ARTIKEL
Karakteristik Peserta
Didik
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
Nurdiana
Harahap
Nim :
2020500137
Dosen Pembimbing:
Dr. Almira
Amir. ST., M.Si.

FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PADANGSIDIMPUAN
2022
MENGENAL KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
A.
BAGAIMANA MENGENAL KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
Pembahasan tentang dunia
pendidikan selalu terkait dengan komponen yang melekat di dalamnya, seperti
kurikulum, pendidik, dan peserta didik. Ketiga komponen tersebut saling
terkait satu dengan yang lain dalam membentuk sebuah proses pembelajaran yang
efektif. Sebagai seorang pendidik, tugas kita tidak hanya wajib menguasai
kurikulum dan tugas-tugas kependidikan tetapi hendaknya mengenali peserta didik
atau anak didik kita terlebih karakteristik mereka. Karakteristik peserta didik
yang perlu dikenal dan dipahami oleh para pendidik tidak hanya terbatas pada
tipe kepribadian mereka saja, tetapi juga melingkupi kebutuhan belajar,
kemampuan mereka dalam belajar, potensi yang dimiliki, dan lingkungan yang ada
di sekitar mereka.
Faktor-faktor ini secara tidak
langsung membantu atau menghambat para peserta didik dalam menerima dan
memproses informasi yang diterima dari pendidiknya. Dengan mengetahui faktor-faktor
di atas, para pendidik dapat mengembangkan hal-hal positif yang ada di dalam
diri peserta didik dan mengurangi/meminimalisi hal-hal yang negatif yang
dapat menghambat kompetensi yang ada di dalam dirinya. Selain itu,
pendidik juga dapat mengenali karakter dan potensi yang ada di dalam
dirinya sendiri.
` Salah satu upaya yang perlu
dilakukan oleh para pendidik untuk menjadikan dirinya sebagai pendidik
yang profesional adalah selalu meningkatkan kompetensinya, baik kompetensi
pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, maupun kompetensi
sosial. Di dalam kompetensi pedagogik, seorang pendidik wajib: 1) mengenali
karakteristik dan potensi peserta didik, 2) menguasai teori belajar dan
prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif, 3) menguasai perencanaan dan
zengembangan kurikulum, 4) menguasai langkah-langkah pembelajaran yang efektif,
dan 5) menguasai sistem, mekanisme, dan prosedur penilaian. Di sini terlihat
jelas bahwasanya mengenali karakteristik dan potensi peserta didik merupakan
komponen pertama dalam kompetensi pedagogik, tetapi seringkali terlupakan oleh
seorang pendidik. Memang tidak mudah untuk mengenali karakter dan potensi pada
setiap peserta didik, tapi hal ini sangatlah mungkin.
B.
KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
Istilah karakter membuat banyak orang menyamakannya dengan kata sifat,
watak, akhlak, atau tabiat. Kenyataannya tak selalu bisa dimaknai seperti itu.
Kita perlu mempelajari pengertian karakter menurut para ahli agar memahami
perbedaannya. Menurut Doni Kusuma, karakter adalah ciri, karakteristik,
gaya, atau sifat diri dari seseorang yang bersumber dari bentukan yang diterima
dari lingkungannya. Berdasarkan pendapat tersebut karakter peserta didik
turut dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Tadkiroatun Musfiroh
(2008: 25), mengatakan karakter mengacu kepada serangkaian sikap
(attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan
(skills). Dari pendapat para ahli tersebut dapat kita simpulkan bahwa
karakter adalah ciri, sifat diri, akhlak atau budi pekerti, kepribadian dari
seseorang yang dalam hal ini adalah peserta didik.
Sebagai seorang pendidik
tentunya tidak hanya bertugas mengajar di kelas saja, akan tetapi
mendidik dan juga melatih. Hal ini sangatlah tepat apabila dikaitkan dengan
pembentukan karakter yang baik bagi para peserta didik. Seperti apa seorang
pendidik mendidik, bagaimana mengajar, dan bagaimana melatih para peserta
didik. Semua tantangan di atas berawal dari pendidik itu sendiri, bagaimana
menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, misalnya dengan
memunculkan kesan pertama pendidik yang positif saat kegiatan belajar di
kelas. Pendidik sangat perlu memahami perkembangan peserta didik.
Perkembangan peserta didik tersebut meliputi: perkembangan fisik,
perkembangan sosio-emosional, dan bermuara pada perkembangan intelektual.
Perkembangan fisik dan perkembangan sosio-sosial mempunyai kontribusi yang kuat
terhadap perkembangan intelektual atau perkembangan mental atau
perkembangan kognitifnya. Pemahaman terhadap perkembangan peserta didik di
atas, sangat diperlukan untuk merancang pembelajaran yang kondusif yang
akan dilaksanakan.
Rancangan pembelajaran yang
kondusif akan mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik sehingga mampu
meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang diinginkan. Seorang pendidik
mempunyai peran multifungsi, sebagai konselor, dia mendidik dan membimbing
peserta didiknya dengan benar, memotivasi dan memberi sugesti yang positif,
serta memberikan solusi yang tepat dan tuntas dalam menyelesaikan masalah
peserta didik. Selain itu juga memperhatikan karakter dan kondisi kejiwaan
peserta didiknya. Pendidik juga bisa berperan sebagai seorang dokter yang
memberikan terapi dan obat pada pasiennya sesuai dengan diagnosanya.
