Selasa, 31 Mei 2022

Metodologi Mengajarkan Akhlak

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.                                            Latar Belakang

Alhamdulillah kesempatan  puji syukur penulis panjadkan kehadiran Allah SWT.karena telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Metodologi Pembelajaran Dengan Tujuan Akidah Akhlak”.

Didalam makalah ini penulis akan membahas mengenai pengertian kewarisan, beberapa harta yang bersangkutan dengan harta pusaka, pusaka dimasa jahiliyah, sebab-sebab pusaka, ahli waris.

Makalah ini disusun guna untuk memenuhi tugas mata fiqi II. Penulis menyadari bahwa dalam proses penyelesaian makalah ini tidak terlepas kesalahan dan kekurangan, untuk itu demi kebaikan makalah ini penulis menerima keritikan juga saran dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini pada masa yang akan datang.

B.                                             Rumusan Masalah

Pengertian metodologi

1.                            Pengertian akidah akhlak

2.                            Sumber-sumber akidah akhlak

3.                            Metode pembelajaran akidah akhlak

4.                            Langkah-langkah mengajarkan  akidah

5.                            Tujuan mengajarkan akidah

C.                                            Tujuan Makalah

1.                Untuk mengetahui pengertian akidah

2.                Sumber-sumber akidah akhlak

3.                Mengetahui metode pembelajaran akidah akhlak

4.                Langka-langkah  mengajarkan akidah

5.                Tujuan mengajarkan akidah


BAB II

PEMBAHASAN

 

A.                                               Pengertian Metodologi

Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan proses belajar mengajar (PBM) bergantung pad acara mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin,antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga akan diharapkan akan terjadi perubahan dan tingka laku pada siswa baik tutur katanya , sopan santunnya, motoric dan gaya hidupnya.[1]

Dalam pengertian lain, metode pembelajaran merupakan cara-cara yang digunakan guru untuk menyampaikan bahan pelajaran kepada ssiswa untuk mencapai tujuan. Dalam kegiatam mengajar makin tepat metode yang digunakan maka makin efektif dan efesien kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru dan siswa pada akhirnya akan menunjang dan mengantarkan keberhasilan mengajar yang dilakukan oleh guru.

B.                                                Pengertian aqidah akhlak

Secara Bahasa aqidah berasal dari kata berarti ikatan dua utas tali dalam satu buku sehingga menjadi tersambung. Sehingga aqidah menurut “ikatan” atau aqad juga berarti janji. Sedangkan menurut istilah aqidah adalah urusan-urusan yang harus dibenarkan oleh hati dan diterimah dengan rasa puas tertanam kuat dalam benak jiwa yang tidak dapat diguncangkan oleh keraguan.

Kata “Akhlak” berasal dari Bahasa arab, jamak dari khuluqun yang menurut Bahasa budi pekerti, peragai, tingkah laku atau tabiat. Pendidikan akhlak berkisar tetntang persoalan kebaikan dan kesopanan, tingkah laku yang terpuji serta berbagai persoalan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana seharusnya seorang siswa bertingka laku.

 Pendidikan akhlak berkisar tetntang persoalan kebaikan dan kesopanan, tingkah laku yang terpuji serta berbagai persoalan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana seharusnya seorang siswa bertingka laku.

Pendidikan akhlak didasarkan pada ayat-ayat Al-Quran dan hadist Rasul, serta memberikan contoh-contoh yang baik yang harus diikuti. Kalua kita teliti isi Al-Quran, akan kita jumpai ajaran yang menyuruh berbuat baik dan mencengah perbuatan jelak.

Sudah lama para filsuf juga mencoba memberikan pengertian tentang kebaikan dan kejahatan. Al-Quran memberikan pengertian  tentang kebaikan dan kejahatan  sebagai berikut. Kebaikan adalah setiap perintah allah untuk mengerjakannya, sedangkan kejahatan ialah setiap larangan Allah untuk mengerjakannya. Allah tidak memerintah manusia kecuali hal-hal yang baik bagi mereka dan tidak akan melarang sesuatu kecuali ada hal-hal yang jelek bagi mereka.

Islam sangat mementingkan pendidikan rohani dan membersihkan jiwa dari kedengkian-penipuan-kemunapikan serta buruk sangka terhadap seseorang tanpa sebab. Jiwa yang koko tidak mungkin dicapai kecuali dengan takut kepada allah subhana wa Ta’ala, yaitu dengan menanamkan akidah. Oleh karena itu cerita-cerita yang diajarkan harus berkisar tentang pendidikan yang diambil dari buku sejarah. Juga dapat diambil dari kejadian-kejadian yang timbul dari kalangan murid sekolah dasar dan dihubungkan dengan teman-temannya atau binatang-binatang yang dipeliharanya.

C.                                               Sumber-sumber aqidah

Apabila diperhatikan dengan seksama bahwa sumber atau dasar aqidah berupa Al-quran dan assunna dan selain itu adalah fitra tauhid yang dimiliki setiap manusia karena hidayah taufiqiyah dari allah swt. Melalui akal pikirannya akan menyadari bahwa dirinya itu makhluk dan hambah allah swt dan manusia dan qalb lebih dalam lagi seperti kaum sufi dalam meletakkan landasan aqidahnya.[2]

D.                                               Metode Pembelajaran Akhlak

Metode pembelajaran akhlak serangkain cara yang terencana untuk mencapai tujuan yang ditentukan dalam sebuah intraksi yang saling berhubungan untuk tingkah laku, budi pekerti mulia dan bernilai uluhiyah yang tinggi. Adapun  pengajaran akhlak menurut Dr. Armai Arief, M.A

1.        Metode pembiasaan

Metode pembiasaan adalah metode pengajaran dalam pendidikan islam, dapat dikatakan bahwa pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik berpikir, bersikaf dan bertindak sesuai dengan tuntunan agama islam.

2.        Metode teladan

Metode teladan yaitu mengambil contoh atau meniru orang yang dekat dengannya. Oleh karena itu dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang yang berbudi baik.[3]

Disamping itu, boleh juga guru membuat cerita-cerita hayalan dan tujuannya mengarahkan anak-anak untuk berbuat baik. Guru harus mengetahui bahwa mendidik anak disekolah Dasar harus dimulai dengan menegakkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan memperbaiki pengaruh dari luar yang tidak baik, yang mungkin telah mempengarui jiwanya.

Guru harus membimbing murid cara duduk, menulis mendengarkan, membaca, bertanya, belajar, bejalan, makan, pergaulan dengan teman-temannya, dan bermain. Guru harus membingbing angar si anak berahlak dengan akhlak yang baik sejak kecil.

Contoh teladan yang baik memberi pengaruh yang besar terhadap pendidika akhlak, karena meniru adalah suatu sifat anak-anak. Tingkah laku guru sangat besar pengaruhnya dalam jiwa anak-anak.

