaya adalah berkembangnya bapa yang
disebut sebagai pop culture. Pop culture atau budaya populer merupakan nilai,
cita-rasa, perilaku, dan gaya hidup yang umumnya bersumber pada budaya barat,
terutama Amerika. Perusahaan-perusahaan multinasional yang merupakan media
berkembangnya budaya ini sebagian besar berasal dari Amerika.[3]
B. Tradisi Keagamaan Era Globalisasi
Era
globalisasi umumnya digambarkan sebagai kehidupan masyarakat dunia yang
menyatu. Karena kemajuan teknologi, manusia antar Negara menjadi mudah
berhubungan baik melalui kenjungan secara fisik, karena alat transportasi sudah
bukan merupakan penghambat bagi manusia untuk melewati keberbagai tempat di
seantero bumi ini, ataupun melalui pemanfaatan perangkat komunikasi.
Dalam
kaitannya dengan jiwa keagamaan, dampak globalisasi dapat dilihat melalui
hubungannya dengan perubahan sikap. Prof. Dr. Mar’at mengemukakan
beberapa teori tentang perubahan sikap. Menurut teori yang dikemukakan oleh
Osgood dan Tannen-baum perubahan sikap akan terjadi jika terjadi persamaan
persepsi pada diri seseorang atau masyarakat terhadap sesuatu. Hal ini berarti
bahwa apabila pengaruh globalisasi dengan segala muatannya dinilai baik oleh
individu maupun masyarakat, maka mereka akan menerimanya. Selanjutnya, menurut
teori Festinger, bahwa perubahan seakan terjadi apabila terjadi keseimbangan (consonance)
kognitif (Pengetahuan)
terhadap lingkungannya.[4]
Dengan
demikian, perubahan sikap dari seseorang atau masyarakat akan terjadi apabila
menurut pengetahuan mereka kemajuan teknologi yang dialaminya di era
globalisasi sejalan dengan pengetahuan dan pemikirannya. Hal ini akan member
dampak penerimaan pengaruh yang dating. Sedangkan, menurut teori Reactance,
manusia akan menerime sesuatu dengan mengubah sikap yang sebelumnya menentang,
apabila menurut penilaiannya sesuatu itu akan mengarah kepada aktivitas yang
lebih aktif. Teori ini menyiratkan bahwa penerimaan terhadap sesuatu didasarkan
atas manfaat pada aktivitas seseorang. Sebaiknya dalam teori fungsional
dikemukakan bahwa perubahan sikap tergantung dari pemenuhan kebuutuhan.
Perubahan sikap ini dalam pendekatan psikolodi adalah berupa kecenderungan yang
besar untuk menyenangi sesuatu. Jadi, apabila seseorang merasa sependapat
dengan sesuatu maka akan timbul simpati. Pada garis besarnya, proses perubahan
sikap tersebut dapat digambarkan melalui dua jalur, yaitu proses rasional dan
proses emosional. Proses rasional diawali adanya perhatian, pemahaman,
penerimaan, dan berakhir pada keyakinan. Sedangkan proses emosional
berawal dari perhatian, simpati,menerima dan berakhir pada minat.[5]
Era
globalisasi memberikan perubahan besar pada tatanan dunia secara menyeluruh dan
perubahan itu dihadapi bersama sebagai suatu perubahan yang wajar. Era global
ditandai oleh proses kehidupan mendunia, kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi serta terjadinya
lintas budaya. Kondisi ini mendukung terciptanya berbagai kemudahan dalam hidup
manusia. Mobilitas menjadi cepat oleh adanya kemajuan bidang transportasi.
Kemdian dengan dukungan teknik kimunikasi yang canggih, manusia dapat dengan
mudah berhubungan dan memperoleh informasi.
Kehidupan
manusia di era global mengacu ke kehidupan cosmopolitan (warga dunia). Batas
geografis negara seakan melebur menjadi kawasan global (dunia yang satu).