Perannya sebagai seorang
ulama, pendidik membimbing dan menuntun batin atau kejiwaan peserta didik,
memberikan pencerahan yang menyejukkan dan menyelesaikan masalahnya dengan
pendekatan agama yang hasilnya akan lebih baik. Mengenal dan memahami peserta
didik dapat dilakukan dengan cara memperhatikan dan menganalisa tutur kata
(cara bicara), sikap dan perilaku atau perbuatan anak didk, karena dari
tiga aspek diatas setiap peserta didik mengekspresikan apa yang ada dalam
dirinya. Untuk itu seorang pendidik harus secara seksama dalam berkomunikasi
dan berinteraksi dengan peserta didik dalam setiap aktivitas pendidikan.
C. PERKEMBANGAN
FISIK PESERTA DIDIK
Di dalam Kurikulum
2013 pola pembelajaran berpusat pada peserta didik. Peserta
didik memiliki pilihan-pilihan terhadap materi yang akan dipelajari dan
gaya belajarnya (learning style) untuk memiliki kompetensi yang diharapkan oleh
Kurikulum 2013. Oleh sebab itu, Anda harus mengenal karakteristik setiap
peserta didik di dalam proses pembelajaran, agar tujuan pembelajaran dapat
tercapai. Hal pertama yang harus Anda ketahui adalah mengenal karakter peserta
didik yang berkaitan dengan aspek perkembangan fisik peserta didik. Seperti
kita ketahui fisik peserta didik mengalami perkembangan yang signifikan pada
saat mereka menginjak remaja atau pada saat mereka di sekolah
menengah. Pada dasarnya perkembangan merujuk kepada perubahan sistematis
tentang fungsi-fungsi fisik dan psikis. Perubahan fisik meliputi perkembangan
biologis dasar sebagai hasil dari konsepsi, dan hasil dari interaksi proses
biologis dan genetika dengan lingkungan. Sementara perubahan psikis menyangkut
keseluruhan karakteristik psikologis individu, seperti perkembangan kognitif,
emosi, sosial, dan moral.
Perkembangan fisik
atau pertumbuhan biologis (biological growth) merupakan salah satu aspek
penting dari perkembangan individu. Pertumbuhan fisik adalah
perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam
pertumbuhan remaja. Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang
kompleks dan sangat mengagumkan. Semua organ ini terbentuk pada periode
pranatal (dalam kandungan).
Berkaitan dengan
perkembangan fisik ini Kuhlen dan Thompson mengemukakan bahwa perkembangan
fisik individu meliputi empat aspek, yaitu: Sistem syaraf, yang sangat mempengaruhi
perkembangan kecerdasan dan emosi;
(a) Otot-otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan
kemampuan motorik;
(b) Sistem syaraf yang sangat memengaruhi perkembangan kecerdasan dan
emosi;
(c) Kelenjar Endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah
laku baru, seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif
dalam suatu kegiatan, yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis;
(d) Struktur fisik/tubuh, yang meliputi tinggi, berat, dan proporsi.
Seifert dan Hoffnung (1994)
berpendapat perkembangan fisik meliputi perubahan-perubahan dalam tubuh
(seperti : pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan
tinggi dan berat, hormon, dan lain-lain), dan perubahan-perubahan dalam cara
individu dalam menggunakan tubuhnya (seperti perkembangan keterampilan motorik
dan perkembangan seksual), serta perubahan dalam kemampuan fisik (seperti
penurunan fungsi jantung, penglihatan, dan sebagainya).
Berdasarkan pendapat
di atas, jelaslah bahwa perkembangan fisik setiap peserta didik
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti telah dijelaskan di atas. Oleh sebab
itu Anda sebagai pendidik harus mengenali karakteristik
perkembangan peserta didik dari segi fisik, agar Anda bisa lebih memahami
situasi pembelajaran di dalam kelas dan apabila ada situasi yang tidak Anda
harapkan suatu saat terjadi, maka Anda akan lebih memahami situasi tersebut.
Kalau Anda bisa memahami kejadian tersebut, maka Anda pun diharapkan akan bisa
mencari solusinya dan kalau situasi sudah dapat dikuasai maka proses
pembelajaran diharapkan akan lebih lancar dan tujuan akan tercapai.
D. PERKEMBANGAN
KOGNITIF PESERTA DIDIK
Proses pembelajaran
setiap peserta didik berlangsung baik di sekolah maupun dalam lingkungan
keluarga. Sehingga kemampuan kognitif sangat diperlukan peserta didik dalam
proses pembelajaran tersebut. Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek
yang sangat penting dalam erkembangan peserta didik. Kita ketahui bahwa
peserta didik merupakan objek yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran,
sehingga perkembangan kognitif sangat menentukan keberhasilan peserta didik
dalam belajar. Kognitif atau pemikiran adalah istilah yang digunakan oleh ahli
psikologi untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan
persepsi, pikiran, ingatan dan Pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang
memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan, atau
semua proses psikologis yang berkaitan bagaimana individu mempelajari,
memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai dan memikirkan
lingkungannya. (Desmita, 2009).
Perkembangan kognitif
pada peserta didik merupakan suatu pembahasan yang cukup penting bagi guru
maupun orang tua. Perkembangan kognitif pada anak merupakan kemampuan
anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan
pemecahan masalah yang termasuk dalam proses psikologis yang
berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
Karakteristik perkembangan kognitif peserta didik juga harus dapat dipahami
semua pihak. Dengan pemahaman pada karakteristik perkembangan peserta didik,
guru dan orang tua dapat mengetahui sebatas apa perkembangan yang dimiliki anak
didiknya sesuai dengan usia mereka masing-masing, sehingga guru dan orang tua
dapat menerapkan ilmu yang sesuai dengan kemampuan kognitif masing-masing anak
didik.
