Tampilkan postingan dengan label Penasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penasehat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Mei 2022

GURU Sebagai Penasehat

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat. Guru dapat dihormati oleh masyarakat karena kewibawaannya, sehingga masayarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat percaya bahwa dengan adanya guru,  maka dapat mendidik dan membentuk kepribadian anak didik mereka dengan baik agar mempunyai intelektualitas yang tinggi serta jiwa kepemimpinan yang bertanggungjawab. Jadi dalam pengertian yang sederhana, guru dapat diartikan sebagai orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Sedangkan guru dalam pandangan masyarakat itu sendiri adalah orang yang melaksanakan pendidikan ditempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan yang formal saja tetapi juga dapat dilaksanakan di lembaga pendidikan non-formal seperti di masjid, di surau/mushola, di rumah dan sebagainya.

Seorang guru mempunyai kepribadian yang khas. Disatu pihak guru harus ramah, sabar, menunjukkan pengertian, memberikan kepercayaan dan menciptakan suasana aman. Akan tetapi di lain pihak, guru harus memberikan tugas,mendorong siswa untuk mencapai tujuan, menegur, menilai, dan mengadakan koreksi. Dengan demikian, kepribadian seorang guru seolah-olah terbagi menjadi 2 bagian. Di satu pihak bersifat empati, di pihak lain bersifat kritis. Di satu pihak menerima, di lain pihak menolak. Maka seorang guru yang tidak bisa memerankan pribadinya sebagai guru, ia akan berpihak kepada salah satu pribadi saja.

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

GURU SEBAGAI PENASEHAT

A.      Pengertian Guru

Guru dalam bahasa jawa adalah menunjuk pada seorang yang harus digugu dan ditiru oleh semua murid dan bahkan masyarakat. Harus digugu artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan diyakkini sebagai kebenaran oleh semua murid. Sedangkan ditiru artinya seorang guru harus menjadi suri teladan (panutan) bagi semua muridnya.

Secara tradisional guru adalah seorang yang berdiri didepan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan.[1]

Guru sebagai pendidik dan pengajar anak, guru diibaratkan seperti ibu kedua yang mengajarkan berbagai macam hal yang baru dan sebagai fasilitator anak supaya  dapat belajar dan mengembangkan potensi dasar dan kemampuannya secara optimal,hanya saja ruang lingkupnya guru berbeda, guru mendidik dan mengajar di sekolah negeri ataupun swasta.

Adapun pengertian guru menurut para ahli:

1.        Menurut Noor Jamaluddin. Guru adalah pendidik, yaitu orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu berdiri sendiri dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah khalifah di muka bumi, sebagai makhluk sosial dan individu yang sanggup berdiri sendiri.[2]

2.        Menurut Peraturan Pemerintah Guru adalah jabatan fungsional, yaitu kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak seorang PNS dalam suatu organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan keahlian atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri.

3.        Menurut Keputusan Men.Pan  Guru adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, wewenang dan tanggung jawab oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pendidikan di sekolah.

4.        Menurut Undang-undang No. 14 tahun 2005 Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.[3]

 

B.       Pengertian  Penasehat

Dalam setiap langkah kehidupan, manusia tidak terlepas dari masalah karena masalah adalah bagian dari manusia yang hidup. Begitu pula halnya dengan peserta didik. Seringkali peserta didik mengalami kesulitan-kesulitan, seperti kesulitan belajar, kesulitan memecahkan masalah pribadi, kesulitan memecahkan masalah sosial, kesulitan mengambil keputusan, kesulitan menemukan jati diri, dan sebagainya. Kesulitan tersebut pasti akan mempengaruhi proses pembelajaran dan menentukan hasil dalam pencapaian tujuan. Untuk itu seorang guru harus bertindak sebagai konsultan yang siap memberikan nasihat kepada peserta didik.[4]

Setiap guru harus berperan sebagai penasihat ketika peserta didik memerlukannya, kapan dan dimanapun guru berada. Hal ini dikarenakan guru adalah sebagai pen-transfer nilai-nilai dan norma yang harus menunjukkan identitasnya sebagai guru. Peran guru sebagai penasihat ini sangat diperlukan sekali, apalagi ketika di sekolah tidak ada guru Bimbingan dan Konseling.

