Rabu, 15 Juni 2022

Isu Tren Matematika

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.  Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu faktor kemajuan bangsa ini berdiri, yang telah menjadi sebuah keharusan bagi peningkatan kualitas kehidupan manusia. Pendidikan menjadi pilar utama dalam membentuk kepribadian yang akan menjadi acuan dalam perkembangan kehidupan. Dengan pendidikan pula peradaban dunia ini bisa  dibentuk, berkembang.

            Di era perkembangan yang kemajuannya berjalan secara cepat ini menuntut pendidikan untuk bisa menghadapi dan mengontrolnya sehingga manusia tidak terjebak dengan kencangnya arus kemajuan zaman.  Hal ini membuat suatu bangsa untuk semakin berusaha memajukan kualitas pendidikan yang ada di negaranya masing-masing, begitu pula dengan Negara Singapura. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis akan membahas mengenai pendidikan di singapura.

            Matematika Singapura adalah kurikulum yang meniru cara matematika diajarkan di Singapura. Singapura sebelumnya mengimpor semua buku-buku pelajaran matematika dari negara-negara lain. Tetapi tahun 1980, mereka mulai mengembangkan kurikulum matematika sendiri, dengan mengutamakan konsep-konsep yang ingin mereka terapkan pada murid-murid mereka pada masing-masing tahap. Masing-masing topik, seperti penambahan, pengurangan sampai pecahan dan desimal, dipelajari dalam tiga langkah.

Pengajar matematika, Gertie Walls, mulai mengajarkan Matematika Singapura kepada murid-muridnya beberapa tahun lalu. Ia telah menjadi guru matematika sekolah dasar selama hampir 30 tahun, dan menurutnya memperkenalkan kurikulum ini adalah pengalaman yang menyenangkan. Walls merupakan satu dari 32 guru yang menghadiri program pelatihan Matematika Singapura di Baker, Lousiana. Yang ia sukai dari kurikulum itu adalah karena lebih mengandalkan pada gambar, daripada kata-kata. Sehingga, murid-murid punya kesempatan untuk menemukan, daripada diajarkan, konsep-konsep matematika, dan dalam prosesnya, mereka belajar untuk berpikir secara matematis.

 

1.2.   Rumusan Masalah

1.      Bagaimana system pendidikan di Singapura?

2.      Bagaimana dengan kurikulim, metode, tujuan serta metode yang ada pada pendidikan di Singapura?

3.      Apakah Kelebihan Kurikulum Matematika Singapura?

4.      Bagaimana Sistem Kebijakan Pendidikan di Singapura ?

 

1.3.  Tujuan Masalah

1.      Untuk mengetahui system pendidikan di Singapura.

2.      Untuk mengetahui kurikulum pendidikan matematika Singapura.

3.      Untuk mengetahui Kelebihan Kurikulum Matematika Singapura.

4.      Untuk mengetahui Sistem Kebijakan Pendidikan di Singapura.

 

1.4.   Manfaat

Berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penulisan, manfaat penulisan makalah ini adalah:

1.      Memiliki pemahaman yang luas tentang pendidikan di Singapura.

2.      Menambah pengetahuan terhadap kurikulum pendidikan matematika Singapura dan mengetahui perbedaan kurikulum di Indonesia dengan Singapura.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1. Pendidikan Singapura

Sistem pendidikan Singapura didasarkan pada pemikiran bahwa setiap siswa memiliki bakat dan minat yang unik. Singapura memakai pendekatan yang fleksibel untuk membantu perkembangan potensi para siswa. Pusat Keunggulan Pendidikan Singapura, Pusat Pendidikan Dunia. Selama bertahun-tahun, Singapura telah berkembang dari sistem pendidikan ala Inggris yang tradisional menjadi sistem pendidikan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan individual dan mengembangkan bakat.

Keunggulan sistem pendidikan di Singapura terletak pada kebijakan dua-bahasa (Bahasa Inggris/Melayu/Mandarin/Tamil) dan kurikulumnya yang lengkap dimana inovasi dan semangat kewiraswastaan menjadi hal yang sangat diutamakan. Para individu menunjukkan bakat-bakat yang berkaitan satu sama lain dan kemampuan untuk bertahan dalam lingkungan yang penuh dengan persaingan, dipersiapkan untuk sebuah masa depan yang lebih cerah.

Sistem pendidikan di Singapura terdiri dari empat lembaga utama, yakni:

1.      Pemerintah, sekolah yang didanai pemerintah dan independen untuk tingkat sekolah dasar dan menengah

2.      Universitas Lokal, Pendidikan Politeknik dan Lembaga Teknik- untuk paska pendidikan tingkat menengah

3.      Sekolah swasta untuk pendidikan tingkat dasar dan menengah

4.      Sekolah dengan sistem dari luar negeri dan sekolah asing/internasional.

Selama bertahun-tahun, Singapura telah berkembang dari sistem pendidikan ala Inggris yang tradisional menjadi sistem pendidikan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan individual dan mengembangkan bakat. Sekolah-sekolah di Singapura terkenal dengan standarnya yang tinggi dalam hal kegiatan belajar mengajar, terbukti melalui perbandingan lokakarya Internasional seperti Third Internasional Matemathics and Science Study (TIMSS) yang menunjukkan bahwa mayoritas siswa sekolah Singapura yang terkemuka telah mempunyai standar internasional dalam mata pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan.

Para siswa kami juga merupakan yang terbaik dalam kompetisi di setiap kejuaraan debat sedunia (Bahasa Inggris) dan olimpiade Internasional (Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi), mengalahkan siswa-siswa dari negara lain untuk meraih hadiah utama dan penghargaan yang diberikan. Pada tingkat ketiga, sebagai tambahan untuk mempromosikan 3 universitas lokal yang sedang berkembang, Singapura telah menarik 10 institusi kelas dunia dengan jaringan industri yang kuat untuk membangun pusat pendidikan dan penelitian yang sempurna.