Tidak kalah penting, guru juga harus mengetahui tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi peserta didik. Yang sangat sentral dalam faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan kognitif adalah gaya pengasuhan dan
lingkungan. Biasanya gaya pengasuhan lebih diterapkan pada anak-anak. Pada
pengasuhan ini merupakan cikal-bakal perkembangan kognitif tersebut, karena
ketika anak diasuh secara tidak sesuai dengan semestinya, ini akan berakibat
pada perkembangan kognitif anak, bahkan pada perkembangan mental anak tersebut.
Lingkungan pun sangat berpengaruh pada perkembangan kognitif, semakin buruk
lingkungan maupun pergaulan seseorang maka kemungkinan pengaruh lingkungan pada
perkembangan kognitif anak semakin besar.
Dari uraian di
atas jelaslah bahwa perkembangan kognitif peserta didik sangat
berpengaruh terhadap proses pembelajaran dan hasil yang dicapai.
E. PERKEMBANGAN
SOSIAL-EMOSIONAL PESERTA DIDIK
Selain perkembangan
karakteristik fisik dan kognitif peserta didik, yang tidak kalah penting adalah
perkembangan sosial-emosional peserta didik. Sosio-emosional berasal dari
kata sosial dan emosi. Perkembangan sosial adalah pencapaian kematangan dalam
hubungan atau interaksi sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses
belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan moral
agama. Sedangkan emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku
individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Emosi dibedakan menjadi
dua, yakni emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif seperti perasaan
senang, bergairah, bersemangat, atau rasa ingin tahu yang tinggi akan
mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas
belajar. Emosi negatif sperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah,
individu tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar, sehingga
kemungkinan besar dia akan mengalami kegagalan dalam belajarnya. Selain itu,
dari segi etimologi, emosi berasal dari akar kata bahasa Latin ‘movere’
yang berarti ‘menggerakkan, bergerak’. Kemudian ditambah dengan awalan ‘e-‘
untuk memberi arti ‘bergerak menjauh’. Makna ini menyiratkan kesan bahwa
kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi.
Perkembangan
sosio-emosional peserta didik termasuk suatu pembahasan yang sangat penting
karena dengan mengetahui perkembangan sosio-emosional peserta didik, para
pendidik dapat mengambil tindakan pada permasalahan peserta didik dengan
berbagai karakteristik dan sifat yang berbeda-beda. Sosio-emosional adalah
perubahan yang terjadi pada diri setiap individu dalam warna afektif yang
menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Dalam pembahasan
sosio-emosional ini lebih ditekankan dalam sosio-emosional pada
remaja. Pada masa remaja, tingkat karakteristik emosional akan
menjadi drastis tingkat kecepatannya. Gejala-gejala emosional para remaja
seperti perasaan sayang, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu
dicermati dan dipahami dengan baik. Sebagai pendidik. kita harus
mengetahui setiap aspek yang berhubungan dengan perubahan tingkah laku
dalam perkembangan remaja, serta memahami aspek atau gejala tersebut sehingga
kita bisa melakukan komunikasi yang baik dengan remaja. Perkembangan emosi
remaja merupakan suatu titik yang mengarah pada proses dalam mencapai
kedewasaan. Meskipun sikap kanak-kanak akan sulit dilepaskan pada diri remaja
karena pengaruh didikan orang tua.
Faktor yang sangat memengaruhi perkembangan peserta didik pada usia remaja
yaitu didikan orang tua, lingkungan sekitar tempat tinggal dan perlakuan guru
di sekolah. Pengaruh sosio-emosional yang baik pada remaja terhadap diri
sendiri yaitu untuk mengendalikan diri, memutuskan segala sesuatu dengan baik,
serta bisa lebih matang merencanakan segala hal yang akan diputuskannya,
sedangkan terhadap orang lain, yaitu mampu menjalin kerjasama yang baik, saling
menghargai dan mampu memposisikan diri di lingkungan dengan baik.
Agar seorang peserta
didik dapat memiliki kecerdasan emosi dengan baik haruslah dibentuk sejak usia
dini, karena pada saat itu sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan
manusia selanjutnya. Sebab pada usia ini dasar-dasar kepribadian anak telah
terbentuk. Jelaslah sudah betapa pentingnya seorang pendidik memahami
perkembangan sosio-emosional peserta didik, agar dalam proses pembelajaran
perkembangan sosio-emosional peserta didik yang berbeda-beda dapat diatasi
dengan baik.
F. PERKEMBANGAN
MORAL DAN SPRITUAL PESERTA DIDIK
Perkembangan moral
dan spiritual peserta didik adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan kita semua. Demikian pula dalam proses pendidikan peserta didik baik
itu di sekolah maupun di rumah. Teori Kohlberg telah menekankan bahwa
perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara
bertahap yaitu: Penalaran prakovensional, konvensional, dan
pascakonvensional.
Tingkat Satu : Penalaran Prakonvesional
Penalaran
prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori
perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan
internalisasi nilai-nilai moral, penalaran moral dikendalikan oleh imbalan
(hadiah) dan hukuman ekternal.
Tingkat Dua: Penalaran Konvensional
Penalaran konvensional adalah tingkat kedua atau tingkat menengah dari
teori perkembangan moral Kohlberg. Internalisasi individu pada tahap ini adalah
menengah. Seorang mentaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka
tidak mentaati standar-standar (internal) orang lain, seperti orangtua atau
masyarakat.