Di beberapa tempat dan kesempatan guru tidak hanya berperan sebagai penasihat bagi peserta didiknya. Akan tetapi, guru juga dianggap sebagai orang yang serba tahu yang dapat memecahkan berbagai permasalahan terutama yang berhubungan dengan pendidikan. Oleh karena itu, guru harus memahami betul masalah-masalah pendidikan, psikologi pendidikan, psikologi perkembangan, dan sebagainya.[5]

 

 

 

C.      Guru Sebagai Penasehat

Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik juga bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang.

Banyak  guru cenderung menganggap bahwa konseling terlalu banyak membicarakan klien, seakan-akan berusaha mengatur kehidupan orang, dan oleh karenanya mereka tidak senang melaksanakan fungsi ini. Padahal menjadi guru pada tingkat manapun berarti menjadi penasehat dan menjadi orang kepercayaan, kegiatan pembelajaran pun meletakkan pada posisi tersebut.[6]  

Peserta didik senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat keputusan dan dalam prosesnya akan lari kepada gurunya. Agar guru dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan dan penasihat secara lebih mendalam, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental. Peserta didik akan menemukan sendiri dan secara mengherankan, bahkan mungkin menyalahkan apa yang ditemukannya, serta akan mengadu kepada guru sebagai orang kepercayaannya. Semakin efektif guru menangani setiap permasalahan, semakin banyak kemungkinan peserta didik berpaling kepadanya untuk mendapatkan nasehat dan kepercayaan diri.

Menjadi guru berarti menjadi penasehat dan menjadi orang kepercayaaan bagi peserta didiknya. Setiap saat peserta didik selalu dihadapkan dengan masalah, terutama masalah yang berkaitan dengan penguasaan kompetensi. Untuk menjadi orang kepercyaan peserta didik, guru harus menjadi pendengar yang baik Carl Rogers, seorang pakar di bidang psikologi pernah berkata bahwa penghalang terbesar untuk melakukan komunikasi pribadi adalah ketidaksanggupan seseorang untuk mendengarkan dengan baik, penuh pengertian dan perhatian kepada orang lain. Jika guru diberi tugas untuk membimbing dan melatih seseorang maka hal ini merupakan satu hal terpenting yang harus diingat. Ketika guru sedang berbicara dengan siswanya, jagalah agar guru tidak terlalu banyak bicara, melainkan lebih banyak mendengarkan keluhan dan masukan dari siswa anda.[7]

Kesediaan untuk mendengar, akan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan keinginan dan pendapatnya. Dengan mendengar, berarti memperhatikannya, seorang guru mempunyai suatu perhatian yang konstruktif  mengenai masalah yang dihadapi siswanya, dimana seorang guru mempunyai alternatif solusi yang dibutuhkan siswa tersebut. Dengan demikian akan tercipta rasa aman dan nyaman, sehingga siswa akan terbuka untuk menerima saran-saran yang diberikan oleh gurunya. Selain itu, mendengarkan siswa yang sedang berbicara tentang dirinya merupakan jalan terbaik untuk mengenal lebih jauh siapa dan bagaimana siswa kita tersebut. Meskipun demikian, mendengarkan tidak selalu berarti bahwa guru percaya terhadap segala sesuatu yang diceritakan oleh siswa. Untuk menjadi pendengar yang baik dibutuhkan kesabaran dan kerendahan hati.  [8]