Demikian juga dengan rasa kebangsaan kian menipis. Di pihak lain dampak dari
mobilitas manusia yang semakin tinggi dan kemudahan transportasi, terjadi
proses lintas budaya yang cepat. Dukungan dari kecanggihan system informasi,
menjadikan dunia semakin transparan. Sementara itu nilai-nilai tradisional
mengalami penggerusan. Manusia mengalami proses perubahan system nilai. Bahkan
mulai kehilangan pegangan hidup yang bersumber dari tradisi masyarakatnya. Era
global seakan menawarkan alternative kehidupan baru bagi manusia, yakni
kekaguman terhadap hasil rekayasa ilmu pengetahuan dan teknologi yang
menawarkan dan kemudahan dan kenikmatan bendawi. Di pihak lain manusia juga
diharapkan pada upaya untuk mempertahankan system nilai yang mereka anut. Dalam
situasi seperti itu, bias saja terjadi berbagai kemungkinan. Pertama, mereka
yang tidak ikut larut dalam pengaguman yang berlebihan terhadap rekayasa
teknologi dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keagamaan, kemungkinan
akan lebih meyakini kebenaran agama. Kedua, golongan yang longgar dari
nilai-nilai ajaran agama akan mengalami kekosongan jiwa, golongan ini sulit
menentukan pilihan guna menentramkan gejolak dalam jiwanya.[6]
C. Antara Budaya Dan Agama
Seperti halnya kebudayaan, agama sangat menekankan makna dan signifikasi
sebuah tindakan. Karena itu sesungguhnya terdapat hubungan yang sangat erat
antara kebudayaan dan agama bahkan sulit dipahami kalau perkembangan sebuah
kebudayaan dilepaskan dari pengaruh agama. Sesunguhnya tidak ada satupun
kebudayaan yang seluruhnya didasarkan pada agama. Untuk sebagian kebudayaan
juga terus ditantang oleh ilmu pengetahuan, moralita, serta pemikiran kritis.
Meskipun tidak dapat disamakan, agama dan kebudayaan dapat saling
mempengaruhi. Agama mempengaruhi sistem kepercayaan serta praktik-praktik
kehidupan. Sebaliknya kebudayaan pun dapat mempengaruhi agama, khususnya dalam
hal bagaimana agama diinterprestasikan atau bagaimana ritual-ritualnya harus
dipraktikkan. Tidak ada agama yang bebas budaya dan apa yang disebut Sang
–Illahi tidak akan mendapatkan makna manusiawi yang tegas tanpa mediasi budaya,
dalam masyarakat Indonesia saling mempengarui antara agama dan kebudayaan
sangat terasa. Praktik inkulturasi dalam upacara keagamaan hampir umum dalam
semua agama.
Agama yang digerakkan budaya timbul dari proses interaksi manusia dengan
kitab yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan
oleh konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa
kondisi yang objektif. Budaya agama tersebut akan terus tumbuh dan berkembang
sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam kondisi objektif dari kehidupan
penganutnya.[7]
Hubungan kebudayaan dan agama tidak saling merusak, kuduanya justru
saling mendukung dan mempengruhi. Ada paradigma yang mengatakan bahwa ” Manusia
yang beragma pasti berbudaya tetapi manusia yang berbudaya belum tentu
beragama”.
Jadi agama dan kebudayaan sebenarnya tidak pernah bertentangan karena
kebudayaan bukanlah sesuatu yang mati, tapi berkembang terus mengikuti
perkembangan jaman. Demikian pula agama, selalu bisa berkembang di berbagai
kebudayaan dan peradaban dunia.[8]
D. Komitmen Beragama di Era Globalisasi
Di zaman yang modern ini, sebuah pendidikan adalah
sesuatu yang wajib kita miliki untuk mengarungi berbagai ancaman negatif yang
masuk kedalam negeri. Karena, tanpa adanya pendidikan yang kita miliki, maka
kita akan mudah terjerumus dalam era globalisasi negatif. Untuk itu kita
haruslah mempunyai pendidikan sebagai bekal kita untuk memilih dan memilah
berbagai arus yang masuk dalam zaman modern ini.[9]
Zaman modern erat kaitannya dengan globalisasi,
globalisasi sendiri dapat diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional
antara suatu negara dengan negara yang lain, sehingga hubungan negara di dunia
saling terikat satu sama lain.