Tahap Tiga: Penalaran Pascakonvensional
Penalaran pascakonvensional adalah tingkat tertinggi dari teori
perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, moralitas benar-benar
diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain.
Seorang mengenal tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan
kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi. Spiritual
berasal dari bahasa latin “spiritus” yang berarti nafas atau udara, spirit
memberikan hidup, menjiwai seseorang. Spiritual meliputi komunikasi dengan Tuhan
(fox 1983), dan upaya seseorang untuk bersatu dengan Tuhan (Magill dan Mc Greal
1988), spiritualitas didefinisikan sebagai suatu kepercayaan akan adanya suatu
kekuatan atau suatu yang lebih agung dari dirisendiri (Witmer 1989).
Karakteristik spiritual yang utama meliputi perasaan dari keseluruhan dan
keselarasan dalam diri seorang, dengan orang lain, dan dengan Tuhan atau
kekuatan tertinggi sebagai satu penetapan. Orang-orang, menurut tingkat
perkembangan mereka, pengalaman, memperhitungkan keamanan individu, tanda-tanda
kekuatan, dan perasaan dari harapan. Hal itu tidak berarti bahwa individu
adalah puas secara total dengan hidup atau jawaban yang mereka miliki. Seperti
setiap hidup individu berkembang secara normal, timbul situasi yang
menyebabkan kecemasan, tidak berdaya, atau kepusingan. Karakteristik kebutuhan
spiritual meliputi:
1.
Kepercayaan
2.
Pemaafan
3.
Cinta dan hubungan
4.
Keyakinan, kreativitas dan harapan
5.
Maksud dan tujuan serta anugrah dan
harapan.
Karakteristik dari kebutuhan spiritual ini menjadi dasar dalam
menentukan karakteristik dari perubahan fungsi spiritual yang akan mengarahkan
individu dalam berperilaku, baik itu kearah perilaku yang adaptif maupun
perilaku yang maladaptif.
G. LATAR
BELAKANG SOSIAL BUDAYA PESERTA DIDIK
Sosial adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat atau
kemasyarakatan, sementara budaya segala hal yang dibuat oleh manusia
berdasarkan pikiran dan akal budinya yang mengandung cinta, rasa, dan karsa.
Jadi dapat disimpulkan dari segi istilah sosal budaya merupakan segala hal yang
diciptakan oleh manusia dengan pikiran dan budinya dalam kehidupan
bermasyarakat. Unsur-unsur sosial budaya peserta didik meliputi
antara lain bahasa, kesenian, sistem religi, sistem kemasyarakatan dan
sistem ekonomi. Kehidupan dan nilai sosial budaya peserta didik dalam
kehidupannya selalu mendapatkan dan dipengaruhi oleh nilai nilai sosio-budaya
dari lingkungan sekitarnya mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat
sekitar.
H. POTENSI
PESERTA DIDIK
Potensi adalah kesanggupan,
daya, kemampuan individu untuk lebih berkembang. Setiap individu memiliki
potensi yang berbeda satu sama lainnya. Potensi peserta didik yang dimaksud
adalah kemampuan yang mungkin dikembangkan atau menunjang potensi
lain. Potensi ini meliputi potensi fisik, intelektual, kepribadian, minat,
potensi moral, dan religius.
Potensi fisik merupakan kondisi kesehatan fisik dan berfungsinya anggota
tubuh dengan baik yang diperoleh dari pemeriksaan oleh tenaga
medis, observasi perilaku, wawancara, dan pengisian angket akan
menunjang kelancaran peserta didik melakukan aktivitas belajar dan
memaksimalkan keberhasilan peserta didik dalam belajar. Organ tubuh akan
berfungsi dengan baik dan maksimal apabila kondisi kesehatan peserta didik juga
baik.
Herry Wibowo
(2007:19) menyatakan bahwa potensi yang terbesar manusia
adalah otak. Otak adalah pengatur seluruh fungsi tubuh, dan juga sebagai pusat
yang mengendalikan perilaku individu. Adapun potensi intelektul atau kekuatan
otak individu berkaitan dengan daya nalar dan logika yang berupa kemampuan
untuk mempelajari keterampilan, menganalisa, dan lain lain Faktor-faktor
yang memengaruhi potensi intelektual individu adalah
faktor internal, misalnya motivasi, kemauan, kemampuan
dan faktor eksternal, misalnya sarana dan daya dukung penunjang.
Kedua faktor ini sangat memberikan pengaruh pada pencapaian
kemampuan intelektual yang maksimal dari peserta didik. Faktor internal peserta
didik yang dominan memberikan kecenderungan kekuatan daya juang yang
besar saat menghadapi kesulitan dalam proses belajar. Gordon Allport (2005:23)
mendeskripsikan kepribadian sebagai suatu organisasi dinamis dari sistem
psiko-fisik dalam berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan
dengan cara yang unik. Aspek-aspek sikap kepribadian
diantaranya mencakup karakter, temperamen, sikap, stabilitas emosi,
responsibilitas, dan sosiabilitas. Berdasarkan pandangan
psikologi, sikap mengandung unsur penilaian dan reaksi afektif, sehingga menghasilkan
motif. Jalaluddin (1996:187) menyatakan sikap terbentuk melalui hasil
belajar dari interaksi dan pengalaman seseorang dan bukan faktor bawaan.
Minat didefinisikan sebagai suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu
campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut atau
kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.