Cerita sebagaimana kami kemukakan, merupakan jalan yang baik untuk pendidikan akhlak. Anak-anak suka mendengar cerita dan menceritakannya kembali. Keadaan ini perlu kita mamfaatkan untuk meningkatkan kegairaan belajar mereka. Hendaklah kesempatan ini kita mamfaatkan untuk mendidik mereka sesuai dengan kemauan kita.

Cerita yang paling disenagi oleh anak-anak ialah cerita-cerita dongeg, terutama dongeg tentang binatang. Kemudian cerita-cerita yang dapat membangkitkan khayalan dan cerita-cerita yang berhubungan dengan kehidupan dan lingkungannya. Cerita-cerita jenaka yang menggembirakan, mereka sangat suka.

Guru yang cerdas dapat memasukkan dalam cerita tentang binatang atau materi-materi akhlak lainnya yang ingin diajarkan kepada anak, tetapi secara terselubung (kalua anak mengetahui tidak akan mau mendengarkannya lagi).

3.        Langkah-langkah Mengajarkan Akidah

Metode mengajarkan akidah yang paling baik ialah metode yang dapat menyentuh perasaan dan pikiran murid. Metode ini dapat dilaksanakan dengan tahap-tahap berikut:

a.     Pengantar

Pengantar ini dapat ditempu dalam beberapa bentuk antara lain:

1)   Mengajak murid memperhatikan berbagai benda di ala mini yang merupakan kebesaran Allah subahana wa Ta’ala

2)   Mengulang-ulang pelajaran yang lalu.

3)   Metode cerita. Untuk ini dapat diambil cerita-cerita yang ada hubungannya dengan aqidah, seperti cerita asbahul kahfi,yaitu cerita tentang kebangkitan tiga pemudah setelah mati berates –ratus tahun. Cerita-cerita itu ada pengarunya dalam jiwa murid, yang mungkin akan dicontoh dan ditiruhnya. Dalam Al-quran banyak sekali cerita, terutama tentang umad yang terdahulu. Mereka yang beriman mendapat kebahagian, dan yang tidak beriman gagal dalam kehidupan serta akan mendapat siksa yang pedih.

b.    Menghubung-hubungkan

Menghubungkan antara aqidah yang telah mereka pelajari dan sedang dipelajari dengan kejadian-kejadian yang ada dalam masyarakat, angar dapat mereka bandingkan atau cocokkan dengan akidah yang baru mereka pelajari. Sehingga amalan dan ibadah yang mereka lakukan tetap ada hubungannya dengan ayat-ayat yang telah mereka pelajari dalam kelas itu, maupun dalam kelas-kelas sebelumnya.[4]

Dalam mengajarkan pendidikan akhlak, seorang guru dapat megikuti metode sebagai berikut:

1)      Persiapan

Guru mempersiapkan cerita yang akan diceritakan atau mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari, sesuatu hal yang membawa pengaru besar dalam jiwa anak-anak. Guru menceritakan kepada anak bahwa dia sendiri mendengar atau melihat kejadian tersebut.

Kadang- kadang guru harus dapat mendengar dan melihat dari kehidupan dari sisi kehidupan masarakat untuk dijadikan dasar-dasar berbagai cerita.Telah kami sebutkan bahwa cerita mempunyai pengaruh besar dalam pengarahan terhadap anak-anak

 

 

2)      Bahan pelajaran

Guru boleh mengambil satu atau mengambil cerita dari buku teks, kemudian menceritakan dengan cara yang menarik sehingga murid tertarik untuk mendengarkannya dengan penuh kegairajhan kadang-kadang meminta seorang murid untuk membaca cerita yang ada dalam buku teks kemudian kata-kata yang sulit didiskusikan bersama.

3)      Hubungan/evaluasi

Materi yang dibahas dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilakukan guru dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan setelah selesai bercerita. Kemudian minta kepada murid untuk memberi contoh-contoh, atau mereka menceritakan kejadian-kejadian lain yang ada hubungannya dengan materi pokok. Guru mengajukan beberapa pertanyaan tentang cerita yang diceritakan murid kepada teman-temannya.

4)      Kesimpulan

Guru menyimpulkan tujuan pelajaran itu dan menulisnya dengan tulisan yang baik dipapan tulis angar murid mengetahui dengan jelas tujuan pelajaran itu. Guru membaca apa yang telah dituliskan itu sebagai contoh, kemudian minta murid membacanya.

4.        Tujuan Mengajarkan Akidah

Sasaran pengajaran akidah ialah untuk mewujudkan maksud-maksud  sebagai berikut:

a.    Memperkenalkan kepada murid akan kepercayaan yang benar, yang menyalamatkan mereka dari siksaan Allah Ta’alah. Juga diperkenalkan tentang rukun iman, ketaatan kepada allah, dan beramal dengan amal yang baik untuk kesempurnaan iman mereka.

b.    Menanamkan iman kepada Allah, para Malaikat Allah kitab-kitab Allah, Rasul-rasul-Nya, adanya kadar baik dan buruk dan tentang hari kiamat kedalam jiwa anak.

c.    Menumbuhkan generasi yang kepecayaan dan keimanan-nya sah dan benar, dan selalu ingat kepada Allah, bersyukur, dan beribadah kepadanya.[5]

d.   Membantu murid angar mereka berusaha memahami berbagai hakikat, umpamanya

1)      Allah berkuasa dan mengetahui segala sesuatunya walau sekecil apapun.

2)      Percaya bahwa allah adil, baik di dunia maupun di akhirat.

3)      Membersikan jiwa dan pikiran murid dari perbuatan syirik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Dari hasil pembahasan yang telah dikemukakan diatas maka dapat disimpulkan bahwa metodologi pembelajaran Akidah Akhlak merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus diketahui dan dikuasai oleh seorang guru. Letak keberhasilan dari proses belajar mengajar berada pada seorang guru yang kreatif dan berkualitas menggunakan metode pembelajaran akidah akhlak haruslah sesuai kebutuhan peserta didik sehingga dapat memahami bidang studi Akidah Akhlak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Muhammad Abdul Qadir Ahmad. metodologi pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008). Hlm.115.

[2] Ibid,. hlm.117.

[3] Armai Arief. Pengantar ilmu dan metodologi pendidikan islam. ( Jakarta ciputat pers.2002). hlm.108.

[4] A. Mustofa. Akhlak Tasawuf  (bandung: CV. Pustaka Setia. 1995), hlm. 120.

[5] Ibid,.hlm. 121.                                  

Senin, 30 Mei 2022

Karakteristik Peserta Didik

  

 

ARTIKEL

Karakteristik Peserta Didik

 

D

I

S

U

S

U

N

 

OLEH :

Nurdiana Harahap

Nim : 2020500137

 

Dosen Pembimbing:

Dr. Almira Amir. ST., M.Si.