Pendidikan islam dengan beragam sistem dan
tingkatannya dari waktu ke waktu senantiasa mengalami tantangan. Berbagai kemajuan
dan ketertinggalan pendidikan islam seperti yang terdapat dalam sejarah. Antara
lain, disebabkan kemampuannya dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi.[10]
Tantangan pendidikan islam saat ini jauh berbeda
dengan tantangan pendidikan islam sebagaimana yang terdapat pada zaman klasik
dan pertengahan, baik secara eksternal maupun internal. Tantangan pendidikan di
zaman klasik dan pertengahan cukup berat, namun secara psikologis dan ideologis
lebih mudah diatasi. Secara internal, umat islam pada zaman klasik masih segar
(fresh), masa kehidupan mereka dengan sumber ajaran islam masih sangatlah
dekat, serta semangat berijtihad dalam berjuang memajukan ajaran islam fii
sabilillah masih sangat kuat. Secara eksternal, umat islam masih belum mampu
menghadapi ancaman yang serius dari negara-negara lain yang sudah maju.[11]
Tantangan pendidikan islam di zaman sekarang, selain
menghadapi pertarungan ideologi-ideologi bedar di dunia sebagaimana
negara-negara maju, seperti Amerika, Jepang, China, Benua Eropa, dll. Juga
menghadapi berbagai kecenderungan yang tidak ubahnya seperti badai besar
(turbulence) atau tsunami.
Menurut Daniel Bell, kecenderungan di era globalisasi
dunia ditandai dengan lima kecenderungan, antara lain:
1.
Kecenderungan integrasi ekonomi yang
menyebabkan terjadinya persaingan bebas dalam segala bidang, terutama dalam
dunia pendidikan. Pendidikan islam akan termosak-masik dengan doktrin-doktrin
orang Barat yang hanya mengandalkan logikanya saja.
2.
Kecenderungan fragmantasi politik yang
menyebabkan terjadinya peningkatan tuntutan dan harapan dari masyarakat.
3.
Kecenderungan menggunakan teknologi tinggi
(high technology) khususnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Kehadiran
teknologi informasi dan komunikasi ini menyebabkan terjadinya tuntutan dari
masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang lebih cepat, transparan juga tidak
dibatasi oleh waktu dan tempat.
4.
Kecenderungan interpendensi (saling
tergantungan) yaitu suatu keadaan dimana seseorang baru dapat memenuhi
kebutuhannya apabila dibantu oleh orang lain. Berbagai siasat dan stategi yang
dilakukan oleh negara-negara maju untuk membuat negara-negara berkembang
tergantung kepadanya, demikian terjadi dengan cara yang intensif. Sebagaimana
yang dilakukan oleh negara Amerika, membuat kebijakan hegemoni politik yang
memengaruhi negara sekutu menjadi ketergantungan kepada negara Amerika,
termasuk ketergantungan dalam dunia pendidikan. Yang akhirnya akan berdampak
buruk bagi negara sekutu, apalagi negara Indonesia.
5.
Kecenderungan yang munculnya dari
penjajahan baru dalam bidang kebudayaan (new colonization in culture) yang
mengakibatkan terjadinya pola pikir (mindset) masyarakat pengguna pendidikan,
yaitu dari yang semula mereka belajar dalam rangka meningkatkan kemampuan
intelektual, moral, fisik dan psikisnya, berubah menjadi belajar untuk
mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang besar.[12]
Akan tetapi, tantangan yang dihadapi pendidikan agama
islam telah melahirka berbagai paradigma baru dalm dunia pendidikan. Visi,
misi, tujuan, kurikulum, proses belajar dan mengajar, pendidik, peserta didik,
manajemen, sarana prasarana, kelembagaan, pendidikan kini tengah mengalami
perubahan yang sangatlah besar. Pendidikan islam, dengan pengalamnnya yang
panjang seharusnya dapet memberikan jawaban yang tepat atas berbagai tantangan
tersebut, untuk menjawab pertanyaan ini, pendidikan islam membutuhkan sumber
daya manusia yang handal, berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah,
memiliki komitmen dan etos kerja yang tinggi, manajemen yang berbasis sistem,
infra struktur yang kuat, sumber dana yang memadai, kemampuan politik yang kuat
serta standar yang unggul.