Minat peserta didik dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya dalam
menerima pembelajaran. Bakat menurut Slavin didefinisikan sebagai
kemampuan umum yang dimiliki seorang peserta didik untuk belajar. Oleh karena
itu bakat mempengaruhi keberhasilan individu mencapai sesuatu. Ahli
psikologi lainnya mengatakan bakat adalah kemampuan dasar untuk melakukan suatu
tugas tanpa upaya pendidikan atau pelatihan.
Moral merupakan ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai
perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Adapun keagamaan peserta didik
berkaitan dengan konsep ketuhanan yang dianutnya. Moral dan keagamaan
individu memberikan pengaruh pada pembentukan nilai dan keyakinan yang
dianutnya. Peserta didik yang memiliki keyakinan akan nilai-nilai kebenaran,
kearifan, dan saling menghargai akan berdampak pada proses dan hasil pencapaian
potensi peserta didik.
I.
FAKTOR- FAKTOR YANG MEMENGARUHI POTENSI
PESERTA DIDIK
1.
Faktor Fisik
Setiap individu
mempunyai ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik
yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. karakteristik bawaan
merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang
menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Hal tersebut
merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor yang terpisah, masing-masing
mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan dan lingkungan dengan
caranya sendiri-sendiri. Natur dan nurture merupakan istilah yang biasa
digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal
fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan.
Karakteristik yang
berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap,
sedangkan karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih
banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
2.
Faktor Psikologis
Faktor psikologis
berkaitan dengan hal kejiwaan, kapasitas mental, emosi, dan intelegensi
individu. Kemampuan berpikir peserta didik memberikan pengaruh pada
hal memecahkan masalah dan juga berbahasa. Hal lain yang berkaitan
dengan aspek psikologi peserta didik adalah: Motivasi Intrinsik.
Menurut Arden N. F (Hayinah, 1992) motivasi Intrinsik meliputi: dorongan
ingin tahu; sifat positif dan kreatif; keinginan mencapai
prestasi; dan kebutuhan untuk menguasai ilmu dan pengetahuan yang berguna bagi
dirinya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah faktor yang datang dari
luar individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan belajar peserta didik.
J. FAKTOR
EKSTERNAL YANG MEMENGARUHI POTENSI PESERTA DIDIK
1.
Lingkungan Sosial
Masyarakat
Lingkungan sosial
individu adalah lingkungan di mana seorang individu berinteraksi
dengan individu lainnya dalam suatu ikatan norma dan peraturan. Kondisi
lingkungan yang sehat dan mendukung secara positif terhadap proses belajar
peserta didik akan memberikan pengaruh yang positif pada perkembangan
potensi peserta didik. Lingkungan masyarakat yang kumuh, dan tidak mendukung
secara positif seperti banyaknya pengangguran, dan anak terlantar akan
memberikan pengaruh negatif pada aktivitas dan potensi peserta didik.
2.
Lingkungan Sosial
keluarga
Keluarga adalah
lingkungan sosial terkecil pada peserta didik. Peran keluarga dalam menunjang
potensi peserta didik sangat penting. Hal-hal seperti kedekatan dengan orang
tua, dukungan, dan hubungan dengan anggota keluarga yang harmonis akan
memberikan dampak pada perkembangan potensi peserta didik.
3.
Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah,
seperti teman sekelas, guru, dan staf administrasi dapat memberikan
pengaruh terhadap proses belajar peserta didik. Hubungan baik dan harmonis
diantara ketiganya memberikan pengaruh pada proses belajar. Memberikan
motivasi yang positif dan kesempatan pada peserta didik untuk belajar dan
berkembang akan sangat berpengaruh pada pencapaian potensinya. Guru harus dapat
mengamati dengan baik karakteristik dari peserta didik.
4.
Perbedaan ras, suku,
budaya,
Kelas sosial peserta
didik Sekolah adalah wadah bagi seluruh peserta didik untuk mengembangkan
potensinya tanpa memandang perbedaan. Memahami perbedaan karakteristik peserta
didik adalah merupakan tantangan besar bagi pendidik dalam menunjang
perkembangan potensi peserta didik. Bagaimana menciptakan kondisi kelas yang
mendukung aktivitas belajar yang dapat mewadahi seluruh peserta didik merupakan
salah satu peran penting dari pendidik. Perbedaan ras dan etnik akan
memunculkan perbedaan dialek bahasa, nilai, dan keyakinan yang kesemuanya itu
akan sangat membawa pengaruh dalam proses pengembangan potensi peserta didik.
Pendidik harus peka dan memiliki sikap positif terhadap perbedaan karakteristik
peserta didiknya. Mc. Graw Hill dalam bukunya Learning to Teach (2009)
menyatakan bahwa ketika penggunaan dialek bahasa keluarga yang dipakai oleh
peserta didik di Amerika dipaksa untuk dihapuskan, maka kecenderungan
prestasi akademik siswa tidak mengalami peningkatan, justru memunculkan kondisi
emosional yang negatif pada mereka. Pendidik sebaiknya senantiasa mampu memunculkan
kondisi emosi positif pada peserta didik dengan segala keberagaman
karakteristik mereka.
5.
Bekal Awal
Peserta Didik
Setiap peserta didik
dapat dipastikan memiliki perilaku dan karakteristik yang cenderung berbeda.