Di antaranya adalah nama-nama yang sudah dikenal, seperti Universitas yang terkemuka di Perancis-INSEAD, Massachusett Institute of Technology yang terkenal, dan sekolah bisnis Amerika yang terkemuka seperti University of Chicago Graduate School of Business. Bahkan setelah lulus dan masuk dalam dunia kerja, ada banyak kesempatan untuk mengikuti pelatihan lebih lanjut. Pelatihan profesional dan dasar keterampilan ditawarkan dan dijelaskan secara umum. Hal ini telah diketahui oleh banyak orang guna melihat minat pada seminar-seminar yang dilakukan oleh manajemen guru seperti Michael Porter atau kuliah yang diberikan oleh para ahli yang datang berkunjung. Kehadiran dari gabungan institusi Internasional, sistem pendidikan yang berkualitas tinggi dan tepat, dan sebuah bangsa yang yakin atas investasi pada pendidikan, akan bersama-sama menawarkan kepada para siswa di di sini dan di seluruh dunia, sebuah pengayaan dan keutuhan perjalanan belajar.

 

2.2. Kurikulum Pendidikan Matematika Singapura 

Pada tahun 1992 Singapura mulai menekankan pemecahan masalah di dalam kurikulumnya. Pemecahan masalah mataematika dipusatkan dalam pembelajaran matematika yang di dalamnya menyangkut kemahiran, kemampuan/keterampilan dalam menerapkan konsep-konsep matematika dalam berbagai situasi masalah, seperti yang dijabarkan oleh Kementrian Pendidikan Singapura, Mathematical problem solving is central to mathematics learning. It involves the acqulsition and application of mathematics concepts and skill in a wide range of situation. Including non-routine, open-ended and real-word problems (Clark, 2009).

            Pemecahan masalah (problem solving) sebagai tujuan utama pengembangan kurikulum pendidikan Singapura bergantung pada 5 (lima) komponen yang saling terkait. Kelima komponen tersebut, yaitu konsep (concept), keterampilan (skills), proses (processes), sikap (attitudes), serta metakognisi (metacognition) dan pemecahan masalah (problem solving). Foong (2002) menyatakan bahwa dalam kurikulum matematika di Singapura kini, kemampuan penyelesaian masalah merupakan tujuan dari proses belajar mengajar matematika. Selanjutnya Foong (2002) berpendapat bahwa mengajar melalui pemberian masalah-masalah memberikan kesempatan pada siswa untuk membangun konsep matematika dan mengembangkan keterampilan matematikanya.

Masalah akan mengarahkan siswa untuk menggunakan heuristik seperti untuk menyelidiki dan menggali pola sebaik mereka berpikir secara kritis. Untuk menyelesaikan masalah, murid harus mengamati, menghubungkan, bertanya, mencari alasan, dan mengambil kesimpulan. Keberhasilan dalam memecahkan masalah sangat erat hubungannya dengan tingkat kemampuan dan pengamatan seseorang terhadap proses berpikir siswa sendiri.

 

2.2. Perbandingan Kurikulum Pendidikan Indonesia dan Singapura

Kurikulum pendidikan Singapura ternyata tidak beda-beda dari kurikulum pendidikan di Indonesia. Mereka juga punya ujian nasional atau UN bagi semua siswa setiap akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Bedanya, jenjang pendidikan di Singapura itu tidak rumit. Adapun kesamaan lainnya yaitu dalam penyusunan materi pembelajaran kurikulum singapura mengkolaborasikan dan mensinergikan antara pedagogik dengan teori, hal ini seperti halnya pada penyusunan materi pembelajaran di Indonesia. Adapun penyusun kurikulum di Singapura adalah departemen Pendidikan (MOE).

Departemen Pendidikan (MOE) memastikan keseimbangan, ketelitian, relevansi dan respon dari kurikulum untuk memenuhi kebutuhan abad ke-21. Guru harus berfokus pada pengajaran untuk bertahan pemahaman dan keterampilan. Penilaian harus dikontekstualisasikan dan dibuat lebih otentik untuk membekali siswa dengan keterampilan dan sikap untuk menghadapi masalah baru dan isu-isu yang akan datang mereka jalan.

Anak-anak di Singapura masuk ke dunia pendidikan formal mulai dari tingkat TK lanjut ke SD (primary school) selama 6 tahun. Setelah itu mereka masuk SMP-SMA (secondary school) selama 5 tahun, lalu ke tingkat persiapan menuju kuliah (centralised institute atau junior colleges) 3 tahun, baru masuk universitas (university). Akan tetapi, lama seseorang menyelesaikan pendidikan di setiap jenjang setelah SD itu berbeda-beda. Karena setiap anak dimasukkan ke kelas sesuai dengan kemampuan masing-masing, ada 3 kelas di jenjang secondary school, lain Express,  Normal Academic dan Normal Technical. Express merupakan tempat buat siswa pintar. Bagi anak-anak kelas Express, mereka bisa menyelesaikan secondary school selama 4 tahun. Ini juga kalo mereka lulus O Level Test Singapura.

Kalau Normal Academic itu, sebelum mereka masuk ke kelas 5, pada tahun ke-4 harus mengerjakan ujian nasional N level tes buat naik kelas. Setelah mereka melewati kelas 5, ada ujian nasional lagi yang namanya O Level Test. Untuk kelas Normal Technical, bisa disamain sama SMK. Jadi, setelah mereka lulus secondary school, mereka bisa lanjutin ke Institute of Technical Education selama dua tahun, atau sekolah lanjutan buat mereka yang mau meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, Polytechnic (kalau mau dapatkan diploma), bisa juga langsung kerja.

Pelajaran yang mereka dapat juga tidak beda-beda dengan di Indonesia, misalnya Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, Seni, juga pelajaran yang namanya Mother Tongue Language atau pelajaran bahasa sesuai bahasa ibu mereka. Ini secara Singapura salah satu negara multirasial. Misalnya, mereka yang orang Melayu akan mempelajari bahasa Malay, bagi mereka yang Chinese bisa belajar bahasa Mandarin, mereka yang berasal dari India akan mempelajari bahasa Tamil. Nah, hampir semua mata pelajaran itu diujikan dalam O Level Test alias UN Versi Singapura.

O Level Test, ini nama UN untuk secondary school. O Level Test adalah kependekan dari Ordinary Level Test. Bedanya dengan UN kita, UN mereka gak menentukan kelulusan seseorang karena, menurut Pemerintah Singapura, setiap orang punya kesempatan sama untuk melanjutkan pendidikan.

