PePengertian
Teori Pendidikan
Pengertian teori pendidikan adalah
teori yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Salah satu penerapan teori
belajar yang terkenal adalah teori dari John Dewey yaitu teori “ learning by
doing”. Teori belajar ini merupakan sub ordinat dari teori pendidikan.
Karenanya sebelum membahas teori belajar tersebut, perlu diuraikan pengertian
teori pendidikan.
Menurut Moore (1974) istilah teori
merujuk pada suatu usaha untuk menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi seperti
adanya. Selain itu teori juga merupakan usaha untuk menjelaskan sesuatu yang
mungkin terjadi di masa datang. Pengertian ini mengandung makna bahwa fungsi
teori adalah melakukan prediksi. Teori juga diartikan sebagai kebalikan dari
sebuah praktek. Moore (1974) menambahkan bahwa hakekat teori pada
dasarnya adalah penjelasan terhadap sesuatu. Dari pengertian tersebut peran
teori adalah sebagai penjelasan tentang sejumlah asumsi, sesuatu yang terjadi,
telah terjadi, dan akan terjadi. Sejumlah aspek ini merujuk pada pola dari
teori sebagai alat untuk penjelasan logis dan membuat prediksi. Namun menurut
Moore (1974) pengertian teori seperti ini merupakan pengertian yang digunakan
dalam sains seperti fisika dan matematika. Sedangkan untuk kasus teori
pendidikan pengertian tersebut tidaklah terlalu tepat.
Jika dihubungkan dengan pendidikan
maka teori pendidikan merupakan seperangkat penjelasan yang rasional
sistematis membahas tentang aspek- aspek penting dalam pendidikan sebagai
sebuah sistem. Mudyahardjo (2002) menjelaskan bahwa teori pendidikan adalah
sebuah pandangan atau serangkaian pendapat ihkwal pendidikan yang disajikan
dalam sebuah sistem konsep. Pendidikan sebagai sistem mengandung arti suatu
kelompok tertentu yang setidaknya memiliki hubungan khusus secara timbal
balik dan memiliki informasi.
Pengertian teori pendidikan memiliki
perbedaan mendasar dibandingkan dengan teori dalam sains. Teori pendidikan pada
awalnya mengambil sedikit saja dari tahap pengamatan atau eksperimen
melalui metodis sistematis terhadap sesuatu yang berhubungan dengan konsep dan
proses pendidikan. Teori pendidikan yang dikemukakan tokoh-tokoh
pendidikan klasik seperti Plato, Rousseau, atau Froebel misalnya berakar pada
asumsi khusus tentang apa yang dapat dilakukan atau harus dilakukan dalam
pendidikan, dan berdasarkan asumsi tersebut memberikan rekomendasi tentang apa
yang harus dilakukan oleh guru atau pihak lain terhadap pendidikan. Karenanya
pada awalnya pandangan terhadap pendidikan seperti yang diungkapkan oleh Plato,
Roesseau serta lainnya tidaklah berdasar pengamatan empirik dan karenanya tidak
pula dapat di cek kebenarannya melalui pengujian metode ilmiah. Teori
pendidikan tidaklah bekerja seperti teori ilmiah, dan akibatnya tidak bisa pula
mengambil validitas dari metode ilmiah. Kebenaran dari sebuah teori pendidikan
tidaklah ditentukan berdasarkan paradigma ilmiah, tetapi memiliki cara dan
polanya tersendiri.
Karakteristik yang berbeda antara
teori sains dan teori pendidikan memunculkan dua tipe atau jenis teori. Moore
(1974) menjelaskan bahwa teori terbagi menjadi 2, yaitu teori eksplanatori,
yaitu teori sains dan teori praktis, yaitu teori non sains (salah satunya
adalah teori pendidikan). Artinya bangunan teori yang dihasilkan oleh seorang
ilmuwan bukanlah teori yang bersifat praktis tetapi eksplanatori atau
penjelasan (deskriptif). Seorang ilmuwan memiliki tugas untuk “ menemukan
sesuatu”. Sedangkan pendidikan bersifat praktek. Dalam pendidikan yang terjadi
adalah sesuatu yang melibatkan tindakan, usaha merubah perilaku dan sikap
seseorang, biasanya para peserta didik atau siswa. Tugas seorang guru atau ahli
pendidikan adalah untuk “ melakukan sesuatu”.