Dalam pembelajaran, kondisi ini penting untuk diperhatikan karena dengan
mengidentifikasi kondisi awal peserta didik saat akan mengikuti pembelajaran
dapat memberikan informasi penting untuk guru dalam pemilihan strategi
pengelolaan, yang berkaitan dengan bagaimana menata pembelajaran, khususnya
komponen-komponen strategi pengajaran yang efektif dan sesuai dengan
karakteristik perseorangan peserta didik sehingga pembelajaran akan lebih
bermakna. Kegiatan menganalisis peserta didik dalam pengembangan
pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima peserta didik apa adanya. Hal
ini dilakukan untuk menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan peserta
didik tersebut. Dengan demikian, mengidentifikasi kemampuan awal peserta
didik adalah bertujuan untuk menentukan apa yang harus diajarkan tidak perlu
diajarkan dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan. Karena itu, kegiatan ini
sama sekali bukan untuk menentukan prasyarat dalam menyeleksi peserta didik
sebelum mengikuti pembelajaran.
K. PENGERTIAN
BEKAL AJAR AWAL PESERTA DIDIK
Peserta didik
menurut Sudarwan Danim (2010:47) merupakan sumber daya utama dan
terpenting dalam proses pendidikan. Peserta didik bisa belajar tanpa
guru. Sebaliknya, guru tidak bisa mengajar tanpa peserta didik. Karenanya
kehadiran peserta didik menjadi keniscayaan dalam proses pendidikan formal atau
pendidikan yang dilambangkan dengan menuntut interaksi antara pendidik dan
peserta didik. Bekal ajar awal peserta didik dapat pula diartikan
kemampuan awal (entry behavior) adalah kemampuan yang yang telah diperoleh
peserta didik sebelum dia memperoleh kemampuan terminal tertentu yang baru.
Kemampuan awal menunjukkan status pengetahuan dan keterampilan peserta didik
sekarang untuk menuju ke status yang akan datang yang diinginkan guru agar
tercapai oleh peserta didik. Dengan kemampuan ini dapat ditentukan darimana
pengajaran harus dimulai.
Esensinya tidak ada
peserta didik di muka bumi ini benar-benar sama. Hal ini bermakna bahwa
masing-masing peserta didik memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik
peserta didik adalah totalitas kemampuan dan perilaku yang ada pada pribadi
mereka sebagai hasil dari interaksi antara pembawaan dengan lingkungan
sosialnya, sehingga menentukan pola aktivitasnya dalam mewujudkan harapan dan
meraih cita-cita.
L. TUJUAN MENGIDENTIFIKASI
BEKAL AJAR AWAL PESERTA DIDIK
Identifikasi bekal ajar awal peserta didik bertujuan untuk:
1.
Memperoleh informasi yang lengkap dan
akurat berkenaan dengan kemampuan awal peserta didik sebelum
mengikuti program pembelajaran tertentu;
2.
Menyeleksi tuntutan, bakat, minat, kemampuan
serta kecendrungan peserrta didik berkaitan dengan pemilihan program program
pembelajaran tertentu yang akan diikuti mereka; dan
3.
Menentukan desain program pembelajaran dan
atau pelatihan tertentu yang perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan
awal peserta didik.
Teknik mengaktifkan bekal ajar awal peserta didik digunakan
untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik. Seorang pendidik dapat
melakukan tes awal (pre-test). Tes yang diberikan dapat berkaitan dengan
materi ajar sesuai dengan panduan kurikulum. Selain itu pendidik dapat
melakukan wawancara, observasi, dan memberikan kuisioner kepada peserta
didik atau calon peserta didik, serta guru yang biasa mengampu pelajaran
tersebut.
Teknik yang paling tepat untuk mengetahui bekal ajar awal peserta didik
yaitu tes. Teknik tes ini menggunakan tes prasyarat dan tes awal. Sebelum
memasuki pelajaran sebaiknya guru membuat tes prasyarat dan tes awal. Tes
prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah peserta didik telah memiliki
pengetahuan keterampilan yang diperlukan atau di syaratkan untuk mengikuti
suatu pelajaran. Sedangkan tes awal adalah tes untuk mengetahui
seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan mengenai
pelajaran yang hendak diikuti. Benjamin S. Bloom melalui beberapa eksperimen
membuktikan bahwa “untuk belajar yang bersifat kognitif apabila pengetahuan
atau kecakapan pra syarat ini tidak dipenuhi, maka betapa pun kualitas
pembelajaran tinggi, maka tidak akan menolong untuk memperoleh hasil belajar
yang tinggi”. Hasil pretest juga sangat berguna untuk mengetahui seberapa jauh
pengetahuan yang dimiliki dan sebagai perbandingan dengan hasil yang
dicapai setelah mengikuti pelajaran.
Jadi kemampuan awal sangat diperlukan untuk menunjang pemahaman siswa
sebelum diberi pengetahuan baru karena kedua hal tersebut saling
berhubungan.Contoh angket sederhana untuk mengetahui bekal ajar awal peserta
didik sebagai berikut:
Seberapa luas pengetahuanmu tentang native speaker:
1.
Saya belum pernah mendengar istilah itu
2.
Saya pernah mendengar tapi belum tahu
tentang native speaker
3.
Saya hanya tahu sedikit tentang native
speaker
4.
Saya belum tahu pengertian native speaker
secara luas
5.
Kesulitan Belajar Peserta Didik
M. Pengertian
kesulitan belajar
Setiap individu tidak
sama. Perbedaan individu ini menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di
kalangan peserta didik. Sehingga memunculkan perbedaan kemampuan peserta didik
dalam memahami materi pembelajaran di kelas yang sering disebut sebagai
kesulitan belajar. Hamalik (hal: 1983) menyatakan kesulitan
belajar dapat diartikan sebagai keadaan di mana peserta didik tidak dapat
belajar sebagaimana mestinya. Keadaan tersebut tidak bisa diabaikan oleh
seorang pendidik karena dapat menjadi penghambat tujuan pembelajaran.