Jadi, buat pelajar yang udah duduk di kelas 4 Express ataupun yang di kelas 5 Normal Academic udah harus ngikutin O Level Test untuk lulus dari secondary school. Dalam O Level Test ada tujuh pelajaran yang harus diikutin: lima mata pelajaran pokok dan dua mata pelajaran pilihan. Kelima pelajaran pokok itu adalah English, Mother Tongue, Matematika, IPA (Biologi, Kimia, Fisika), IPS (Sejarah, Sosiologi, Geografi), serta dua mata pelajaran, pilihan dari Food and Nutrition, IT, dan Design and Technology. Semua pelajaran tersebut punya nilai minimum.

Buat mereka yang tidak bisa mendapatkan nilai minimum, tetap lulus. Tapi, di ijazah mereka akan ada nilai merah. Kalau mereka tidak mau di ijazahnya ada nilai merah, mereka boleh mengulang satu tahun di kelas yang sama.

Setelah Secondary School, masih ada satu lagi jenjang sebelum mereka masuk ke universitas, yaitu Centralised Institute atau Junior Colleges (tertiary education, persiapan menuju tingkat universitas). Tapi, buat mereka yang punya nilai bagus (poin 1 sampe 14) bisa langsung ke Junior College yang lamanya dua tahun.

Kalau mereka tidak punya nilai dari poin yang disebutkan itu, mereka melanjutkan ke Centralised Institute yang waktunya lebih lama, yakni tiga tahun. Setelah itu mereka harus melewati ujian nasional yang namanya A Level Test atau Advanced Level Test. Tes yang diberikan tentu saja lebih susah, secara sudah mau masuk Universitas.

Sebagai Ilustrasi perbedaan Kurikulum Indonesia dengan Singapura adalah sebagai berikut :

  Ilustrasi 1 : Kurikulum Indonesia

Seorang petani diberikan modal : ladang, alat pertanian dan benih. Lalu diberikan target-target tumbuhnya tanaman. Tentang cara menanam? Diserahkan semuanya kepada petani!

  Ilustrasi 2 : Kurikulum Singapura

Seorang petani diberikan modal : ladang, alat pertanian dan benih. Lalu diberikan target-target tumbuhnya tanaman. Tentang cara menanam? Diberikan panduan lengkap, diberikan pendekatan terbaik untuk menanam.

 

2.3. Kelebihan Kurikulum Matematika Singapura

1.  Matematika Singapura menjadikan Problem Solving sebagai dasar pembelajaran matematika di kelas.

2.  Pengajaran Matematika Singapura merupakan pengajaran matematika terbaik di dunia karena memiliki instrumen yang lengkap dan terstruktur. Salah satu metode yang dipakai adalah Model Drawing. Model ini merupakan  salah satu pendekatan CPA yang menjadi pendekatan Matematika Singapura.

3. Sistem pendidikan di Singapura terletak pada kebijakan dua-bahasa (Bahasa Inggris/Melayu/Mandarin/Tamil) dan kurikulumnya yang lengkap dimana inovasi dan semangat kewiraswastaan menjadi hal yang sangat diutamakan.

2.4.  Sistem Kebijakan Pendidikan di Singapura

Sekolah di Singapura menerapkan sistem bilingual dimana bahasa Inggris adalah bahasa utama dan menjadi bahasa pengajaran di sekolah dan bahasa kedua adalah bahasa ibu (bahasa Mandarin, bahasa Melayu, atau bahasa Tamil). Orang India non-Tamil dapat mengambil bahasa Tamil atau bahasa lain yang tidak resmi seperti bahasa Bengal, bahasa Gujarat, bahasa Hindi, bahasa Punjab, atau bahasa Urdu. Namun, orang Tionghoa yang berlatarbelakang keluarga yang tidak berbahasa Mandarin harus belajar bahasa Mandarin. Siswa dengan latarbelakang orang Indonesia harus belajar bahasa Melayu.

Kebijakan pendidikan di Singapura dirancang untuk memastikan bahwa tidak ada anak yang tidak sekolah karena latar belakang keuangan. Iuran di sekolah negeri telah disubsidi. Tidak ada iuran di sekolah dasar namun setiap siswa harus membayar maksimum $6,5 per bulan untuk biaya operasional sekolah. Pemerintah menyediakan beasiswa bagi siswa dengan pendapatan keluarga kurang dari SGD$2.500 per bulan. Kebijakan Pendidikan Di Singapura Sistem pendidikan Singapura didasarkan pada pemikiran bahwa setiap siswa memiliki bakat dan minat yang unik. Singapura memakai pendekatan yang fleksibel untuk membantu perkembangan potensi para siswa. Pusat Keunggulan Pendidikan-Singapura, Pusat Pendidikan Dunia. Selama bertahun-tahun, Singapura telah berkembang dari sistem pendidikan ala Inggris yang tradisional menjadi sistem pendidikan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan individual dan mengembangkan bakat. Keunggulan sistem pendidikan di Singapura terletak pada kebijakan dua-bahasa (Bahasa Inggris/Melayu/Mandarin/Tamil) dan kurikulumnya yang lengkap dimana inovasi dan semangat kewiraswastaan menjadi hal yang sangat diutamakan. Para individu menunjukkan bakat-bakat yang berkaitan satu sama lain dan kemampuan untuk bertahan dalam lingkungan yang penuh dengan persaingan, dipersiapkan untuk sebuah masa depan yang lebih cerah. Sistem pendidikan di Singapura terdiri dari empat lembaga utama, yakni:

1.      Pemerintah, sekolah yang didanai pemerintah dan independen untuk tingkat sekolah dasar dan menengah.

2.      Universitas Lokal, Pendidikan Politeknik dan Lembaga Teknik- untuk paska pendidikan tingkat menengah.

3.      Sekolah swasta untuk pendidikan tingkat dasar dan menengah.

4.      Sekolah dengan sistem dari luar negeri dan sekolah asing/internasional.

Selama bertahun-tahun, Singapura telah berkembang dari sistem pendidikan ala Inggris yang tradisional menjadi sistem pendidikan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan individual dan mengembangkan bakat. Keunggulan sistem pendidikan di Singapura terletak pada kebijakan dua-bahasa (Bahasa Inggris/Melayu/Mandarin/Tamil) dan kurikulumnya yang lengkap dimana inovasi dan semangat kewiraswastaan menjadi hal yang sangat diutamakan. Para individu menunjukkan bakat-bakat yang berkaitan satu sama lain dan kemampuan untuk bertahan dalam lingkungan yang penuh dengan persaingan, dipersiapkan untuk sebuah masa depan yang lebih cerah. Sekolah-sekolah di Singapura terkenal dengan standarnya yang tinggi dalam hal kegiatan belajar mengajar, terbukti melalui perbandingan lokakarya Internasional seperti Third Internasional Matemathics and Science Study (TIMSS) yang menunjukkan bahwa mayoritas siswa sekolah Singapura yang terkemuka telah mempunyai standar internasional dalam mata pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan.