Dalam studinya, Hirst (1966)
mengemukakan bahwa teori pendidikan adalah “It is the theory in principles,
stating what ought to be done in a range of practical activities…… educational
theory as hierarchically situated between practice and more general theory of
knowledge from variety of forms ” . Arti kata praktek dalam pengertian ini
merupakan entitas tunggal, sebuah hal ideal, tentang “apa yang seharusnya” ,
daripada suatu tampilan apa adanya. Teori pendidikan walaupun memiliki
fungsi sebagai pedoman bertindak untuk sebuah praktek pendidikan, tidaklah
menutup kemungkinan memberikan penjelasan terhadap apa yang terjadi. Namun
karena konsep pendidikan sendiri adalah sebuah praktek maka teori pendidikan
cenderung bersifat praktis juga. Sebuah teori pendidikan melibatkan tidak hanya
penjelasan empirik jika ada, tetapi juga hal ikhwal nilai dan memasukkan
pandangan filosofis. Pada akhirnya walaupun teori pendidikan saat ini telah
diperkaya dan didasarkan pada sejumlah sumber ilmu empirik seperti psikologi
dan sosiologi misalnya, namun bagi Hirts dalam artikelnya “ Philosophy and
Educational Theory” (Cohen, 1969 : 23), teori pendidikan haruslah terlebih
dahulu dimengerti sebagai landasan bagi berlangsungnya praktek pendidikan, dan
tidak dalam kacamata teori ilmiah. Kesimpulannya adalah terdapat perbedaan
karakter yang penting antara teori ilmiah dan teori pendidikan karena keduanya
memiliki fungsi yang berbeda dan keduanya dibangun untuk melakukan pekerjaan
yang berbeda pula.
Ruang lingkup dari teori pendidikan
pun terdiri dari teori umum dan teori khusus. Moore (1974) menjelaskan yang
dimaksud teori khusus pendidikan membahas secara mendalam aspek pedagogis,
seperti bagaimana cara yang paling efektif untuk belajar dan mengajar. Teori
belajar merupakan salah satu dari teori khusus pendidikan. Sedangkan teori umum
pendidikan adalah teori yang luas dari segi cakupan dan tujuannya. Teori umum
pendidikan tidak hanya sebuah rekomendasi tentang kondisi pembelajaran yang
efektif tetapi juga rekomendasi untuk membentuk dan menghasilkan tipe manusia
tertentu, kadang-kadang juga tipe masyarakat ideal. Teori umum pendidikan
memperhatikan masalah sekitar membentuk manusia ideal dan pembahasannnya tidak
hanya bertumpu pada apa yang dianggap sebagai cara terbaik mengajar tetapi
meluas pada persoalan apa yang harus diajarkan dan untuk tujuan apa.
B. Teori-Teori Pendidikan
Belajar
merupakan ciri khas manusia yang membedakannya dengan binatang. Belajar yang
dilakukan manusia merupakan bagian hidupnya dan berlangsung seumur hidup. Dalam
belajar, pebelajar yang lebih penting sebab tanpa pebelajar tidak ada proses
belajar. Oleh karena itu tenaga pengajar perlu memahami terlebih dahulu teori
belajar, karena membantu pengajar untuk memahami proses belajar yang terjadi
didalam diri pebelajar, dengan kondisi ini pengajar dapat mengerti
kondisi-kondisi dan faktor-faktor yang mempengaruhi, memperlancar atau
menghambat proses belajar.
Teori ini merupakan sumber hipotesis atau dugaan-dugaan tentang proses belajar
yang dapat diuji kebenarannya melalui eksperimen atau penelitian, dengan
demikian dapat meningkatkan pengertian seseorang tentang proses belajar
mengajar.
Secara umum semua teori belajar dapat kita
kelompokkan menjadi empat golongan atau aliran yaitu:
1.
Teori
Behaviouristik
Pandangan tentang belajar menurut aliran tingkah
laku, tidak lain adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari
interaksi antara stimulus dan respons. Atau dengan kata lain,belajar adalah
perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku
dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respons. Para
ahli yang banyak berkarya dalam aliran ini antara lain: Thorndike, (1911);
Watson, (1963); Hull, (1943); dan Skinner, (1968).
a.
Thorndike
Menurut Thorndike (1911), salah seorang
pendiri aliran tingkah laku, belajar adalah proses interaksi antara stimulus
(yang mungkin berupa pikiran, perasaan, atau gerakan) dan respons (yang juga
bisa berupa pikiran, perasaan, atau gerakan).
b.
Watson
Berbeda
dengan Thorndike, menurut Watson pelopor yang datang sesudah Thorndike,
stimulus dan respons tersebut harus berbentuk tingkah laku yang “bisa diamati”
(Observable) . Dengan kata lain, Watson mengabaikan berbagai perubahan mental
yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tidak
perlu diketahui.
c.