Kesulitan belajar tidak hanya disebabkan oleh faktor intelegensi yang
rendah, akan tetapi bisa disebabkan oleh faktor-faktor nonintelegensi.
Oleh karena itu, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan
belajar. Wood (2007:33) menyatakan kesulitan belajar adalah suatu kondisi
dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk
mencapai hasil belajar. Hambatan-hambatan tersebut diakibatkan oleh
faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik maupun luar diri peserta
didik. Faktor-faktor penyebab tersebut, hendaklah dipahami oleh pendidik
agar setiap peserta didik dapat mencapai tujuan belajar yang
baik.
Peserta didik
mempunyai hak yang sama untuk mencapai kinerja akademik (academic
performance) yang memuaskan. Namun kenyataannya pendidik kurang memahami
peserta didik yang memiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual,
kemampuan fisik, latar belakang, kebiasaan dan pendekatan belajar antara
pesetrta didik satu dengan lainnya. Sementara itu, penyelenggaraan pendidikan
di sekolah-sekolah pada umumnya hanya ditunjukkan kepada para peserta didik
yang berkemampuan rata-rata, sehingga peserta didik yang berkemampuan lebih
atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Peserta didik yang berkategori di
luar rata-rata itu (sangat pintar dan sangat rendah) tidak mendapat kesempatan
yang memadai untuk berkembang sesuai dengan kepasitasnya. Kesulitan belajar
(learning difficulty) yang tidak hanya dialami peserta didik berkemampuan
rendah saja, tetapi juga dialami oleh peserta didik yang berkemampuan
tinggi. Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan kesulitan belajar
adalah suatu hambatan yang dialami oleh peserta didik untuk mencapai
hasil belajar yang memuaskan.
N. Ciri-ciri
kesulitan belajar menurut Moh. Surya antara lain:
1.
Menunjukkan hasil belajar yang rendah (di
bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok kelas);
2.
Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan
usaha yang dilakukan, mungkin murid yang selalu errusaha dengan giat tetapi
nilai yang dicapai selalu rendah;
3.
Lambat dalam melakukan tugas-tugas
kegiatan belajar, ia selalu tertinggal dari kawan-kawannya dalam menyelesaikan
tugas-tugas sesuai dengan waktu yang tersedia;
4.
Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar,
seperti acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta, dsb;
5.
Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan,
seperti membolos, datang terlambat, tidak engerjakan pekerjaan rumah,
menggangu didalam dan diluar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, mengsingkan
diri, tersisih, tidak mau bekerja sama, dsb;
6.
Menunjukkan gejala emosional yang kurang
wajar, seperti pemurung, mudah tersinggung, mudah pemarah, tidak gembira dalam
menmghadapi situasi tertentu, misalnya dalam menghadapi nilai rendah tidak
menunjukkan sedih atau menyesal dsb. Pernyataan tersebut, dapat dipahami
adanya beberapa manifestasi dari gejala kesulitan belajar yang dialami oleh
para peserta didik.
Gejala-gejala yang
termanifestasi dalam tingkah laku setiap peserta didik, diharapkan para
pendidik dapat memahami dan mengidentifikasikan mana siswa yang mengalami
kesulitan dalam belajar dan mana yang tidak.
O. FAKTOR-FAKTOR
KESULITAN BELAJAR
Di negara-negara
berkembang seperti Indonesia, prevalensi anak dengan kesulitan belajarnya
diperkirakan lebih besar. Para ahli mengemukakan bahwa penyebab kesulitan
belajar itu kompleks dan luas. Secara umum, penyebab kesulitan belajar antara
lain:
1.
Faktor intelektual, yaitu inteligensi yang
rendah dan terbatas;
2.
Faktor kondisi fisik dan kesehatan,
termasuk kondisi kelainan, seperti kurangnya gizi pada ibu hamil, bayi dan
anak, kerusakan susunan dan fungsi otak, dan penyakit persalinan;
3.
Faktor sosial,seperti pengaruh teman
bermain, pergaulan dan lingkungan sekitar;
4.
Faktor keluarga, seperti keadaan keluarga
yang kurangnya dukungan belajar dari orang tua.
Berikut ini penjabaran faktor-faktor kesulitan belajar yang dialami oleh
peserta didik menurut Koestur Partowisastro dan Hadi Suprapto (1978:56)
yaitu:
1.
Kondisi fisiologis yang permanen
meliputi inteligensi yang terbatas, hambatan penglihatan dan pendengaran,
dan masalah persepsi.
2.
Kondisi fisiologis temporer meliputi
masalah makanan, kecenderungan, dan kecapaian.
3.
Kondisi lingkungan sosial permanen
meliputi harapan dan tekanan orang tua tinggi dan konflik dalam keluarga.
4.
Kondisi lingkungan sosial temporer
meliputi ada bagian-bagian dalam urutan yang belum dipahami dan
persaingan interes.
Sedangkan menurut Tidjan, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
kesulitan belajar yaitu interen dan ekstern. Faktor interen meliputi
faktor fisiologis, yaitu kesehatan fisik terganggu, cacat fisik dan
sebagainya. Faktor intelektual, misalnya kecerdasan kurang,
kecakapan kurang, bakat-bakat kurang. Faktor minat, tidak berminat atau kurang
minat. Faktor konsentrasi perhatian kurang. Faktor ingatan
kurang. Faktor emosi, misalnya rasa benci dan rasa tidak puas.