1.      Pendidikan Pra Sekolah

Pendidikan pra sekolah diselenggarakan oleh Taman kanak-kanak dan pusat perawatan anak, terdiri dari program tiga tahun untuk anak usia 3 hingga 6 tahun. Terdaftar pada menteri pendidikan, Taman kanak-kanak di Singapura dilaksanakan oleh yayasan masyarakat, perkumpulan keagamaan, organisasi sosial dan bisnis. Pusat perawatan anak mendapat ijin dari Menteri Pengembangan Masyarakat dan olah raga. Kebanyakan dari Taman kanak-kanak menyelenggarakan dua sesi sehari dengan tiap sesi pelatihan dari 2, 5 sampai 4 jam, 5-hari setiap minggunya. Pada umumnya kurikulum termasuk program berbahasa Inggris dan bahasa asing dengan pengecualian terhadap sistem luar negeri yaitu pada sekolah Internasional yang menawarkan program Taman kanak-kanak bagi anak-anak ekspatriat.

2. Sekolah Dasar

Seorang anak di Singapura menjalani pendidikan dasar selama 6 tahun, terdiri dari empat tahun tahap dasar pertama yaitu Sekolah Dasar kelas 1 sampai 4 dan tahap orientasi tahun ke dua yaitu Sekolah Dasar kelas 5 sampai 6. Pada tahap dasar, kurikulum inti terdiri dari pengajaran Bahasa Inggris, Bahasa daerah dan matematika, dengan mata pelajaran tambahan seperti musik, kesenian dan kerajinan tangan, pendidikan fisik dan pembelajaran sosial. Ilmu pengetahuan sudah diajarkan sejak kelas 3 Sekolah Dasar. Untuk memaksimalkan potensi mereka, siswa diarahkan menurut kemampuan belajar mereka sebelum menguasai tahap orientasi. Pada akhir kelas 6 SD, siswa mengikuti Ujian Kelulusan Sekolah Dasar (Primary School Leaving Examination). Kurikulum Sekolah Dasar di Singapura telah digunakan sebagai model internasional, khususnya metode pengajaran matematika

3. Sekolah Lanjutan Sekolah Lanjutan di Singapura terdiri dari sekolah dengan Dana Pemerintah, bantuan Pemerintah atau biaya sendiri. Para siswa melaksanakan pendidikan lanjutan selama 4 atau 5 tahun melalui program spesial, cepat ataupun normal. Program spesial dan cepat mempersiapkan siswa untuk mengikuti ujian GCE 'O' (Singapore-Cambridge General Certificate of Education 'Ordinary') pada tingkat empat. Siswa pada program normal dapat memilih jurusan akademik atau teknik, yang keduanya mempersiapkan siswa untuk mengikuti ujian GCE 'N' (Singapore-Cambridge General Certificate of Education 'Normal') pada tingkat empat dan jika hasilnya memuaskan, maka siswa akan mengikuti ujian GCE 'O' pada tingkat lima. Kurikulum pendidikan lanjutan mencakup Bahasa Inggris, Bahasa daerah, Matematika, Ilmu Pengetahuan dan kemanusiaan. Pada tingkat lanjutan ke-3, siswa dapat memilih pilihan mereka sendiri tergantung apakah mereka di jurusan Seni, Ilmu Pengetahuan, Perniagaan atau teknik terapan. Kurikulum pada Sekolah Lanjutan di Singapura dikenal di seluruh dunia atas kemampuannya untuk mengembangkan siswa melalui pemikiran yang kritis dan keterampilan intelektual setelahmenyelesaikan kuliah mereka di universitas.

4. Institusi Kesenian Swasta Saat ini ada 2 institusi kesenian swasta di Singapura yaitu LASALLE College of the Arts dan Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA) yang menawarkan pendidikan kesenian selepas sekolah menengah. Kedua sekolah tersebut dikelola oleh swasta dan merupakan badan yang dibiayai publik; kedua institusi kesenian tersebut bersifat non-profit, merupakan institusi pendidikan swasta dan dikelola secara mandiri dengan bantuan dana dari Departemen Pendidikan Singapura dalam bentuk pendanaan di tingkat politeknik untuk program Diploma tertentu. Sebagai tambahan, institusi tersebut juga menawarkan program sarjana offshore atau program sarjana yang terakreditasi secara eksternal yang tidak didanai oleh pemerintah. Sebagaimana halnya dengan institusi pendidikan publik lainnya di Singapura, mereka terbebas dari program CaseTrust untuk Pendidikan. Terdapat juga institusi-institusi pendidikan swasta lainnya yang menyediakan program-program yang berkaitan dengan seni dan desain.

5. Sekolah Swasta Di Singapura, beragam variasi sekolah swasta menawarkan berbagai jenis jurusan, yang menambah keanekaragaman pandangan pendidikan antar bangsa. Ada lebih dari 300 sekolah swasta komersial jurusan Teknologi Informasi, seni dan bahasa. Sekolah swasta komersial dan sekolah khusus ini menawarkan jurusan yang banyak diminati siswa lokal dan internasional.Sekolah-sekolah swasta menawarkan beragam jurusan dari mulai sertifikat, diploma, sarjana, sampai dengan pasca sarjana. Melalui hubungan kerjasama dengan universitas Internasional yang terkenal dari AS, Inggris, Australia dan lainnya, sekolah-sekolah swasta ini menawarkan kepada para siswa kesempatan untuk mendapatkan sertifikat internasional di lingkungan yang dekat dan terjangkau.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

1.      Sistem pendidikan Singapura didasarkan pada pemikiran bahwa setiap siswa memiliki bakat dan minat yang unik. Singapura memakai pendekatan yang fleksibel untuk membantu perkembangan potensi para siswa.