Sesungguhnya tugas pendidikan islam adalah untuk
meraih kembali kejayaan islam sebagai sistem dan peradaban dengan melahirkan
para ulama’ dan ilmuan seperti pada saat zaman keemasan islam, seperti contoh
ilmuan-ilmuan pada zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid, dan lain-lain. Jika duku
masa kejayaan islam telah melahirkan berbagai macam lembaga pendidikan yang
sangat popular di dunia, kini sangatlah berbeda 180 derajat dengan yang terjadi
di Indonesia sekarang ini. Lembaga pendidikan islam saat itu dikatakan popular
karena mampu memberikan inspirasi bagi peradaban dunia karena berpijak pada
ajaran islam sebagai sebuah ajaran ideologi yang sistematik dna aplikatif, dan
tidak lupa berpijak kepada Al-Qur’an dan Hadis, Ijma’ dan Qiyas para ulama’,
bukan berpijak pada nilai-nilai yang lain.[13]
Sebagai generasi muda, kita haruslah mempunyai
pendidikan yang cukup agar tidak terjerumus kedalam arus yang salah seperti
gaya berpakaian yang tidak sopan, mewarnai rambut, bahkan sampai minum-minuman
keras yang seperti yang dilakukan oleh orang barat. Kitalah sebagai generasi
muda yang akan menjadi penerus dalam memajukan bangsa ini, sehingga haruslah
kita memiliki skill yang matang dengan cara melalui pendidikan yang harus kita
tempuh agar mampu melewati berbagai rintangan di masa ini, terlebih masa yang
akan datang, karena masa depan tentu akan semakin banyak rintangan yang
menghadang[14].
Sebagai contohnya saja, untuk mencari pekerjaan,
syarat utama tentu jenjang pendidikan terlebih dahulu yang diutamakan. Bukan
karena apa-apa mereka memberikan syarat jenjang pendidikan sebagai syarat
utama, akan tetapi, jikalau mereka menerima pegawai yang tidak memiliki
pendidikan yang baik, maka usaha yang telah mereka rintis akan sulit, bahkan
tidak mungkin berkembang, bahkan bisa jadi pula usaha mereka akan runtuh hanya
karena seorang pegawai yang tidak memiliki pendidikan yang memadai.
Namun, di dalam kehidupan ini, pendidikan bukanlah
untuk mencari pekerajaan semata. Pendidikan juga dapat untuk memecahkan masalah
atau problema kehidupan yang sering kita jumpai dan kita alami. Dengan
pendidikan, penyelesaian masalah tersebut dapat terselesaikan dengan cara yang
cepat, baik dan tepat. Itulah fungsi pendidikan yang seharusnya kita pahami dan
praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan pendidikan untuk mencari
sebuah pekerjaan hanyalah salah satu fungsi pendidikan.
Pada hakikatnya pendidikan islam bertujuan untuk
melahirkan generasi manusia yang mampu mengelola, memakmurkan, menguasai dan
menerapkan hukum aturan Allah di muka bumi ini. Itulah juga termasuk visi para
Nabi dan Rasal, bukan untuk melahirkan manusia-manusia perusak (fasid) bumi dan
alam. Itulah yang dimaksudkan Allah dalam ayat-Nya bahwasanya Allah akan
menciptakan para khalifah dari kalangan manusia yang kelak dipertanyakan oleh
para malaikat.[15]
Di era seperti ini, studi-studi yang tidak dapat
menjawab pertanyaan zaman baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan sendirinya
akan tersingkirkan dan tidak diminati oleh khalayak masyarakat. Berbeda dengan
studi-studi yang menawarkan pekerjaan dan penghasilan bagi lulusannya, akan
banyak diminati oleh masyarakat. Kecenderungan penjajahan baru dalam bidang
kebudayaan juga menyebabkan munculnya budaya pop atau budaya urban yang
menyebabkan ajaran agama yang bersifat normatif dan menjanjikan masa depan yang
baik (akhirat/surga), kurang diminati oleh masayarakat.