 

Description: D:\Logo-IAIN-2016-300x300.png

 

                                   

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

PADANGSIDIMPUAN

2022

 

MENGENAL KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

 

A.     BAGAIMANA MENGENAL KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

Pembahasan tentang dunia pendidikan selalu terkait dengan komponen yang melekat di dalamnya, seperti kurikulum,  pendidik, dan peserta didik. Ketiga komponen tersebut saling terkait satu dengan yang lain dalam membentuk sebuah proses pembelajaran yang efektif. Sebagai seorang pendidik, tugas kita tidak hanya wajib menguasai kurikulum dan tugas-tugas kependidikan tetapi hendaknya mengenali peserta didik atau anak didik kita terlebih karakteristik mereka. Karakteristik peserta didik yang perlu dikenal dan dipahami oleh para pendidik tidak hanya terbatas pada tipe kepribadian mereka saja, tetapi juga melingkupi kebutuhan  belajar, kemampuan mereka dalam belajar, potensi yang dimiliki, dan lingkungan yang ada di sekitar mereka.

Faktor-faktor ini secara tidak langsung membantu atau menghambat para peserta didik dalam menerima dan memproses informasi yang diterima dari pendidiknya. Dengan mengetahui faktor-faktor di atas, para pendidik dapat mengembangkan hal-hal positif yang ada di dalam diri peserta didik dan mengurangi/meminimalisi  hal-hal yang negatif yang dapat menghambat kompetensi yang ada di dalam dirinya. Selain itu,  pendidik juga dapat mengenali karakter dan potensi yang ada di dalam dirinya sendiri.

`     Salah satu upaya yang perlu dilakukan oleh para pendidik untuk menjadikan dirinya sebagai  pendidik yang profesional adalah selalu meningkatkan kompetensinya, baik kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, maupun kompetensi sosial. Di dalam kompetensi pedagogik, seorang pendidik wajib: 1) mengenali karakteristik dan potensi peserta didik, 2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif, 3) menguasai perencanaan dan zengembangan kurikulum, 4) menguasai langkah-langkah pembelajaran yang efektif, dan 5) menguasai sistem, mekanisme, dan prosedur penilaian. Di sini terlihat jelas bahwasanya mengenali karakteristik dan potensi  peserta didik merupakan komponen pertama dalam kompetensi pedagogik, tetapi seringkali terlupakan oleh seorang pendidik. Memang tidak mudah untuk mengenali karakter dan potensi pada setiap peserta didik, tapi hal ini sangatlah mungkin.

B.     KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

Istilah karakter membuat banyak orang menyamakannya dengan kata sifat, watak, akhlak, atau tabiat. Kenyataannya tak selalu bisa dimaknai seperti itu. Kita perlu mempelajari pengertian karakter menurut para ahli agar memahami perbedaannya. Menurut Doni Kusuma,  karakter adalah ciri, karakteristik, gaya, atau sifat diri dari seseorang yang bersumber dari bentukan yang diterima dari lingkungannya.  Berdasarkan pendapat tersebut karakter peserta didik turut dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.  Tadkiroatun Musfiroh (2008: 25),  mengatakan karakter  mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).   Dari pendapat para ahli tersebut dapat kita simpulkan bahwa karakter adalah ciri, sifat diri, akhlak atau budi pekerti, kepribadian dari seseorang yang dalam hal ini adalah peserta didik.

Sebagai seorang pendidik  tentunya tidak hanya bertugas mengajar di kelas saja, akan tetapi mendidik dan juga melatih. Hal ini sangatlah tepat apabila dikaitkan dengan pembentukan karakter yang baik bagi para peserta didik. Seperti apa seorang pendidik mendidik, bagaimana mengajar, dan bagaimana melatih para peserta didik. Semua tantangan di atas berawal dari pendidik itu sendiri, bagaimana menciptakan pembelajaran yang menyenangkan,  misalnya dengan  memunculkan kesan pertama pendidik yang positif saat kegiatan belajar di kelas.  Pendidik sangat perlu memahami perkembangan peserta didik. Perkembangan peserta  didik tersebut meliputi: perkembangan fisik, perkembangan sosio-emosional, dan bermuara pada perkembangan intelektual. Perkembangan fisik dan perkembangan sosio-sosial mempunyai kontribusi yang kuat terhadap perkembangan intelektual atau perkembangan mental  atau perkembangan kognitifnya. Pemahaman terhadap perkembangan peserta didik di  atas, sangat diperlukan untuk merancang pembelajaran yang kondusif yang  akan dilaksanakan.

Rancangan pembelajaran yang kondusif akan mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik sehingga mampu meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang diinginkan. Seorang pendidik mempunyai peran multifungsi, sebagai konselor, dia mendidik dan membimbing peserta didiknya dengan benar, memotivasi dan memberi sugesti yang positif, serta memberikan solusi yang tepat dan tuntas  dalam menyelesaikan masalah peserta didik. Selain itu juga memperhatikan karakter dan kondisi kejiwaan peserta didiknya. Pendidik  juga bisa berperan sebagai seorang dokter yang memberikan terapi dan obat pada pasiennya sesuai dengan diagnosanya.

Perannya  sebagai seorang ulama, pendidik membimbing dan menuntun batin atau kejiwaan peserta didik, memberikan pencerahan yang menyejukkan dan menyelesaikan masalahnya dengan pendekatan agama yang hasilnya akan lebih baik. Mengenal dan memahami peserta didik dapat dilakukan dengan cara memperhatikan dan menganalisa tutur kata (cara bicara),  sikap dan perilaku atau perbuatan anak didk, karena dari tiga aspek diatas setiap peserta didik mengekspresikan apa yang ada dalam dirinya. Untuk itu seorang pendidik harus secara seksama dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik dalam setiap aktivitas pendidikan.

C.     PERKEMBANGAN FISIK PESERTA DIDIK

Di dalam Kurikulum 2013  pola pembelajaran berpusat pada peserta didik.   Peserta didik memiliki pilihan-pilihan  terhadap materi yang akan dipelajari dan gaya belajarnya (learning style) untuk memiliki kompetensi yang diharapkan oleh Kurikulum 2013. Oleh sebab itu, Anda  harus mengenal karakteristik setiap peserta didik di dalam proses pembelajaran, agar tujuan  pembelajaran dapat tercapai. Hal pertama yang harus Anda ketahui adalah mengenal karakter peserta didik yang berkaitan dengan aspek perkembangan fisik peserta didik. Seperti kita ketahui fisik peserta didik mengalami perkembangan yang signifikan pada saat mereka menginjak remaja atau pada saat mereka di   sekolah menengah.  Pada dasarnya perkembangan merujuk kepada perubahan sistematis tentang fungsi-fungsi fisik dan psikis. Perubahan fisik meliputi perkembangan biologis dasar sebagai hasil dari konsepsi, dan hasil dari interaksi proses biologis dan genetika dengan lingkungan. Sementara perubahan psikis menyangkut keseluruhan karakteristik psikologis individu, seperti perkembangan kognitif, emosi, sosial, dan moral.