2.      Pada tahun 1992 Singapura mulai menekankan pemecahan masalah di dalam kurikulumnya. Pemecahan masalah mataematika dipusatkan dalam pembelajaran matematika yang di dalamnya menyangkut kemahiran, kemampuan/keterampilan dalam menerapkan konsep-konsep matematika dalam berbagai situasi masalah.

3.      Pemecahan masalah (problem solving) sebagai tujuan utama pengembangan kurikulum pendidikan Singapura bergantung pada 5 (lima) komponen yang saling terkait. Kelima komponen tersebut, yaitu konsep (concept), keterampilan (skills), proses (processes), sikap (attitudes), serta metakognisi (metacognition) dan pemecahan masalah (problem solving).

4.      Kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah (problem solving) menjadi tujuan utama dalam pembelajaran matematika di Singapura. Foong (2002) menyatakan bahwa dalam kurikulum matematika di Singapura kini, kemampuan penyelesaian masalah merupakan tujuan dari proses belajar mengajar matematika.

5.      Kurikulum pendidikan Singapura ternyata tidak beda-beda dari kurikulum pendidikan di Indonesia. Mereka juga punya ujian nasional atau UN bagi semua siswa setiap akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Bedanya, jenjang pendidikan di Singapura itu tidak rumit.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Clark, Andi. 2009. Problem Solving in Singapore Math. http://www.greatsource.com/singaporemath/pdf/MIFProblem Solving Profesional Paper pdf

Foong, Pui Yee. 2002. Using Short Open-ended Mathematics Questions to Promote Thinking and Understanding. Singapore: National Institute of Education.  http://www.math.unipa.it/~grim/ SiFoong.PDF

http//www.Kurikulum%20beberapa%20negara/pendidikan-di-singapura.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Education in Singapore

http://www.wisatasingapura.web.id

Ministry of Education Singapore. 2006. Mathematics syllabus: Secondary. Singapore: Curriculum Planning and Development Division.

Konseling Kelompok

 Makalah 

Konseling Kelompok 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar  Belakang

Pengembangan kemanusiaan seutuhnya hendaknya mencapai pribadi-pribadi yang kediriannya matang, tangguh, dengan kemampuan social yang menyejukkan, kesusilaan yang tinggi dan luhur serta berkeimanan dan ketakwaan yang kokoh dan dalam.Namun kenyataan yang sering kita jumpai dalam kehidupan masyarakat akhir-akhir ini, banyak pribadi yang kurang berkembang dan rapuh, kurangnya rasa kebersamaan sebagai anggota kelompok masyarakat, kehidupan social yang panas, kesusilaan yang rendah dan keimanan dan ketakwaan yang labil dan dangkal.

Sehubungan dengan masalah-masalah tersebut, maka dalam pengembangan pendidikan harus memperhatikan hal-hal tersebut agar setiap orang dapat berkembang secara optimal sehingga potensi-potensi yang dimlikinya mendapat sentuhan yang mendorongnya untuk berkembang sesuai dengan tahapan-tahapan  perkembangannya baik sebagai makhluk beragama, makhluk susila, makhluk individu, maupun sebagai makhluk social.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

KONSEP DASAR KONSELING KELOMPOK

A.    Pengertian Konseling Kelompok

Konseling kelompok, menurut Pauline Harrison adalah konseling yang terdiri dari 4-8 konseli yang bertemu dengan 1-2 konselor. Dalam prosesnya, konseling kelompok dapat membicarakan beberapa masalah, seperti kemampuan dalam membangun hubungan dan komunikasi, pengembangan harga diri, dan keterampilan-keterampilan dalam mengatasi masalah.

Konseling kelompok bersifat memberikan kemudahan dalam perkembangan individu, dalam arti bahwa konseling kelompok memberikan dorongan dan motivasi kepada individu untuk membuat perubahan-perubahan dengan memanfaatkan potensi secara maksimal sehingga dapat mewujudkan diri.

Dengan memperhatikan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok adalah proses konseling yang dilakukan dalam situasi kelompok, dimana konselor berinteraksi dengan konseli dalam bentuk kelompok yang dinamis untuk memfasilitasi perkembangan individu dan atau membantu individu dalam mengatasi masalah yang dihadapinya secara bersama-sama.[1]

 

B.     Fungsi Layanan Konseling Kelompok

Dengan memperhatikan defenisi konseling kelompok sebagaimana telah disebutkan di atas, maka kita dapat mengatakan bahwa konseling kelompok mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi layanan kuratif; yaitu layanan yang diarahkan untuk mengatasi persoalan yang dialami individu, serta fungsi layanan preventif; yaitu layanan konseling yang diarahkan untuk mencegah terjadinya persoalan pada diri individu. Juntika Nurihsan mengatakan bahwa konseling kelompok bersifat pencegahan dan penyembuhan. Konseling kelompok bersifat pencegahan, dalam arti bahwa individu yang dibantu mempunyai kemampuan normal atau berfungsi secara wajar di masyarakat, tetapi memiliki beberapa kelemahan dalam kehidupannya sehingga mengganggu kelancaran berkomunikasi dengan orang lain. Sedangkan, konseling kelompok bersifat penyembuhan dalam pengertian membantu individu untuk dapat keluar dari persoalan yang dialaminya dengan cara memberikan kesempatan, dorongan, juga pengarahan kepada individu untuk mengubah sikap dan perilakunya agar selaras dengan lingkungannya.

 

C.    Tujuan Layanan Konseling Kelompok

Menurut Winkel, konseling kelompok dilakukan dengan beberapa tujuan, yaitu:

1.      Masing-masing anggota memahami dirinya dengan baik dan menemukan dirinya sendiri. Berdasarkan pemahaman diri itu dia lebih terbuka terhadap aspek-aspek positif dalam kepribadiannya.

2.      Para anggota kelompok mengembangkan kemampuan berkomunikasi satu sama lain sehingga mereka dapat saling memeberikan bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan yang khas pada fase perkembangan mereka.