Oleh karena itu, kita harus berpegang teguh kepada
Al-Qur’an dan Al-Hadits, memperbanyak kumpul kepada para ulama’-ulama’ agar
kita tidak tersesat dari jalan-Nya, jalan yang murkai-Nya, yang menyebabkan
kita masuk neraka.[16]
BAB III
KESIMPULAN
Budaya
global (global culture), yang dapat diartikan sebagai sebuah konsep yang
digunakan untuk menjelaskan tentang ‘mendunianya’ berbagai aspek kebudayaan,
yang di dalamnya terjadi proses penyatuan, unifikasi, dan homogenisasi. Ada
juga yang mengatakan bahwa budaya global merupakan suatu proses pertukaran
antar seseorang ataupun kelompok atas pengetahuan, maupun hasil-hasil alam,
dalam level global, dimana ini pun turut meningkatkan komunikasi antar kelompok
atau perseorangan tersebut.
Dalam
kaitannya dengan jiwa keagamaan, dampak globalisasi dapat dilihat melalui hubungannya dengan
perubahan sikap. Prof. Dr. Mar’at mengemukakan beberapa teori tentang perubahan
sikap. Menurut teori yang dikemukakan oleh Osgood dan Tannen-baum perubahan
sikap akan terjadi jika terjadi persamaan persepsi pada diri seseorang atau
masyarakat terhadap sesuatu. Hal ini berarti bahwa apabila pengaruh globalisasi
dengan segala muatannya dinilai baik oleh individu maupun masyarakat, maka
mereka akan menerimanya. Selanjutnya, menurut teori Festinger, bahwa perubahan
seakan terjadi apabila terjadi keseimbangan (consonance)
kognitif (Pengetahuan)
terhadap lingkungannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ali Ashraf, Horison, 1993 Pendidikan
Islam, Jakarta:
Pustaka Firdaus
Djaali, 2009, Psikologi
Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara
Gazalba, Sidi, Asas Agama Islam, Jakarta: PT
Bulan Bintang, 1985
Jalaluddin,
2005, Psikologi Agama, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Prijono, Prasaran Mengenai Kebudayaan, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.
Prof.Dr.H Jalaludin, 2004, Psikologi
Agama Jakarta: rajawali Pers
Suryabrata, Sumardi, 2004, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
[1]
Horison Ali Ashraf, 1993 Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus., hal 13
[2]
Ibid., hal 18
[3]
Djaali, 2009, Psikologi
Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara., hal 23
[4]
Ibid., hal 26
[5]
Sidi Gazalba, Asas
Agama Islam, Jakarta: PT Bulan Bintang, 1985., hal 30
[6]
Ibid., hal 33
[7]
Jalaluddin,
2005, Psikologi Agama, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada., hal 18
[8]
Djaali., Op.,Cit., hal 29
[9]
Prijono, Prasaran Mengenai Kebudayaan, Jakarta: Rineka Cipta, 2008., hal 12
[10]
Ibid., hal 17
[11]
Horison Ali Ashraf., Op.,Cit., hal
22
[12]
Prof. Dr. H Jalaludin, 2004, Psikologi Agama Jakarta:
rajawali Pers., hal 19
[13]
Ibid., hal 22
[14]
Sidi Gazalba., Op.,Cit., hal 39
[15]
Sumardi Suryabrata, 2004, Psikologi
Pendidikan, Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada., hal 44
[16]
Prijono., Op.,Cit., hal 20