BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah
Terlepas dari paradigma pendidikan
itu sendiri, pada masa Nabi, Negara Islam meliputi seluruh jazirah Arab dan
pendidikan Islam berpusat di Madinah, setelah Rasulullah wafat kekuasaan
pemerintahan Islam dipegang oleh Khulafaurrasyidin dan wilayah Islam telah
meluas di luar jazirah Arab. Para khalifah ini bukan hanya memperhatikan aspek
pendidikan, namun juga syiar agama dengan perluasan ekspansi militer, demi
kokohnya Negara Islam.
Untuk itu tema makalah ini layak
untuk dibahas, karena sebagai khasanah pengembangan pendidikan islam di
Indonesia yang diadopsi dari Pendidikan Islam pada masa Khulafaurrasyidin.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana pola Pendidikan Islam pada
masa Khulafaurrasyidin?
2.
Rekontruksi Pendidikan Islam pada
Masa Khulafaurrasyidin untuk Pendidikan Islam di Indonesia masa sekarang?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pola Pendidikan Islam Pada Masa Khulafaurrasyidin
1. Masa Abu
Bakar al-Shiddiq (632-634 M)
a. Sosial
Masyarakat
Masa kepemimpinan Abu Bakar
terhitung sangat singkat, hanya dua tahun. Masa sesingkat itu habis untuk
menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama yang ditimbulkan oleh suku-suku
bangsa arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah di kota Madinah. Mereka
menganggap, bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad dengan sendirinya
batal setelah Nabi wafat. Oleh karena itu, mereka menentang pemerintahan Abu
Bakar. Dikarenakan sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat
membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini
dengan apa yang disebut perang Riddah (perang melawan kemurtadan).[1]
b. Pola
Pendidikan
Dilihat dari sosial masyarakat yang
pada saat itu tidak semua berpihak pada pemerintahan, dengan alasan diatas, Abu
Bakar fokus untuk menangani pemberontakan orang-orang murtad, pengaku nabi dan
pembangkan zakat. Hal ini menyebabkan pendidikan dimasa ini tidak banyak
mengalami perubahan sejak masa Rasulullah SAW. Yakni berkisar pada materi
pendidikan seputar tauhid, akhlak, ibadah, kesehatan.[2]
1. Pendidikan
keimanan (Tauhid) yaitu menanamkan bahwa satu-satunya yang wajib disembah
adalah Allah.
2. Pendidikan
Akhlak, seperti adab masuk rumah orang lain, sopan santun bertetangga, bergaul
dalam masyarakat dan lain sebagainya.
3. Pendidikan
Ibadah, seperti pelaksanaan sholat, puasa dan haji.
4. Kesehatan,
seperti kebersihan, gerak gerik dalam shalat merupakan didikan untuk memperkuat
jasmani dan rohani.[3]
Mengenai bentuk lembaga pendidikan
pada masa ini, Ahmad Syalabi menegaskan lembaga untuk belajar membaca dan
menulis pada saat itu disebut dengan Kuttab.
Disamping itu masjid juga berfungsi
sebagai tempat belajar, ibadah, dan musyawarah. Khusus Kuttab,
merupakan pendidikan yang di bentuk setelah masjid. Selanjutnya dalam
pendapat yang lain mengatakan bahwa kuttab didirikan oleh
orang-orang arab pada masa Abu Bakar. Sedangkan pusat pembelajaran pada masa
ini adalah kota Madinah, dan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para
sahabat Rasulullah SAW. yang terdekat.[4]
2. Masa Umar
bin Khatthab (634-644 M)
a. Sosial
Masyarakat
Sebelum Abu Bakar wafat, beliau
telah menyaksikan persoalan yang timbul di kalangan kaum muslimin sejak Rasul
wafat, berdasarkan hal inilah Abu Bakar menunjuk penggantinya yaitu Umar bin
Khattab, yang tujuannya adalah untuk mencegah supaya tidak terjadi perselisihan
dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kebijakan Abu Bakar tersebut ternyata
diterima masyarakat.[5]
Masa pemerintahan Umar bin Khatthab
sekitar 10 tahun ini, mengalami perluasan wilayah kekuasaan. Yang mana Madinah
sebagai pusat pemerintahan. Dengan meluasnya wilayah Islam mengakibatkan meluas
pula kehidupan dalam segala bidang. Untuk memenuhi kebutuhan ini diperlukan
manusia yang memiliki ketrampilan dan keahlian, sehingga dalam hal ini
diperlukan pendidikan.