3.      Para anggota kelompok memperoleh kemampuan pengatur dirinya sendiri dan mengarahkan hidupnya sendiri, mula-mula dalam kontrak antar pribadi di dalam kelompok dan kemudian juga dalam kehidupan sehari-hari di luar kehidupan kelompoknya.

4.      Para anggota kelompok menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih mampu menghayati perasaan orang lain. Kepekaan dan penghayatan ini akan lebih sensitif juga terhadap kebutuhan-kebutuhan dan perasaan-perasaan sendiri.

5.      Masing-masing anggota kelompok menetapkan suatu sasaran yang ingin mereka capai, yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang konstruktif.

6.      Para anggota kelompok lebih berani melangkah maju dan menerima resiko yang wajar dalam bertindak, dari pada tinggal diam dan tidak berbuat apa-apa.

7.      Para anggota kelompok lebih menyadari dan menghayati makna dan kehidupan manusia sebagai kehidupan bersama, yang mengandung tuntutan menerima orang lain dan harapan akan diterima orang lain.

8.      Masing-masing anggota kelompok semakin menyadari bahwa hal-hal yang memprihatinkan bagi dirinya sendiri kerap juga menimbulkan rasa prihatin dalam hati orang lain. Dengan demikian dia tidak meresa terisolir, atau seolah-olah hanya dialah yang mengalami hal ini dan itu.

9.      Para anggota kelompok belajar berkomunikasi dengan anggota-anggota yang lain secara terbuka, dengan saling menghargai dan menaruh perhatian. Pengalaman bahwa komunikasi deminikan dimungkinkan akan membawa dampak positif dalam kehidupan dengan orang-orang yang dekat di kemudian hari.[2]

 

Bagi konseli, konseling kelompok dapat bermanfaat sekali karena melalui interaksi dengan anggota-anggota kelompok, mereka akan mengembangkan berbagai keterampilan yang pada intinya meningkatkan kepercayaan diri dan kepercayaan orang lain.

Tujuan pelaksanaan konseling kelompok ini dalah untuk meningkatkan kepercayaan diri konseli. Kepercayaan diri dapat ditinjau dalam kepercayaan diri lahir dan batin yang diimplementasikan ke dalam tujuh cirri yaitu; cinta diri dengan gaya hidup dan perilaku untuk memelihari diri, sadar akan potensi dan kekurangan yang dimiliki, memiliki tujuan hidup yang jelas, berpikir positif dengan apa yang akan dikerjakan dan bagaimana hasilnya, dapat berkomunikasi dengan orang lain, memiliki ketegasan, penampilan diri yang baik, dan memiliki pengendalian perasaan.

 

 

D.    Keterampilan Dasar Pemimpin Konseling Kelompok

Seorang konselor yang baik, harus membekali diri dengan berbagai keterampilan konseling. Dalam pelaksanaan konseling kelompok, ada beberapa keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh pemimpin kelompok. Menurut Jacob, at al. keterampilan-keterampilan dasar harus dimiliki konselor dalam layanan konseling kelompok sebagai berikut:

1.      Mendengar aktif

Mendengarkan secara aktif mengakibatkan mendengarkan isi, suara, dan bahasa tubuh orang yang berbicara. Hali ini juga melibatkan komitmen berkomunikasi kepada orang yang berbicara bahwa anda benar-benar mendengarkan . mendengarkan aktif sebagai pemimpin kelompok adalah tugas yang jauh lebih kompleks karena anda mendengarkan banyak orang pada satu waktu.

2.      Refleksi

Dalam konseling, refleksi mencerminkan komentar untuk menyampaikan bahwa anda memahami isi, perasaan dan apa yang di balik keduanya. Tujuannya adalah: (1). Untuk membantu anggota kelompok yang sedang berbicara menjadi lebih sadar akan apa yang dia katakana, dan (2). Untuk berkomunikasi kepadanya bahwa anda menyadari apa yang ia rasakan.

3.      Klarifikasi dan bertanya

Klarifikasi dapat dilakukan untuk kepentingan seluruh kelompok atau untuk pembicara, yaitu untuk membantu anggota menjadi lebih sadar akan apa yang dia katakan. Ada beberapa teknik untuk klarifikasi yang mungkin berguna bagi konselor; mempertanyakan, ulangan, dan menggunakan anggota lain untuk memperjelas.

 

 

4.      Meringkas

Keterampilan meringkas adalah suatu keharusan bagi semua pemimpin kelompok. Tanpa ringkasan, anggota dapat menangkap sebagian kecil atau poin yang tidak relevan.

5.      Menghubungkan

Menghubungkan adalah proses menghubungkan anggota secara bersama-sama untuk memfasilitasi ikatan. Ini adalah keterampilan yang berharga bagi para pemimpin kelompok, terutama yang mulai tahap grup, karena pemimpin menginginkan anggota untuk merasa terhubung satu sama lain dan kepada kelompok.

6.      Ceramah singkat dan pemberian informasi

Dalam pendidikan kelompok, pemimpin sering kali adalah orang yang memberikan keahlian pada subyek seperti diet, kesehatan, atau jenis pendidikan pasca sekolah menengah.

7.      Mendorong dan pendukung

Sebagai pemimpin kelompok, kemampuan ini akan sangat penting dalam membantu menangani anggota dengan situasi kecemasan baru dan berbagi ide-ide mereka atau perasaan pribadi dengan anggota lain.

8.      Pengaturan nada

Dengan pengaturan nada suara, berarti kita menciptakan suasana untuk grup dengan mengatur tinggi rendah suara saat berbicara dengan kelompok. Pengaturan suara dilakukan agar suara kita terkesan sejuk dan dapat menyampaikan pesan dengan baik.

9.      Pemodelan dan self-disclosure

Keterampilan ini juga berguna untuk mendapatkan anggota untuk berbagi pikiran dan perasaan. Corey dan Corey menyatakan bahwa “salah satu cara terbaik untuk mengajarkan perilaku yang diinginkan adalah dengan pemodelan perilaku dalam kelompok”.

 

10.  Penggunaan mata

Pemimpin harus menyadari bagaimana matanya dapat mengumpulkan informasi berharga, mendorong anggota untuk berbicara, dan mungkin mencegah anggota dari berbicara.