Peran guru sebagia penasehat erat hubungannya dengan istilah bimbingan. Istilah bimbingan sering dirangkai dengan konseling. Menurut Robinson Konseling adalah semua bentuk hubungan yang berkesinambungan antara dua orang, di mana yang seorang, yaitu klien dibantu untuk lebih mampu menyesuaikan diri secara efektif terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Menurut Bimo Walgito dalam buku Profesi Keguruan, menyatakan bahwa konseling adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan wawancara, dengan cara-cara yang sesuai dengan individu yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.[9]

 Bimbingan yang diberikan kepada peserta didik bersifat sistematis dan berencana yang terarah kepada pencapaian tujuan. Tujuan bimbingan adalah membantu siswa menjadi lebih matang dan lebih mengaktualisasikan dirinya, membantu siswa maju dengan cara yang lebih positif, membantu dalam sosialisasi siswa dengan memanfaatkan sumber-sumber dan potensi dirinya sendiri. Disisi lain peserta didik adalah sosok yang senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat keputusan. Selain itu juga kadang ada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Peserta didik yang mengalami kesulitan belajar kadang-kadang ada yang mengerti bahwa dia mempunyai masalah tetapi tidak tahu bagaimana mengatasinya, dan ada juga yang tidak mengerti kepada siapa ia harus meminta bantuan dalam menyelesaikan masalahnya itu Kondisi ini membuat peserta didik menjadi bingung, terombang ambing, bahkan dapat berbuat tidak wajar  yang   akhirnya dapat merugikan  peserta didik itu sendiri. Kondisi seperti inilah dibutuhkan peran guru sebagai penasehat kepercayaan dalam pembelajaran.[10]

Agar guru dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan, dan penasehat secara lebih mendalam, guru harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental. Selain itu juga menurut Ondi Saondi dan Aris Suherman seorang guru harus mengenali siswanya. Sebagai guru, kita harus mengetahui kesanggupan dan bakat-bakat siswa serta menolong mereka untuk menggunakan kemampuannya untuk disalurkan dalam proses pembelajaran di kelas. Guru juga dituntut untuk mendorong usaha-usaha perbaikan diri siswa, mengerti kebutuhan dan keinginan mereka. Sebagai contoh, guru harus dapat membedakan apakah siswa kita tertarik pada tantangan.

Jika guru dapat mengidentifikasi hal ini, maka akan lebih mudah bagi guru untuk mengarahkan dan memotivasi siswa. Beberapa guru merasa takut untuk mengenal lebih dekat siswanya karena dengan kedekatannya itu maka guru akan menjadi terlalu lunak dan salah menilai prestasi siswanya. Pendapat semacam itu sebenarnya merupakan sustu kekeliruan karena mengenali seseorang dan menghargai kepribadian serta keunikan yang dimilikinya tidaklah berarti bahwa guru tidak menuntut siswanya untuk bekerja dengan sebaik-baiknya sesuai dengan aturan yang berlaku. [11]

Di antara makhluk hidup di planet ini, manusia merupakan makhluk yang unik, dan sifat-sifatnya pun berkembang secara unik pula. Menjadi apa dia, sangat dipengaruhi pengalaman, lingkungan dan pendidikan. Untuk menjadi manusia dewasa, manusia harus belajar dari lingkungan selama hidup dengan menggunakan kekuatan dan kelemahannya. Pendekatan psikologi dan mental yang sehat akan banyak menolong guru dalam menjalankan fungsinya sebagai penasehat, yang telah banyak dikenal bahwa guru banyak membantu peserta didik untuk dapat membuat keputusan sendiri.  