Pada masa khalifah Umar bin Khattab,
sahabat-sahabat yang sangat berpengaruh tidak diperlukan untuk keluar
daerah kecuali atas izin dari khalifah dan dalam waktu yang terbatas. Jadi,
kalau ada diantara umat Islam yang ingin belajar harus pergi ke Madinah, ini
berarti bahwa penyebaran ilmu dan pengetahuan para sahabat dan tempat
pendidikan terpusat di Madinah.[6]
b. Pola
Pendidikan
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab,
pendidikan juga tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya, Pola penddidikan
dimasa ini mengalami perkembangan. Khalifah saat itu sering mengadakan
penyuluhan (pendidikan) di kota Madinah. Beliau juga menerapkan pendidikan di
Masjid-masjid dan mengangkat guru dari sahabat-sahabat untuk tiap-tiap daerah
yang ditaklukkan. Mereka bukan hanya bertugas mengajarkan al-Quran, akan tetapi
juga dibidang Fiqih. Adapun tenaga pengajar sebagian besar adalah para sahabat
yang senior, antara lain Abdurrahman bin Ma’qal dan Imran bin al-Hasyim (di
Bashrah), Abdurrahman bin Ghanam (di Syiria), Hasan bin Abi Jabalah (di Mesir).[7] Adapun
mata pelajaran yang diberikan meliputi membaca dan menulis al-Qur’an dan
menghafalkannya serta belajar pokok-pokok agama Islam. Namun Pendidikan pada
masa Umar bin Khattab lebih maju daripada dengan sebelumnya. Pada masa ini
tuntutan untuk belajar bahasa Arab juga sudah mulai nampak, orang yang baru
masuk Islam dari daerah yang ditaklukan harus belajar dan memahami pengetahuan
Islam. Oleh karena itu, pada masa ini sudah terdapat pengajaran bahasa Arab.
Berdasarkan hal di atas, pelaksanaan
pendidikan di masa Khalifah Umar bin Khattab lebih maju, sebab selama Umar
memerintah Negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini disebabkan di
samping telah diterapkannya masjid sebagai pusat pendidikan, juga telah
terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai kota dengan materi yang
dikembangkan, baik dari ilmu bahasa, menulis, dan pokok ilmu–ilmu lainnya.
Pendidikan dikelola di bawah pengaturan Gubernur yang berkuasa saat itu, serta
diiringi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian,
baitulmal, dan sebagainya. Adapun sumber gaji para pendidik pada waktu itu
diambilkan dari daerah yang ditaklukan dan dari baitulmal.[8]
3. Masa Utsman
bin ‘Affan (644-656 M)
a. Sosial
Masyarakat
Masa pemerintahan Utsman yang
berlangung kurang lebih 11 tahun, masa yang lumayan lama ini stabilitas politik
mulai memanas, hal ini disebabkan terjadinya fitnah dikalangan masyarakat.
Salah satunya terdapat beberapa wilayah yang hendak melepaskan diri dari
pemerintahan Ustman bin Affan, yang disebabkan dendam lama sebelum ditaklukkan
Islam. Daerah tersebut adalah Khurasan dan Iskandariah. Selain itu ada
dua hal yang menyebabkan rasa kebencian kepada Khalifah semakin memuncak, yaitu
kelemahan Utsman dan sikap Nepotisme. Utsman memang memiliki perangai yang
berbeda dengan Khalifah sebelumnya. Jika umar dengan ketegasannya menimbulkan
wibawa dan disegani oleh masyarakat, berbeda dengan Utsman yang bersikap lemah
lembut. Sedangkan sikap Nepotismenya diwujudkan dalam bentuk pemerintahan.
Pasalnya, pada masa ini banyak gubernur-gubernur yang dilepas jabatannya, dan
digantikan dengan kerabatnya sendiri. Antara lain Mughirah bin Syu’bah gubernur
Kufah digantikan Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Musa al-‘Asy’ari gubernur Bashrah
digantikan Abdullah bin ‘Amir bin Kariz, ‘Amr bin ‘Ash gubernur Mesir
digantikan abdullah bin Sa’d bin Abi Sarah.[9]
Saif bin Umar mengatakan,
bahwa sebab terjadinya pemberontakan beberapa kelompok menentang pemerintah
adalah disebabkan seorang yahudi bernama Abdullah bin Saba’ yang berpura-pura
masuk Islam dan pergi kedaerah Mesir untuk menyebarkan idenya tersebut
dibeberapa kalangan masyarakat. Maka mulailah masyarakat mengingkari
kepemimpinan Ustman Bin Affan serta mencelanya.