11.  Penggunaan suara

Suara pemimpin dapat digunakan untuk mempengaruhi suasana kelompok, yaitu melalui ketinggian nada suara, kecepatan dan kontennya. Seorang pemimpin dapat menentukan bagaimana kualitas kelompok yang dipimpinnya melalui isi kata-katanya dan nada suaranya.

12.  Penggunaan energi pemimpin

Pemimpin perlu gembira saat mempimpin, jika mereka tidak bersemangat, para anggota kelompok mungkin tidak akan semangat mengikuti kegiatan kelompok

13.  Mengidentifikasi pengikut

Sebuah keterampilan yang sangat berguna bagi konselor yang memberikan layanan kelompok adalah menemukan siapa pengikutnya yang ada dalam kelompok, yaitu anggota  mana yang dapat diandalkan untuk bersikap kooperatif dan membantu.

14.  Pemahaman multicultural

Pemimpin tidak hanya perlu memahami berbagai budaya dari para anggota kelompok, tetapi juga perlu memahami bagaimana setiap anggota yang beragam budaya dapat mempengaruhi partisipasinya dalam kelompok.

 

15.  Focusing

Terkait dengan keterampilan focusing, Jacob, at al. membahas beberapa isu penting, yaitu bagaimana membangun fokus, bertahan pada fokus, bergeser dari fokus, dan memperdalam fokus.

 

 

16.  Cutting off and drawing out

Cutting off  memungkinkan pemimpin untuk memastikan bahwa isi dari kelompok cocok dengan tujuan. Keterampilan cutting off diperlukan untuk menampung, pergeseran dan memperdalam fokus. Dengan memahami mengapa anggota bersikap diam, pemimpin yang baik dapat memilih bagaimana dan kapan harus menarik keluar (drawing out) beberapa anggota.

17.  Rounds and dyads

Rounds sangat membantu dalam pengumpulan informasi, melibatkan anggota, dan membantu dalam mengumpulkan informasi, melibatkan anggota, dan membantu dalam mengendalikan anggota.

Sementara itu, dyad merupakan kegiatan dimana sepasang anggota mendiskusikan isu-isu atau menyelesaikan tugas dalam kelompok. Dyad berperan penting untuk mengembangkan kenyamanan, kehangatan antar anggota, pengolahan latihan, dan menyediakan waktu bagi pemimpin untuk berpikir.[3]

 

E.     Keunggulan dan keterbatasan konseling kelompok

Dalam layanan konseling, konselor dihadapkan pada berbagai teknik dan strategi maupun pendekatan. Terhadap pilihan tersebut, konselor mesti menyadari bahwa tidak ada teknik, strategi maupun pendekatan yang paling baik untuk menangani semua persoalan konseli. Pada dasarnya, ketepatan sebuah teknik, strategi maupun pendekatan tersebut sangat ditentukan oleh persoalan konseli serta berbagai hal yang terkait dengan permasalahan tersebut.

      Sebagai suatu teknik layanan bimbingan dan konseling, penggunaan konseling kelompok memiliki beberapa keunggulan dan keterbatasan. Pemanfaatan suasana kelompok dalam konseling dapat menyediakan nilai-nilai terapeutik yang sulit, atau sebagiannya bahkan tak mungkin, disediakan melalui konseling individual. Namun, disisi lain konseling kelompok secara simultan memiliki beberapa keterbatasan. Pemahaman akan keunggulan dan keterbatasan konseling kelompok ini bisa dijadikan sebagai salah satu pertimbangan untuk menetukan kapan dan untuk apa sebaiknya teknik konseling kelompok digunakan.

1.      Keunggulan konseling kelompok.

Pemanfaatan suasana kelompok untuk kepentingan konseling atau terapi memiliki beberapa keunggulan. Keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh layanan konseling kelompok dijelaskan secara rinci oleh Natawijaya sebagai berikut:

a.       Menghemat waktu dan energi.

Dilihat dari jumlah konseli yang dapat dilayani, konseling kelompok memungkinkan konselor untuk bisa melayani lebih banyak konseli dari pada konseli individual. Dengan memanfaatkan suasana kelompok, dalam waktu yang sama konselor bisa melayani sejumlah konseli sekaligus. Ini merupakan suatu efisiensi ini, konselor lebih memungkinkan untuk bisa melayani konseli dalam jumlah yang lebih banyak.

b.      Menyediakan sumber belajar dan masukan yang kaya bagi konseli.

Setiap orang biasanya memiliki variasi pandangan dan informasi sehingga terlibatnya sejumlah orang dalam konseling ke;lompok memungkinkan para konseli untuk mendapatkan sumber belajar dan masukan yang kaya. Keberadaan sejumlah orang dalam konseling kelompok bisa memberikan lebih banyak ide dan pandangan. Sebaliknya, dalam konseling individual interaksi yang terjadi terbatas hanya antara seorang konselor dan konseli. Dalam suasana interaksi semacam ini, konselor berperan sebagai satu-satunya sumber yang bisa saling berbagai informasi dan pengalaman dengan konseli.

c.       Pengalaman komunalitas dalam konseling kelompok dapat meringankan beban penderitaan dan menentramkan konseli

Adanya interaksi antar peserta dalam konseling kelompok memungkinkan para konseli menjadi saling mengetahui dan memahami permasalahan, perasaan, dan penglaman mereka satu sama yang lain. Mereka tahu bahwa orang lain juga memiliki pikiran, perasaan, dan permasalahan yang serupa.

d.      Memenuhi kebutuhan akan rasa memiliki.

Rasa untuk memiliki merupakan kebutuhan manusia yang kuat. Kebutuhan ini dapat terpenuhi sebgaian bila seseorang yang berada dalam kelompok. Para anggota konseling kelompok akan saling mengidentifikasikan satu sama lain sehingga dan akhirnya mereka merasa sebagai bagian dari keseluruhan kelompok.

e.       Bisa menjadi sarana untuk melatih dan mengembangkan keterampilan dan perilaku sosial dalam suasana yang mendekati kondisi kehidupan nyata.

Dengan demikian, kelompok konseling bisa menjadi suatu arena untuk memperaktekan berbagai keterampilan dan perilaku sosial secara aman. Para konseli bisa mempraktekan keterampilan-keterampilan dan perilaku-perilaku barubyang telah mereka pejari dalam suatu kondisi lingkungan yang bersipat mendukung sebelum mereka mencobahnya dalam konteks lingkungan yang sesungguhnya.