Faktor ekstern meliputi Faktor tempat, misalnya tidak ada
tempat khusus untuk belajar. Faktor alat, alat-alat yang diperlukan
dalam belajar kurang atau tidak ada. Faktor waktu dan suasana, yaitu tidak
dapat mengatur waktu belajar, ramai dan gaduh, rumah dekat jalan
yang cukup ramai. Faktor lingkungan sekolah, misalnya bahan pelajaran
kurang, metode guru mengajar tidak memuaskan, pengeruh teman yang tidak baik
(negatif). Faktor lingkungan keluarga dan masyarakat, misalnya situasi keluarga
yang tidak menguntungkan anak dalam belajar, begitu pula dengan masyarakatnya
PENUTUP
Dengan tuntasnya
mempelajari materi dalam modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia
SMA Kelompok Kompetensi A ini, Anda diharapkan
tidak lagi mengalami kesulitan dalam mengembangkan pembelajaran
yang efektif dan bermakna di kelas.
Guru sepatutnya mendapatkan pemahaman terhadap
kompetensi pedagogik dan profesional dengan komposisi yang ideal merupakan
sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa dilewatkan pada setiap pertemuan.
Materi yang dipaparkan dalam kegiatan pembelajaran ini diharapkan dapat
menambah wawasan Anda dalam menentukan karakteristik,
potensi, kesulitan belajar peserta didik serta dapat merancang
kegiatan yang dapat mengatasi kesulitan belajar peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Aliran-aliran klasik
dalam pendidikan dan pengaruhnya terhadap pemikiran pendidikan di Indonesia.
Diunduh dari http://www.peutuah.com/makalah-pendidikan/pada tanggal
1 Juni 2012
Djamarah, Syaiful
Bahri. (2000). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka
Cipta
Effendi, Mukhlison
dan Siti Rodliyah. (2004).Ilmu Pendidikan.Ponorogo: PPS Press
Fauzi, Ahmad. (2011).
Analisis Karakteristik Siswa.
http://pengantarpendidikan.files.wordpress.com/2011/02/analisis-karakteristik-siswa.pdf pada
tanggal 28 Mei 2012
Hamalik, Oemar.
(2003). Proses Belajar Mengajar.Jakarta : Bumi Aksara.
Hernawati, Kuswari.
(2011). E-Learning Adaptif Berbasis Karakteristik Peserta Didik.http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/adaptif%20elearning.pdf
Hurlock, E. B.
(1997). Perkembangan Anak Jilid 1. Terjemahan Tsandrasa, M.M.
dan Zarkasih, M.
Jakarta: Penerbit Erlangga
Hurlock, E. B. 1980.
Psikolog Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang rentang Kehidupan. Terjemahan
Istiwidanti & Soedarjarwo, Jakarta: Erlangga
Mardiya.(2009).
Peranan Orang Tua dalam Pembentukan Karakter dan Tumbuh Kembang Anak.http://mardiya.wordpress.com/2009/10/25/peranan-orang-tua-dalam-pembentukan-karakter-dan-tumbuh-kembang-anak/
Muda, Aslam Syah.
(2012). Pengaruh Pola Asuh Terhadap Kepribadian Anak.http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/06/pengaruh-pola-asuh-terhadap-kepribadian-anak/
Partanto, Pius A. dan
M. Dahlan Al-Barry.(1994). Kamus Ilmiah Populer.Surabaya : Arkola
Purwanto,
Ngalim.(1990). Psikologi Pendidikan.Bandung: CV Remaja Karya
Santrock, J.W.
(2002). Life Span Development, Perkembangan Masa Hidup
(Terjemahan).
Jakarta: Erlangga
Semiawan, Cony.
(2008). Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: PT Grasindo
Suhadianto.(2009).
Pentingnya Mengenal Kepribadian Siswa Untuk Meningkatkan Prestasi
Sukmadinata, Nana
Syaodih. 2004. LAndasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya
Syah, Muhibbin.
Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. (2008). PT Remaja Rosdakarya
Bandung
Sumarmo, Alim.
Memahami 9 Tipe Kecerdasan Jamak.Diunduh dari http://blog.elearning.unesa.ac.id/alim-sumarno/memahami-9-tipe-kecerdasan-jamak.pada tanggal 22 Juni
2012
Uno, Hamzah.
B.(2008).Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif
dan Efektif . Jakarta: Bumi Aksara
Taimiyah, Ibnu
(Syaikhul Islam). Iqtidha’ Ash Shiratil Mustaqim, Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdul
Karim Al ‘Aql.
Zainudin, Akbar.
(2010). Gaya belajar dan modalitas belajar siswa. Diunduh darihttp://ideguru.wordpress.com/2010/04/12/memahami-perbedaan-gaya-belajar-siswa/pada tanggal
31 Mei 2012
1.
http://www.smartpassiveincome.com/are-people-talking-about-you-online-heres-what-you-need-to-know/
2.
http://logodownload.blogspot.com/2012/11/logo-tamansiswa.html
3.
http://ranjihistoris2012.wordpress.com/2012/07/15/wisata-sejarah-di-ins-kayu-tanam/
4.
http://educ732.courseblock.com/module04/topic-4-2-gardner%E2%80%99s-multiple-intelligences-theory/
5.
http://guruqungeblog.files.wordpress.com/2011/02/siswa-aktif.jpg