Dalam aktivitas pembelajaran selalu saja ada kejadian-kejadian khusus yang dapat dijadikan bahan atau contoh untuk membangun semangat belajar siswa. Gunakan keberhasilan ataupun kegagalan tersebut sebagai bahan pembelajaran. Dalam menyikapi kegagalan, carilah alternatif solusi bersama-sama, usahakan banyak ide yang banyak diutarakan dan jangan sekali-kali mematahkan semangat siswa karena apabila semangatnya patah, maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai. Sebagai guru, guru harus jeli memanfaatkan peristiwa yang ada untuk mengarahkan siswa dalam memahami dan menghadapi realitas kehidupan. [12]

Sebagai penasehat, guru juga harus mempunyai batasan-batasannya. Guru tidak dapat mengubah semua hal sesuai dengan keinginan dirinya. Guru harus menyadari bahwa dirinya bukanlah dokter bedah otak yang dapat mengoperasi setiap orang sesuka hatinya. Guru juga bukanlah pendeta bagi siswanya dan juga bukan ahli psikologi yang dapat menyembuhkan berbagai masalah psikologi siswanya. Ingatlah bahwasanya ada tiga jalan yang fundamental untuk mengubah seseorang, yaitu tobat keagamaan, psikoterapi dan operasi otak.  [13]


 

BAB III

KESIMPULAN

 

Guru adalah pendidik, yaitu orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu berdiri sendiri dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah khalifah di muka bumi

Setiap guru harus berperan sebagai penasihat ketika peserta didik memerlukannya, kapan dan dimanapun guru berada. Hal ini dikarenakan guru adalah sebagai pen-transfer nilai-nilai dan norma yang harus menunjukkan identitasnya sebagai guru. Peran guru sebagai penasihat ini sangat diperlukan sekali, apalagi ketika di sekolah tidak ada guru Bimbingan dan Konseling.

Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik juga bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang.

Banyak  guru cenderung menganggap bahwa konseling terlalu banyak membicarakan klien, seakan-akan berusaha mengatur kehidupan orang, dan oleh karenanya mereka tidak senang melaksanakan fungsi ini. Padahal menjadi guru pada tingkat manapun berarti menjadi penasehat dan menjadi orang kepercayaan, kegiatan pembelajaran pun meletakkan pada posisi tersebut


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Asmani, Ma’ruf, Jamal, Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif, Dan Inovatif, Diva press, Jogjakarta, 2009

 

Darmadi, Hamid, Kemampuan Dasar Mengajar, Alfabeta: Bandung, 2009

 

Djamarah, Bahri. Syaiful, Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, Rineka cipta , Jakarta, 2005

 

M.Suparta, dan Herry Noer Aly . Metodologi Pengajaran Agama Islam, Amisco, Jakarta, 2008

 

Mulyasa, E, Menjadi Guru Professional, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. 2007

 

Ramayulis . Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia: Jakarta, 2008



[1] E. Mulyasa, menjadi guru professional, PT. remaja rosdakrya, bandung.2007, Hal:37-51

[2] Syaiful Bahri Djamarah. Guru dan anak didik dalam interaksi edukatif, Rineka cipta , Jakarta , 2005, Hal.45

[3] Ibid, Hal: 48

[4] E. Mulyasa., Op.,cit., Hal:58-59

[5] Ibid, Hal: 61-63

[6] Hamid Darmadi, Kemampuan Dasar Mengajar, Alfabeta , Bandung , 2009 , Hal. 40

[7] Ibid, Hal: 49

[8] M. Suparta dan Herry Noer Aly . Metodologi Pengajaran Agama Islam , Amisco , Jakarta , 2008 , Hal. 2

[9] Ibid, Hal: 9

[10] Ramayulis . Ilmu Pendidikan Islam , Kalam Mulia , Jakarta , 2008 , Hal. 63

[11] Hamid Darmadi., Op.,cit., Hal: 55

[12] Jamal Ma’ruf Asmani. Tips menjadi guru inspiratif, kreatif, dan inovatif , Diva press , Jogjakarta , 2009 , Hal . 39

[13] Ibid, Hal: 44

makalah aspek manajemen organisasi

makalah aspek manajemen organisasi  BAB I PENDAHULUAN   Manajemen secara umum diartikan sebagai ‘pengaturan’, artinya manajemen adalah...