Selain melalui bermain peran, kesempatan untuk mencoba perilaku baru juga bisa terjadi di saat para konseli berhubungan satu sama lain selama sesi konseling kelompok. Mereka bisa salaing berbagi informasi tentang diri mereka , berbeda pendapat satu sama lain, memperhatikan orang lain berbicara, dan atau bahkan mungkin menangis di depan orang lain.

 

f.       Menyediakan kesempatan untuk  belajar dari pengelaman orang lain.

Dalam konseling kelompok, konseli memliki kesempatan untuk saling mendengar dan memperhatikan permasalahan mereka satu sama lain dan cara-cara pengambilan keputusan untuk mengatasinya.

g.      Memberikan motivasi yang lebih kuat kepada konseli untuk berperilaku konsisten sesuai dengan rencana tindakannya.

Keterlibatan banyak orang dalam konseling kelompok dapat menjadi satu kekuatan yang mendorong konseli untuk lebih bertangung jawab terhadap perilaku dan komitmen-komitmen yang dibuatnya bersama kelompok. Hal ini bisa terjadi terutama bagi mereka yang sudah terlibat dalam suatu kelompok yang  kohesif, saling menghargai, dan saling menghargai,dan saling memberikan dukungan satu sama lain.

 

h.      Bisa menjadi suasana eksplorasi

Dengan penguatan dari kelompok, konseli bisa terdorong untuk melakukan eksplorasi terhadap kebutuhan dan masalah perkembangan serta menyuasaikan diri masing-masing. Kelompok dapat menyediakan suatu adegan sosial yang mendorong konselu berintekrasi dengan peserta yang lain yang mungkin mereka itu tidak sekedar memilki pemahaman tentan masalahnya, tetapi juga akan saling berbagi permasalahan yang dibawanya tersebut. Dalam kondisi seperti itu, konseling kelompok dapat menyediakan rasa aman yang dibutuhkan oleh pra konseli untuk secara spontan dan secara bebas berintekrasi dan mengambil resiko sehingga meningkatkan kemungkinan mereka untuk saling berbagi pengalaman dengan orang lain yang memilki pengalaman serupa.

2.      Keterbatasan Konseling Kelompok

Di samping memiliki sejumlah keunggulan, konseling kelompok  juga tidak terlepas dari sejumlah keterbatasan. Menurut Pietrofesa etal. Dalam Natawijaya, keterbatasan-keterbatasan dari konseling kelompok adalah sebagai berikut:

a.       Tidak cocok digunakan untuk menangangi masalah-masalah perilaku tertentu seperti agresi yang ekstrim, konflik kakak-adik atau orangtua-anak yang intensif.

b.      Ambiguitas inheren yang melekat dalam proses kelompok menyebabkan beberapa konselor terlalu mengendalikan kelompok.

c.       Isu-isu dan masalah-masalah yang dimunculkan dalam kelompok kadang-kadang mengganggu nilai-nilai personal atau membahayakan hubungan siswa atau konselor dengan pihak lain seperti dengan orang tua atau dengan administrator.

d.      Unsur konfidensialitas yang sangat esensial bagi kelompok yang efektif sulit untuk dicapai dalam konseling kelompok.

e.       Modeling perilaku yang tidak diinginkan sulit untuk dieliminasi.

f.       Meningkatnya keterangan, kecemasan, dan keterlibatan yang terjadi dapat menimbulkan akibat yang tidak diinginkan.

g.      Kombinasi yang tepat dari anggota kelompok adalah penting, namun sulit untuk dicapai.

h.      Beberapa anggota kelompok menerima perhatian individual yang tidak memadai.

i.        Adanya kesulitan untuk menjadwal konseling kelompok dalam adegan sekolah.

j.        Hakikat konseling kelompok yang tidak spesifik sering sulit untuk menjastifikasi orangtua, guru, dan administrator yang skeptic.

k.      Konselor kelompok harus terlatih dengan baik dan sangat terampil.[4]


 

BAB III

PENUTUP

 

A.   Kesimpulan

Dari pembahasan makalah di atas, dapat kami simpilkan beberapa hal sebagai berikut :

1.      Pengembangan kemanusiaan seutuhnya hendaknya mencapai pribadi-pribadi yang kediriannya matang, tangguh, dengan kemampuan social yang menyejukkan, kesusilaan yang tinggi dan luhur dan berkeimanan dan ketakwaan yang kokoh dan dalam, maka bimbingan dan konseling sangat diharapkan untuk membantu tercapainya cita-cita tersebut.

2.      Konseling adalah suatu proses bantuan yang diberikan kepada individu yang mangalami masalah (klien), dilakukan oleh seorang ahli (konselor) secara langsung dan menyenangkan, dengan memperoleh informasi dari klien ataupun pihak lain  sehingga individu tersebut dapat memahami dirinya  dan permasalahannya, agar ia dapat berinteraksi secara efektif dalam lingkungannya dan masyarakat pada umumnya.

3.      Konseling kelompok merupakan salah satu layanan konseling yang di selenggarakan dalam suasana kelompok yang memanfaatkan dinamika kelompok, serta terdapat hubungan konseling yang hangat, terbuka, permisif dan penuh keakraban.

B.   Penutup.

Demikianlah makalah ini kami sajikan, jika terdapat hal-hal yang tidak berkenan atau terdapat kekurangan pada sistematika penulisan atau penggunaan formulasi bahasa yang kurang tepat, maka kami sangat mengharapkan kritik dan saran dalam rangka perbaikan makalah ini.

 


 

DAFTAR  PUSTAKA

 

Kurnanto, M.Edi, Konseling Kelompokm Bandung : Alfa Beta CV,2013.

 

 



[1] M. Edi ,Kurnanto,  2013,Konseling Kelompokm Bandung : Alfa Beta CV, hlm. 7

[2] Ibid, hlm.11

[3] Ibid, hlm.26

[4] Ibid, hlm.33

makalah aspek manajemen organisasi

makalah aspek manajemen organisasi  BAB I PENDAHULUAN   Manajemen secara umum diartikan sebagai ‘pengaturan’, artinya manajemen adalah...