Perkembangan fisik atau pertumbuhan biologis (biological growth) merupakan salah satu aspek penting dari perkembangan individu. Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan.  Semua organ ini terbentuk pada periode pranatal (dalam kandungan).

Berkaitan dengan perkembangan fisik ini Kuhlen dan Thompson mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu: Sistem syaraf, yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi;

(a)  Otot-otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan    kemampuan motorik;

(b)  Sistem syaraf yang sangat memengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi;

(c)  Kelenjar Endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru, seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan, yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis;

(d)  Struktur fisik/tubuh, yang meliputi tinggi, berat, dan proporsi.

Seifert dan Hoffnung (1994) berpendapat perkembangan fisik meliputi perubahan-perubahan dalam tubuh (seperti : pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat, hormon, dan lain-lain), dan perubahan-perubahan dalam cara individu dalam menggunakan tubuhnya (seperti perkembangan keterampilan motorik dan perkembangan seksual), serta perubahan dalam kemampuan fisik (seperti penurunan fungsi jantung, penglihatan, dan sebagainya).

Berdasarkan pendapat di  atas, jelaslah bahwa perkembangan fisik setiap peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti telah dijelaskan di atas. Oleh sebab itu  Anda  sebagai pendidik harus mengenali karakteristik perkembangan peserta didik dari segi fisik, agar Anda bisa lebih memahami situasi pembelajaran di dalam kelas dan apabila ada situasi yang tidak Anda harapkan suatu saat terjadi, maka Anda akan lebih memahami situasi tersebut. Kalau Anda bisa memahami kejadian tersebut, maka Anda pun diharapkan akan bisa mencari solusinya dan kalau situasi sudah dapat dikuasai maka proses pembelajaran diharapkan akan lebih lancar dan tujuan akan tercapai.

D.     PERKEMBANGAN KOGNITIF PESERTA DIDIK

Proses pembelajaran setiap peserta didik berlangsung baik di sekolah maupun dalam lingkungan keluarga. Sehingga kemampuan kognitif sangat diperlukan peserta didik dalam proses pembelajaran tersebut. Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam erkembangan  peserta didik. Kita ketahui bahwa peserta didik merupakan objek yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, sehingga perkembangan kognitif sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam belajar. Kognitif atau pemikiran adalah istilah yang digunakan oleh ahli psikologi untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan dan Pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai dan memikirkan lingkungannya. (Desmita, 2009).

Perkembangan kognitif pada peserta didik merupakan suatu pembahasan yang cukup penting bagi guru maupun orang tua. Perkembangan kognitif pada  anak merupakan kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah yang termasuk dalam   proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Karakteristik perkembangan kognitif peserta didik juga harus dapat dipahami semua pihak. Dengan pemahaman pada karakteristik perkembangan peserta didik, guru dan orang tua dapat mengetahui sebatas apa perkembangan yang dimiliki anak didiknya sesuai dengan usia mereka masing-masing, sehingga guru dan orang tua dapat menerapkan ilmu yang sesuai dengan kemampuan kognitif masing-masing anak didik.

Tidak kalah penting, guru juga harus mengetahui tentang faktor-faktor yang mempengaruhi peserta didik. Yang sangat sentral dalam faktor-faktor yang mempengaruhi   perkembangan kognitif adalah gaya pengasuhan dan lingkungan. Biasanya gaya pengasuhan lebih diterapkan pada anak-anak. Pada pengasuhan ini merupakan cikal-bakal perkembangan kognitif tersebut, karena ketika anak diasuh secara  tidak sesuai dengan semestinya, ini akan berakibat pada perkembangan kognitif anak, bahkan pada perkembangan mental anak tersebut. Lingkungan pun sangat berpengaruh pada perkembangan kognitif, semakin buruk lingkungan maupun pergaulan seseorang maka kemungkinan pengaruh lingkungan pada perkembangan kognitif anak semakin besar.

Dari uraian di  atas jelaslah bahwa perkembangan kognitif peserta didik sangat  berpengaruh terhadap proses pembelajaran dan hasil yang dicapai.

 

E.     PERKEMBANGAN SOSIAL-EMOSIONAL  PESERTA DIDIK

Selain perkembangan karakteristik fisik dan kognitif peserta didik, yang tidak kalah penting adalah perkembangan sosial-emosional peserta didik.  Sosio-emosional berasal dari kata sosial dan emosi. Perkembangan sosial adalah pencapaian kematangan dalam hubungan atau interaksi sosial.  Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan moral agama. Sedangkan emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Emosi dibedakan menjadi dua, yakni emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat, atau rasa ingin tahu yang tinggi akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas belajar. Emosi negatif sperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah, individu tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar, sehingga kemungkinan besar dia akan mengalami kegagalan dalam belajarnya. Selain itu, dari segi etimologi, emosi berasal dari akar kata bahasa Latin  ‘movere’ yang berarti ‘menggerakkan, bergerak’. Kemudian ditambah dengan awalan ‘e-‘ untuk memberi arti ‘bergerak menjauh’. Makna ini menyiratkan kesan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi.

Perkembangan sosio-emosional peserta didik termasuk suatu pembahasan yang sangat penting karena dengan mengetahui perkembangan sosio-emosional peserta didik, para pendidik dapat mengambil tindakan pada permasalahan peserta didik dengan berbagai karakteristik dan sifat yang berbeda-beda. Sosio-emosional adalah perubahan yang terjadi pada diri setiap individu dalam warna afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Dalam pembahasan sosio-emosional ini lebih ditekankan dalam  sosio-emosional pada  remaja.  Pada masa remaja, tingkat karakteristik emosional akan menjadi drastis tingkat kecepatannya. Gejala-gejala emosional para remaja seperti perasaan sayang, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu dicermati dan dipahami dengan baik. Sebagai  pendidik. kita harus mengetahui setiap aspek  yang berhubungan dengan perubahan tingkah laku dalam perkembangan remaja, serta memahami aspek atau gejala tersebut sehingga kita bisa melakukan komunikasi yang baik dengan remaja. Perkembangan emosi remaja merupakan suatu titik yang mengarah pada proses dalam mencapai kedewasaan. Meskipun sikap kanak-kanak akan sulit dilepaskan pada diri remaja karena pengaruh didikan orang tua.

Faktor yang sangat memengaruhi perkembangan peserta didik pada usia remaja yaitu didikan orang tua, lingkungan sekitar tempat tinggal dan perlakuan guru di sekolah. Pengaruh sosio-emosional yang baik pada remaja terhadap diri sendiri yaitu untuk mengendalikan diri, memutuskan segala sesuatu dengan baik, serta bisa lebih matang merencanakan segala hal yang akan diputuskannya, sedangkan terhadap orang lain, yaitu mampu menjalin kerjasama yang baik, saling menghargai dan mampu memposisikan diri di lingkungan dengan baik.

Agar seorang peserta didik dapat memiliki kecerdasan emosi dengan baik haruslah dibentuk sejak usia dini, karena pada saat itu sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan manusia selanjutnya. Sebab pada usia ini dasar-dasar kepribadian anak telah terbentuk. Jelaslah sudah betapa pentingnya seorang pendidik memahami perkembangan sosio-emosional peserta didik, agar dalam proses pembelajaran perkembangan sosio-emosional peserta didik yang berbeda-beda dapat diatasi dengan baik.

F.      PERKEMBANGAN MORAL DAN SPRITUAL PESERTA DIDIK

Perkembangan moral dan spiritual peserta didik adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita semua. Demikian pula dalam proses pendidikan peserta didik baik itu di sekolah maupun di rumah. Teori Kohlberg telah menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap yaitu:  Penalaran prakovensional, konvensional, dan pascakonvensional.

Tingkat Satu : Penalaran Prakonvesional

Penalaran prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori  perkembangan  moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral, penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman ekternal.

Tingkat Dua: Penalaran Konvensional

Penalaran konvensional adalah tingkat kedua atau tingkat menengah dari teori perkembangan moral Kohlberg. Internalisasi individu pada tahap ini adalah menengah. Seorang mentaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak mentaati standar-standar (internal) orang lain, seperti orangtua atau masyarakat.

Tahap Tiga: Penalaran Pascakonvensional

Penalaran pascakonvensional adalah tingkat tertinggi dari teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seorang mengenal tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi.  Spiritual berasal dari bahasa latin “spiritus” yang berarti nafas atau udara, spirit memberikan hidup, menjiwai seseorang. Spiritual meliputi komunikasi dengan Tuhan (fox 1983), dan upaya seseorang untuk bersatu dengan Tuhan (Magill dan Mc Greal 1988), spiritualitas didefinisikan sebagai suatu kepercayaan akan adanya suatu kekuatan atau suatu yang lebih agung dari dirisendiri (Witmer 1989).

Karakteristik spiritual yang utama meliputi perasaan dari keseluruhan dan keselarasan dalam diri seorang, dengan orang lain, dan dengan Tuhan atau kekuatan tertinggi sebagai satu penetapan. Orang-orang, menurut tingkat perkembangan mereka, pengalaman, memperhitungkan keamanan individu, tanda-tanda  kekuatan, dan perasaan dari harapan. Hal itu tidak berarti bahwa individu adalah puas secara total dengan hidup atau jawaban yang mereka miliki. Seperti setiap hidup individu berkembang secara normal,  timbul situasi yang menyebabkan kecemasan, tidak berdaya, atau kepusingan. Karakteristik kebutuhan spiritual meliputi:

1.       Kepercayaan

2.       Pemaafan

3.       Cinta dan hubungan

4.       Keyakinan, kreativitas dan harapan

5.       Maksud dan tujuan serta anugrah dan harapan.

Karakteristik  dari kebutuhan spiritual ini menjadi dasar dalam menentukan karakteristik dari perubahan fungsi spiritual yang akan mengarahkan individu dalam berperilaku, baik itu kearah perilaku yang adaptif maupun perilaku yang maladaptif.

 

G.     LATAR BELAKANG SOSIAL BUDAYA PESERTA DIDIK

Sosial adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan  masyarakat atau kemasyarakatan,  sementara budaya segala hal yang dibuat oleh manusia berdasarkan pikiran dan akal budinya yang mengandung cinta, rasa, dan karsa. Jadi dapat disimpulkan dari segi istilah sosal budaya merupakan segala hal yang diciptakan oleh manusia dengan pikiran dan budinya dalam kehidupan bermasyarakat.  Unsur-unsur sosial budaya peserta didik  meliputi antara lain  bahasa, kesenian, sistem religi, sistem kemasyarakatan dan sistem ekonomi. Kehidupan dan nilai sosial budaya peserta didik dalam kehidupannya selalu mendapatkan dan dipengaruhi oleh nilai nilai sosio-budaya dari lingkungan sekitarnya mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat sekitar.

H.    POTENSI PESERTA DIDIK

Potensi adalah kesanggupan, daya, kemampuan individu untuk lebih berkembang. Setiap individu  memiliki potensi yang berbeda satu sama lainnya. Potensi peserta didik yang dimaksud adalah kemampuan yang mungkin dikembangkan  atau  menunjang potensi lain. Potensi ini meliputi potensi fisik, intelektual, kepribadian, minat, potensi moral, dan religius.

Potensi fisik merupakan kondisi kesehatan fisik dan berfungsinya anggota tubuh dengan baik yang diperoleh dari pemeriksaan  oleh  tenaga medis, observasi perilaku, wawancara,  dan pengisian angket  akan menunjang kelancaran peserta didik melakukan aktivitas belajar dan memaksimalkan keberhasilan peserta didik dalam belajar.  Organ tubuh akan berfungsi dengan baik dan maksimal apabila kondisi kesehatan peserta didik juga baik.

Herry Wibowo (2007:19)  menyatakan bahwa  potensi yang  terbesar manusia adalah otak. Otak adalah pengatur seluruh fungsi tubuh, dan juga sebagai pusat yang mengendalikan perilaku individu. Adapun potensi intelektul atau kekuatan otak individu berkaitan dengan daya nalar dan logika yang berupa kemampuan untuk mempelajari keterampilan, menganalisa, dan lain lain  Faktor-faktor yang memengaruhi potensi intelektual individu    adalah    faktor internal, misalnya motivasi, kemauan, kemampuan  dan faktor eksternal, misalnya  sarana dan daya dukung penunjang.  Kedua faktor  ini  sangat memberikan pengaruh pada pencapaian kemampuan intelektual yang maksimal dari peserta didik. Faktor internal peserta didik yang dominan memberikan kecenderungan  kekuatan daya juang yang besar saat menghadapi kesulitan dalam proses belajar. Gordon Allport (2005:23) mendeskripsikan kepribadian sebagai  suatu organisasi dinamis dari sistem psiko-fisik dalam berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan  dengan cara yang unik.  Aspek-aspek sikap kepribadian  diantaranya mencakup karakter, temperamen, sikap, stabilitas emosi, responsibilitas,  dan  sosiabilitas.  Berdasarkan pandangan psikologi, sikap mengandung unsur penilaian dan reaksi afektif, sehingga menghasilkan motif. Jalaluddin (1996:187) menyatakan sikap  terbentuk melalui hasil belajar dari interaksi dan pengalaman seseorang dan bukan faktor bawaan.

Minat didefinisikan sebagai suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut atau kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.  Minat peserta didik dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya dalam menerima pembelajaran.  Bakat menurut Slavin didefinisikan sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang peserta didik untuk belajar. Oleh karena itu bakat mempengaruhi keberhasilan individu mencapai sesuatu.  Ahli psikologi lainnya mengatakan bakat adalah kemampuan dasar untuk melakukan suatu tugas tanpa upaya pendidikan atau pelatihan.

Moral  merupakan  ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Adapun keagamaan peserta didik berkaitan dengan konsep ketuhanan yang dianutnya.  Moral dan keagamaan individu memberikan pengaruh pada pembentukan nilai dan keyakinan yang dianutnya. Peserta didik yang memiliki keyakinan akan nilai-nilai kebenaran, kearifan, dan saling menghargai akan berdampak pada proses dan hasil pencapaian potensi peserta didik.

I.        FAKTOR- FAKTOR YANG MEMENGARUHI POTENSI PESERTA DIDIK

1.       Faktor Fisik

Setiap individu mempunyai ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang  diperoleh dari pengaruh lingkungan.  karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Hal tersebut merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor yang terpisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Natur dan nurture  merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan.

Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedangkan karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak  dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

 

2.      Faktor Psikologis

Faktor psikologis berkaitan dengan hal kejiwaan, kapasitas mental, emosi, dan intelegensi individu. Kemampuan berpikir  peserta didik memberikan pengaruh pada  hal memecahkan masalah dan juga berbahasa.  Hal lain yang berkaitan dengan aspek psikologi peserta didik adalah:  Motivasi Intrinsik.  Menurut Arden N. F (Hayinah, 1992) motivasi Intrinsik meliputi:  dorongan ingin tahu;  sifat positif dan kreatif;   keinginan mencapai prestasi; dan kebutuhan untuk menguasai ilmu dan pengetahuan yang berguna bagi dirinya.  Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah faktor yang datang dari luar individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan belajar peserta didik.

J.       FAKTOR EKSTERNAL YANG MEMENGARUHI POTENSI PESERTA DIDIK

1.      Lingkungan Sosial  Masyarakat

Lingkungan sosial  individu adalah  lingkungan di mana seorang individu berinteraksi dengan individu lainnya dalam suatu ikatan norma dan peraturan. Kondisi lingkungan yang sehat dan mendukung secara positif terhadap proses belajar peserta didik akan memberikan pengaruh yang  positif pada perkembangan potensi peserta didik. Lingkungan masyarakat yang kumuh, dan tidak mendukung secara positif seperti banyaknya pengangguran, dan anak terlantar akan memberikan pengaruh negatif pada aktivitas dan potensi peserta didik.

2.      Lingkungan Sosial keluarga

Keluarga adalah lingkungan sosial terkecil pada peserta didik. Peran keluarga dalam menunjang potensi peserta didik sangat penting. Hal-hal seperti kedekatan dengan orang tua, dukungan, dan hubungan dengan anggota keluarga yang harmonis akan memberikan dampak pada perkembangan potensi peserta didik.

3.      Lingkungan sekolah

Lingkungan sekolah, seperti teman sekelas, guru, dan staf administrasi dapat  memberikan pengaruh terhadap proses belajar peserta didik. Hubungan baik dan harmonis  diantara ketiganya memberikan pengaruh pada proses belajar. Memberikan motivasi yang positif  dan kesempatan pada peserta didik untuk belajar dan berkembang akan sangat berpengaruh pada pencapaian potensinya. Guru harus dapat mengamati dengan baik karakteristik dari peserta didik.

4.      Perbedaan ras, suku, budaya,

Kelas sosial peserta didik Sekolah adalah wadah bagi seluruh peserta didik untuk mengembangkan potensinya tanpa memandang perbedaan. Memahami perbedaan karakteristik peserta didik adalah merupakan tantangan besar bagi pendidik dalam menunjang perkembangan potensi peserta didik. Bagaimana menciptakan kondisi kelas yang mendukung aktivitas belajar yang dapat mewadahi seluruh peserta didik merupakan salah satu peran penting dari pendidik. Perbedaan ras dan etnik akan memunculkan perbedaan dialek bahasa, nilai, dan keyakinan yang kesemuanya itu akan sangat membawa pengaruh dalam proses pengembangan potensi peserta didik. Pendidik harus peka dan memiliki sikap positif terhadap perbedaan karakteristik peserta didiknya. Mc. Graw Hill dalam bukunya Learning to Teach  (2009) menyatakan bahwa ketika penggunaan dialek bahasa keluarga yang dipakai oleh peserta didik di Amerika  dipaksa untuk dihapuskan, maka kecenderungan prestasi akademik siswa tidak mengalami peningkatan, justru memunculkan kondisi emosional yang negatif pada mereka. Pendidik sebaiknya senantiasa mampu memunculkan kondisi emosi positif pada peserta didik dengan segala keberagaman karakteristik mereka.

5.      Bekal  Awal Peserta Didik

Setiap peserta didik dapat dipastikan memiliki perilaku dan karakteristik yang cenderung berbeda. Dalam pembelajaran, kondisi ini penting untuk diperhatikan karena dengan mengidentifikasi kondisi awal peserta didik saat akan mengikuti pembelajaran dapat memberikan informasi penting untuk guru dalam pemilihan strategi pengelolaan, yang berkaitan dengan bagaimana menata pembelajaran, khususnya komponen-komponen strategi pengajaran yang efektif dan sesuai dengan karakteristik perseorangan peserta didik sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.  Kegiatan menganalisis peserta didik dalam pengembangan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima peserta didik apa adanya. Hal ini dilakukan untuk menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan peserta didik  tersebut. Dengan demikian, mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik adalah bertujuan untuk menentukan apa yang harus diajarkan tidak perlu diajarkan dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan. Karena itu, kegiatan ini sama sekali bukan untuk menentukan prasyarat dalam menyeleksi peserta didik sebelum mengikuti pembelajaran.

K.     PENGERTIAN BEKAL AJAR AWAL PESERTA DIDIK

Peserta didik  menurut Sudarwan Danim (2010:47)  merupakan sumber daya utama dan terpenting dalam proses pendidikan. Peserta didik bisa  belajar tanpa guru. Sebaliknya, guru tidak bisa mengajar tanpa peserta didik. Karenanya kehadiran peserta didik menjadi keniscayaan dalam proses pendidikan formal atau pendidikan yang dilambangkan dengan menuntut interaksi antara pendidik dan peserta didik.  Bekal ajar awal peserta didik dapat pula diartikan kemampuan awal (entry behavior) adalah kemampuan yang yang telah diperoleh peserta didik sebelum dia memperoleh kemampuan terminal tertentu yang baru. Kemampuan awal menunjukkan status pengetahuan dan keterampilan peserta didik sekarang untuk menuju ke status yang akan datang yang diinginkan guru agar tercapai oleh peserta didik. Dengan kemampuan ini dapat ditentukan darimana pengajaran harus dimulai.

Esensinya tidak ada peserta didik di muka bumi ini benar-benar sama. Hal ini bermakna bahwa masing-masing peserta didik memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik peserta didik adalah totalitas kemampuan dan perilaku yang ada pada pribadi mereka sebagai hasil dari interaksi antara pembawaan dengan lingkungan sosialnya, sehingga menentukan pola aktivitasnya dalam mewujudkan harapan dan meraih cita-cita.

L.     TUJUAN MENGIDENTIFIKASI BEKAL AJAR AWAL PESERTA DIDIK

Identifikasi bekal ajar awal peserta didik bertujuan untuk:

1.      Memperoleh informasi yang  lengkap dan akurat berkenaan dengan  kemampuan awal  peserta didik sebelum mengikuti program pembelajaran tertentu;

2.      Menyeleksi tuntutan, bakat, minat, kemampuan serta kecendrungan peserrta didik berkaitan dengan pemilihan program program pembelajaran tertentu yang akan diikuti mereka; dan

3.       Menentukan desain program pembelajaran dan atau  pelatihan tertentu yang perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan awal peserta didik.

Teknik mengaktifkan bekal ajar awal peserta didik  digunakan  untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik. Seorang pendidik dapat melakukan tes awal (pre-test).  Tes yang diberikan dapat berkaitan dengan materi ajar sesuai dengan panduan kurikulum. Selain itu pendidik dapat melakukan wawancara, observasi,  dan memberikan kuisioner kepada peserta didik  atau calon peserta didik, serta guru yang biasa mengampu pelajaran tersebut.

Teknik yang paling tepat untuk mengetahui bekal ajar awal peserta didik yaitu tes. Teknik tes ini menggunakan tes prasyarat dan tes awal. Sebelum memasuki pelajaran sebaiknya guru membuat tes prasyarat dan tes awal. Tes prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah peserta didik telah memiliki pengetahuan keterampilan yang diperlukan atau di syaratkan untuk mengikuti suatu pelajaran. Sedangkan tes awal  adalah tes untuk  mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan mengenai pelajaran yang hendak diikuti. Benjamin S. Bloom melalui beberapa eksperimen membuktikan bahwa “untuk belajar yang bersifat kognitif apabila pengetahuan atau kecakapan pra syarat ini tidak dipenuhi, maka betapa pun kualitas pembelajaran tinggi, maka tidak akan menolong untuk memperoleh hasil belajar yang tinggi”. Hasil pretest juga sangat berguna untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan yang dimiliki  dan sebagai perbandingan dengan hasil yang dicapai setelah mengikuti pelajaran.

Jadi kemampuan awal sangat diperlukan untuk menunjang pemahaman siswa sebelum diberi pengetahuan baru karena kedua hal tersebut saling berhubungan.Contoh angket sederhana untuk mengetahui bekal ajar awal peserta didik  sebagai berikut:

Seberapa luas pengetahuanmu tentang native speaker:

1.      Saya belum pernah mendengar istilah itu

2.       Saya pernah mendengar tapi belum tahu tentang native speaker

3.       Saya hanya tahu sedikit tentang native speaker

4.       Saya belum tahu pengertian native speaker secara luas

5.      Kesulitan Belajar Peserta Didik

M.    Pengertian kesulitan belajar

Setiap individu tidak sama. Perbedaan individu ini menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan peserta didik. Sehingga memunculkan perbedaan kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran di kelas yang sering disebut sebagai kesulitan belajar. Hamalik  (hal:  1983) menyatakan  kesulitan belajar dapat diartikan sebagai keadaan  di mana peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Keadaan tersebut tidak bisa diabaikan oleh seorang pendidik karena dapat menjadi penghambat tujuan pembelajaran.  Kesulitan belajar tidak hanya disebabkan oleh faktor intelegensi yang rendah,  akan tetapi bisa disebabkan oleh faktor-faktor nonintelegensi. Oleh karena itu,  IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Wood  (2007:33) menyatakan kesulitan belajar adalah suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan-hambatan tersebut diakibatkan oleh faktor  yang berasal dari dalam diri peserta didik maupun luar diri peserta didik.  Faktor-faktor penyebab tersebut, hendaklah dipahami oleh pendidik agar   setiap peserta didik  dapat mencapai tujuan belajar yang baik.

Peserta didik mempunyai hak yang sama untuk  mencapai kinerja akademik (academic performance) yang memuaskan. Namun kenyataannya pendidik kurang memahami peserta didik yang memiliki perbedaan dalam  hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang, kebiasaan dan pendekatan belajar antara pesetrta didik satu dengan lainnya. Sementara itu, penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah pada umumnya hanya ditunjukkan kepada para peserta didik yang berkemampuan rata-rata, sehingga peserta didik yang berkemampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Peserta didik yang berkategori di luar rata-rata itu (sangat pintar dan sangat rendah) tidak mendapat kesempatan yang memadai untuk berkembang sesuai dengan kepasitasnya. Kesulitan belajar (learning difficulty) yang tidak hanya dialami peserta didik berkemampuan rendah saja, tetapi juga dialami oleh peserta didik yang berkemampuan  tinggi. Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan kesulitan belajar adalah suatu hambatan yang dialami oleh peserta didik  untuk mencapai hasil belajar yang memuaskan.

N.     Ciri-ciri kesulitan belajar  menurut Moh. Surya antara lain:

1.      Menunjukkan hasil belajar yang rendah  (di  bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok kelas);

2.       Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan, mungkin murid yang selalu errusaha dengan giat tetapi nilai yang dicapai selalu rendah;

3.       Lambat dalam  melakukan tugas-tugas kegiatan belajar, ia selalu tertinggal dari kawan-kawannya dalam menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan waktu yang tersedia;

4.      Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta, dsb;

5.      Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat,  tidak engerjakan pekerjaan rumah, menggangu didalam dan diluar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, mengsingkan diri, tersisih, tidak mau bekerja sama, dsb;

6.       Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti pemurung, mudah tersinggung, mudah pemarah, tidak gembira dalam menmghadapi situasi tertentu, misalnya dalam menghadapi nilai rendah tidak menunjukkan sedih atau menyesal dsb. Pernyataan  tersebut, dapat dipahami adanya beberapa manifestasi dari gejala kesulitan belajar yang dialami oleh para peserta didik.

Gejala-gejala yang termanifestasi dalam tingkah laku setiap peserta didik, diharapkan para pendidik dapat memahami dan mengidentifikasikan mana siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dan mana  yang tidak.

O.     FAKTOR-FAKTOR KESULITAN BELAJAR

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, prevalensi anak dengan kesulitan belajarnya diperkirakan lebih besar. Para ahli mengemukakan bahwa penyebab kesulitan belajar itu kompleks dan luas. Secara umum, penyebab kesulitan belajar antara lain:

1.       Faktor intelektual, yaitu inteligensi yang rendah dan terbatas;

2.       Faktor kondisi fisik dan kesehatan, termasuk kondisi kelainan, seperti kurangnya gizi pada ibu hamil, bayi dan anak, kerusakan susunan dan fungsi otak, dan  penyakit persalinan;

3.       Faktor sosial,seperti  pengaruh teman bermain, pergaulan dan lingkungan sekitar;

4.       Faktor keluarga, seperti keadaan keluarga yang kurangnya dukungan belajar dari orang tua.

Berikut ini penjabaran faktor-faktor kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik  menurut Koestur Partowisastro dan Hadi Suprapto (1978:56) yaitu:

1.       Kondisi fisiologis yang permanen  meliputi inteligensi yang terbatas, hambatan penglihatan dan pendengaran, dan masalah persepsi.

2.       Kondisi fisiologis temporer  meliputi masalah makanan, kecenderungan, dan kecapaian.

3.       Kondisi lingkungan sosial permanen  meliputi harapan dan tekanan orang tua tinggi dan konflik dalam keluarga.

4.       Kondisi lingkungan sosial temporer  meliputi ada bagian-bagian dalam urutan yang belum dipahami dan persaingan interes.

Sedangkan  menurut Tidjan, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar yaitu  interen dan ekstern. Faktor interen meliputi faktor fisiologis, yaitu kesehatan fisik terganggu, cacat  fisik  dan  sebagainya.  Faktor intelektual, misalnya  kecerdasan kurang, kecakapan kurang, bakat-bakat kurang. Faktor minat, tidak berminat atau kurang minat.  Faktor  konsentrasi perhatian kurang.  Faktor ingatan kurang.  Faktor emosi, misalnya rasa benci dan rasa tidak puas.

Faktor ekstern  meliputi  Faktor  tempat, misalnya tidak ada tempat khusus untuk  belajar.  Faktor alat, alat-alat yang diperlukan dalam belajar kurang atau tidak ada. Faktor waktu dan suasana, yaitu tidak dapat mengatur waktu   belajar, ramai dan gaduh, rumah dekat jalan yang cukup ramai.  Faktor lingkungan sekolah, misalnya bahan pelajaran kurang, metode guru mengajar tidak memuaskan, pengeruh teman yang tidak baik (negatif). Faktor lingkungan keluarga dan masyarakat, misalnya situasi keluarga yang tidak menguntungkan anak dalam belajar, begitu pula dengan masyarakatnya

 


 

PENUTUP

Dengan tuntasnya mempelajari materi dalam modul  Guru  Pembelajar Bahasa Indonesia  SMA  Kelompok Kompetensi A  ini,  Anda  diharapkan tidak lagi mengalami kesulitan  dalam mengembangkan pembelajaran  yang  efektif  dan bermakna  di kelas.    Guru sepatutnya mendapatkan pemahaman  terhadap kompetensi pedagogik dan profesional dengan komposisi yang ideal merupakan sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa dilewatkan pada setiap pertemuan. Materi yang dipaparkan dalam kegiatan pembelajaran  ini diharapkan dapat  menambah wawasan   Anda dalam menentukan karakteristik, potensi, kesulitan belajar peserta didik    serta dapat merancang kegiatan  yang  dapat mengatasi kesulitan belajar peserta didik.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aliran-aliran klasik dalam pendidikan dan pengaruhnya terhadap pemikiran pendidikan di Indonesia. Diunduh dari  http://www.peutuah.com/makalah-pendidikan/pada tanggal 1 Juni 2012

Djamarah, Syaiful Bahri. (2000). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta

Effendi, Mukhlison dan Siti Rodliyah. (2004).Ilmu Pendidikan.Ponorogo: PPS Press

Fauzi, Ahmad. (2011). Analisis Karakteristik Siswa.

http://pengantarpendidikan.files.wordpress.com/2011/02/analisis-karakteristik-siswa.pdf  pada tanggal 28 Mei 2012

Hamalik, Oemar. (2003). Proses Belajar Mengajar.Jakarta : Bumi Aksara.

Hernawati, Kuswari. (2011). E-Learning Adaptif Berbasis Karakteristik Peserta Didik.http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/adaptif%20elearning.pdf

Hurlock, E. B. (1997). Perkembangan Anak Jilid 1. Terjemahan Tsandrasa, M.M.

dan Zarkasih, M. Jakarta: Penerbit Erlangga

Hurlock, E. B. 1980. Psikolog Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang rentang Kehidupan. Terjemahan Istiwidanti & Soedarjarwo, Jakarta: Erlangga

Mardiya.(2009). Peranan Orang Tua dalam Pembentukan Karakter dan Tumbuh Kembang Anak.http://mardiya.wordpress.com/2009/10/25/peranan-orang-tua-dalam-pembentukan-karakter-dan-tumbuh-kembang-anak/

Muda, Aslam Syah. (2012). Pengaruh Pola Asuh Terhadap Kepribadian Anak.http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/06/pengaruh-pola-asuh-terhadap-kepribadian-anak/

Partanto, Pius A. dan M. Dahlan Al-Barry.(1994). Kamus Ilmiah Populer.Surabaya : Arkola

Purwanto, Ngalim.(1990). Psikologi Pendidikan.Bandung: CV Remaja Karya

Santrock, J.W. (2002). Life Span Development, Perkembangan Masa Hidup

(Terjemahan). Jakarta: Erlangga

Semiawan, Cony. (2008). Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: PT Grasindo

Suhadianto.(2009). Pentingnya Mengenal Kepribadian Siswa Untuk Meningkatkan Prestasi

Belajar.http://h2dy.wordpress.com/2009/02/17/pentingnya-mengenal-kepribadian-siswa-untuk-meningkatkan-prestasi-belajar/

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. LAndasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. (2008). PT Remaja Rosdakarya Bandung

Sumarmo, Alim. Memahami 9 Tipe Kecerdasan Jamak.Diunduh dari http://blog.elearning.unesa.ac.id/alim-sumarno/memahami-9-tipe-kecerdasan-jamak.pada tanggal 22 Juni 2012

Uno, Hamzah. B.(2008).Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif . Jakarta: Bumi Aksara

Taimiyah, Ibnu (Syaikhul Islam). Iqtidha’ Ash Shiratil Mustaqim, Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim Al ‘Aql.

Zainudin, Akbar. (2010). Gaya belajar dan modalitas belajar siswa. Diunduh darihttp://ideguru.wordpress.com/2010/04/12/memahami-perbedaan-gaya-belajar-siswa/pada tanggal 31 Mei 2012

1.              http://www.smartpassiveincome.com/are-people-talking-about-you-online-heres-what-you-need-to-know/

2.              http://logodownload.blogspot.com/2012/11/logo-tamansiswa.html

3.              http://ranjihistoris2012.wordpress.com/2012/07/15/wisata-sejarah-di-ins-kayu-tanam/

4.              http://educ732.courseblock.com/module04/topic-4-2-gardner%E2%80%99s-multiple-intelligences-theory/

5.              http://guruqungeblog.files.wordpress.com/2011/02/siswa-aktif.jpg

 

makalah aspek manajemen organisasi

makalah aspek manajemen organisasi  BAB I PENDAHULUAN   Manajemen secara umum diartikan sebagai ‘pengaturan’, artinya manajemen adalah...