Clark Hull
Menurut
Hull, tingkah laku seseorang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup. Oleh
karena itu, dalam teori Hull, kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan
biologis menempati posisi sentral. Kebutuhan dikonsepkan sebagai dorongan,
seperti lapar, haus, tidur, hilangnya rasa nyeri, dan sebagainya. Stimulus
hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis ini, meskipun respons mungkin
bermacam-macam bentuknya.
d.
Skinner
Menurut Skinner, deskripsi
hubungan antara stimulus dan repons untuk menjelaskan perubahan tingkah laku
(dalam hubungannya dengan lingkungan) menurut versi Watson adalah deskripsi
yang tidak lengkap. Respons yang diberikan oleh siswa tidaklah sesederhana itu,
sebab pada dasarnya setiap stimulus yang diberikan juga menghasilkan berbagai
konsekuensi, yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkah laku siswa.
2.
Aliran Kognitivisme
Teori belajar kognitif merupakan suatu teori belajar
yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Bagi
penganut aliran ini, belajar tidak sekadar melibatkan hubungan antara stimulus
dan respons. Namun lebih dari itu, belajar melibatkan proses berpikir yang
sangat kompleks.
Menurut teori ini, ilmu pengetahuan dibangun dalam
diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan
lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpatah-patah, terpisah-pisah, tetapi
melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung, menyeluruh.Dalam praktik,
teori ini antara lain terwujud dalam “tahap-tahap perkembangan” yang diusulkan
oleh Jean Piaget, “belajar bermakna”nya Ausubel, dan “belajar penemuan secara
bebas” (free discovery learning) oleh Jerome Bruner.
a.
Piaget
Menurut Jean Piaget (1975), bahwa proses belajar
sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni (1) asimilasi, (2) akomodasi, (3)
equilibrasi (penyimpangan) . Proses asimilasi adalah proses penyatuan informasi
baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa. Akomodasi adalah penyesuaian
struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Equilibrasi adalah penyesuaian
berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
b.
Ausubel
Menurut Ausubel (1968), siswa akan belajar dengan
baik jika apa yang disebut “pengatur kemajuan (belajar)” (Advance Organizers)
didefinisikan dan dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa.
Ausubel percaya bahwa “advance organizers” dapat memberikan tiga macam manfaat,
yakni :
1)
dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi
belajar yang akan dipelajari oleh siswa;
2)
dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan
antara apa yang sedang dipelajari siswa “saat ini” dengan apa yang “akan”
dipelajari siswa;
3)
mampu membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara
lebih mudah.
c.
Bruner
Menurut Bruner, proses belajar akan berjalan dengan
baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan
suatu aturan (termasuk konsep, teori, definisi, dan sebagainya) melalui
contoh-contoh yang menggambarkan (mewakili) aturan yang menjadi sumbernya.
Dengan kata lain, siswa dibimbing secara secara induktif untuk memahami suatu
kebenaran umum.
3.
Aliran Teori Humanistik
Bagi penganut teori ini, proses belajar harus
berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat
menekankan pentingnya “isi” dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini
lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya
yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar
dalam bentuknya yang paling ideal daripada belajar seperti apa adanya, seperti
apa yang biasa kita amati dalam dunia keseharian.
Teori ini terwujud dalam teori Bloom dan Krathwohl
dalam bentuk Taksonomi Bloom. Selain itu, empat pakar lain yang juga termasuk
ke dalam kubu teori ini adalah Kolb, Honey, dan Mumford, serta Hibermas, yang
masing-masing pendapatnya akan dibahas berikut ini.
a.
Bloom dan Krathwohl
Dalam hal ini, bloom dan Krathwohl
menunjukkan apa yang mungkin dikuasasi oleh siswa, yang tercakup dalam tiga
kawasan berikut.
1)
Kognitif
Kognitif terdiri dari enam
tingkatan, yaitu
a)
pengetahuan (mengingat, menghafal);
b)
pemahaman (menginterpretasikan);
c)
aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan suatu
masalah);
d)
analisis (menjabarkan suatu konsep);
e)
sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi
suatu konsep utuh);
f)
evaluasi (membandingkan nilai, ide, metode, dan
sebagainya).
2)
Psikomotor
Psikomotor terdiri dari
lima tingkatan, yaitu
a)
peniruan;
b)
penggunaan;
c)
ketepatan;
d)
perangkaian;
e)
naturalisasi.
3)
Afektif
Afektif terdiri dari lima
tingkatan, yaitu
a)
pengenalan;
b)
merespons;
c)
penghargaan;
d)
pengorganisasian;
e)
pengamalan.