b. Pola
Pendidikan
Pola pendidikan tidak jauh berbeda
dengan pola pendidikan yang diterapkan pada masa Umar. Hanya saja pada periode
ini, para sahabat yang asalnya dilarang untuk keluar dari kota Madinah kecuali
mendapatkan izin dari Khalifah, mereka diperkenankan untuk keluar dan
mentap di daerah-daerah yang mereka sukai. Dengan kebijakan ini, maka orang
yang menuntut ilmu (para peserta didik) tidak merasa kesulitan untuk belajar ke
Madinah.[10]
Khalifah Utsman bin Affan sudah merasa
cukup dengan pendidikan yang sudah berjalan, namun begitu ada satu usaha yang
cemerlang yang telah terjadi di masa ini yang disumbangkan untuk umat Islam,
dan sangat berpengaruh luar biasa bagi pendidikan Islam, yaitu untuk
mengumpulkan tulisan ayat-ayat al-Qur’an. Penyalinan ini terjadi karena
perselisiahn dalam bacaan al-Qur’an. Berdasarkan hal tersebut, khalifah Usman
memerintahkan kepada tim yang dimpimpin Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair,
Zaid bin Ash, dan Abdurrahman bin Harist.[11]
Bila terjadi pertikaian bacaan, maka
harus diambil pedoman kepada dialek suku Quraisy, sebab al-Qur’an ini
diturunkan dengan lisan Quraisy. Zaid bin Tsabit bukan orang Quraisy, sedangkan
ketiganya adalah orang Quraisy.
Tugas mendidik dan mengajar umat
pada masa Utsman bin Affan diserahkan pada umat itu sendiri, artinya pemerintah
tidak mengangkat guru-guru, dengan demikian para pendidik sendiri melaksanakan
tugasnya hanya dengan mengharap keridhaan Allah.
4. Masa Ali bin
Abi Thalib (656-611 M)
a. Sosial Masyarakat
Beberapa hari setelah pembunuhan
Ustman bin Affan, stabilitas keamanan kota madinah menjadi rawan. Gafqy bin
Harb memegang keamanan ibukota Islam itu selama kira-kira lima hari sampai
terpilihnya Khalifah yang baru. Kemudian Ali bin Abi Thalib tampil menggantikan
Ustman bin Affan, dengan menerima baiat dari sejumlah kaum muslimin.[12]
Pada masa pemerintahan Ali
yang hanya sekitar enam tahun itu, terjadi kekacauan politik dan pemberontakan,
salah satunya disebabkan kebijakan Khalifah yang memecat gubernur-gubernur yang
diangkat oleh khalifah sebelumnya (Ustman bin Affan). Seperti Ibnu Amir
Gubernur Bashrah Ustman bin Hanif, Abdullah Gubernur Mesir diganti Qais bin
Sa’ad, tak terkecuali Mu’awiyah bin Abi Sufyan Gubernur Damaskus, diminta untuk
meletakkan jabatannya, namun menolak dan bahkan tidak mau mengakui kekhalifahan
Ali bin Abi Thalib.
Selain itu, beliau juga mengeluarkan
kebijakan baru dengan menarik hasil tanah yang sebelumnya telah hadiahkan oleh
utsman kepada penduduk. Tidak lama setelah itu, terjadi kesalah-pahaman
diantara Ali bin Abi Thalib dengan Aisyah binti Abu Bakar, Thalhah dan Zubair.
Mereka berselisih mengenai penyelesaian kasus pembunuhan Ustman bin Affan. Hal
ini mengakitbatkan pergolakan politik hingga terjadinya peperangan yang dikenal
dengan peran Jamal yang dimenangi dari kubu Ali bin Abi
Thalib. Selain itu, pada masa ini terjadi perang shiffin.
Yaitu peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufwan,
gubernur Damaskus. Yang berakhir dengan Tahkim sebagai akibat
timbulnya golongan pembenci Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan Khawarij.
b. Pola
Pendidikan
Masa enam tahun dengan situasi
pemerintahan yang tidak stabil ini, dapat disimpulkan bahwa pendidikan pada
masa ini mendapat hambatan, dikarenakan Khalifah sendiri tidak sempat
untuk memikirkannya. Dan itu berarti pola pendidikannya tidak jauh berbeda
dengan masa-masa sebelumnya.[13]
B. Pusat dan
Sistem Pendidikan
Secara umum pusat Pendidikan Islam
pada Masa Khulafau Rasyidin terbagi dibeberapa wliayah antara lain:
1. Mekkah. Guru
pertama di Makkah adalah Muadz bin Jabal yang mengajarkan Al-Qur’an dan Hadist.
2. Madinah.
Sahabat yang terkenal antara lain: Abu bakar, Usman bin Affan, Ali bin Abi
Thalib, dan sahabat-sahabat lainnya.
3. Bashrah.
Sahabat yang termasyhur antara lain: Abu Musa al-Asy’ari, dia adalah seorang
ahli fikih dan al-Qur’an.
4. Kuffah.
Sahabat-sahabat yang termasyhur adalah Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin
Mas’ud, Abdullah bin Mas’ud mengjarkan Al-Qur’an, tafsir, hadist, dan fikih.
