Kamis, 02 Juni 2022

Model Pembelajaran Investigasi Dalam Pembelajaran Matematika MI SD

 

MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MI/SD

 

A.    MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SD/MI

Matematika adalah mata pelajaran yang dianggap sulit bagi sebagian orang, hal tersebut tak lepas dari bidang kajian matematika yang dominan tentang rumus dan angka-angka sehingga bagi sebagian orang menganggap pembelajaran metematika kelihatan rumit dan butuh teknik khusus dalam mempelajarinya. Pembelajaran matematika memang bersifat abstrak sehingga butuh perantara atau media khusus dalam mengajarkan matematika.

Ilmu matematika adalah ilmu dasar yang menunjang ilmu yang lain dalam pengaplikasiannya oleh karena itu pemahaman matematika dengan benar akan berimplikasi terhadap kemampuan dalam mengakaji beberapa ilmu yang berkaitan dengan matematika. Sejak kapan matematika sebaiknya harus dipelajari? adalah sebuah pertanyaan yang ditanyakan oleh sebagian orang. belajar matematika sebaiknya dimulai dari lingkungan keluarga. namun yang paling tepat adalah penguasaan dan pemahaman pembelajaran matematika memang sebaiknya ditanamkan sejak anak masih duduk dibangku sekolah dasar.

Pembelajaran matematika di SD (sekolah dasar) menjadi bekal awal anak dalam mengembangkan kemampuannya tentang pelajaran matematika, selain itu usia sekolah dasar merupakan moment bagi anak untuk belajar matematika karena pada usia sekolah dasar kemampuan anak dalam beberapa aspek sangat menonjol.

Namun bagaimana cara mengajarkan anak mata pejaran matematika di SD? untuk mengajarkan mata pelajaran matematika di SD tidak boleh asal-asalan karena sifat matematika yang abstrak kadang justru membuat anak sulit memahaminya. dibutuhkan model pembelajaran yang memang sesuai dengan mata pelajaran matematika agar tujuan pembelajaran matematika bisa tercapai. Apa-apa saja 10 model pembelajaran matematika di SD (sekolah dasar)? berikut sedikit ulasan Model Pembelajaran Matematika di SD.

 

B.     KONSEP DASAR DAN TEORI MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK

Menurut KBBI Investigasi adalah penyelidikan dengan mencatat atau merekan fakta melakukan peninjauan, percobaan, dan lain sebagainya dengan tujuan memperoleh jawabaan atas pertanyaan (tentang peristiwa, sifat atau khasiat suatu zat, dan lain sebagainya). Sedangkan pengertian investigasi menurut Arifin dan Afandi (2015, hlm. 13) “merupakan upaya penelitian, penyelidikan, pencarian, informasi dan temuan lainnya untuk mengetahui/ membuktikan kebenaran atau bahkan kesalahan sebuah fakta yang kemudian menyajikan kesimpulan atas rangkaian temuan dan susunan kejadian”. Rumpun sosial adalah model yang menggabungkan antara belajar dan masyarakat. Kedudukan belajar/mengajar disini adalah bahwa perilaku kooperatif tidak hanya merupakan pemberi semangat.

      Menurut Suyatno dalam Yumisnaini (2013) “model pembelajaran investigasi kelompok adalah pembelajaran yang melibatkan kelompok kecil dimana siswa bekerja menggunakan inkuiri kooperatif, perencanaan, proyek, dan diskusi kelompok, dan kemudian mempresentasikan penemuan mereka kepada kelas”. Selanjutnya Trianto dalam Yumisnaini (2013) menyebutkan bahwa “Investigasi kelompok adalah metode pembelajaran yang melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode pembelajaran ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok”.

      Menurut Slavin yang dikutip oleh Yusron dalam Yumisnaini (2013), investigasi kelompok adalah model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia. Menurut pendapat ini investigasi kelompok adalah model pembelajaran kooperatif yang menitikberatkan pada partisipasi yang tinggi siswa dalam belajar kelompok yang dilakukan secara berkelompok dengan mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran investigasi kelompok merupakan model pembelajaran dimana peserta didik dalam kelompoknya secara aktif melakukan perencanaan dalam memilih materi yang akan dipelajari untuk dilakukan investigasi atau pencarian data dan fakta melalui tahap - tahap tertentu terkait materi tersebut untuk dipresentasikan kepada teman atau kelompok lain untuk saling bertukar informasi.

      Menurut Aunurrahman dalam Arifin dan Afandi (2015, hlm. 13-14), seorang guru dapat menggunakan model investigasi kelompok di dalam pembelajaran dengan beberapa keadaan diantaranya : 1) Bilamana guru bermaksud agar siswa-siswa mencapai studi yang mendalam tentang isi atau materi, yang tidak dapat dipahami secara memadai dari sajian-sajian informasi yang terpusat pada guru; 2) Bilamana guru bermaksud mendorong siswa untuk lebih skeptis tentang ide - ide yang disajikan dari fakta-fakta yang mereka dapatkan; 3) Bilamana guru bermaksud meningkatkan minat siswa terhadap suatu topik yang memotivasi mereka membicarakan berbagai persoalan di luar kelas; 4) Bilamana guru bermaksud membantu siswa memahami tindakan-tindakan pencegahan yang diperlukan atas interpretasi informasi yang berasal dari penelitian-penelitian orang lain yang mungkin dapat mengarah pada pemahaman yang kurang positif; 5) Bilamana guru bermaksud mengembangkan keterampilan-keterampilan penelitian, yang selanjutnya dapat mereka pergunakan di dalam situasi belajar yang lain, seperti halnya cooperative learning; 6) Bilamana guru menginginkan peningkatan dan perluasan kemampuan siswa.

      Setiap hal pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu pula dengan model investigasi kelompok ini. Kelebihan - kelebihan dalam model pembelajaran group investigation adalah sebagai berikut: 1) Melatih peserta didik untuk mendesain suatu penemuan; 2) Melatih berpikir dan bertindak kreatif; 3) Dapat memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis; 4) Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan; 5) Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan; 6) Merangsang perkembangan kemajuan berpikir peserta didik untuk menghadapi masalah yang dihadapi secara tepat. Di samping memiliki kelebihan, model investigasi kelompok ini juga memiliki kekurangan, diantaranya : 1) Membutuhkan keaktifan anggota kelompok dalam melakukan penyelidikan atau investigasi; 2) Jika seluruh anggota kelompok pasif, maka akan menyulitkan mereka dalam melakukan kegiatan investigasi.

      Killen yang dikutip Haffidianti (2011, hlm.15) dalam Aunurrahman (2009, hlm. 153) memaparkan beberapa ciri esensial investigasi kelompok sebagai pendekatan pembelajaran adalah: 1) Peserta didik bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil dan memiliki independensi terhadap guru; 2) Kegiatan-kegiatan peserta didik terfokus pada upaya menjawab pertanyaan - pertanyaan yang telah dirumuskan; 3) Kegiatan belajar peserta didik akan selalu mempersyaratkan mereka untuk mengumpulkan sejumlah data, menganalisisnya, dan mencapai beberapa kesimpulan; 4) Peserta didik akan menggunakan pendekatan yang beragam di dalam belajar; 5) Hasil-hasil dari penelitian peserta didik dipertukarkan di antara seluruh peserta didik.

      Adapula prinsip - prinsip model pembelajaran investigasi kelompok menurut Slavin (2008, hlm. 215-217) dalam Haffidianti (2011, hlm.16), a). Menguasai kemampuan kelompok, kesuksesan implementasi dari group investigation sebelumnya menuntut pelatihan dalam kemampuan komunikasi dan sosial; b). Perencanaan kooperatif, anggota kelompok mengambil bagian dalam merencanakan berbagai tugas dari proyek mereka. Bersama - sama mereka menentukan apa yang mereka ingin investigasikan sehubungan dengan upaya mereka menyelesaikan masalah yang mereka hadapi, sumber apa yang mereka butuhkan, siapa melakukan apa, dan bagaimana mereka akan menampilkan proyek mereka yang sudah selesai di hadapan kelas; c). Peran guru, di dalam kelas yang melaksanakan proyek group investigation, guru bertindak sebagai narasumber dan fasilitator. Guru tersebut berkeliling di antara kelompok - kelompok yang ada, untuk melihat bahwa mereka bisa mengelola tugasnya, dan membantu tiap kesulitan yang mereka hadapi dalam interaksi kelompok, termasuk masalah dalam kinerja terhadap tugas-tugas khusus yang berkaitan dengan proyek pembelajaran.

      Model pembelajaran group investigation meletakkan dasar pada psikologi pendidikan John Dewey, yang mana dia percaya bahwa para siswa akan mengalami pembelajaran bermakna jika mereka mampu menunjukkan langkah-langkah penyelidikan ilmiah (Tsoi, dkk., 2004). Karakter unik investigasi kelompok ada pada investigasi dari empat fitur dasar seperti investigasi, interaksi, penafsiran,dan motivasi intrinsik (Sharan, 2009). Slavin (dalam Suartika, dkk., 2013, hlm. 3) menyatakan kegiatan pembelajaran group investigation memiliki enam langkah pembelajaran antara lain; 1) Grouping (menetapkan jumlah anggota kelompok, menentukan sumber, memilih topik, merumuskan permasalahan), 2) Planning (menetapkan apa yang akan dipelajari, bagaimana mempelajari, siapa melakukan apa, apa tujuannya), 3) Investigation (saling tukar informasi dan ide, berdiskusi, klarifikasi, mengumpulkan informasi, menganalisis data, membuat inferensi), 4) Organizing (anggota kelompok menulis laporan, merencanakan presentasi laporan, penentuan penyaji, moderator, dan notulis), 5) Presenting (salah satu kelompok menyajikan, kelompok lain berperan secara aktif sebagai pendengar (audiens), dan 6) Evaluating (masing-masing siswa melakukan koreksi terhadap laporan masing-masing berdasarkan hasil diskusi kelas, siswa dan guru berkolaborasi mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan, melakukan penilaian kompetensi dasar yang difokuskan pada pencapaian pemahaman.

      Untuk mewujudkan kemampuan berpikir siswa, guru perlu menerapkan berbagai pembelajaran model inovatif. Model pembelajaran inovatif yang dimaksud adalah “model yang menggunakan paham konstrutivistik” (Shadiq, 2006). Paham tersebut menyatakan bahwa pengetahuan akan terbentuk atau terbangun di dalam pikiran siswa sendiri ketika ia berupaya untuk mengorganisasikan pengalaman barunya berdasarkan pada kerangka kognitif yang sudah ada di dalam pikirannya. Menurut Paul Suparno (dalam Syaripudin & Kurniasih, 2015, hlm. 125) Jika seseorang tidak mengkonstruksikan pengetahuannnya sendiri secara aktif, meskipun ia berumur tua, pengetahuannya akan tetap tidak berkembang.

      Model pembelajaran group investigation, membuat siswa akan lebih termotivasi untuk berbuat sesuatu yang baik dan produktif saat siswa dihadapkan pada masalah yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari. Untuk memecahkan suatu permasalahan siswa harus mampu menganalisis dan memahami konsep. Hal ini akan memberi arah kepada siswa untuk mengidentifikasi apa yang perlu diketahui dan dipelajari untuk dapat memahami konsep dan memecahkan masalah, serta merancang investigasi dan mengidentifikasi sumber-sumber belajar yang diperlukan.

 

C.     TUJUAN MATERI,METODE,MEDIA,SUMBER BELAJAR,DAN EVALUASI PENDIDIKAN AKIDAH,IBADAH DAN AKHLAK

1. Tujuan

      Pada prinsipnya yang menjadi tujuan akhir pendidikan agama islam yang sesuai dengan identik dengan tujuan hidup manusia muslim adalah mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.Tujuan pendidikan agama islam yaitu membina manusia beragama berarti manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama islam dengan baik dan sempurna,sehingga tercermin mana sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupannya,dalam rangka mencapai kebahagiaan dan kejayaan dunia dann akhirat,yang dapat dibina melalui pengajaran agama yang intensi dan efektif.Dalam hadist riwayat Al-Baihaqi yang artinya:Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesolihan akidah dan akhlak.

2. Materi

      Materi pendidikan agama islam yaitu memiliki 4 pokok yaitu:Quran hadis,akidah akhlak,fiqih dan sejarah kebudayaan islam.Menurut Arifin ada 3 aspek nilai yang terkandung dalam pendidikan islam yang hendak direalisasikan melalui metode yaitu pertama membentuk peserta didik menjadi hamba Allah yang mengabdi kepadanya semata ,kedua yaitu berpacuan pada Al quran dan hadis.

3. Metode

      Metode pembelajaran ini harus diterapkan dalam mempermudah pencapaian tujuan sebagaimana hadis nabi yang artinya bagi segala sesuatu itu ada caranya dan metode masuk surga,adalah ilmu H.R Dailani.

4. Evalusi

      Evaluasi merupakan salah satu komponen penting yang harus ditempuh untuk memantau hasil yang diperoleh dan dapat dijadikan umpan balik pendidikan yang dapat memperbaiki dan menyempurnakan program dan kegiatan pembelajaran.(Handayani et al., 2021, pp. 96–100)

 

D.    MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

Lapp, Bender, Ellenwood, & John (Aunurrahman: 1997) berpendapat bahwa berbagai aktifitas belajar mengajar dapat dijabarkan dari 4 model utama, yaitu; (1) The Classical Model, (2)The Technological Model, (3) the Personalised Model, dan (4) The Interaction Model.

Stalling (Aunurrahman: 1997), mengemukakan 5 model dalam pembelajaran : (1) TheExploratory Model, (2) The Group Process Model, (3) The Developmental Cognitive Model, (4) The Programmed Model dan (5) The Fundamental Model.

Joyce, Weil, dan Calhoun (dalam Aunurrahman:2000) mendeskripsikan empat kategori model mengajar, yaitu:

1.      Kelompok Model Interaksi Sosial ( Social Interaction Models)

·         Investigasi Kelompok (Group Investigation)

·         Bermain Peran (Role Playing)

·         Model Penelitian Yurisprudensi (Jurisprodential Inquiry)

2.      Kelompok Model Pengolahan Informasi (Information Processing Model)

·         Berpikir Induktif (Induktive Thinking)

·         Pencapaian Konsep (Concept Attainment)

·         Memorisasi

·         Advance Organizers

·         Penelitian Ilmiah (Scientific Inquiry)

·         Inquiry Training

·         Synectics

2.      Kelompok Model Personal (The Personal Family Model)

·         Pembelajaran Tanpa Arahan (Non Directive Teaching)

·         Model Pembelajaran untuk Meningkatkan Rasa Percaya Diri (Enhancing Self   Esteem) 

1) Model Latihan Kesadaran (Ewareness Training Models)

2) Model Pertemuan Kelas (Classroom Meeting)

3.      Kelompok Model-model Sistem Perilaku (The Behavioral Systems Family)

·         Belajar Tuntas (Mastery Learning)

·         Pengajaran Langsung (Direct Instruction)

·         Simulasi (Simulation)

·         Social Learning

·         Programmed Schedule

E.     PENGERTIAN HASIL BELAJAR

Hasil belajar merupakan kompetensi yang telah dicapai oleh seseorang setelah melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian, hasil belajar merupakan salah satu indikator keberhasilan pelaksanaan pembelajaran. Menurut Sudjana ( 2006:22),“hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”. Lebih lanjut, Anas dalam Harefa ( 2010, p. 21) mengatakan “Hasil belajar adalah tingkat penguasaan peserta didik terhadap tujuan-tujuan khusus yang ingin dicapai dalam unit-unit program pengajaran atau tingkat pencapaian terhadap tujuan-tujuan umum pengajaran”. Sedangkan menurut Suprijono (2009:5), “hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasidan keterampilan”. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki oleh siswa yang menjadi indikator tingkat penguasaan terhadap tujuan- tujuan khusus dan umum yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran. Menurut KTSP, hasil belajar dibagi dalam 3 aspek yaitu pemahaman konsep, penalaran dan komunikasi, serta pemecahan masalah.

 

F.      MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK

1. Model Pembelajaran Investigasi

Investigasi atau penyelidikan merupakan kegiatan pembelajaran yang memberikan kemungkinan siswa untuk mengembangkan pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan dan hasil benar sesuai pengembangan yang dilalui siswa (Soppeng, 2009) . Kegiatan belajarnya diawali dengan pemecahan soal-soal atau masalah-masalah yang diberikan oleh guru, sedangkan kegiatan belajar selanjutnya cenderung terbuka, artinya tidak terstruktur secara ketat oleh guru, yang dalam pelaksananya mengacu pada berbagai teori investigasi.

Menurut Height (dalam Krismanto, 2004), investigasi berkaitan dengan kegiatan mengobservasi secara rinci dan menilai secara sistematis. Jadi investigasi adalah proses penyelidikan yang dilakukan seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil.

Talmagae dan Hart (dalam Soppeng, 1977) menyatakan bahwa investigasi diawali oleh soal-soal atau masalah-yang diberikan oleh guru, sedangkan kegiatan belajarnya cenderung terbuka, artinya tidak terstruktur secara ketat oleh guru. Siswa dapat memilih jalan yang cocok bagi mereka. Seperi halnya Height, mereka menyatakan pula bahwa karena mereka bekerja dan mendiskusikan hasil dengan rekan-rekannya, maka suasana investigasi ini akan merupakan satu hal yang sangat potensial dalam menunjang pengertian siswa.

Menurut Soedjadi (dalam Sutrisno, 1999 : 162), model belajar “investigasi” sebenarnya dapat dipandang sebagai model belajar “pemecahan masalah” atau model “penemuan”. Tetapi model belajar “investigasi” memiliki kemungkinan besar berhadapan dengan masalah yang divergen serta alternatif perluasan masalahnya. Sudah barang tentu dalam pelaksanaannya selalu perlu diperhatikan sasaran atau tujuan yang ingin dicapai, mungkin tentang suatu konsep atau mungkin tentang suatu prinsip

Pada investigasi, siswa bekerja secara bebas, individual atau berkelompok. Guru hanya bertindak sebagai motivator dan fasilitator yang memberikan dorongan siswa untuk dapat mengungkapkan pendapat atau menuangkan pemikiran mereka serta menggunakan pengetahuan awal mereka dalam memahami situasi baru. Guru juga berperan dalam mendorong siswa untuk dapat memperbaiki hasil mereka sendiri maupun hasil kerja kelompoknya. Kadang mereka memang memerlukan orang lain, termasuk guru untuk dapat menggali pengetahuan yang diperlukan, misalnya melalui pengembangan pertanyaan-pertanyaan yang lebih terarah, detail atau rinci. Dengan demikian guru harus selalu menjaga suasana agar investigasi tidak berhenti di tengah jalan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulakan bahwa Investigasi adalah proses penyelidikan yang dilakukan seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil.

2.  Model Pembelajaran Investigasi kelompok

Menurut Aunurrahman (2009:152) Seorang guru dapat menggunakan strategi investigation kelompok di dalam proses pembelajaran dengan beberapa keadaan, antara lain sebagai berikut:

1.      Bilamana guru bermaksud agar siswa-siswa mencapai studi yang mendalam tentang isi atau  materi, yang tidak dapat dipahami secara memadai dari sajian-sajian informasi yang terpusat  pada guru.

2.      Bilamana guru bermaksud mendorong siswa untuk lebih skeptis tentang ide-ide yang  disajikan dari fakta-fakta yang mereka dapatkan

3.      Bilamana guru bermaksud meningkatkan minat siswa terhadap suatu topik yang memotivasi mereka membicarakan berbagai persoalan di luar kelas

4.      Bilamana guru bermaksud membantu siswa memahami tindakan-tindakan pencegahan yang diperlukan atas interpretasi informasi yang berasal  dari penelitian-penelitian orang  lain yang mungkin dapat mengarah pada pemahaman  yang kurang positif

5.      Bilamana guru bermaksud mengembangkan keterampilan-keterampilan penelitian,    yang selanjutnya dapat mereka pergunakan di dalam situasi belajar yang lain, seperti  halnya cooperative learning

6.      Bilamana guru menginginkan peningkatan dan perluasan kemampuan siswa.

Menurut Killen ( dalam Aunurrahman, 1998 : 146) memaparkan beberapa ciri essensial investigasi kelompok sebagai pendekatan pembelajaran adalah: Para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil dan memilki independensi terhadap  guru

1.    Kegiatan-kegiatan siswa terfgokus pada upaya menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan

2.    Kegiatan belajar siswa akan selalu mempersaratkan mereka untuk mengumpulkan   sejumlah data, menganalisisnya dan mencapai beberapa kesimpulan

3.    Siswa akan menggunakan pendekatan yang beragam di dalam belajar

4.    Hasil-hasil dari penelitian siswa dipertukarkan di antara seluruh siswa.

Ibrahim.(dalam Yasa, 2000:23) menyatakan dalam kooperatif tipe investigasi kelompok  guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa heterogen dengan mempertimbangkan keakraban dan minat yang sama dalam topik tertentu. Siswa memilih sendiri topik yang akan dipelajari, dan kelompok merumuskan penyelidikan dan menyepakati pembagian kerja untuk menangani konsep-konsep penyelidikan yang telah dirumuskan. Dalam diskusi kelas ini diutamakan keterlibatan pertukaran pemikiran para siswa.

Slavin (2009: 218), mengemukakan tahapan-tahapan dalam menerapkan pembelajaran investigasi kelompok adalah sebagai berikut:

Tahap 1: Mengidentifikasikan Topik dan Mengatur Murid ke dalam Kelompok

                 (Grouping)

·         Para siswa meneliti beberapa sumber, memilih topik, dan mengkategorikan saran-saran.

  • Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topik yang  telah mereka pilih.
  • Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus bersifat heterogen.
  • Guru membantu dalam pengumpulan informasi dan memfasilitasi pengaturan.

Tahap 2: Merencanakan Tugas yang akan Dipelajari (Planning)

  • Para siswa merencanakan bersama mengenai:

Apa yang kita pelajari ?

Bagaimana kita mempelajarinya?

Siapa melakukan apa? (pembagian tugas).

Untuk tujuan atau kepentingan apa kita menginvestigasi  topik ini?

 

Tahap 3: Melaksanakan Investigasi ( Investigation)

  • Para siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan membuat  kesimpulan.
  • Tiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang dilakukan kelompoknya.
  • Para siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi, dan mensintesis semua   gagasan.

 

Tahap 4: Menyiapkan Laporan Akhir (Organizing)

  • Anggota kelompok menentukan pesan-pesan essensial dari proyek mereka.
  • Anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan, dan bagaimana mereka akan membuat presentasi mereka
  • Wakil-wakil kelompok membentuk sebuah panitia acara untuk mengkoordinasikan rencana-rencana presentasi.

 

Tahap 5: Mempresentasikan Laporan Akhir (Presenting)

  • Presentasi yang dibuat untuk seluruh kelas dalam berbagai macam bentuk
  • Bagian presentasi tersebut harus dapat melibatkan pendengarnya secara aktif
  • Para pendengar tersebut mengevaluasi kejelasan dan penampilan presentasi    berdasarkan kreteria yang telah ditentukan sebelumnya oleh seluruh anggota kelas.

Tahap 6: Evaluasi (Evaluating)

  • Para siswa saling memberikan umpan balik mengenai topik tersebut, mengenai tugas yang telah mereka kerjakan, mengenai keefktifan pengalaman-pengalaman mereka
  • Guru dan murid berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran siswa.
  • Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling tinggi

Berdasarkan uraian di atas bahwa model pembelajaran investigasi kelompok ialah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok yang bersifat heterogen dimana setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama dalam mencapai tujuan pembelajaran.

G.    PEMECAHAN MASALAH DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

1.  Pengertian Masalah

Suatu pertanyaan akan menjadi masalah jika pertanyaan itu menunjukan adanya suatu tantangan yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur rutin yang sudah diketahui oleh si pelaku ( Fadjar Shadiq, 2004: 10). Definisi di atas mengandung implikasi bahwa suatu masalah harus mengandung adanya “tantangan” dan “belum diketahuinya prosedur rutin”. Prosedur rutin di sini adalah soal yang penyelesainnya sudah bisa ditebak, diketahui rumusnya, dan hanya dengan satu atau dua langkah soal sudah terselesaikan. Tidak semua pertanyaan merupakan suatu masalah. Bagi seseorang suatu pertanyaan bisa menjadi suatu masalah sedang bagi orang lain  tidak.

Masalah berbeda dengan soal latihan. Pada soal latihan, siswa telah mengetahui cara menyelesaikannya, karena telah jelas hubungan antara yang diketahui dengan yang ditanyakan, dan biasanya ada contoh soal. Pada masalah siswa tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya, tetapi siswa tertarik dan tertantang untuk menyelesaikannya.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat diartikan  bahwa suatu pertanyaan akan menjadi masalah hanya jika pertanyaan itu  menunjukkan adanya suatu tantangan yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur rutin yang sudah diketahui oleh penjawab pertanyaan, sebab suatu masalah bagi seseorang dapat menjadi bukan masalah bagi orang lain karena ia sudah mengetahui prosedur untuk menyelesaikannya.

 

2. Pemecahan masalah matematika

Dalam pembelajaran matematika, masalah-masalah yang sering dihadapi siswa berupa soal-soal atau tugas-tugas yang harus diselesaikan siswa. Pemecahan masalah dalam hal ini adalah aturan atau urutan yang dilakukan siswa untuk memecahkan soal-soal atau tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Menurut Wardhani (2006:16), pemecahan masalah adalah proses menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya kedalam situasi baru yang belum dikenal. Dengan demikian ciri dari penugasan berbentuk pemecahan masalah adalah: (1) ada tantangan dalam materi, tugas, atau soal, (2) masalah tidak dapat diselesaikan dengan menggunakan prosedur rutin yang sudah diketahui penjawab.

Dari uraian diatas dapat diartikan bahwa dalam pemecahan masalah siswa didorong dan diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berinisiatif dan berfikir sistematis dalam menghadapi suatu masalah dengan menerapkan pengetahuan yang didapat sebelumnya.

3. Langkah-langkah menyelesaikan masalah

Menurut Polya (1973:5-22), ada empat langkah dalam menyelesaikan masalah yaitu:

Memahami masalah

Pada kegiatan ini yang dilakukan adalah merumuskan: apa yang diketahui, apa yang  ditanyakan, apakah informasi cukup, kondisi (syarat) apa yang harus dipenuhi, menyatakan kembali masalah asli dalam bentuk yang lebih operasional (dapat dipecahkan).

 

Merencanakan pemecahannya

Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini adalah mencoba mencari atau mengingat masalah yang pernah diselesaikan yang memiliki kemiripan dengan sifat yang akan dipecahkan, mencari pola atau aturan , menyusun prosedur penyelesaian.

 

Melaksanakan rencana

Kegiatan pada langkah ini adalah menjalankan prosedur yang telah dibuat   pada langkah sebelumnya untuk mendapatkan penyelesaian .

 

Memeriksa kembali prosedur dan hasil penyelesaian

Kegiatan pada langkah ini adalah menganalis dan mengevaluasi apakah prosedur

yang diterapkan dan hasil yang diperoleh benar, apakah ada prosedur lain yang lebih efektif , apakah prosedur yang dibuat dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah sejenis, atau apakah prosedur dapat dibuat generalisasinya.

 

4. Stategi pemecahan masalah

Menurut Polya dan Pasmep (Fajar Shadiq, 2004:13) beberapa strategi pemecahan masalah antara lain:

Mencoba-coba

Strategi ini biasanya digunakan untuk mendapatkan  gambaran umum pemecahan masalah (trial and error). Proses mencoba-coba ini tidak akan selalu berhasil, adakalanya gagal. Proses mencoba-coba dengan menggunakan suatu analisis yang tajam sangat dibutuhkan pada penggunaan strategi ini.

Membuat diagram

Strategi ini berkait dengan pembuatan sket atau gambar untuk mempermudah memahami masalah dan mempermudah mendapatkan gambaran umum penyelesaiannya. Dengan strategi ini, hal-hal yang diketahui tidak sekedar dibayangkan namun dapat dituangkan ke atas kertas.

 

Mencobakan pada soal yang lebih sederhana

Strategi ini berkait dengan penggunaan contoh-contoh khusus yang lebih mudah dan lebih sederhana, sehingga gambaran umum penyelesaian masalah akan lebih mudah dianalisis  dan akan lebih mudah ditemukan.

Membuat tabel

Strategi ini digunakan untuk membantu menganalisis permasalahan atau jalan pikiran, sehingga segala sesuatunya tidak hanya dibayangkan saja.

Menemukan pola

Strategi ini berkait dengan pencarian keteraturan-keteraturan. Keteraturan yang sudah diperoleh  akan lebih memudahkan  untuk menemukan penyelesaian masalahnya.

  

Memecah tujuan

Strategi ini berkait dengan pemecahan tujuan umum yang  hendak dicapai. Tujuan pada bagian ini dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuan yang sebenarnya.

 

Memperhitungkan setiap kemungkinan

Strategi ini berkait dengan penggunaan aturan- aturan yang dibuat sendiri oleh para pelaku selama proses pemecahan masalah berlangsung sehingga dapat dipastikan tidak akan ada satu alternatif yang terabaikan.

Berpikir logis

Strategi ini berkaitan dengan penggunaan penalaran ataupun penarikan kesimpulan yang sah atau valid dari berbagai informasi atau data yang ada.

 Bergerak dari belakang

Dalam strategi ini proses penyelesaian masalah dimulai dari apa yang ditanyakan, bergerak menuju apa yang diketahui. Melalui proses tersebut dianalisis untuk dicapai pemecahan masalahnya.

Mengabaikan hal yang tidak mungkin

Dalam strategi ini setelah memahami masalah dengan merumuskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan. Bila ditemukan hal yang tidak berhubungan dengan apa yang diketahui dan apa ditanyakan sebaiknya diabaikan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa siswa dikatakan mampu memecahkan masalah apabila telah memenuhi tahap-tahap pemecahan masalah dan menggunakan strategi yang ada, selain itu pengerjaannya harus sistematis dan jelas

H.    Kele bihan dan Kekurangan Pembelajaran Investigasi

 Model Pembelajaran Group Investigation yang digunakan dalam pembelajaran menulis surat dinas memiliki beberapa kelebihan.

Setiawan (2006:9) mendeskxipsikan beberapa kelebihan dari pembelajaran GI, yaitu sebagai berikut:

1)     Secara Pribadi

b)     dalam proses belajarnya dapat bekerja secara bebas b)memberi semangat untuk berinisiatif, kreatif, dan aktif c)rasa percaya diri dapat lebih meningkat d)dapat belajar untuk memecahkan, menangani suatu masalah e)mengembangkan antusiasme dan rasa pada fisika

2)     Secara Sosial a)meningkatkan belajar bekerja sama

b)     belajar berkomunikasi baik dengan teman sendiri maupun guru

c)      belajar berkomunikasi yang baik secara sistematis

d)     belajar menghargai pendapat orang lain

e)     meningkatkan partisipasi dalam membuat suatu keputusan

3)     Secara Akademis

a)     siswa terlatih untuk mempertanggungjawabkan jawaban yang diberikan

b)     bekerja secara sistematis

c)      mengembangkan dan melatih keterampilan fisika dalam berbagai bidang

d)     merencanakan dan mengorganisasikan pekerjaannya

e)     mengecek kebenaran jawaban yang mereka buat

f)        Selalu berfikir tentang cara atau strategi yang digunakan sehingga didapat suatu kesimpulan yang berlaku umum.

 

Model Pembelajaran Group Investigation selain memiliki kelebihan juga terdapat beberapa kekurangannya, yaitu:

a)     Sedikitnya materi yang tersampaikan pada satu kali pertemuan

b)     Sulitnya memberikan penilaian secara personal

c)      Tidak semua topik cocok dengan model pembelajaran GI, model pembelajaran GI cocok untuk diterapkan pada suatu topik yang menuntut siswa untuk memahami suatu bahasan dari pengalaman yang dialami sendiri

d)     Diskusi kelompok biasanya berjalan kurang efektif

e)     Siswa yang tidak tuntas memahami materi prasyarat akan mengalami kesulitan saat menggunakan model ini (Setiawan, 2006:9).

Berdasarkan pemaparan mengenai model pembelajaran GI tersebut, jelas bahwa model pembelajaran GI mendorong siswa untuk belajar lebih aktif dan lebih bermakna. Artinya siswa dituntut selalu berfikir tentang suatu persoalan dan mereka mencari sendiri secara penyelesaiannya. Dengan demikian mereka akan lebih terlatih untuk selalu menggunakan keterampilan pengetahuannya, sehingga pengetahuan dan pengalaman belajar mereka akan tertanam untuk jangka waktu yang cukup lama. (Setiawan, 2006, p. 9)

 

I.       KAITAN MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA

 

Dari uraian yang telah dijelaskan sebelumnya tampak adanya keterkaitan antara model pembelajaran investigasi kelompok dan kemampuan pemecahan masalah. Pada tahap-tahap Investigasi kelompok yaitu : Pengelompokkan, perencanaan, penyelidikan, pengorganisasian, persentase dan evaluasi. Dari tahap-tahap investigasi kelompok ini berkembang langkah-langkah pemecahan masalah, yaitu: memahami masalah, merencanakan pemecahan masalah, melaksanakan rencana pemecahan masalah dan memeriksa kembali prosedur dan hasil penyelesaian.

 

J.      Kesimpulan

Tujuan dan manfaat dibuatnya makalah ini bagi penyusun agar dapat memahami dan mendalami wawasan mengenai pembelajaran, khususnya mengenai model pembelajaran investigasi kelompok sebagai bidang keilmuan dari penyusun. Tujuan dan manfaat bagi pembaca adalah untuk menambah wawasan mengenai upaya meningkatkan efektifitas pembelajaran, khususnya melalui model investigasi kelompok.

      Untuk mewujudkan kemampuan berpikir siswa, guru perlu menerapkan berbagai pembelajaran model inovatif. Model pembelajaran inovatif yang dimaksud adalah “model yang menggunakan paham konstrutivistik” (Shadiq, 2006). Paham tersebut menyatakan bahwa pengetahuan akan terbentuk atau terbangun di dalam pikiran siswa sendiri ketika ia berupaya untuk mengorganisasikan pengalaman barunya berdasarkan pada kerangka kognitif yang sudah ada di dalam pikirannya. Menurut Paul Suparno (dalam Syaripudin & Kurniasih, 2015, hlm. 125) Jika seseorang tidak mengkonstruksikan pengetahuannnya sendiri secara aktif, meskipun ia berumur tua, pengetahuannya akan tetap tidak berkembang.


DAFTAR PUSTAKA

 

Abeefatihazzuri. 2010. Model Pembelajaran Investigasi. (Online). http://id.shvoong.com /social-sciences/sociology/1964875-model-pembelajaran-investigasi/. (diakses 7 januari 2010).

 

Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

BSNP. 2010. Standar Isi. (Online). http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=103/. (diakses 16 Desember 2009).

 

Depdiknas. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi (MTK-26: Model-model Pembelajaran Matematika). Jakarta: Ditjen Dikdasmen Depdiknas.

 

Krisna. 2009. Pengertian Dan Ciri-ciri   Pembelajaran. (Online). http://krisna1.blog.uns. ac.id/2009 /10/19/pengertian-dan-ciri-ciri-pembelajaran/. (diakses 5 Januari 2010).

 

Polya. 1973. How To Solve It. New Jersey: Princeton University Press.

Riduwan.. 2006. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta.

 

Robertusmargana.2009. Proses dan Strategi Pemecahan Masalah. (Online). http://4.25.3. 32/search?q=cache:EtKvb77XwWYJ:robertmath4edu.wordpress.com/2009/01/15/proses-dan-strategi-pemecahan-masalah/+langkahlangkah+dalam+menyelesaikan+ soal+pemecahan+masalah&cd=7&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a. (diakses  26 Desember 2009).

 

Setiawan. 2006. Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Investigasi. PPP Matematika Yokyakarta 2006.

 

Shadiq, Fadjar. 2009. Apa dan Mengapa Matematika Begitu Penting?. (Online). http://fadjarp3g.files.wordpress.com/2009/10/09-apamat_limas_.pdf . (diakses 4 Januari  2010.

————-. 2004. Penalaran, Pemecahan Masalah dan komunikasi dalam Pembelajaran Matemátika. PPPG  Matematika Yokyakarta 2004.

 

Slavin. 2009. Cooperative Learning. Bandung : Nusa Media.

 

Soppeng, Syarif. 2009. Model Pembelajaran Investigasi dalam Pembelajaran 

 Matematika .(Online). http://www.psb-psma.org/content/blog/model- investigasi-dalam-pembelajaran-matematika. (diakses 16 Desember 2009).

Surianta, I Made. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif type STAD  dengan Media VCD. (Online). http://disdikklungkung.net/index2.php?option=com_conten t&task=emailform&id=73&itemid=46. (diakses 5 Januari 2010).

 

Sutrisno, Joko. 2001. Penguasaan Konsep dan Prinsip serta kemampuan Pemecahan

            Masalah  Siswa dalam Geometri Melalui Model Pembelajaran  Investigasi

            Kelompok (Studi  Eksperimen di SLTP Negeri 4 Kodya Bandar Lampung).

 

Proposal Penelitian. Bandung: PPS UPI  Bandung..(Online).  http://74.125.153132/search?q=cache:qF6J2Ea4kNsJ:www.scribd.com/doc/16862558/ProposalJoko+contoh+proposal+investigasi+kelompok+penelitian+experimen&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a.  (diakses 16 desember 2009).

 

Tim MKPBM. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Universitas Pendidikan Indonesia.

 

Wardhani, Sri.2006. Permasalahan Pembelajaran dan Penilaian Kemahiran Matematika SMP.  PPPG Matematika Yokyakarta 2006.

 

yahya, halimfathani. 2009. memahami kembali definisi dan deskripsi matematika.           (online). http://masthoni.wordpress.com/2009/07/12/melihat-kembali-definisi-dan-deskripsi-matematika/.  (diakses 5 januari10).

 

Yasa, Doantara. 2008.  Pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation (GI)                (Online).http://74.125.153.132/search?q=cache:kW9RbrkxSBgJ:ipotes.wordpress.com/2008/04/28/pembelajaran-kooperatif-tipe-group-investigation-gi/+tahap-tahap+investigasi+kelompok+dalam+matematika&cd=8&hl=id& ct=clnk&gl=id (diakses 31 Desember 2009).

 

Selasa, 31 Mei 2022

Metodologi Mengajarkan Akhlak

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.                                            Latar Belakang

Alhamdulillah kesempatan  puji syukur penulis panjadkan kehadiran Allah SWT.karena telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Metodologi Pembelajaran Dengan Tujuan Akidah Akhlak”.

Didalam makalah ini penulis akan membahas mengenai pengertian kewarisan, beberapa harta yang bersangkutan dengan harta pusaka, pusaka dimasa jahiliyah, sebab-sebab pusaka, ahli waris.

Makalah ini disusun guna untuk memenuhi tugas mata fiqi II. Penulis menyadari bahwa dalam proses penyelesaian makalah ini tidak terlepas kesalahan dan kekurangan, untuk itu demi kebaikan makalah ini penulis menerima keritikan juga saran dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini pada masa yang akan datang.

B.                                             Rumusan Masalah

Pengertian metodologi

1.                            Pengertian akidah akhlak

2.                            Sumber-sumber akidah akhlak

3.                            Metode pembelajaran akidah akhlak

4.                            Langkah-langkah mengajarkan  akidah

5.                            Tujuan mengajarkan akidah

C.                                            Tujuan Makalah

1.                Untuk mengetahui pengertian akidah

2.                Sumber-sumber akidah akhlak

3.                Mengetahui metode pembelajaran akidah akhlak

4.                Langka-langkah  mengajarkan akidah

5.                Tujuan mengajarkan akidah


BAB II

PEMBAHASAN

 

A.                                               Pengertian Metodologi

Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan proses belajar mengajar (PBM) bergantung pad acara mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin,antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga akan diharapkan akan terjadi perubahan dan tingka laku pada siswa baik tutur katanya , sopan santunnya, motoric dan gaya hidupnya.[1]

Dalam pengertian lain, metode pembelajaran merupakan cara-cara yang digunakan guru untuk menyampaikan bahan pelajaran kepada ssiswa untuk mencapai tujuan. Dalam kegiatam mengajar makin tepat metode yang digunakan maka makin efektif dan efesien kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru dan siswa pada akhirnya akan menunjang dan mengantarkan keberhasilan mengajar yang dilakukan oleh guru.

B.                                                Pengertian aqidah akhlak

Secara Bahasa aqidah berasal dari kata berarti ikatan dua utas tali dalam satu buku sehingga menjadi tersambung. Sehingga aqidah menurut “ikatan” atau aqad juga berarti janji. Sedangkan menurut istilah aqidah adalah urusan-urusan yang harus dibenarkan oleh hati dan diterimah dengan rasa puas tertanam kuat dalam benak jiwa yang tidak dapat diguncangkan oleh keraguan.

Kata “Akhlak” berasal dari Bahasa arab, jamak dari khuluqun yang menurut Bahasa budi pekerti, peragai, tingkah laku atau tabiat. Pendidikan akhlak berkisar tetntang persoalan kebaikan dan kesopanan, tingkah laku yang terpuji serta berbagai persoalan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana seharusnya seorang siswa bertingka laku.

 Pendidikan akhlak berkisar tetntang persoalan kebaikan dan kesopanan, tingkah laku yang terpuji serta berbagai persoalan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana seharusnya seorang siswa bertingka laku.

Pendidikan akhlak didasarkan pada ayat-ayat Al-Quran dan hadist Rasul, serta memberikan contoh-contoh yang baik yang harus diikuti. Kalua kita teliti isi Al-Quran, akan kita jumpai ajaran yang menyuruh berbuat baik dan mencengah perbuatan jelak.

Sudah lama para filsuf juga mencoba memberikan pengertian tentang kebaikan dan kejahatan. Al-Quran memberikan pengertian  tentang kebaikan dan kejahatan  sebagai berikut. Kebaikan adalah setiap perintah allah untuk mengerjakannya, sedangkan kejahatan ialah setiap larangan Allah untuk mengerjakannya. Allah tidak memerintah manusia kecuali hal-hal yang baik bagi mereka dan tidak akan melarang sesuatu kecuali ada hal-hal yang jelek bagi mereka.

Islam sangat mementingkan pendidikan rohani dan membersihkan jiwa dari kedengkian-penipuan-kemunapikan serta buruk sangka terhadap seseorang tanpa sebab. Jiwa yang koko tidak mungkin dicapai kecuali dengan takut kepada allah subhana wa Ta’ala, yaitu dengan menanamkan akidah. Oleh karena itu cerita-cerita yang diajarkan harus berkisar tentang pendidikan yang diambil dari buku sejarah. Juga dapat diambil dari kejadian-kejadian yang timbul dari kalangan murid sekolah dasar dan dihubungkan dengan teman-temannya atau binatang-binatang yang dipeliharanya.

C.                                               Sumber-sumber aqidah

Apabila diperhatikan dengan seksama bahwa sumber atau dasar aqidah berupa Al-quran dan assunna dan selain itu adalah fitra tauhid yang dimiliki setiap manusia karena hidayah taufiqiyah dari allah swt. Melalui akal pikirannya akan menyadari bahwa dirinya itu makhluk dan hambah allah swt dan manusia dan qalb lebih dalam lagi seperti kaum sufi dalam meletakkan landasan aqidahnya.[2]

D.                                               Metode Pembelajaran Akhlak

Metode pembelajaran akhlak serangkain cara yang terencana untuk mencapai tujuan yang ditentukan dalam sebuah intraksi yang saling berhubungan untuk tingkah laku, budi pekerti mulia dan bernilai uluhiyah yang tinggi. Adapun  pengajaran akhlak menurut Dr. Armai Arief, M.A

1.        Metode pembiasaan

Metode pembiasaan adalah metode pengajaran dalam pendidikan islam, dapat dikatakan bahwa pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik berpikir, bersikaf dan bertindak sesuai dengan tuntunan agama islam.

2.        Metode teladan

Metode teladan yaitu mengambil contoh atau meniru orang yang dekat dengannya. Oleh karena itu dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang yang berbudi baik.[3]

Disamping itu, boleh juga guru membuat cerita-cerita hayalan dan tujuannya mengarahkan anak-anak untuk berbuat baik. Guru harus mengetahui bahwa mendidik anak disekolah Dasar harus dimulai dengan menegakkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan memperbaiki pengaruh dari luar yang tidak baik, yang mungkin telah mempengarui jiwanya.

Guru harus membimbing murid cara duduk, menulis mendengarkan, membaca, bertanya, belajar, bejalan, makan, pergaulan dengan teman-temannya, dan bermain. Guru harus membingbing angar si anak berahlak dengan akhlak yang baik sejak kecil.

Contoh teladan yang baik memberi pengaruh yang besar terhadap pendidika akhlak, karena meniru adalah suatu sifat anak-anak. Tingkah laku guru sangat besar pengaruhnya dalam jiwa anak-anak.

Cerita sebagaimana kami kemukakan, merupakan jalan yang baik untuk pendidikan akhlak. Anak-anak suka mendengar cerita dan menceritakannya kembali. Keadaan ini perlu kita mamfaatkan untuk meningkatkan kegairaan belajar mereka. Hendaklah kesempatan ini kita mamfaatkan untuk mendidik mereka sesuai dengan kemauan kita.

Cerita yang paling disenagi oleh anak-anak ialah cerita-cerita dongeg, terutama dongeg tentang binatang. Kemudian cerita-cerita yang dapat membangkitkan khayalan dan cerita-cerita yang berhubungan dengan kehidupan dan lingkungannya. Cerita-cerita jenaka yang menggembirakan, mereka sangat suka.

Guru yang cerdas dapat memasukkan dalam cerita tentang binatang atau materi-materi akhlak lainnya yang ingin diajarkan kepada anak, tetapi secara terselubung (kalua anak mengetahui tidak akan mau mendengarkannya lagi).

3.        Langkah-langkah Mengajarkan Akidah

Metode mengajarkan akidah yang paling baik ialah metode yang dapat menyentuh perasaan dan pikiran murid. Metode ini dapat dilaksanakan dengan tahap-tahap berikut:

a.     Pengantar

Pengantar ini dapat ditempu dalam beberapa bentuk antara lain:

1)   Mengajak murid memperhatikan berbagai benda di ala mini yang merupakan kebesaran Allah subahana wa Ta’ala

2)   Mengulang-ulang pelajaran yang lalu.

3)   Metode cerita. Untuk ini dapat diambil cerita-cerita yang ada hubungannya dengan aqidah, seperti cerita asbahul kahfi,yaitu cerita tentang kebangkitan tiga pemudah setelah mati berates –ratus tahun. Cerita-cerita itu ada pengarunya dalam jiwa murid, yang mungkin akan dicontoh dan ditiruhnya. Dalam Al-quran banyak sekali cerita, terutama tentang umad yang terdahulu. Mereka yang beriman mendapat kebahagian, dan yang tidak beriman gagal dalam kehidupan serta akan mendapat siksa yang pedih.

b.    Menghubung-hubungkan

Menghubungkan antara aqidah yang telah mereka pelajari dan sedang dipelajari dengan kejadian-kejadian yang ada dalam masyarakat, angar dapat mereka bandingkan atau cocokkan dengan akidah yang baru mereka pelajari. Sehingga amalan dan ibadah yang mereka lakukan tetap ada hubungannya dengan ayat-ayat yang telah mereka pelajari dalam kelas itu, maupun dalam kelas-kelas sebelumnya.[4]

Dalam mengajarkan pendidikan akhlak, seorang guru dapat megikuti metode sebagai berikut:

1)      Persiapan

Guru mempersiapkan cerita yang akan diceritakan atau mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari, sesuatu hal yang membawa pengaru besar dalam jiwa anak-anak. Guru menceritakan kepada anak bahwa dia sendiri mendengar atau melihat kejadian tersebut.

Kadang- kadang guru harus dapat mendengar dan melihat dari kehidupan dari sisi kehidupan masarakat untuk dijadikan dasar-dasar berbagai cerita.Telah kami sebutkan bahwa cerita mempunyai pengaruh besar dalam pengarahan terhadap anak-anak

 

 

2)      Bahan pelajaran

Guru boleh mengambil satu atau mengambil cerita dari buku teks, kemudian menceritakan dengan cara yang menarik sehingga murid tertarik untuk mendengarkannya dengan penuh kegairajhan kadang-kadang meminta seorang murid untuk membaca cerita yang ada dalam buku teks kemudian kata-kata yang sulit didiskusikan bersama.

3)      Hubungan/evaluasi

Materi yang dibahas dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilakukan guru dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan setelah selesai bercerita. Kemudian minta kepada murid untuk memberi contoh-contoh, atau mereka menceritakan kejadian-kejadian lain yang ada hubungannya dengan materi pokok. Guru mengajukan beberapa pertanyaan tentang cerita yang diceritakan murid kepada teman-temannya.

4)      Kesimpulan

Guru menyimpulkan tujuan pelajaran itu dan menulisnya dengan tulisan yang baik dipapan tulis angar murid mengetahui dengan jelas tujuan pelajaran itu. Guru membaca apa yang telah dituliskan itu sebagai contoh, kemudian minta murid membacanya.

4.        Tujuan Mengajarkan Akidah

Sasaran pengajaran akidah ialah untuk mewujudkan maksud-maksud  sebagai berikut:

a.    Memperkenalkan kepada murid akan kepercayaan yang benar, yang menyalamatkan mereka dari siksaan Allah Ta’alah. Juga diperkenalkan tentang rukun iman, ketaatan kepada allah, dan beramal dengan amal yang baik untuk kesempurnaan iman mereka.

b.    Menanamkan iman kepada Allah, para Malaikat Allah kitab-kitab Allah, Rasul-rasul-Nya, adanya kadar baik dan buruk dan tentang hari kiamat kedalam jiwa anak.

c.    Menumbuhkan generasi yang kepecayaan dan keimanan-nya sah dan benar, dan selalu ingat kepada Allah, bersyukur, dan beribadah kepadanya.[5]

d.   Membantu murid angar mereka berusaha memahami berbagai hakikat, umpamanya

1)      Allah berkuasa dan mengetahui segala sesuatunya walau sekecil apapun.

2)      Percaya bahwa allah adil, baik di dunia maupun di akhirat.

3)      Membersikan jiwa dan pikiran murid dari perbuatan syirik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Dari hasil pembahasan yang telah dikemukakan diatas maka dapat disimpulkan bahwa metodologi pembelajaran Akidah Akhlak merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus diketahui dan dikuasai oleh seorang guru. Letak keberhasilan dari proses belajar mengajar berada pada seorang guru yang kreatif dan berkualitas menggunakan metode pembelajaran akidah akhlak haruslah sesuai kebutuhan peserta didik sehingga dapat memahami bidang studi Akidah Akhlak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Muhammad Abdul Qadir Ahmad. metodologi pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008). Hlm.115.

[2] Ibid,. hlm.117.

[3] Armai Arief. Pengantar ilmu dan metodologi pendidikan islam. ( Jakarta ciputat pers.2002). hlm.108.

[4] A. Mustofa. Akhlak Tasawuf  (bandung: CV. Pustaka Setia. 1995), hlm. 120.

[5] Ibid,.hlm. 121.                                  

makalah aspek manajemen organisasi

makalah aspek manajemen organisasi  BAB I PENDAHULUAN   Manajemen secara umum diartikan sebagai ‘pengaturan’, artinya manajemen adalah...