Pada tingkatan yang lebih praktis, taksonomi ini
telah banyak membantu praktisi pendidikan untuk memformulasikan tujuan-tujuan
belajar dalam bahasa yang mudah dipahami, operasional, serta dapat diukur.
b.
Kolb
Sementara itu, seorang ahli lain yang bernama
Kolb membagi tahapan belajar menjadi empat tahap, yaitu
1)
pengalaman konkret;
2)
pengamatan aktif dan reflektif;
3)
konseptualisasi;
4)
eksperimentasi aktif.
Pada tahap pertama dalam proses belajar, seorang
siswa hanya mampu sekadar ikut mengalami suatu kejadian. Pada tahap kedua,
siswa tersebut lambat laun mampu mengadakan observasi aktif terhadap kejadian
itu, serta mulai berusaha memikirkan dan memahaminya. Pada tahap ketiga, siswa
mulai belajar untuk membuat abstraksi atau “teori” tentang sesuatu hal yang
pernah diamatinya. Pada tahap akhir, siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu
aturan umum ke situasi yang baru.
c.
Honey dan Mumford
Berdasarkan teori ini,mereka menggolongkan
empat macam tipe siswa, yakni (1) aktivis, (2) reflektor, (3) teoris, dan (4)
pragmatis. Ciri siswa yang bertipe aktivis adalah mereka yang suka melibatkan
diri pada pengalaman-pengalaman baru. Mereka cenderung berpikiran terbuka dan
mudah diajak berdialog.
Untuk siswa yang bertipe reflektor,
sebaliknya , cenderung sangat berhati-hati mengambil langkah. Dalam proses
pengambilan keputusan, siswa tipe ini cenderung “konservatif” dalam arti mereka
lebih suka menimbang-nimbang secara cermat, baik buruk suatu keputusan.
Sedangkan siswa yang bertipe teoris biasanya
sangat kritis, senang menganalisis, dan tidak menyukai pendapat, atau penilaian
yang sifatnya subjektif. Bagi mereka, berpikir secara rasional adalah sesuatu
yang sangat penting.
Untuk siswa yang bertipe pragmatis biasanya
menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dari segala hal. Teori memang
penting kata mereka. Kebanyakan siswa dengan tipe ini tidak suka berlarut-larut
dalam membahas aspek teoritis filosofis dari sesuatu. Bagi mereka, sesuatu
dikatakan ada gunanya dan baik jika hanya bisa dipraktikkan.
d.
Habermas
Menurutnya belajar sangat dipengaruhi oleh
interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia. Dengan asumsi
ini, Habermas mengelompokkan tipe belajar menjadi tiga bagian yaitu
1)
belajar teknis (technical learning);
2)
belajar praktis (practical learning);
3)
belajar emansipatoris (emancipatory learning).
Dalam belajar teknis, siswa belajar bagaimana
berinteraksi dengan alam sekelilingnya. Mereka berusaha menguasai dan mengelola
alam dengan cara mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk
itu.
Dalam belajar praktis,siswa juga belajar
berinteraksi, tetapi pada tahap ini yang lebih dipentingkan adalah interaksi
antara dia dengan orang-orang sekelilingnya. Pada tahap ini, pemahaman siswa
terhadap alam tidak berhenti, sebagai suatu pemahaman yang kering dan terlepas
kaitannya dengan manusia.
Sedangkan dalam belajar emansipatoris, siswa
berusaha mencapai pemahaman dan kesadaran yang sebaik mungkin tentang perubahan
kulturasi dari suatu lingkungan. Bagi Habermas, pemahaman dan kesadaran
terhadap transformasi kultural ini dianggap tahap belajar yang paling tinggi, sebab
transformasi kultural inilah yang dianggap sebagai tujuan pendidikan yang
paling tinggi.
4.
Teori belajar Sibernetik
Teori ini masih baru jika dibandingkan dengan ketiga
teori yang telah dijelaskan sebelumnya . Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan
ilmu informasi. Menurut teori ini belajar adalah pengolahan informasi . Teori
ini berasumsi bahwa tidak ada satupun jenis cara belajar yang ideal untuk
segala situasi, sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi.
Teori ini dikembangkan oleh Landa (dalam bentuk pendekatan algoritmik dan
Neuristik) serta Pask and Scott dengan pembagian tipe siswa yaitu tipe Wholist
dan tipe Ferialist.
Teori sibernetik ini dikritik karena lebih
menekankan pada sistem informasi yang akan dipelajari, tetapi kurang
memperhatikan bagaimana proses belajar berlangsung sehingga untuk selanjutnya
banyak yang berasumsi bahwa teori ini sulit untuk dipraktikkan.