5. Damsyik
(Syam). Setelah Syam menjadi bagian Negara Islam dan penduduknya banyak
beragama Islam. Maka Khalifah Umar mengirim tiga orang guru ke negara itu. Yang
dikirin adalah Muaz bin Jabal, Ubaidah, dan Abu Darda’. Ketiga sahabat itu
mengajar di Syam pada tempat yang berbeda. Abu Darda’ di Damsyik, Muaz bin
Jabal di Palestina, Ubaidah di Hims.
6. Mesir.
Sahabat yang mula-mula mendirikan madrasah dan menjadi guru di Mesir adalah
Abdullah bin Amru bin Ash, ia adalah seorang ahli hadist.[14]
Sedangkan Sistem pendidikan Islam
secara umum pada masa Khulafaurrasyidin dilakukan secara mandiri, tidak
dikelola oleh pemerintah, kecuali pada masa Khalifah Umar bin Khattab yang
turut campur dalam menambahkan materi kurikulum pada lembaga Kuttab. Materi
pendidikan Islam yang diajarkan pada masa khalifah al-Rasyidin sebelum masa
Umar bin Khattab, untuk pendidikan dasar:[15]
1. Membaca dan
menulis
2. Membaca dan
menghafal Al-Qur’an
3. Pokok-pokok
agama Islam, seperti cara wudhu, shalat, shaum dan sebagainya.
Ketika Umar bin Khattab diangkat
menjadi khalifah, ia menginstruksikan kepada penduduk kota agar anak-anak
diajari:
1. Berenang
2. Mengendarai
unta
3. Memanah
Sedangkan materi pendidikan pada tingkat menengah dan
tinggi terdiri dari:
1. Al-qur’an
dan tafsirnya.
2. Hadits dan
pengumpulannya.
3. Fiqh
(tasyri’).
Pusat dan sistem pendidikan ini
terus berlanjut sampai pada Khalifah terakhir Ali bin Abi Thalib.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
uraian sebagaimana tersebut di atas, dapat kami simpulkan sebagai berikut:
Pendidikan pada masa khalifah Abu
Bakar tidak jauh berbeda dengan pendidikan pada masa Rasulullah. Pada masa
khalifah Umar bin Khattab, pendidikan sudah lebih meningkat dimana pada masa
khalifah Umar, guru-guru sudah diangkat dan digaji untuk mengajar ke
daerah-daerah yang baru ditaklukan. Pada masa khalifah Usman bin Affan,
pendidikan diserahkan pada rakyat dan sahabat tidak hanya terfokus di Madinah
saja, tetapi sudah di bolehkan ke daerah-daerah untuk mengajar. Pada masa
khalifah Ali bin Abi Thalib, pendidikan kurang mendapat perhatian, ini
disebabkan pemerintahan Ali selalu dilanda konflik yang berujung kepada
kekacauan.
DAFTAR
PUSTAKA
Badri Yatim, M.A, Sejarah
Peradaban Islam, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008.
Syamsul Nizar, Sejarah
Pendidikan Islam, Jakarta; Prenada Media, 2008.
Mahmud Yunus, Sejarah
Pendidikan Islam, Jakarta :Hidayakarya Agung, 1989.
Ahmad Sjalaby, Sedjarah
Pendididikan Islam, Djakarta: Bulan Bintang.
Sukarno dan Ahmad Supardi, Sejarah
dan Filsafat Islam, Bandung: Angkasa, 1983.
Mahmud Syakir, al-Tarikh al-Islamy; al-Khulafau al-Rasyidun Vol.
III, Bairut: al-Maktab al-Islami, 2000.
[1]
Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam,
(Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008), hal. 36.
[3]
Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam,
(Jakarta :Hidayakarya Agung, 1989), hal. 18.
[4]
Ahmad Sjalaby, Sedjarah
Pendididikan Islam, (Djakarta: Bulan Bintang), hal. 33.
[5]
Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam,...hal.
37.
[6]
Sukarno dan Ahmad Supardi, Sejarah
dan Filsafat Islam, (Bandung: Angkasa, 1983), hal. 51.
[7] Syamsul Nizar, Sejarah Pendidikan ...
hal. 47.
[8]
Ibid.
[9]
Mahmud Syakir, al-Tarikh
al-Islamy; al-Khulafau al-Rasyidun Vol. III, (Bairut: al-Maktab al-Islami,
2000), hal. 233.
[10]
Syamsul Nizar, Sejarah
Pendidikan ... hal. 49.
[11]
Samsul Munir Amin M.A., Sejarah
Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009), hal. 105.
[13]
Syamsul Nizar,Sejarah Pendidikan ...
hal. 50.
[14]
Syamsul Nizar,Sejarah Pendidikan ...
hal. 53.
[15] Syamsul Nizar,Sejarah Pendidikan ... hal.
57.