C. Implikasi Teori Belajar
dalam Pembelajaran
Implikasi
teori belajar merupakan suatu bagian terpenting dari teknologi pendidikan yang
memiliki potensi cukup besar dalam mengoptimalisasikan peningkatan pendidikan
dengan memanfaatkan faktor-faktor yang tersedia yaitu sarana dan prasarana.
Dengan memfungsikan hubungan antara keterkaitan antar sistem berbagai sarana
maupun prasarana yang tersedia menjadi suatu kesatuan dalam sisitem pendidikan
akan menghasilkan suatu sistem pendidikan yang dapat mengefisiensikan
pengembangan pendidikan. Adapun implikasi teori-teori belajar dalam
pembelajaran di kelas atau dalam dunia pendidikan adalah:
1.
Implikasi Teori Behaviouristik
Implikasi teori belajar behavioristik dalam
pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti tujuan pembelajaran, sifat
materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang
tersedia. Pelopor terpenting teori ini antara lain adalah : Pavlov, Watson,
Skinner, Thorndike, Hull, dan Guthrie .
Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori
behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak
berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah
perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan
(transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Fungsi mind atau
pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui
proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang
dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik
struktur pengetahuan tersebut. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman
yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh
pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Demikian halnya dalam pembelajaran, pebelajar
dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan
dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang
terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses
pembelajaran yang harus dicapai oleh para pebelajar. Begitu juga dalam proses
evaluasi belajar, pebelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat
diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam
proses evaluasi.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses
pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar
untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri.
Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam
menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau
robot. Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi
yang ada pada diri mereka.
Karena teori behavioristik memandang bahwa
pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, maka pebelajar atau orang yang
belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih
dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam
belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan
disiplin.
Kegagalan atau ketidakmampuan dalam
penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan
keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang
pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai
penentu keberhasilan belajar. Pebelajar atau peserta didik adalah objek yang
berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh
sistem yang berada di luar diri pebelajar.
2.
ImplikasiTeori Kognitif
Implikasi teori belajar kognitif dalam pembelajaran,
guru harus memahami bahwa siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam
proses berpikirnya, anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar belajar
menggunakan benda-benda konkret, keaktifan siswa sangat dipentingkan, guru
menyusun materi dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana ke
kompleks, guru menciptakan pembelajaran yang bermakna, memperhatian perbedaan
individual siswa untuk mencapai keberhasilan siswa.
3.
Implikasi Teori Humanistik
Implikasi teori humanistik dalam pembelajaran, guru
lebih mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman serta
membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.
4.
Implikasi Teori Sibernetik
Implikasi teori sibernetik terhadap proses
pembelajaran hendaknya menarik perhatian, memberitahukan tujuan pembelajaran
kepada siswa, merangsang kegiatan pada prasyarat belajar, menyajikan bahan
perangsang, memberikan bimbingan belajar, mendorong untuk kerja, dan menilai
unjuk kerja.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Teori
pendidikan adalah teori yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Salah
satu penerapan teori belajar yang terkenal adalah teori dari John Dewey yaitu
teori “ learning by doing”. Teori belajar ini merupakan sub ordinat dari teori pendidikan.
Belajar merupakan ciri khas manusia yang membedakannya
dengan binatang. Belajar yang dilakukan manusia merupakan bagian hidupnya dan
berlangsung seumur hidup.
Secara
umum semua teori belajar dapat kita kelompokkan menjadi empat golongan atau
aliran Teori behaviouristik menekankan pada “hasil” daripada proses belajar.
Teori kognitif menekankan pada “proses” belajar. Teori humanistik menekankan
pada “isi” atau apa yang dipelajari. Teori sibernetik menekankan pada “sistem
informasi” yang dipelajari.
B. Saran
Sebagai
seorang pengajar perlu sekali mengetahui teori-teori belajar agar pendidikan di
Indonesia menjadi semakin lebih baik di masa sekarang dan yang akan datang.
DAFTAR
PUSTAKA
Uno, Hamzah.B .2006.
Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Tohirin. 2011. Psikologi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Asri Budiningsih, 2002. Belajar
dan Pembelajaran. Jakarta .PT Rineka Cipta
Dakir. (1993). Dasar –dasar psikologi.Yogyakarta: Pustaka pelajar.
Rohman, Arif.
2009. Memahami Pendidikan dan Ilmu
Pendidikan. Mediatama: Yogyakarta.
Setyamidjaja, Djoehana. 2002. Landasan Ilmu Pendidikan. Universitas Pakuan Bogor: Bogor.
Sukardjo, M dan Komarudin Ukim. 2009. Landasan Pendidikan. Rajawali Pers:
Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar